The Moon and The Sun #23 - Rain
23
Setelah mengirim
pesan singkat ke ponsel Gates, aku menyetop taxi yang kebetulan lewat di
depanku dan memutuskan untuk pulang. Baru saja aku merasa duduk nyaman di
bangku penumpang, tiba-tiba aku merasa kalau perasaanku tidak enak.
Tidak!
Seharusnya aku
tidak pulang.
Aku meminta supir
taxi itu untuk memutar arah menuju rumah sakit tempat Ciro dirawat. Sebenarnya
aku ingin memberikan waktu agar ia bisa berdua saja dengan ayahnya. Hanya saja
aku merasa ada desakan kuat yang membuatku harus segera ke sana dan memberitahunya perasaanku yang
sebenarnya sebelum terlambat. Aku tak ingin terlambat!
Mobil dengan cepat
melaju ke sana
dan saat mobil berhenti aku segera turun dengan perasaan membuncah dan senyum
dibibir. Aku yakin kalau sekarang saatnya menjawab perasaan Ciro. Aku tak ingin
dia menunggu terlalu lama.
Lift mengantarku ke
lantai tiga dan dengan cepat aku langsung menuju ke kama rnya.
Sebelum aku masuk, aku mengintip ruangan itu dari kaca pintu yang ada di sana dan mendapati kalau
ruangan itu gelap, kosong dengan tempat tidur yang bersih dan rapi. Aku
mendorong pintunya sampai terbuka.
Tidak ada
siapa-siapa di sini.
Sambil mengerutkan
kening aku melihat nomor kama r yang kubuka
itu. 306. Aku yakin kalau ini kama r Ciro.
Hanya saja kemana dia?
Aku berjalan
sepanjang koridor rumah sakit itu dan tiba-tiba merasa panik. Memang ada yang
tidak beres di sini. Aku melihat ponselku tapi tidak ada pesan atau panggilan
apapun. Aku mencoba mengingat-ingat kalau kama r
itulah yang benar. Aku memutar arah dan kembali ke lift. Aku turun ke lantai
satu dan langsung ke meja informasi.
“Selamat malam,”
sambut seorang petugas wanita dengan senyum dibibirnya.
Tapi aku tak bisa
tersenyum sekarang. “Di mana pasien kama r
306?” tanyaku langsung.
“Sebentar.” Ia
mengecek daftar yang ada di komputernya. “Kama r
306 atas nama – “
“Cirino,” potongku
langsung. “Cirino Synyster.”
“Kama r
306 atas nama Cirino Synyster…” ia mengulanginya dan mengetik sesuatu.
“Mr.Synyster telah keluar dari rumah sakit siang ini.”
“Apa?” aku kaget
sekaligus tidak percaya dengan pendengaranku sendiri. “Dia… Dia sudah keluar?
Secepat itu.”
“Ya.”
Aku menghela napas,
tapi bukan rasa lega yang kurasakan. Rasanya terlalu aneh. “Kau yakin?”
Wanita itu
mengangguk. “Ia keluar jam dua siang ini.”
Aku merasa napasku
sesak. Sambil mengangguk mengerti aku mengucapkan terimakasih padanya dan
keluar dari rumah sakit. Hujan salju telah turun saat aku melangkah keluar
rumah sakit. Pukul setengah sembilan malam dan rasa dinginnya semakin mencekam.
Aku merapatkan mantel dan jaketku agar tetap hangat. Aku mengambil ponselku dan
menelepon nomor Ciro. Tapi yang mengangkatnya justru operator yang mengatakan
kalau nomornya sedang berada di luar servis area atau sedang tidak aktif.
Aku mendesah kesal.
Aku juga tidak meminta nomor ponsel ayahnya. Aku tahu kalau aku tak bisa
meminta bantuan Gates sekarang karena dia pasti sedang bersama wanita itu.
Akhirnya kuputuskan untuk menelepon Flea. Tapi ia tidak mengangkatnya. Nomor
Joe dan Victor juga tidak bisa dihubungi. Sambil menguatkan diri aku
menimbang-nimbang untuk menekan nomor kontak Gates di sana . Akhirnya aku mendesah. Tidak penting
pria itu sedang bersama siapa sekarang, yang jelas ini keadaan darurat.
Aku menekan
nomornya dan hasilnya sama saja.
Dasar tidak
berguna!
Aku hampir
membanting ponselku ke tanah saat itu juga. Alih-alih begitu aku mencoba
menenangkan diri. Baru kali ini aku semarah ini. Baru kali ini aku hilang
kendali dan baru kali ini juga aku merasa membenci mereka semua!
Aku ur ing-uringan sampai
akhirnya aku menaiki taxi dan kembali ke apartemenku. Aku membanting pintu,
mengganti pakaian dan langsung menghambur ke kasur.
Aku mencoba
menenangkan diri dan berkata kalau semuanya akan baik-baik saja. Cirino akan
baik-baik saja. Besok akan baik-baik saja. Mungkin dia tak suka rumah sakit
atau memutuskan untuk pulang atau juga… pindah ke rumah sakit tempat ayahnya
bekerja. Sambil menghela napas aku mencoba menanamkan keyakinan itu dan
berusaha tidur.
Masih ada hari
esok. Aku masih bisa mencarinya besok.
Tapi kenapa aku
tidak seyakin itu?
Paginya aku bangun
dengan perasaan lelah karena hampir tidak bisa tidur semalaman. Masih tidak ada
pesan yang masuk saat aku melihat ponselku. Pukul tujuh pagi dan aku sudah
memutuskan untuk kembali ke rumah sakit tempatku di rawat dulu. Aku segera
mencuci muka, menggosok gigi, dan berpakaian dengan cepat. Aku mencoba
menghubungi Victor, Joe, dan Flea tapi tetap tidak bisa.
Aku juga
menghubungi Gates dan hasilnya sama saja.
Kadang kau tidak
bisa berharap dari oran g-orang
yang bisa kau harapkan. Karena itu aku langsung mengambil inisiatif sendiri
untuk mencari Ciro. Aku menyetop taxi lagi pagi itu dan menyebutkan nama rumah
sakit tempatku dirawat dulu. Kura ng dari
sepuluh menit mobil ini melaju dijalanan yang hampir padat. Saat aku turun dari
sana , aku
merasa seperti kembali kemasa lalu.
Gedung yang
kukenal, halaman bersih yang sekarang sudah ada peru bahan
di sana sini,
dan juga tata ruang yang berubah. Waktu sudah terlalu lama berlalu rupanya.
Tapi aku sedang tidak ingin mengagumi itu semua. Aku segera menuju ke meja
resepsionis untuk meminta informasi.
“Selamat pagi,”
sapaku langsung.
Pria yang ada di sana langsung menyambutku
dengan senyum. “Selamat pagi. Ada
yang bisa kubantu?”
“Apa Dr.Synyster
sudah datang?” tanyaku buru-buru.
“Tidak. Dia belum
datang. Setau saya hari ini ia tugas siang.”
“Apa?” aku kecewa
dengan informasi itu. Lalu satu pikiran terlintas dibenakku dan itu membuatku
jengkel bukan main. Kenapa aku tidak ke rumahnya? Dasar bodoh! “Baiklah…” aku
mencoba menenangkan diri agar tidak mengamuk seperti oran g gila. “Di mana ruangannya?”
“Di lantai satu
seperti biasa.”
Aku masih bisa
mengingat di mana ruangan dokter itu dengan jelas. “Oke, terima kasih.”
Aku segera berbalik
dan memutuskan untuk ke rumah Cirino pagi ini juga. Ketidaksabaranku
benar-benar diuji sampai batas sekarang. Tepat saat aku berbalik, seseorang
meneriakkan namaku.
“Selene?”
Aku berhenti
melangkah dan langsung mencari asal suara itu. Seorang wanita tua dengan rambut
putih yang disanggul rapi menatapku dengan tatapan takjub. Matanya yang bewarna
hijau limau, wajah cantiknya yang sudah mengeriput, dan senyuman khasnya itu… aku
mencermati wajahnya sesaat sebelum akhirnya teringat dengannya.
“Mrs.Ross?” aku tidak
percaya kalau akan bertemu dengannya.
Ia tersenyum
bahagia dan langsung menghampiriku dengan suka cita. Aku memeluknya senang dan
tertawa. “Tidak kusangka kita bertemu lagi!” pekikku senang.
“Aku juga, sayang.
Kau sudah sebesar ini rupanya. Ya ampun… kau sangat cantik.” Pujinya. “Aku
senang kau bisa mengingatku.”
“Tentu saja.
Ingatanku kan
kuat.” Itu karena aku selalu melihat foto-foto mereka dan senang menceritakan
mereka pada teman-temanku.
“Apa kau sehat? Apa
kau tidak sakit lagi?” tanyanya cepat tidak sabaran.
Aku tersenyum
senang. “Aku sehat. Tentu saja!”
“Ayo! Ikut aku. Aku
sangat ingin bercerita banyak hal padamu.” Ia menarikku dengan paksa ke halaman
belakang rumah sakit dan aku terpaksa membiarkannya karena aku tahu kalau akan
sangat tidak enak jika aku harus pergi sekarang. Kami baru saja bertemu hari
ini setelah aku pindah ke Ind onesia .
“Aku sangat
merindukanmu, Selene. Kau tahu? Rasanya ada yang kurang kalau kau tidak di
sini. Apa kau masih suka main musik?” tanyanya saat kami duduk di bangku taman.
“Aku hanya main
gitar dan piano saja.” Jawabku sambil bersandar ke sandaran bangku. “Selebihnya
aku tidak bisa lagi. Ah! Aku bisa main drum walau tidak begitu mahir.”
“Aku ingat kalau
kau pernah memukul-mukul tabung oksigen dengan stik drummu dan itu membuat
Dr.Synyster marah.” Ia tertawa mengingat itu. “Kau pasti belum bertemu
dengannya lagi, kan ?”
“Sebenarnya sudah.”
Jawabku bangga.
“Sudah?” ia
terkejut. “Kau sudah bertemu dengannya tapi baru sekarang bertemu denganku?” ia
tidak percaya itu.
“Sebenarnya itu
juga tidak sengaja.” Lalu aku menceritakan kejadian malam saat Ciro over dosis
itu. Ia menyimaknya dengan wajah yang tidak menunjukkan rasa terkejut. Saat aku
mengakhiri ceritaku aku menatapnya bingung. “Kupikir kau sudah tahu.” Kataku.
Ia tersenyum tipis
dan akhirnya mengangguk. “Kau sudah bertemu dengannya.”
Aku meraih
tangannya, “bukan berarti aku tak ingin bertemu denganmu, Mrs.Ross…” aku
tersenyum. “Oh ya, apa aku bisa mengunjungi kama r
yang sering kupakai dulu?” tanyaku mengalihkan topik pembicaraan.
Ia tersenyum.
“Tentu saja. Ah, dia juga menderita penyakit yang sama denganmu dulu.”
“Oh ya?”
“Nam anya
Margaretha. Dia gadis yang cantik dan sabar. Aku harap dia seberuntung dirimu.
Sekarang untuk mencari pendonor itu sangat susa h…” ia menghela napas. “Dia butuh
keajaiban agar bisa segera dioperasi.”
Aku mengangguk
untuk mengiyakannya.
“Apa kau punya
masalah dengan jantungmu yang baru?” tanyanya.
“Tidak. Aku justru
merasa sehat walau kadang aku tidak tahan berada di pesta terlalu lama.”
Jawabku. “Tapi aku bersyukur karena mereka memaksaku dioperasi. Aku ingat kalau
saat itu seorang anak laki-laki bern ama
Frankeinstein menakut-nakutiku. Dia bilang operasi itu sangat sakit. Dadamu
akan dipotong, jantungmu akan diambil dan diganti… bukankah itu sakit?” lalu
aku tertawa pelan. “Ah! Frankeinstein pembohong! Kenya taannya aku harus dibius dulu
agar rasa sakitnya hilang. Aku pikir kalau aku akan dipotong saat aku sadar.
Itu mengerikan!”
Mrs.Ross tidak
menanggapi cerita itu dengan antusias seperti biasa. Alih-alih menatapku dengan
semangat, raut wajahnya berubah menjadi sedih. “Maafkan dia. Cirino saat itu
sedang murka.” Katanya pelan.
Aku mengerutkan
dahiku tanda bingung. “Cirino?” ulangku. “Yang kuceritakan tentang
Frankenstein.” Aku mengingatkannya lagi.
Mrs.Ross tersenyum.
“Yang dimaksud Frankenstein itu adalah Cirino. Cirino Synyster adalah
Frankeinstein, anak yang menakut-nakutimu tentang operasi itu.”
Aku ternganga saat
ia mengungkapkan hal itu. “Frankenstein adalah Cirino Synyster? Dia anak Dr.Synyster?”
tanyaku tidak percaya.
Mrs.Ross
mengangguk.
“Tapi… kenapa?”
“Kau ingin tahu
ceritanya kenapa dia datang ke kamarmu dan mengatakan tentang masalah operasi
itu?” tanyanya.
Aku mengangguk.
“Ya. Tentu saja.”
Mrs.Ross bersandar
dan mulai bercerita. “Kau tahu kan ,
nak, kalau aku bukanlah perawat lulusan apapun di sini?” tanyanya memastikan.
Aku mengangguk.
“Akan kuceritakan
semua yang kutahu tentangnya.” Katanya. “Sebulan setelah suamiku meninggal,
Dr.Synyster mengajakku untuk bekerja di rumah sakit ini sebagai asistennya. Ia
percaya dengan kemampuanku saat merawat istrinya yang sakit. Nama istrinya
Sarah, dan ia menderita asma akut yang parah. Dari mereka berdua lahir anak
kembar, seorang putra dan seorang putri. Anak laki-lakinya diberi nama Cirino
Synyster dan yang perempuan bernama Victoria Synyster.”
“Tunggu! Victoria ? Victoria
Synyster?” aku ingat dengan tulisan dinisan itu sekarang. “Dia adik kembar
Cirino?”
Ia mengangguk
membenarkan. “Cirino lahir lima menit lebih awal
dari Victoria .
Mereka lahir di musim panas.” Lalu ia melanjutkan. “Pada saat umur mereka tujuh
tahun aku dipanggil ke rumahnya untuk merawat istrinya, Sarah. Saat itu aku
bisa memperhatikan mereka berdua dengan sangat baik.” Kemudian ia mulai
menggambarkan sifat mereka. “Cirino itu anak periang tapi kadang keras kepala.
Ia sangat memegang teguh pendiriannya dan sangat menyayangi adiknya walau
kadang terlihat posesif. Ia bisa membuat Victoria
dan ibunya tertawa. Tapi ia tidak dekat dengan ayahnya. Ia akan berubah menjadi
dingin dan lebih senang menyendiri dari pada berhubungan dengan ayahnya. Ia
sering membuat ayahnya kesal dan mereka sering bertengkar. Jika itu terjadi,
Cirino suka mengadu ke ibunya hingga pada satu titik ia memilih untuk
menyendiri sambil meredam emosinya.
“Victoria justru kebalikannya.” Kenangnya.
“Dia adalah gadis periang yang bisa dengan cepat membalikkan keadaan. Ia sangat
senang bermain dan sangat senang memperhatikan Cirino. Ia memanggil Cirino
dengan panggilan Ciro. Victoria
bisa membuat Ciro yang muram tersenyum kembali dan melupakan kesedihannya.
Hanya saja ia tetap tidak bisa membuat Ciro berdamai dengan ayahnya.”
“Memangnya apa yang
dilakukan ayahnya?” tanyaku.
“Kurasa Ciro
mencoba mencari perhatian ayahnya. Anak laki-laki selalu punya keinginan untuk
dekat dengan ayah mereka dan Dr.Synyster terlalu sibuk untuk memperdulikan
itu.” Jawabnya.
Aku mengangguk
paham sekarang.
“Ciro selalu
menyendiri seiring dengan bertambah parah sakit ibunya. Jika dia hilang, Victoria selalu
menawarkan diri untuk mencarinya. Dan jika dia mencarinya, dia pasti
menemukannya dimanapun itu.”
“Benarkah?”
“Ya. Kau tahu? Aku
selalu percaya dengan kekuatan anak kembar. Mereka bisa merasakan apa yang
dirasakan kembaran mereka. Dalam hal ini insting Victoria lebih terasah tajam dari pada
Ciro.” Lalu ia mendesah. “Satu hal yang membuatku kagum adalah kekuatan Victoria sendiri.
Awalnya aku tidak percaya dengan yang namanya kekuatan supranatural. Tapi Victoria memilikinya
sedangkan Ciro tidak. Ia bisa melihat apa yang tak bisa kulihat, dan ia kadang
bisa meramal masa depan. Apa kau percaya dengan hal itu?”
“Mereka dipanggil
indigo,” kataku. “Aku punya teman yang seperti itu. Percaya atau tidak, mereka
memang memiliki kekuatan itu. Kupikir mereka gila, tapi ternyata tidak. Mereka
memang punya anugerah itu.”
“Victoria memilikinya.” Lanjutnya. “Memasuki
usia delapan tahun aku melihatnya berlari ke kamar Ciro dan memeluknya sambil
menangis. Ciro bingung dengan sikap aneh itu. Aku bertanya padanya tapi ia
hanya menggeleng tidak mau menjawab. Ia mengajak Ciro untuk menghabiskan waktu
bersama ibunya di kamar. Victoria
tertawa walau aku merasa dia masih sedih. Malamnya ibunya terpaksa harus
dilarikan ke rumah sakit. Aku memanggil ambulans, hanya saja di tengah jalan ia
meninggal. Hal itu membuat Ciro terpukul. Tapi Victoria tersenyum menenangkannya dan
berkata kalau mereka sudah menghabiskan waktu yang menyenangkan dengannya. Jadi
tidak ada yang perlu disesali.
“Sejak saat itu Victoria selalu bersama
Ciro dan tersenyum padanya. Ia pernah mengadu padaku bagaimana caranya agar
Ciro bisa akur dengan ayahnya. Ciro yang awalnya terpukul perlahan bisa
mendapatkan rasa percaya dirinya dan kembali seperti semula hingga pada suatu
hari Victoria
tertabrak mobil dan kondisinya sangat parah. Kepalanya selalu terasa sakit
akibat tabrakan itu dan perlahan-lahan ia merasa kalau ingatannya melemah.
“Ia selalu menulis
apa yang sudah ia lakukan agar bisa mengingat dengan mudah. Tapi ia selalu
tersenyum jika Ciro datang. Ia masih bisa mengingat Ciro dengan jelas. Suatu
hari saat aku datang ke kamarnya untuk memberinya obat, dia memberikan dua buah
surat padaku.
Satu surat untuk ayahnya, satu surat lagi untuk Ciro. Padaku ia mengucapkan
banyak terimakasih karena selalu menemaninya selama ini.
“Ia memintaku
segera menyerahkan surat
itu pada Ayahnya apapun yang terjadi. Dan untuk Ciro, ia memintaku
memberikannya saat waktunya tepat. Tapi aku tidak tahu kapan waktu yang tepat
itu. Lalu ia bilang kalau bukan aku yang memberikannya, surat ini cepat atau lambat pasti akan dia
baca juga.” Ia menengadah ke langit. “Dan dua hari setelah itu ia koma. Saat
itulah aku memberikan surat
untuk ayahnya. Sepertinya Dr.Synyster sangat terpukul saat membacanya. Lama
dokter itu mengurung dirinya di ruang kerjanya hingga akhirnya saat ia
memanggilku ia menceritakan semuanya.”
“Semuanya?”
“Isi surat itu sangat
memukulnya. Selama ini Victoria
tahu kalau ada seorang anak yang sedang menunggu donor jantung untuknya.
Ternyata diam-diam ia sudah melihat siapa orang itu.”
Aku terkejut. “Apa
itu… aku?” bisikku akhirnya.
Mrs.Ross
mengangguk. “Kau memang belum pernah melihatnya tapi dia pernah melihatmu. Dan
dia memutuskan dalam suratnya untuk mendonorkan jantungnya padamu dan ia
meminta ayahnya berjanji melakukannya. Ia juga berharap kalau ayahnya bisa
berdamai dengan Ciro. Aku menangis saat itu juga. Tapi masalahnya Ciro
mendengar ini. Dan bagian yang ia tahu hanya keputusan ayahnya untuk
mendonorkan jantung itu. Dia langsung berteriak tidak setuju. Lalu diam-diam ia
mencuri data tentang siapa yang akan mendapat donor jantung adiknya. Tapi ia
ketahuan oleh seorang perawat karena membuka dokumen rahasia di meja kerja ayahnya.
Ia kabur dan bersembunyi entah di mana.”
Aku teringat dengan
seorang anak yang mengaku bernama Frankenstein dan bersembunyi di kamarku.
“Ia menamai dirinya
Frankenstein karena ia yakin ia bisa menghidupkan kembali adiknya. Ia tak ingin
adiknya pergi meninggalkannya. Kondisi Victoria
semakin parah dan aku lupa memberikan surat
itu padanya. Dengan harapan kalau adiknya itu pasti akan sembuh, ia terus
menungguinya. Dan pada akhirnya otaknya dinyatakan mati. Saat itulah ia merasa
marah dan ingin menyerbu masuk ke dalam ruangan. Ia berteriak kalau Victoria masih bisa
hidup dan ia tak rela kalau jantung adiknya didonorkan. Ia juga… bersumpah…
kalau ia akan membenci orang yang akan menerima jantung adiknya seumur hidupnya...”
Deg!
Jantungku seketika
berdegup kencang karena takut.
“Itu hanya sumpah
anak kecil,” tambahnya buru-buru agar aku tenang.
Aku tidak percaya
itu. Sambil menggeleng aku berkata, “aku tidak tahu… tapi rasanya dia
benar-benar melakukannya.”
“Kau tahu, anak
kecil akan melupakan hal itu sesegera mungkin. Dia sudah dewasa dan–“
“Kau pikir begitu?”
potongku. “Lalu pesan itu? Pesan yang kau berikan padaku itu? Itu apa?”
“Ayahnya memaksanya
untuk menulisnya. Kau tidak usah memikirkan masalah itu.”
Ketakutanku
memuncak sekarang. Aku menggigit bibirku dan mulai memikirkan hal yang
tidak-tidak. Akhirnya dengan pelan aku bertanya, “apa… Apa dia tahu kalau itu
aku?”
Ia meremas tanganku
dengan wajah sedih. “Aku tidak tahu.” Katanya. “Tapi semoga dia tidak tahu.”
Aku diam saat duduk
sendirian di bangku taman itu.
Mrs.Ross telah
kembali bekerja dan aku memutuskan untuk tinggal di sini lebih lama lagi agar
bisa merenung. Aku memejamkan mataku, menden gar
detak jantungku yang berdenyut teratur sementara pikiranku kembali melayang
pada saat aku dan Ciro ada di depan makan Victoria .
Ciro sangat yakin
kalau adiknya masih hidup. Dia sangat mengutuk ayahnya karena telah melakukan
hal itu pada adiknya dan Dokter itu melakukannya demiku… Tiba-tiba aku merasa
semuanya menjadi berat. Tanpa sadar air mataku mengalir begitu saja. Aku tahu
kalau rahasia tak selamanya bisa disimpan. Dan saat ini aku di sini menerima
satu kenya taan
lain lagi.
Aku meletakkan
tanganku di dadaku dan merasakan jantung Victoria
berdetak di dalamnya. Selama ini aku bertahan dengan jantung ini. Selama ini
pula aku bisa merasakan hidup normal. Tapi kenapa? Kenapa Dr.Synyster melakukan
hal itu padaku? Kenapa dia tega melakukannya padaku dan pada anaknya?
Aku tidak bisa
membayangkan bagaimana murkanya Ciro jika tahu kalau aku adalah salah satu
penyebab kematian adiknya. Seperti kata-katanya, Victoria memang masih bisa diselamatkan selama
jantungnya masih bisa diselamatkan.
Pada jam makan siang
aku kembali ke dalam gedung rumah sakit dan memutuskan untuk langsung menuju ke
ruangan Dr.Synyster. Untung saja ruangannya tidak berubah. Aku mengetuk
pintunya dan menggesernya saat terdengar suara dari dalam.
Dr.Synyster sedang
duduk di balik meja kerjanya sambil mempelajari dokumen di tangannya. Ia
mendongak menatapku dan terkejut.
“Selene?”
Aku tersenyum lalu
menutup pintu. Aku harus berusaha untuk tetap tenang di depannya agar bisa
menanyakan semua pertanyaan yang sudah kususun. Ia mempersilahkanku duduk.
“Apa kau sudah
bertemu Mrs.Ross?” tanyanya sambil tersenyum.
Aku tidak bisa
tersenyum padanya. Perasaanku sedang tidak menentu sekarang. Aku hanya
menatapnya sebelum pertanyaan itu akhirnya keluar. “Apa dia tahu?”
Pertanyaan pelan
itu membuat Dr.Synyster terdiam. Dengan pelan ia meletakkan dokumen itu ke atas
meja dan mengubah posisi duduknya sedikit. Aku tidak bergerak dan hanya menatap
ke dalam matanya, mencari kebenaran di sana .
“Tahu apa?” ia
mencoba membuatku memperjelas maksudnya.
“Kalau aku penerima
donor jantung adiknya.” Jawabku datar tanpa ekspresi.
Kali ini ia
bergerak gelisah dan meminum kopinya. Ia menunduk sesaat dan menatapku dari
balik bulu matanya. Aku masih menatapnya lurus hingga akhirnya ia menghela
napas tanda menyerah.
“Maaf…” katanya
menyesal. “Tapi dari mana –”
“Kapan?”
Ia terdiam saat aku
memotong pertanyaannya. Dengan rasa tidak nyaman ia akhirnya mengaku pelan.
“Kemarin… Saat aku bicara dengannya.” Ia menunduk dengan wajah menyesal.
Aku mengatupkan
rahangku agar tidak berteriak. Air mataku mengalir dalam diam dan aku merasa
ingin lari.
“Aku tidak sengaja
mengatakannya…” ia menatapku. “Maafkan aku.”
“Lalu?” aku menarik
napasku, “apa yang terjadi?”
Dengan berat hati
ia berkata, “dia menangis.”
Pandanganku kabur
dan aku merasa mataku panas. Aku memejamkan mataku dan merasakan air mataku
mengalir deras.
Sakit.
Rasanya sangat
sakit.
Aku meletakkan
tanganku di atas jantungku, merasakan detaknya, merasakan kehidupan yang
diberikannya. Seketika itu juga aku terisak dan menangis di depannya.
“Selene…” ia
menghampiriku dan memelukku.
Aku tidak menjawab.
Siapa yang paling
sakit di sini? Ciro atau aku? Apa masih ada jalan kembali? Apa masih ada
kesempatan untuk kembali?
Satu hal yang
pasti… Ciro pasti membenciku.
Dan aku yakin itu.
“Aku… Aku harus
menemuinya.” Kataku terbata-bata.
“Tidak. Jangan
sekarang.”
Aku mendongak
menatapnya. “Aku harus bicara. Di mana dia?”
“Maaf, Selene.
Untuk sekarang biarkan dia sendiri.”
“Tidak!” teriakku.
“Sekarang!”
“Selene, dengar.”
Ia membujukku untuk tenang. “Dia butuh waktu untuk sendiri. Ini juga tak mudah
baginya, dan dia juga harus bisa sembuh dari sakitnya.”
“Aku harus bicara…
Sekarang…” aku memohon dengan sangat. “Dimana dia? Kumohon… Dimana dia?”
Ia menggeleng tanda
menolak. Aku marah. Dengan kasar aku berdiri dan keluar dari ruangan itu sambil
membanting pintu. Aku menghapus air mataku sambil berjalan cepat meninggalkan
ruangan itu. Aku kembali menelepon Gates, Flea, dan Victor. Tapi mereka sama
sekali sulit dihubungi. Untunglah Joe mengangkat teleponnya.
“Kau tahu dimana
Ciro sekarang?” tuntutku cepat.
“Apa?” nada
suaranya terdengar bingung.
“Ciro! Dimana dia?”
tanyaku tidak sabar.
“Memangnya dia
dimana?”
Nada bingung itu membuatku
mendengus kesal dan dengan kasar menutup teleponnya. Mrs.Ross datang
menghampiriku dan dengan wajah sedih menatap wajahku yang basah karena air mata
sekaligus marah. Ia memegangi tanganku dan merangkulku pergi bersamanya.

0 comments: