The Moon and The Sun #7 - Rain

9:41 PM fe 0 Comments

7
Percakapan kami berlangsung lagi. Gates dengan semangat mulai menjelaskan maksudnya memanggilku ke sini.

“Berdasarkan buku itu aku tahu kalau kau bisa menulis lirik yang bagus.” Katanya padaku.

Aku menghangatkan kedua tanganku dengan memegang gelasku. “Lirik?”

“Yah, lirik seperti yang kau tulis saat kami berempat… maksudku seperti lirik yang dinyanyikan mereka berempat di bukumu.”

Aku yang sudah tidak bisa berbohong lagi dengan kenyataan itu berkata, “tapi itu lirik anak-anak.”

“Aku suka lagu anak-anak,” sela Joe.


“Lagu itu sangat menyenangkan. Yah, kami tidak memintamu untuk membuat yang persis seperti itu,” kata Gates lagi.

“Kecuali kau membiarkan kami memakai liriknya untuk jadi lagu,” kata Flea. “Dengan senang hati aku akan membuat nadanya.”

Aku merasa sangat bersemangat dengan ide itu. “Yah, kau bisa memakainya.” Putusku langsung.

“Tapi kami butuh lirik yang lain,” Gates mengubah posisi duduknya. “Lirik yang cepat, penuh teriakan, dan sangat bermakna.”

Aku menaikkan alisku. “Jadi intinya kalian memintaku menciptakan lagu?”

“Yup!” Victor menjawab.

“Oh! Dan kalian pikir aku bisa?”

“Apa kau tidak senang dengan ide ini?” tanya Gates dengan wajah serius.

Aku menatapnya sesaat dan bertanya-tanya kenapa aku selalu ingin memenuhi permintaannya? “Aku tidak tahu.” Jawabku. Aku sengaja mencari jawaban aman yang menerutku tepat.

“Kalau begitu coba saja.”

“Tapi aku tidak pernah membuat lagu.” Aku masih berdebat.

“Kau tidak tahu kalau tidak mencoba.” Kali ini Rev yang bicara.

Aku menatap pria itu yang dengan ringan berkata seperti itu seolah-olah dia tidak punya beban apapun dipikirannya. Sadar kalau aku sedang menatapnya, ia menaikkan pandangannya dan tersenyum, “aku tahu kau bisa mencobanya.”

Aku merasa kerongkonganku kering. Kenapa orang ini bisa membuatku jadi segugup ini?

“Aku tahu jenis musik yang kau suka.” Kata Victor sambil bersandar di kursinya. “Kau menyukai rock, alternative rock, musikal… musik kami juga tidak jauh dari sana.”

“Jadi kalian akan membentuk sebuah band?” aku mencoba mencerna dan mengumpulkan semua informasi yang kudapat dari tadi.

Gates, Flea, Joe, Victor, dan Rev saling memandang satu sama lain.

“Apa aku tidak pernah memberitahumu?” tanya Gates memastikan.

Aku mengerutkan kening dengan eksperi memangnya kau pernah memberitahuku?

“Kalau begitu aku belum mengatakannya.” Katanya enteng.

Rasanya aku ingin mencekik orang ini karena kesal. “Baiklah. Apa kalian akan menjadi anak band?”

“Band profesional, sayang. Kami sudah berkembang.” Ralat Flea sambil tersenyum. “Kami sudah mengeluarkan single yang meledak dipasaran dan tahun lalu mengeluarkan album yang membuat heboh seluruh amerika.”

“Oh ya?” aku terkejut. “Aku tidak tahu.”

“Bagaimanapun juga, kau bukanlah orang yang mengikuti perkembangan musik masa kini. Yang kau tahu dari dulu hanya band yang itu-itu saja. Aku heran, apa Indonesia begitu terpencil? Tunggu. Kita pernah konser di sana beberapa bulan lalu, kan?” Joe menatap teman-temannya.

“Bulan apa?”

“April.” Jawab Flea.

“Aku di Australia.” Jawabku.

“Sebenarnya aku mengakui selera musikmu. Tapi…” Joe melirik pada Gates.

Gates mengangkat bahunya, “yah begitulah. Tidak up date.”

Aku mengangkat tanganku sekarang tanda menyerah. “Oke, aku memang tidak sedetil itu. Tapi di sini intinya kalian memintaku membuat lagu, kan?”

“Yup. Tepat!” Flea setuju.

“Aku tahu seleramu terhadap seni itu bagus. Lagi pula aku ingin menepati janji.” Kata Gates.

Aku ingat janji Gates padaku sebelum aku pindah ke Indonesia. Ia akan memberi satu kesempatan padaku untuk menulis lagu. Aku senang dia mengingatnya.

“Tapi aku bisa membuat lagu di Indonesia.” Kataku sambil meminum tehku.

“Apa kau tidak merindukanku?” tanya Gates serius dan itu membuat jantungku melonjak senang.

“Kami lebih tepatnya, Gates.” Ralat Victor.

Aku mencoba tertawa agar bisa kembali kerealita. “Yah, tentu saja aku merindukan kalian makanya aku ke sini.”

“Senang mendengarnya,” kata Flea sambil mengangkat gelasnya ke tengah meja. “Untuk kesuksesan kita semua, mari bersulang.”

Kami mengangkat gelas dan saling bersulang. Saat aku meminum tehku, tatapan mataku dan Rev tanpa sengaja bertemu sejenak sebelum ia mengalihkan tatapannya. Aku berkonsentrasi meminum tehku dan segera bersikap biasa agar aku tidak gugup.

Rev membuatku sedikit takut.


Kami banyak membicarakan soal musik dan aku yang sama sekali tidak tahu menahu dengan industri hiburan macam itu hanya diam mendengar. Awalnya aku merasa sangat bersemangat hanya saja semangatku turun drastis saat mereka dengan serius membahas konsep album mereka ke depan. Aku mendapat kebebasan untuk membuat lagu yang berbeda jenis musiknya jika aku mau. Yang jelas mereka akan mengeluarkan album ini pertengahan tahun depan. Artinya hanya ada waktu beberapa bulan untuk bisa menyelesaikannya.

Hal yang tidak kusangka-sangka adalah tentang Rev sendiri. Siapa sangka dibalik sikapnya yang serius itu ia sangat jenius dalam bermusik. Ia bisa menciptakan lagu dengan lirik yang dalam, lengkap, dan memukau. Ia adalah kunci utama band ini karena dia seorang komposer handal bertangan dingin.

“Sebenarnya dia juga seorang dokter… yah, itu jika dia mau kembali ke rumah sakit lagi. Dia sangat jenius.” Bisik Joe padaku saat aku bertanya. “Hanya Gates yang beranggapan kalau musik adalah dunianya.” Komentar Joe.

Aku akhirnya memutuskan untuk meninggalkan ruangan itu dan memilih duduk di luar. Aku merasa seperti diajak kemasa lalu saat melihat rumah lamaku yang sudah dijual. Gates bercerita kalau yang tinggal di sana adalah keluarga Frans. Mereka sangat baik dan ramah pada semua tetangga. Aku senang melihat rumah lamaku itu menjadi hangat. Aku yakin mereka pasti mengisi rumah itu dengan cinta.

Saat duduk di teras rumahnya, aku tidak sadar kalau ada seseorang di belakangku sampai ia menegurku.

“Sedang apa?” tanya suara itu.

Aku kaget mendengar suara asing itu dan langsung berdiri menghadapnya.

Rev ada di sana dan sedang menatapku dengan ekspresi tak terbaca. Aku tercekat sesaat. “Maaf,” kataku buru-buru.

Ia menatapku dengan tatapan tidak mengerti. “Untuk apa?”

Dan aku segera merasa sangat bodoh. Apa yang kukatakan tadi?

Sambil mengenyahkan pikiranku yang kacau sesaat – dan bicaraku yang melantur – aku tersenyum dan buru-buru berkata, “tidak. Tidak ada.” Lalu dengan bijak aku mengalihkan pembicaraan. “Apa kalian sudah selesai?” tanyaku.

“Aku sudah, mereka belum.” Jawabnya.

“Ooh…” hanya komentar itu yang keluar dari mulutku. Selebihnya aku tidak tahu harus bicara apa dengannya. Aku tidak punya topik yang bisa membuat suasana canggung ini hilang.

“Apa kau dulu tinggal di sana?” tanyanya sambil melihat kearah rumah lamaku dulu.

Aku merasa dia benar-benar seorang penyelamat suasana. “Ya. Aku tinggal di sana dulu. Kembali ke sini benar-benar membuatku merasa pulang.”

“Kenapa kau pindah ke Indonesia?” ia menatapku lagi.

“Ayahku dipindah tugaskan ke sana. Kami sekeluarga harus ikut.” Aku terkenang dengan masa-masa itu. “Awalnya aku merasa tidak suka jauh dari rumahku sendiri. Aku sudah punya banyak teman di sini dan aku tidak suka meninggalkan mereka begitu saja. Aku tidak begitu bisa bergaul, apalagi di lingkungan baru. Bagiku itu seperti terdampar di negeri asing. Aku sangat tidak suka.” Lalu sambil memandang langit aku tersenyum. “Tapi penilaianku salah. Aku sangat menyukai tempat itu. Aku bisa merasakan banyak pengalaman berbeda dan bertemu dengan orang-orang baru.”

Apa aku terlalu banyak bicara? Aku tidak tahu. Yang jelas saat aku berhenti bercerita ia masih terus menatapku dengan ekspresi datar yang tidak kumengerti. Walaupun begitu aku merasa sangat nyaman menceritakan semua itu padanya. Rasanya dia benar-benar tulus mendengarkanku dan aku merasa sangat amat dekat dengannya.

Ini sungguh sangat aneh.

Dan tanpa diminta aku kembali bercerita. “Aku sangat suka salju.” Kataku sambil menatap salju yang menumpuk di halaman rumah Gates. “Gates bilang salju adalah hal terindah yang pernah ada di dunia. Dia tahu kalau aku tidak bisa keluar rumah saat musim dingin. Bagiku saat itu musim dingin adalah hal terburuk yang pernah ada. Aku tidak bisa keluar pada saat seperti itu. Tapi aku tahu kalau musim ini selalu datang. Aku iri melihat Gates, Victor, dan Joe bermain perang salju di jalan. Aku juga iri melihat Flea yang dengan sombongnya memamerkan jaket barunya. Aku hanya bisa melihat itu semua dari jendela.” Ceritaku panjang lebar.

“Kenapa?” tanya Rev.

Aku tersenyum samar saat menjawabnya. “Dulu aku sakit… Setiap musim dingin datang keadaanku selalu memburuk. Tubuhku juga lemah.” Aku teringat dengan masa-masa itu dimana tidak ada satu hari tanpa diawasi dan tidak ada satu hari tanpa minum obat atau rasa sakit di dada. “Aku selalu berdoa pada Tuhan agar musim semi selalu datang karena pada saat itu aku merasa seperti terlahir kembali.” Tambahku dengan nada pelan.

Aku tahu dia masih menatapku dan mendengarkanku bercerita. Aku tersenyum padanya saat berkata, “sekarang aku sehat. Aku sudah bisa berlari dan melakukan apa yang kusuka.”

“Senang mendengarnya.” Katanya sambil tersenyum lembut yang langsung membuat jantungku berdegup kencang. “Aku tahu bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang sakit-sakitan.”

Aku mencoba tersenyum. “Itu adalah masa sulit.”

“Benar,” ia berbalik dan masuk ke dalam ruangan. Hanya saja pada saat ia membuka pintu ia berkata, “kau harus segera masuk. Di dalam lebih hangat.”


You Might Also Like

0 comments: