The Moon and The Sun #21 - Rain
21
Entah sudah berapa
lama aku tertidur di bangku koridor itu. Yang jelas aku merasa sudah sangat
lama sejak Dr.Synyster meninggalkanku karena harus kembali bertugas dan sejak
aku memutuskan untuk memberi ruang bagi Rev dan teman-temannya di kamar.
Aku terbangun
dengan perasaan nyaman yang jarang kurasakan. Bukankah di koridor tadi rasanya
tidak sehangat ini? Aku merasa tidur sambil berbaring dengan rasa hangat yang
menenangkan tubuh dan degup jantung seseorang yang berdetak teratur di bawah
telingaku serta aroma tubuh yang harum, manis, dan maskulin yang memenuhi
inderaku. Aku merasa di depanku ada dinding yang hangat, bukan dingin seperti
biasa. Bingung dengan apa yang terjadi, aku memaksakan diri membuka mataku dan
menyadari kalau aku sudah dipidahkan dari kursi ke tempat tidur.
Aku terkesiap.
Apa lagi sekarang?
Siapa yang berani memindahkanku tanpa membangunkanku? Aku mendongak dan
langsung merasa malu saat tatapan mataku bertemu dengan Rev. Karena tidak biasa
tidur di samping pria, aku langsung melompat bangun, tapi Rev mengeratkan
pelukannya sehingga aku tetap di tempat.
“Rev? Aku… Kenapa
aku bisa di sini?” tanyaku tergagap.
“Kau sudah bangun?”
tanyanya.
“Ya… maksudku…
iya.”
Menyadari
kepanikanku, Rev langsung tertawa kecil. Ia bergeser sedikit sehingga wajah
kami bisa sejajar sekarang. Ia menatapku sambil tersenyum dengan wajah manisnya
dan itu membuat jantungku berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya.
“Wajahmu merah,”
godanya.
“Tentu saja!”
tukasku. “Siapa yang memindahkanku ke sini?” tanyaku lagi.
Dengan nada tidak
peduli ia menjawab, “awalnya Gates menggendongmu ke sini dan menaruhmu di sofa.
Tapi bukankah itu kejam? Jadi saat mereka pergi aku menggendongmu ke sini.
Bagaimana? Lebih nyaman, kan ?”
Aku menggeleng
kuat-kuat. “Tapi ini hanya akan mengganggumu. Jadi lebih baik aku–”
“Tidak.” Potongnya
cepat. “Kau akan di sini.” Katanya dengan nada pasti.
“Aku yang
memutuskan.” Aku protes. Tentu saja.
“Aku yang
memutuskan. Lagi pula ini kamarku.” Katanya ringan.
“Kau sedang sakit…”
aku mencoba mencari alasan.
“Dan aku berusaha
untuk sembuh atau… kau risih tidur di samping pria sakit?” tanyanya dengan
wajah bertanya.
Aku tidak bermaksud
menyinggungnya. “Kau tahu kalau aku tidak pernah risih disampingmu. Kalau aku
risih, aku takkan di sini.”
“Tapi kau terlalu
baik.”
“Yang membuatku
tampak seperti orang bodoh dan tolol?”
Ia tertawa dan
membelai rambutku. “Kau terlalu baik padaku, tapi aku tahu kau tidak semudah
itu percaya dengan orang lain dihidupmu. Apa aku salah?”
Aku menatapnya
baik-baik. “Kau bisa melihat itu?” tanyaku pelan.
“Aku tahu kalau kau
bisa menghindariku semaumu. Tapi kenapa kau masih menemuiku?” kali ini ia
bertanya dengan nada serius. “Apa karena aku begitu menyedihkan dan kau kasihan
padaku?”
Aku menatap matanya
dengan tatapan serius lalu menarik napas sebelum berkata tajam, “kau bukan
orang yang patut dikasihani, Rev. Kau bahkan terlalu sombong untuk itu. Aku
sendiri heran kenapa setiap kali aku punya kesempatan untuk lari, aku selalu
kembali padamu. Saat aku memohon untuk bisa menemukanmu, aku bisa menemukanmu.
Aku tidak tahu kenapa hal-hal aneh ini terjadi saat aku kembali ke sini dan
sejak aku bertemu denganmu. Aneh, kan ?”
Ia menyengir padaku,
“aku tidak tahu penjelasan logisnya seperti apa.” Katanya sambil menatap
dalam-dalam mataku. Mata hitamnya yang menawan itu bersinar indah. “Tapi
mungkin karena aku sering memanggil namamu.” Katanya pelan.
“Apa?”
“Mungkin kau harus
menolakku seribu kali supaya aku bisa menyerah.” Bisiknya serius.
Aku merasakan
pukulan saat mendengar itu. Rasa kecewa dan tidak percaya menyelimutiku dengan
kejamnya. Lalu aku merasa ingin menangis keras dan memohon agar ia tidak
mengatakan kalimat itu lagi. Aku menundukkan kepalaku sambil menggigit bibir.
“Selene? Kau
kenapa?” tanyanya bingung.
Aku menggelengkan
kepala sebagai jawaban.
“Selene, lihat
aku.” Pintanya lembut, tapi aku menolaknya.
Aku masih
menekurkan kepalaku saat ia bangun dan menopang tubuhnya dengan sikunya.
“Selene? Sayang,
lihat aku.” Pintanya lagi. “Kau menangis?”
Aku menggeleng
lagi.
Akhirnya ia
mengusap lembut pipiku dan kemudian dengan pelan mengangkat wajahku
menghadapnya. Aku menolak menatap matanya karena aku tahu kalau aku sedang
menahan diri untuk menangis.
“Jangan gigit
bibirmu.” Katanya lembut sambil menyentuh bibirku. “Maafkan aku…” ia benar-benar
tulus mengatakannya. “Kau boleh marah padaku.”
Aku menundukkan
kepala lagi. “Aku tidak… Aku tidak bermaksud membuatmu bingung.” Kataku dengan
suara serak. Sebenarnya diantara semua ini akulah yang bingung. Aku paling
bodoh soal masalah cinta. Aku sama sekali tidak berpengalaman secara langsung
dalam hal ini. Kalaupun aku menulis, aku bisa mengungkapkannya dengan baik.
Tapi nyatanya aku masih sangat amatiran dengan masalah ini.
Dan aku benar-benar
menyesal dengan sikapku.
Sepertinya emosiku
benar-benar sedang kacau. Aku tidak tahu kalau dampak kata-kata itu sangat
memukul hatiku. Aku tidak suka mendengarnya dan baru kali ini aku mendengarnya.
Tapi kalau dipikir-pikir lagi ini aneh bukan? Kenapa kau merasa tidak nyaman
dengan kalimat setulus itu dari orang yang benar-benar mencintaimu? Yah,
mungkin karena dalam hatiku Gates masih nomor satu.
Dan harus diingat,
keahlian wanita adalah membuat bingung pasangannya.
“Maaf, Rev. Aku…”
aku berusaha membersihkan kerongkonganku yang tiba-tiba kering. “Aku sedang bingung
juga jadi…”
“Ssttt…” ia
meletakkan jari telunjuknya di bibirku. “Bisakah kau menyingkirkan bayangannya
untuk sesaat?” pintanya.
Bayangannya? Gates?
“Aku ingin kau
melupakannya sejenak.” Katanya sebelum dengan efektif membungkam semua protesku
dengan ciumannya.
Aku merasakan hal
yang sangat menakjubkan itu lagi dan aku tak punya kekuatan untuk menolaknya.
Tapi seharusnya tidak begini, kan ?
Aku mencoba mengumpulkan akal sehatku sekuat tenaga, tapi tidak bisa. Ciumannya
berhasil menawanku hingga aku merasa pusing dan mataku terasa panas.
Ciumannya sangat
lembut dan terasa menuntut. Ia menghujaniku dengan ribuan ciuman kecil yang
terkesan membujuk. Aku bisa merasakan detak jantungnya saat aku ingin
mendorongnya. Hanya saja saat aku mencengkram bajunya, aku tidak tahu apa aku
sedang mendorongnya atau justru menariknya mendekat.
Aku merasakan
tekanan lembut di bibirku yang membuat denyut nadiku menggila. Dan tanpa sadar
aku terkesiap saat ia menelusuri leherku dengan ujung jemari tangannya.
“Rev…” bisikku di
bibirnya, memanggil namanya. Ia terus melumat bibirku dan mulai memperdalam
ciumannya dengan cara yang sangat menyenangkan.
Aku makin
kehilangan akal saat saat ia menggigit bibir bawahku. Tanpa sadar aku mendesah
penuh gairah.
“Aku mencintaimu,”
bisiknya serak sambil menciumi seluruh wajahku.
Aku tidak bisa
bersuara selain merasakan apa yang sedang dilakukannya padaku. Hal-hal yang
belum pernah kurasakan sebelumnya itu terasa sungguh menyenangkan hingga
membuatku terengah. Tapi ia segera membenamkan wajahnya di leherku dan bernapas
dalam-dalam.
Lama kami terdiam
dengan posisi seperti ini. Ia melingkupiku dan aku bisa merasakan kalau
badannya ternyata seberat ini. Hanya saja posisi ini sangat nyaman dan
membuatku merasa tenang sekaligus utuh.
Ia bangun dan
mengubah kembali posisinya untuk berbaring di sampingku kemudian mendekapku di
dadanya sambil menciumi puncak kepalaku dan membelainya.
“Tidurlah. Aku akan
menjagamu.” Janjinya padaku sambil tetap mendekapku di dadanya.
“Rev?”
“Bukankah itu dosa
mengambil sesuatu yang belum jadi milikku?” tanyanya memastikan.
Aku diam sejenak
dan menunggu kalimat selanjutnya. Tapi ia tidak bersuara juga. Dengan pelan aku
mengangkat kepalaku dan melihat matanya terpejam.
“Selene?”
panggilnya pelan tanpa membuka matanya.
Aku menatapnya.
“Ya?”
“Apa kau punya lagu
tidur?” tanyanya dengan mata terpejam.
Aku melihatnya.
Bulir-bulir keringat terlihat mengkilat di dahinya. Aku menyentuh keningnya dan
merasa kalau badannya panas. “Kau sakit.” Kataku. “Akan kupanggilkan dokter.”
Ia menahanku dan
membuka matanya. “Nyanyikan aku sesuatu. Aku akan tidur sampai pemeriksaan
siang.” Janjinya.
Aku ingin
mendebatnya tapi tak tega. Ia tampa k
lelah dan sedang melawan sakitnya sendirian. Apa yang bisa kulakukan selain
menuruti keinginannya. Aku berharap dia bisa bertahan sampai pemeriksaan siang
ini.
Aku mengangkat
tanganku dan membelai rambutnya berharap rasa sakitnya berkurang. Ia memejamkan
matanya dengan kening berkerut dan wajah menahan sakit. Dengan pelan aku mulai
menyenandungkan lagu yang kusukai.
Somewhere over the rainbow
Way up high
There’s a land that I heard of
Once in a lullaby
Somewhere over the rainbow
Bluebirds fly, oh
If birds can fly over the rainbow
Why, then why can’t I?
Someday I’ll wish upon a star
And wake up where the clouds are
far behind me
And troubles mount like lemon
drops
Way above the chimney tops
That’s where you’ll find me
Somewhere over the rainbow
Bluebirds fly, oh
If birds can fly over the rainbow
Why, then why can’t I?
Someday I’ll wake and rub my eyes
And in that land beyond the skies
You’ll find me
I’ll be a laughing daffodil
And leave the silly cares that
Fill my mind behind me
Somewhere over that rainbow
Bluebirds fly
If birds can fly over the rainbow
Why, then why can’t I?
If happy little bluebirds fly
Beyond the rainbow
Why, oh why can’t I?
Ia tertidur.
Aku menatap
wajahnya yang terlihat seperti sesosok malaikat kegelapan. Ia terlihat sangat
polos saat tidur. Seribu wajah… Aku tersenyum kecil saat mengingat kata-kata
itu. Ia bisa menjadi malaikat, atau iblis, atau anak-anak, atau juga orang
dewasa yang menyebalkan dan bijak jika ia mau.

0 comments: