The Moon and The Sun #7 - Rain
7
Percakapan kami
berlangsung lagi. Gates dengan semangat mulai menjelaskan maksudnya memanggilku
ke sini.
“Berdasarkan buku
itu aku tahu kalau kau bisa menulis lirik yang bagus.” Katanya padaku.
Aku menghangatkan
kedua tanganku dengan memegang gelasku. “Lirik?”
“Yah, lirik seperti
yang kau tulis saat kami berempat… maksudku seperti lirik yang dinyanyikan
mereka berempat di bukumu.”
Aku yang sudah
tidak bisa berbohong lagi dengan kenyataan itu berkata, “tapi itu lirik
anak-anak.”
“Aku suka lagu
anak-anak,” sela Joe.
“Lagu itu sangat
menyenangkan. Yah, kami tidak memintamu untuk membuat yang persis seperti itu,”
kata Gates lagi.
“Kecuali kau
membiarkan kami memakai liriknya untuk jadi lagu,” kata Flea. “Dengan senang
hati aku akan membuat nadanya.”
Aku merasa sangat
bersemangat dengan ide itu. “Yah, kau bisa memakainya.” Putusku langsung.
“Tapi kami butuh
lirik yang lain,” Gates mengubah posisi duduknya. “Lirik yang cepat, penuh
teriakan, dan sangat bermakna.”
Aku menaikkan
alisku. “Jadi intinya kalian memintaku menciptakan lagu?”
“Yup!” Victor
menjawab.
“Oh! Dan kalian
pikir aku bisa?”
“Apa kau tidak
senang dengan ide ini?” tanya Gates dengan wajah serius.
Aku menatapnya
sesaat dan bertanya-tanya kenapa aku selalu ingin memenuhi permintaannya? “Aku
tidak tahu.” Jawabku. Aku sengaja mencari jawaban aman yang menerutku tepat.
“Kalau begitu coba
saja.”
“Tapi aku tidak
pernah membuat lagu.” Aku masih berdebat.
“Kau tidak tahu
kalau tidak mencoba.” Kali ini Rev yang bicara.
Aku menatap pria
itu yang dengan ringan berkata seperti itu seolah-olah dia tidak punya beban
apapun dipikirannya. Sadar kalau aku sedang menatapnya, ia menaikkan
pandangannya dan tersenyum, “aku tahu kau bisa mencobanya.”
Aku merasa
kerongkonganku kering. Kenapa orang ini bisa membuatku jadi segugup ini?
“Aku tahu jenis
musik yang kau suka.” Kata Victor sambil bersandar di kursinya. “Kau menyukai
rock, alternative rock, musikal… musik kami juga tidak jauh dari sana .”
“Jadi kalian akan
membentuk sebuah band?” aku mencoba mencerna dan mengumpulkan semua informasi
yang kudapat dari tadi.
Gates, Flea, Joe,
Victor, dan Rev saling memandang satu sama lain.
“Apa aku tidak
pernah memberitahumu?” tanya Gates memastikan.
Aku mengerutkan
kening dengan eksperi memangnya kau
pernah memberitahuku?
“Kalau begitu aku
belum mengatakannya.” Katanya enteng.
Rasanya aku ingin
mencekik orang ini karena kesal. “Baiklah. Apa kalian akan menjadi anak band?”
“Band profesional,
sayang. Kami sudah berkembang.” Ralat Flea sambil tersenyum. “Kami sudah
mengeluarkan single yang meledak dipasaran dan tahun lalu mengeluarkan album
yang membuat heboh seluruh amerika.”
“Oh ya?” aku
terkejut. “Aku tidak tahu.”
“Bagaimanapun juga,
kau bukanlah orang yang mengikuti perkembangan musik masa kini. Yang kau tahu
dari dulu hanya band yang itu-itu saja. Aku heran, apa Indonesia begitu terpencil? Tunggu.
Kita pernah konser di sana beberapa bulan lalu, kan ?” Joe menatap
teman-temannya.
“Bulan apa?”
“April.” Jawab
Flea.
“Aku di Australia.”
Jawabku.
“Sebenarnya aku
mengakui selera musikmu. Tapi…” Joe melirik pada Gates.
Gates mengangkat
bahunya, “yah begitulah. Tidak up date.”
Aku mengangkat
tanganku sekarang tanda menyerah. “Oke, aku memang tidak sedetil itu. Tapi di
sini intinya kalian memintaku membuat lagu, kan ?”
“Yup. Tepat!” Flea
setuju.
“Aku tahu seleramu
terhadap seni itu bagus. Lagi pula aku ingin menepati janji.” Kata Gates.
Aku ingat janji
Gates padaku sebelum aku pindah ke Indonesia . Ia akan memberi satu
kesempatan padaku untuk menulis lagu. Aku senang dia mengingatnya.
“Tapi aku bisa
membuat lagu di Indonesia .”
Kataku sambil meminum tehku.
“Apa kau tidak
merindukanku?” tanya Gates serius dan itu membuat jantungku melonjak senang.
“Kami lebih
tepatnya, Gates.” Ralat Victor.
Aku mencoba tertawa
agar bisa kembali kerealita. “Yah, tentu saja aku merindukan kalian makanya aku
ke sini.”
“Senang
mendengarnya,” kata Flea sambil mengangkat gelasnya ke tengah meja. “Untuk
kesuksesan kita semua, mari bersulang.”
Kami mengangkat
gelas dan saling bersulang. Saat aku meminum tehku, tatapan mataku dan Rev
tanpa sengaja bertemu sejenak sebelum ia mengalihkan tatapannya. Aku berkonsentrasi
meminum tehku dan segera bersikap biasa agar aku tidak gugup.
Rev membuatku
sedikit takut.
Kami banyak
membicarakan soal musik dan aku yang sama sekali tidak tahu menahu dengan
industri hiburan macam itu hanya diam mendengar. Awalnya aku merasa sangat
bersemangat hanya saja semangatku turun drastis saat mereka dengan serius
membahas konsep album mereka ke depan. Aku mendapat kebebasan untuk membuat
lagu yang berbeda jenis musiknya jika aku mau. Yang jelas mereka akan
mengeluarkan album ini pertengahan tahun depan. Artinya hanya ada waktu beberapa
bulan untuk bisa menyelesaikannya.
Hal yang tidak
kusangka-sangka adalah tentang Rev sendiri. Siapa sangka dibalik sikapnya yang
serius itu ia sangat jenius dalam bermusik. Ia bisa menciptakan lagu dengan
lirik yang dalam, lengkap, dan memukau. Ia adalah kunci utama band ini karena
dia seorang komposer handal bertangan dingin.
“Sebenarnya dia
juga seorang dokter… yah, itu jika dia mau kembali ke rumah sakit lagi. Dia
sangat jenius.” Bisik Joe padaku saat aku bertanya. “Hanya Gates yang
beranggapan kalau musik adalah dunianya.” Komentar Joe.
Aku akhirnya
memutuskan untuk meninggalkan ruangan itu dan memilih duduk di luar. Aku merasa
seperti diajak kemasa lalu saat melihat rumah lamaku yang sudah dijual. Gates
bercerita kalau yang tinggal di sana
adalah keluarga Frans. Mereka sangat baik dan ramah pada semua tetangga. Aku
senang melihat rumah lamaku itu menjadi hangat. Aku yakin mereka pasti mengisi
rumah itu dengan cinta.
Saat duduk di teras
rumahnya, aku tidak sadar kalau ada seseorang di belakangku sampai ia
menegurku.
“Sedang apa?” tanya
suara itu.
Aku kaget mendengar
suara asing itu dan langsung berdiri menghadapnya.
Rev ada di sana dan sedang menatapku
dengan ekspresi tak terbaca. Aku tercekat sesaat. “Maaf,” kataku buru-buru.
Ia menatapku dengan
tatapan tidak mengerti. “Untuk apa?”
Dan aku segera
merasa sangat bodoh. Apa yang kukatakan tadi?
Sambil mengenyahkan
pikiranku yang kacau sesaat – dan bicaraku yang melantur – aku tersenyum dan
buru-buru berkata, “tidak. Tidak ada.” Lalu dengan bijak aku mengalihkan
pembicaraan. “Apa kalian sudah selesai?” tanyaku.
“Aku sudah, mereka
belum.” Jawabnya.
“Ooh…” hanya
komentar itu yang keluar dari mulutku. Selebihnya aku tidak tahu harus bicara
apa dengannya. Aku tidak punya topik yang bisa membuat suasana canggung ini
hilang.
“Apa kau dulu
tinggal di sana ?”
tanyanya sambil melihat kearah rumah lamaku dulu.
Aku merasa dia
benar-benar seorang penyelamat suasana. “Ya. Aku tinggal di sana dulu. Kembali ke sini benar-benar
membuatku merasa pulang.”
“Kenapa kau pindah
ke Indonesia ?”
ia menatapku lagi.
“Ayahku dipindah
tugaskan ke sana .
Kami sekeluarga harus ikut.” Aku terkenang dengan masa-masa itu. “Awalnya aku
merasa tidak suka jauh dari rumahku sendiri. Aku sudah punya banyak teman di
sini dan aku tidak suka meninggalkan mereka begitu saja. Aku tidak begitu bisa
bergaul, apalagi di lingkungan baru. Bagiku itu seperti terdampar di negeri
asing. Aku sangat tidak suka.” Lalu sambil memandang langit aku tersenyum.
“Tapi penilaianku salah. Aku sangat menyukai tempat itu. Aku bisa merasakan
banyak pengalaman berbeda dan bertemu dengan orang-orang baru.”
Apa aku terlalu
banyak bicara? Aku tidak tahu. Yang jelas saat aku berhenti bercerita ia masih
terus menatapku dengan ekspresi datar yang tidak kumengerti. Walaupun begitu
aku merasa sangat nyaman menceritakan semua itu padanya. Rasanya dia
benar-benar tulus mendengarkanku dan aku merasa sangat amat dekat dengannya.
Ini sungguh sangat
aneh.
Dan tanpa diminta aku
kembali bercerita. “Aku sangat suka salju.” Kataku sambil menatap salju yang
menumpuk di halaman rumah Gates. “Gates bilang salju adalah hal terindah yang
pernah ada di dunia. Dia tahu kalau aku tidak bisa keluar rumah saat musim
dingin. Bagiku saat itu musim dingin adalah hal terburuk yang pernah ada. Aku
tidak bisa keluar pada saat seperti itu. Tapi aku tahu kalau musim ini selalu
datang. Aku iri melihat Gates, Victor, dan Joe bermain perang salju di jalan.
Aku juga iri melihat Flea yang dengan sombongnya memamerkan jaket barunya. Aku
hanya bisa melihat itu semua dari jendela.” Ceritaku panjang lebar.
“Kenapa?” tanya
Rev.
Aku tersenyum samar
saat menjawabnya. “Dulu aku sakit… Setiap musim dingin datang keadaanku selalu
memburuk. Tubuhku juga lemah.” Aku teringat dengan masa-masa itu dimana tidak
ada satu hari tanpa diawasi dan tidak ada satu hari tanpa minum obat atau rasa
sakit di dada. “Aku selalu berdoa pada Tuhan agar musim semi selalu datang
karena pada saat itu aku merasa seperti terlahir kembali.” Tambahku dengan nada
pelan.
Aku tahu dia masih
menatapku dan mendengarkanku bercerita. Aku tersenyum padanya saat berkata,
“sekarang aku sehat. Aku sudah bisa berlari dan melakukan apa yang kusuka.”
“Senang
mendengarnya.” Katanya sambil tersenyum lembut yang langsung membuat jantungku
berdegup kencang. “Aku tahu bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang
sakit-sakitan.”
Aku mencoba
tersenyum. “Itu adalah masa sulit.”
“Benar,” ia
berbalik dan masuk ke dalam ruangan. Hanya saja pada saat ia membuka pintu ia
berkata, “kau harus segera masuk. Di dalam lebih hangat.”

0 comments: