Song of Aria #26 - Rain
Selama ini aku adalah anak yang menunggu ibunya untuk kembali menjemputnya dan membawanya pergi. Aku tidak begitu dekat dengan ayahku, dan aku sama sekali tidak tahu apa penyebab pertengkaran mereka malam itu. Aku sama sekali tidak tahu. Yang aku tahu adalah disaat aku bangun, aku telah berada di dalam pesawat yang membawaku kembali pulang ke rumah. Yang aku tahu adalah bahwa dia meninggalkanku tanpa bilang ingin pergi ke mana dan apa alasannya.
Saat itulah
aku meronta dan menangis mencarinya dan ayahku berteriak padaku, “orang yang
telah meninggalkanmu tidak akan kembali padamu!”
Orang. Yang. Telah. Meninggalkanmu. Tidak. Akan. Kembali. Padamu!
Kata-kata itu
terpatri dalam ingatanku dan memenuhiku. Hanya saja aku percaya kalau dia tidak
akan melakukannya. Kemudian surat itu datang. Ia berjanji akan menjemputku dan
aku percaya dengan hal itu. Aku mulai mengumpulkan semua barang-barangku dan
selalu tidur larut untuk bisa menyambutnya.
Tapi dia
tidak datang.
Aku sudah
muak dengan semua itu dan memilih untuk pergi, mencari sesuatu yang menurutku
sangat mengasyikkan.
Aku kabur
dari rumah dan memberanikan diri untuk tidur diujung gang yang gelap. Aku masih
berumur sebelas tahun saat itu. Aku sama sekali tidak memikirkan apa yang akan
terjadi jika aku kabur dari rumah. Yang aku tahu, aku sudah lelah dikekang
seperti itu seakan-akan ayah sangat menginginkan anak perempuan yang ingin
diperlakukannya layaknya bangsawan Inggris… pergi ke pesta, jamuan makan,
jalan-jalan, kunjungan pagi… para bangsawan Inggris jaman dulu akan melakukan
hal-hal seperti raja dan ratu.
Hanya saja
aku tidak begitu, dan aku bukan wanita! Aku tidak mempermasalahkan masalah
umur. Yang aku tahu aku ingin keluar dari kehidupan itu.
Aku meringkuk
disudut gang yang gelap, seperti Lauri yang pasrah dengan hidupnya dan masa
depannya karena teman karibnya telah mencoba membunuhnya. Aku membaca buku itu
pertama kali pada umur Sembilan tahun dan merasa tragis karena di bab satunya
sang tokoh utama itu mati. Hanya saja aku tidak menyangka kalau dia akan
selamat dan menjadi pahlawan terhebat dalam hidupnya yang sepenuhnya hampa… aku
sangat ingin menjadi dirinya.
Aku terobsesi
padanya.
Apakah ada
yang datang menemukanku di sudut gang ini dan memberikanku sebuah tempat
tinggal seperti yang diberikan Dr. Franklin pada Lauri? Aku tidak tahu. Tapi
aku rela menunggu. Esoknya, saat aku terbangun pagi hari, aku mendapati diriku
masih sendirian meringkuk di sana. Aku kelaparan tapi tetap menahan rasa
laparku. Aku tidak ingin mengais-ngais tempat sampah hanya untuk itu. Aku juga
tidak ingin mengemis karena takut ada yang mencariku.
Aku tetap bersikukuh untuk tidak makan sampai malam menjelang. Aku juga tidak minum dan itu membuat diriku semakin lemah. Tapi aku tahu kalau kondisiku tidak seburuk Lauri. Bayangkan, ia menunggu seseorang hampir selama itu dengan luka tusukan diperutnya! Hanya dengan mengingat hal itu aku bisa merasakan kalau keteguhanku kembali.
Tapi aku
benar-benar kelaparan saat larut malam. Dan aku mulai merangkak menuju tempat
sampah yang ada di depan sana. Aku merasa sangat jijik melakukan hal ini. Tapi
aku sedang kelaparan. Akhirnya aku mengais-ngaisnya sambil bernapas dengan
mulut karena tidak kuat menahan baunya. Aku bisa menemukan banyak sampah
manusia di sana yang membuatku mengerang frustasi. Seharusnya tidak ada sampah
di dunia ini. Baunya sangat mengganggu! Ini menjijikkan!
Dan aku
menemukan sekotak makanan bekas yang dibuang ke dalam sana. Aku merasa sangat
bersyukur karena itu. Aku membawanya kembali ke tempatku meringkuk tadi dan
menyantapnya dengan lahap seakan-akan itu adalah makanan kesukaanku. Hanya saja
setelah selesai menyantapnya aku langsung merasa mual. Aku yakin ada masalah
serius sekarang.
Aku lemas dan
muntah-muntah di sana. Aku berbaring dan merasa akan segera mati. Perutku
melilit tidak enak dan aku pusing. Aku mencoba memuntahkan makanan yang baru
kusantap tadi agar rasa sakitnya bisa berkurang. Aku tidak bisa merasakan
apapun sekarang.
Aku sekarat!
Dan bisakah aku seperti Lauri? Adakah orang yang bisa menemukanku?
Dan semuanya
menjadi gelap.
Aku terbangun dengan kepala berdentum. Aku sangat lemas dan
sakit kepala hebat menyerangku dengan kuat. Disatu sisi aku ingin berbaring.
Tapi di sisi lain aku juga ingin bangun. Itu semua karena suara ribut-ribut
yang terdengar dari luar sana. Aku mengerutkan keningku dan menggosok-gosoknya
agar sakitnya hilang. Lalu aku mendengar suara teriakan dari sebelahku.
“Dia sudah bangun!”
Teriakannya membuat suara ribut-ribut itu berhenti sejenak.
Saat itulah aku membuka mataku dan mencerna semuanya. Tapi aku tidaklah sebebas
yang kukira karena begitu mendengar suara anak itu, tiba-tiba banyak anak-anak
yang mengerumuniku. Salah satunya adalah dia, Jack Foster.
Aku hampir saja melompat dari tempat tidur begitu melihat
orang bertampang sangar itu. Hanya saja sakit kepala ini menghadangku sehingga
aku berbaring kembali.
“Kau sudah bangun, bocah?”
Aku tersentak mendengar nada bicaranya yang kasar itu. Tapi
aku menjawabnya, “ya.”
Kemudian si tampang sangar itu berbalik dan memberi perintah
kepada dua orang anak, “Ron, Marcus, berikan ia makanan dan minum. Yang lain
keluar. Ia kepanasan.”
Ia begitu tahu apa yang bisa ia perbuat. Tapi waktu itu aku
begitu takut padanya. Kemudian ia membalikkan badannya padaku. “Kau ingat apa
yang terjadi dua malam lalu?”
Keningku berkerut. Dua malam lalu? Berarti aku sudah
tertidur selama itu? Aku ingin berpikir jernih lagi, tapi sepertinya sorot
matanya itu menyiratkan ketidaksabaran. Akhirnya dengan suara parau aku
menjawab, “ya…,” kataku lemah, mencoba mengumpulkan dengan capat
kepingan-kepingan pikiranku yang buyar.
Ia menatapku sekilas sebelum berpaling dan berkata sambil
lalu, “setelah ini pulanglah.”
Aku ingin memprotes hal itu, tapi suaraku tidak bisa keluar.
Marcus dan Ron datang dengan membawa air dan biskuit untukku. Mereka hanya
meletakkannya dan kemudian berlalu pergi. Aku meraih makanan itu dengan bimbang
dan memakannya segigit. Kemudian memakannya dengan lahap karena aku sangat
kelaparan.
Aku bisa merasakan kalau kepalaku menjadi jernih dan enak
kembali. Akhirnya aku bisa mencerna tempatku berada sekarang.
Aku berada di pinggiran kota London yang kumuh dan penuh
dengan hal-hal berbau gelap. Saat itu aku berbaring di rumah Foster… anak-anak
itu yang memberitahuku nama itu dan orang bertampang menyeramkan itu adalah
Jack Foster yang usianya masih lima belas tahun. Aku terkesima mengetahui hal
itu dan sangat berkesan karena ia bisa membuat penampungan anak-anak ini.
Seorang anak perempuan yang sepertinya setahun lebih muda
datang padaku dan menemaniku selagi semua anak-anak yang ada di sana pergi
bekerja… sebagai pencopet, pencuri, dan ada yang sebagai penipu!
“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya padaku dengan senyum
manisnya.
“Ya, aku sudah merasa lebih baik…”
Setelah berbasa-basi sebentar ia mengatakan kalau namanya
adalah Sarah Collin. Ia menanyakan namaku dan aku sempat terdiam sebentar. Aku
menimbang-nimbang apa aku memberitahukan nama asliku saja atau justru menipunya
dengan nama samaran.
“Apa kau tidak ingat namamu?”
Seperti mendapat teguran lembut dari guru, aku tersentak dan
menunjukkan senyum menipu padanya yang anehnya ia percayai. “Atkins,” jawabku.
Aku tidak tahu dari mana nama itu berasal, hanya saja nama
itu tiba-tiba terasa cocok denganku. Nama asliku adalah Erland Avendale, dan
aku tidak ingin memakali nama itu dalam proses pelarianku hari ini.
“Dan nama keluargamu?” tanya gadis itu.
Aku seketika membeku dan berpikir. Apa yang harus lakukan?
Mempertaruhkan nama Avendale? Tidak. Itu salah. “Entahlah. Orang-orang hanya
memanggilku begitu. Yang aku ingat hanya itu…,” lalu aku memegang kepalaku
dengan kening berkerut.
“Apa kepalamu sakit?” tanyanya panik.
“Tidak apa-apa. Aku hanya butuh istirahat…,” kataku pelan.
“Kalau begitu istirahatlah. Panggil aku kalau kau butuh
sesuatu,”
Aku menaggangguk dan berbaring sambil memejamkan mata. Aku
bisa mendengar kalau pintu itu ditutup dan kemudian aku bernapas lega. Aku
tidak tahu kalau aku bisa berbohong seperti itu. Mungkin karena aku terlalu
sering membaca buku itu, makanya aku bisa mengatakan itu.
Dan saatnya pergi sudah tiba saat Jack Foster melihatku
sudah bisa turun dan berjalan-jalan sedikit ke luar rumah.
“Lebih baik kau segera pergi dari tempat ini. Orang
sepertimu tidak pantas di sini,” katanya waktu itu.
Aku menolaknya dan kami berdebat karena aku sangat ingin
tinggal di sini. perdebatan kami cukup alot saat itu. Akhirnya ia dengan
garangnya mengusirku pergi sampai-sampai ia melempar tasku ke luar pintu.
Itulah yang dilakukan oleh penyelamatku saat itu. Akhirnya aku pergi dan
meringkuk lagi dijalanan sendirian.
Aku sempat berpikir untuk pulang, tapi aku bosan di sana.
Aku tidak bisa mendapatkan apa yang kuinginkan di rumah dan aku hanya bisa
diejek sebagai seorang anak manja yang lemah… yang menanti kedatangan ibunya.
Akhinrnya aku mencari pekerjaan agar bisa membeli makanan. Aku pernah menjadi
tukang angkut kotak-kotak minuman disebuah bar murah yang terkenal dikalangan
pinggir kota dan melakukannya hampir lima bulan lamanya dari senja sampai pagi
hari. Pagi sampai sore aku berada di Lexus Hall yang merupakan arena pelatihan
tinju.
Banyak yang datang ke sana dan aku menekuri buku keuangan
mereka hanya karena aku terlalu menyenangi angka. Sesekali aku diajari secara
gratis tentang duel dan tidak jarang banyak yang menantangku karena aku
terlihat menantang untuk diberi bekas luka. Dari kebrutalan itulah aku
mempelajari hal-hal gelap seperti itu.
Aku diakui sebagai anggota berandalan yang suka seenaknya
saja. Aku mulai minum dan mulai menyukai wanita… tanpa benar-benar menyentuhnya
dan itu sudah cukup. Aku tahu apa yang kuinginkan. Untuk yang satu ini aku
punya komitmen tersendiri. Itu mutlak.
Aku akhirnya bertemu lagi dengan Jack foster saat aku
berumur tiga belas tahun. aku tidak tahu masalahnya apa, hanya saja aku bisa
melihat ketidak adilan saat itu. Jack sendirian di sana dan ia dikerubungi oleh
orang-orang berbadan kekar yang lebih tua darinya. Mereka berkelahi dan Jack
banyak mendapatkan luka sehingga ia terlihat hampir pingsan… atau mungkin
sebentar lagi mati.
Aku menyusup ke belakang dan mulai melakukan satu serangan…
diumurku yang baru saja memasuki tiga belas tahun! Aku membawa pisau sebagai sejata
saat itu dan mulai bertarung. Sangat menyenangkan bisa menumpahkan emosi marah
itu pada mereka karena saat itu aku benar-benar sedang marah! Pertarungan
terjadi dan aku melawan tiga orang pria dewasa itu dan hampir membunuh salah
satunya.
Aku belum pernah membunuh orang dengan senjata karena saat
aku menjadi seorang anak geng jalanan aku hanya memukul dan meninju mereka saja
sampai mereka pingsan. Aku menyeret Jack Foster, si beruang, untuk pertama
kalinya. Ia tidak melawanku saat aku merangkulnya. Ia butuh pertolongan. Aku
sampai di rumah tempat ia menampung anak-anak itu. Mereka sudah pindah rupanya.
Aku melihat Sarah Collin menghampiri kami dengan wajah
cemasnya dan ia terkejut melihatku. Baginya aku tetaplah Atkins, dan nama itu
tetap kupakai selama hampir tinggal di daerah ini.
Singkatnya aku dan Jack mulai dekat dan membicarakan banyak
hal bersama. Tulangnya lengannya patah dan ia mengalami banyak lebam yang
membuatnya harus berbaring. Ia tidak mau membahas tentang penyebab kekalahannya
waktu itu, mungkin karena aku yang lima tahun lebih muda darinya sanggup
melakukan perlawanan dan hanya mendapat luka gores, bibir robek, dan lebam
diwajah. Itu tidak buruk.
Dan akhirnya aku ditemukan oleh ayahku, Robert Avendale,
yang tanpa ragu-ragu menunjukkan wajah murkanya padaku.
“Sudah cukup untuk pergi mainnya, nak. Sekarang kau harus
pulang atau kau akan masuk penjara karena hampir membunuh orang.”
Tidak ada yang bisa kulakukan dengan penawaran itu. Penjara
bukanlah tempat impianku dan aku sangat tidak ingin ke sana. Dan yang lebih
membuatku tercengang adalah kenapa ia bisa tahu dengan masalah itu? Aku hampir
saja menuduh Jack yang membocorkan itu semua. Aku awalnya tidak mau kembali
karena aku bisa saja membunuh ayahku saat itu juga. Hanya saja aku tahu kemana
resikonya. Jika aku tidak pulang, maka ayahku akan melakukan hal yang lebih
mengerikan kepada Foster dan anak-anak yang ia tampung ini. Aku tahu kalau
mereka adalah penipu, pencopet, dan maling… jadi aku membuat kesepakatan kalau
aku akan pulang jika mereka semua tidak dilaporkan ke polisi.
Aku pulang dengan terpaksa dan melakukan banyak hal yang
tertinggal. Aku dituntut belajar lebih giat lagi dan mengikuti banyak tradisi
keluarga. Hanya saja aku bisa mencuri kebebasan yang aku inginkan. Aku masih bisa
datang ke tempat aku menjalani hidup yang keras itu dan mengunjungi Jack
sebagai seorang Atkins kembali, bukan sebagai seorang Erland Avendale yang
memakai topeng sopan santunnya.
Aku sangat menyukai tinju dan aku sering berlatih di Lexus
Hall itu dengan waktu teratur. Mereka semua kaget mendengar umurku yang
sebenarnya, yaitu tiga belas tahun. Terlalu cepat dewasa, kata mereka. Aku
tidak memungkiri hal itu karena aku terlalu
cepat bosan, kurasa. Masih dalam masa itu juga Jack memanggilku Devil karena ia menelusuri sejarahku
selama berada di jalanan. Aku sudah pernah mengalahkan tujuh orang berbadan
besar sendirian dan juga digilai para wanita jalang dan hampir membunuh
penyerangnya waktu itu.
Ia bilang kalau hasrat membunuhku sangat besar dan
kemungkinan jika itu terlepas, maka neraka bukan hanya untukku, tapi juga untuk
musuhku. Siapa yang berani melawanku? Dengan anggun aku mengucapkan terimakasih
atas pujiannya. Aku hargai itu dan akhirnya aku diasingkan ke Indonesia karena
sikap dinginku dan ketidaksopananku karena keributan minggu lalu. Aku tidak
peduli itu.

0 comments: