The Moon and The Sun #8 - Rain

9:55 PM fe 0 Comments

8
Aku dan Gates masuk ke dalam gedung apartemen tempat tinggalku selama aku ada di Chicago saat hampir larut malam. Tempatnya sangat nyaman dan aku sangat senang saat Gates menawarkan satu ruang apartemen kosong yang berjarak lima pintu darinya. Tentu saja sudah dua tahun aku tidak datang ke sini dan aku pikir tempatnya pasti berdebu sekali. Tapi tidak. Ia sudah memastikan kalau apartemenku dibersihkan dan tinggal pakai saja.

“Kupikir kau bisa kerja mulai dari sekarang.” Kata Gates saat kami baru keluar dari lift di lantai dua puluh.

“Well, takkan secepat itu. Bekerja denganku artinya meminta kesabaran. Kau pikir membuat lagu itu gampang?”

Ia tertawa, “tentu saja tidak.” Ia mengantarku sampai ke depan pintuku. “Yah, istirahatlah.”


Aku mengangguk sambil tersenyum. “Selamat malam.”

“Selamat malam.”

Aku masuk ke dalam dan menghidupkan lampu. Suasana tenang dan hening langsung menyelimutiku. Hanya saja aku tidak beranjak dari tempatku berdiri selama beberapa menit. Rasanya aku tidak ingin membuka sepatu atau menghambur ke dalam bak mandi yang hangat. Aku merasa seperti menunggu sesuatu yang entah apa itu.

Sambil menghela napas, aku berusaha mengenyahkan perasaan itu. Tapi untuk masuk ke dalam saja rasanya aku tidak mau. Aku ingin keluar. Jadi kuputuskan untuk membuka pintu dan keluar lagi. Aku memandang pintu kamar Gates dan mempertimbangkan ingin mengajaknya jalan-jalan sebentar. Tapi pasti dia lelah sekarang.

Aku melangkah menuju lift untuk keluar dari apartemen. Cuaca dingin bersalju langsung menyambutku lagi saat aku keluar dari gedung dan seperti orang aneh aku berjalan tanpa arah. Aku melihat banyak hal yang berubah di sini. Dekorasi gedung-gedung, toko-toko dan jalanan yang hampir sepi membuatku serasa di dunia lain. Orang-orang masih banyak berlalu lalang dan berjalan cepat-cepat seiring makin turunnya suhu di luar sini. Berbeda dari mereka yang ingin pulang ke rumah, aku justru merasa harus ke tempat lain.

Dan perasaan ini menuntunku untuk cepat-cepat sampai ke sana.

Bingung dengan apa yang terjadi, aku memutuskan untuk melihat sampai sejauh mana aku berjalan. Aku menghentikan sebuah taxi dan meminta supirnya mengikuti jalan yang kupilih sampai akhirnya mobil itu aku minta berhenti di sebuah taman yang sepi. Aku turun dan melihat ke sekelilingku. Taxi itu pergi meninggalkanku sendiri.

Taman ini tidak begitu luas dengan sebuah kolam berukuran kecil dan lampu-lampu taman yang menyinarinya. Aku merinding. Tidak ada siapa-siapa di sini. Lalu aku menyesal karena membiarkan taxi itu pergi begitu saja.

Dengan pelan aku melangkah masuk ke dalamnya dan mengelilingi taman itu sendirian. Taman ini diselmuti salju tebal. Ada bangku-bangku taman yang tersebar rapi di bawah lampu taman. Ada pohon-pohon besar yang sudah meranggas di sana, salah satunya berada di samping kolam dengan akar gantung yang mesuk ke dalam airnya. Lalu aku melihat taman bermain kecil. Ada ayunan, seluncuran, bak pasir, dan… seseorang?

Ada orang yang sedang berbaring di salju sekarang, di bawah salah satu pohon yang ada di dekat seluncuran itu. Mayat? Penjahat? Aku tidak tahu. Aku tidak bisa melihat wajahnya. Aku mencoba mendekat pelan-pelan agar tidak mengagetkannya. Aku menyipitkan mataku saat bergerak makin mendekat dan terkejut melihat sosok yang kukenal di sana sedang berbaring dengan mata terpejam.

“Rev?” panggilku kaget.

Matanya terbuka dan segera menatapku yang berdiri membungkuk di atasnya. “Kau?” ia juga terkejut sama sepertiku. Setelah menghela napas ia langsung bangkit untuk duduk.

Aku berlutut di sampingnya. “Kau mengagetkanku.” Kataku sambil memegang dadaku.

“Kau yang mengagetkanku.”

“Apa yang kau lakukan? Kenapa tidur di sini?” tanyaku yang masih berusaha menenangkan diri.

“Kau pikir aku tidur di sini?”

“Kau bisa ketiduran.” Kataku. “Dan kau bisa beku.”

Ia tidak mendebatku. Ia berdiri dan aku mengikutinya. “Kenapa kau di sini?” tanyanya padaku.

“Kenapa?” aku malah mengulangi pertanyaannya. “Aku juga tidak tahu.”

“Kau mengikutiku?”

“Ha?” aku langsung tertawa. “Aku tidak mengikutimu. Sampai lima belas menit yang lalu aku masih di apartemen.” Aku menatap wajahnya yang putih pucat. “Lihat, kau sangat pucat. Pasti kau sudah lama di sini.”

Ia mengangkat bahunya dengan sikap tidak peduli seolah-olah hal itu biasa saja.

“Jangan lakukan ini lagi.” kataku padanya.

Ia tersnyum mengejek. “Kau seperti dia saja.” Lalu ia berjalan.

Aku mengikutinya dari belakang sambil bertanya-tanya kenapa hatiku merasa puas dengan hal ini? Setelah melihatnya dan memastikannya baik-baik saja, aku merasa sangat puas. Akhirnya kami keluar dari taman dan aku disambut jalanan yang sangat sepi. Hanya ada satu mobil sport hitam yang terparkir di pinggir jalan. Aku berhenti di depan gerbang taman sementara Rev masih berjalan menuju mobil itu.

Aku melihat ke kiri dan ke kanan jalan berharap ada taxi yang melintas, tapi tidak ada.

“Kenapa berdiri di sana? Ayo masuk.” Tegurnya sambil membukakan pintu untukku.

Aku diam sejenak sebelum akhirnya menghampirinya. Aku masuk ke dalam mobilnya dan langsung merasa lega karena tidak harus pulang dengan taxi. Ia masuk sekarang dan menyalakan mesin mobilnya dan kamipun melaju di jalanan sepi.

Kami tidak bersuara selama beberapa saat dan itu membuatku merasa tidak enak. Aku berusaha mencari topik pembicaraan agar suasana tidak jadi secanggung ini.

“Mmm… Apa yang kau lakukan di taman tadi?” tanyaku. Jujur saja ia membuatku gugup.

“Hanya mencari inspirasi.” Jawabnya santai. “Aku biasa melakukannya di sana.”

“Pada jam selarut ini?”

“Tidak ada orang yang suka melintas di sana jam segini.” Katanya. “Kecuali satu.”

Aku mendadak merasa takut. “Hantu?” bisikku gemetar.

Ia tertawa sekarang sambil terus memandangi jalanan. Tawanya itu membuatku merasa nyaman dan rasa gugupku langsung berkurang drastis. “Hanya kau yang berpikir begitu.”

“Lalu apa?”

“Kau.”

“Apa?” aku merasa tidak yakin dengan jawabannya.

“Hanya kau yang melintas pada jam segini. Kalau aku sudah biasa.” Ia memperjelas jawabannya. “Memangnya kau tidak takut sendirian ke sana? Kau tahu ini di mana?”

Aku melihat kesekelilingku. “Hampir memasuki pinggiran Chicago kurasa,” kataku sambil terus memandang ke luar jendela.

“Yah, hampir.” Ia membenarkan lalu dengan pelan menambahkan, “dan tepat waktu menemukanku.”

“Maaf?”

Ia tidak mengulanginya, hanya terus berkonsentrasi menyetir. Setelah itu kami diam lagi. Kesunyian ini terasa nyaman sekarang. Aku menatapnya yang sekarang hanya menyetir menggunakan satu tangan.

“Rev.” panggilku.

“Apa?” tanyanya sambil menatapku.

“Aku… boleh tanya sesuatu?”

Ia menatapku lagi sebelum mengalihkan tatapannya ke jalan. “Ya.” Mobil kami melaju lurus di jalanan yang hampir sepi. 

Aku mencoba mengumpulkan keberanian untuk bertanya sekarang. Bertanya tentang Gates. “Apa… Apa Gates menyukai seseorang?”

Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dengan susah payah. Rev menatapku sejenak sebelum berkata, “kau menyukainya.” Itu terdengar jelas seperti pernyataan, bukan pertanyaan.

Aku langsung merasa salah tingkah dan malu. “Aku… Aku hanya ingin tahu.” Kataku cepat.

Tapi ia tidak tersenyum atau tertawa. Wajahnya yang menunjukkan ekspresi tenang itu sama sekali tidak mengejekku. Aku diam menanti jawabannya.

“Lebih baik kau tanya dia saja.” Putusnya.

“Aku tidak bisa.”

“Dia yang paling tahu jawabannya, bukan aku.”

“Tapi kau temannya. Kau pasti tahu.”

Dia menggeleng sambil tersenyum angkuh, “aku tidak butuh informasi itu sekarang.”

Aku menatapnya tidak mengerti. Apa dia kesal? Rasanya dia memang kesal. Dan kata-kata terakhirnya itu membuat pembicaraan kami hampir berakhir sampai akhirnya aku berkata, “ya. Aku menyukainya. Bahkan lebih…” kataku pelan.

Ia sama sekali tidak meresponku tapi malah mempercepat laju mobilnya. Dan setelah itu pembicaraan kami berakhir hingga akhirnya mobilnya berhenti tepat di depan apartemenku. Aku baru ingat kalau dia sama sekali tidak menanyakan di mana aku tinggal.

“Dari mana kau tahu aku tinggal di sini?” tanyaku kaget.

“Dari pengakuanmu tadi.” Jawabnya. “Kau menyukai Gates, dan aku tahu kau takkan jauh-jauh darinya.” Lalu ia menambahkan. “Andai kau tidak tinggal di sini, aku pasti akan mengantarmu kemari karena Gates akan membawamu pulang.”

Aku terksesan dengan teorinya. Seketika aku merasa dia begitu mudah membacaku padahal kami baru bertemu beberapa jam lalu. Aku tersenyum padanya. “Terimakasih, aku memang tinggal di sini.” Kataku tulus sebelum turun dari mobilnya.

Aku berdiri di samping mobilnya dan melihat mobilnya melaju pergi lalu aku masuk untuk tidur.


You Might Also Like

0 comments: