The Moon and The Sun #26 - Rain
26
Gates duduk di
sofaku dengan nyaman sementara aku sedang sibuk membereskan meja dan menumpuk
sampah ke dalam kan tung
plastik. Sebenarnya dia ingin membantu tapi aku melarang keras. Jadinya dia
hanya duduk sambil menggonta ganti cannel tv dengan wajah bosan. Aku
membereskan dapur dan mencuci piring dengan cepat. Setelah semuanya beres, aku
melirik padanya. Victor, Flea, dan Joe sudah pulang duluan.
“Kau tidak
mengajaknya.” Kataku padanya sambil melipat apron lalu menghampirinya.
Ia bergeser sedikit
agar aku bisa duduk di sampingnya. “Siapa?” tanyanya sambil mematikan tv.
Aku duduk di
sampingnya. “Emily.”
Ia terlihat tegang
sesaat sebelum akhirnya mendesah. Ia tersenyum hambar padaku. “Kura sa tidak perlu.”
“Kenapa?”
Ia hanya menatapku
saja dan aku langsung tahu jawabannya.
“Jadi itu benar?”
tanyaku lagi dengan nada tidak percaya.
“Dia hanya
menganggapku sebagai teman, tidak lebih.” Katanya pasrah.
“Tapi kau pernah
menci –” aku menutup mulutku saat tersadar.
Ia buru-buru
menegakkan tubuhnya dan menatapku curiga. “Apa?”
“Tidak.”
“Katakan saja. Aku
tahu kau tahu sesuatu.” Katanya.
Aku
mempertimbangkannya dan akhirnya dengan nada sesal meminta maaf. “Aku sama
sekali tidak sengaja! Sungguh!” kataku panik. Tapi ia menungguku mengatakannya.
Aku menyerah dan berkata, “yah, aku tidak sengaja melihat kalian ciuman.” Dan
aku langsung merasa malu. Aku yakin kalau wajahku memerah sekarang.
“Kapan?”
Aku merasa tidak
enak padanya. “Di Chrome… Saat kau dan dia di ruang ganti.” Akuku pelan.
Ia mendesah. “Jadi
Ciro menyelamatkanmu, begitu?”
Aku mengangguk
sedangkan ia tertawa sebentar sebelum akhirnya mendesah kesal. “Yah… Aku hanya
mencuri ciumannya, itu saja. Saat itu dia menangis karena bertengkar dengan
seseorang di telepon.” Ia menceritakannya dengan wajah muram. “Tapi lebih baik
aku tahu secepat itu dari pada nanti.”
“Tahu apa?”
“Kalau dia sudah
punya pacar. Lebih tepatnya tunangan.”
Aku menatapnya
dengan tatapan terkejut. Emily sudah bertunangan?
“Jangan begitu.” Ia
menepuk kepalaku pelan dengan kasih sayang sebelum akhirnya menyandarkan
kepalanya ke bahuku dan memejamkan mata.
Aku bisa merasakan
kesedihannya dan rasa lelahnya. Aku memeluknya dan menyandarkan kepalaku
padanya.
“Kura sa
aku butuh sandaran…” katanya pelan. “Maaf ya… Aku tahu kalau sekarang kau
memikirkan Ciro. Tapi apa bisa aku di sini sebentar?”
“Kau boleh tinggal
kalau kau mau,” jawabku pelan.
Dua orang yang
sedang berduka ada di sini, saling menguatkan diri sendiri, saling menguatkan
satu sama lain. Aku membiarkannya mengutarakan semua isi hatinya dan berharap
kalau rasa sakitnya bisa berkurang seiring waktu. Aku harap ia bisa kembali
tersenyum padaku walau ia akan bersikap keras kepala padaku karena Ciro.

0 comments: