The Moon and The Sun #23 - Rain

10:24 PM fe 0 Comments

23
Setelah mengirim pesan singkat ke ponsel Gates, aku menyetop taxi yang kebetulan lewat di depanku dan memutuskan untuk pulang. Baru saja aku merasa duduk nyaman di bangku penumpang, tiba-tiba aku merasa kalau perasaanku tidak enak.
Tidak!
Seharusnya aku tidak pulang.
Aku meminta supir taxi itu untuk memutar arah menuju rumah sakit tempat Ciro dirawat. Sebenarnya aku ingin memberikan waktu agar ia bisa berdua saja dengan ayahnya. Hanya saja aku merasa ada desakan kuat yang membuatku harus segera ke sana dan memberitahunya perasaanku yang sebenarnya sebelum terlambat. Aku tak ingin terlambat!

Mobil dengan cepat melaju ke sana dan saat mobil berhenti aku segera turun dengan perasaan membuncah dan senyum dibibir. Aku yakin kalau sekarang saatnya menjawab perasaan Ciro. Aku tak ingin dia menunggu terlalu lama.
Lift mengantarku ke lantai tiga dan dengan cepat aku langsung menuju ke kamarnya. Sebelum aku masuk, aku mengintip ruangan itu dari kaca pintu yang ada di sana dan mendapati kalau ruangan itu gelap, kosong dengan tempat tidur yang bersih dan rapi. Aku mendorong pintunya sampai terbuka.
Tidak ada siapa-siapa di sini.
Sambil mengerutkan kening aku melihat nomor kamar yang kubuka itu. 306. Aku yakin kalau ini kamar Ciro. Hanya saja kemana dia?
Aku berjalan sepanjang koridor rumah sakit itu dan tiba-tiba merasa panik. Memang ada yang tidak beres di sini. Aku melihat ponselku tapi tidak ada pesan atau panggilan apapun. Aku mencoba mengingat-ingat kalau kamar itulah yang benar. Aku memutar arah dan kembali ke lift. Aku turun ke lantai satu dan langsung ke meja informasi.
“Selamat malam,” sambut seorang petugas wanita dengan senyum dibibirnya.
Tapi aku tak bisa tersenyum sekarang. “Di mana pasien kamar 306?” tanyaku langsung.
“Sebentar.” Ia mengecek daftar yang ada di komputernya. “Kamar 306 atas nama – “
“Cirino,” potongku langsung. “Cirino Synyster.”
Kamar 306 atas nama Cirino Synyster…” ia mengulanginya dan mengetik sesuatu. “Mr.Synyster telah keluar dari rumah sakit siang ini.”
“Apa?” aku kaget sekaligus tidak percaya dengan pendengaranku sendiri. “Dia… Dia sudah keluar? Secepat itu.”
“Ya.”
Aku menghela napas, tapi bukan rasa lega yang kurasakan. Rasanya terlalu aneh. “Kau yakin?”
Wanita itu mengangguk. “Ia keluar jam dua siang ini.”
Aku merasa napasku sesak. Sambil mengangguk mengerti aku mengucapkan terimakasih padanya dan keluar dari rumah sakit. Hujan salju telah turun saat aku melangkah keluar rumah sakit. Pukul setengah sembilan malam dan rasa dinginnya semakin mencekam. Aku merapatkan mantel dan jaketku agar tetap hangat. Aku mengambil ponselku dan menelepon nomor Ciro. Tapi yang mengangkatnya justru operator yang mengatakan kalau nomornya sedang berada di luar servis area atau sedang tidak aktif.
Aku mendesah kesal. Aku juga tidak meminta nomor ponsel ayahnya. Aku tahu kalau aku tak bisa meminta bantuan Gates sekarang karena dia pasti sedang bersama wanita itu. Akhirnya kuputuskan untuk menelepon Flea. Tapi ia tidak mengangkatnya. Nomor Joe dan Victor juga tidak bisa dihubungi. Sambil menguatkan diri aku menimbang-nimbang untuk menekan nomor kontak Gates di sana. Akhirnya aku mendesah. Tidak penting pria itu sedang bersama siapa sekarang, yang jelas ini keadaan darurat.
Aku menekan nomornya dan hasilnya sama saja.
Dasar tidak berguna!
Aku hampir membanting ponselku ke tanah saat itu juga. Alih-alih begitu aku mencoba menenangkan diri. Baru kali ini aku semarah ini. Baru kali ini aku hilang kendali dan baru kali ini juga aku merasa membenci mereka semua!
Aku uring-uringan sampai akhirnya aku menaiki taxi dan kembali ke apartemenku. Aku membanting pintu, mengganti pakaian dan langsung menghambur ke kasur.
Aku mencoba menenangkan diri dan berkata kalau semuanya akan baik-baik saja. Cirino akan baik-baik saja. Besok akan baik-baik saja. Mungkin dia tak suka rumah sakit atau memutuskan untuk pulang atau juga… pindah ke rumah sakit tempat ayahnya bekerja. Sambil menghela napas aku mencoba menanamkan keyakinan itu dan berusaha tidur.
Masih ada hari esok. Aku masih bisa mencarinya besok.
Tapi kenapa aku tidak seyakin itu?
Paginya aku bangun dengan perasaan lelah karena hampir tidak bisa tidur semalaman. Masih tidak ada pesan yang masuk saat aku melihat ponselku. Pukul tujuh pagi dan aku sudah memutuskan untuk kembali ke rumah sakit tempatku di rawat dulu. Aku segera mencuci muka, menggosok gigi, dan berpakaian dengan cepat. Aku mencoba menghubungi Victor, Joe, dan Flea tapi tetap tidak bisa.
Aku juga menghubungi Gates dan hasilnya sama saja.
Kadang kau tidak bisa berharap dari orang-orang yang bisa kau harapkan. Karena itu aku langsung mengambil inisiatif sendiri untuk mencari Ciro. Aku menyetop taxi lagi pagi itu dan menyebutkan nama rumah sakit tempatku dirawat dulu. Kurang dari sepuluh menit mobil ini melaju dijalanan yang hampir padat. Saat aku turun dari sana, aku merasa seperti kembali kemasa lalu.
Gedung yang kukenal, halaman bersih yang sekarang sudah ada perubahan di sana sini, dan juga tata ruang yang berubah. Waktu sudah terlalu lama berlalu rupanya. Tapi aku sedang tidak ingin mengagumi itu semua. Aku segera menuju ke meja resepsionis untuk meminta informasi.
“Selamat pagi,” sapaku langsung.
Pria yang ada di sana langsung menyambutku dengan senyum. “Selamat pagi. Ada yang bisa kubantu?”
“Apa Dr.Synyster sudah datang?” tanyaku buru-buru.
“Tidak. Dia belum datang. Setau saya hari ini ia tugas siang.”
“Apa?” aku kecewa dengan informasi itu. Lalu satu pikiran terlintas dibenakku dan itu membuatku jengkel bukan main. Kenapa aku tidak ke rumahnya? Dasar bodoh! “Baiklah…” aku mencoba menenangkan diri agar tidak mengamuk seperti orang gila. “Di mana ruangannya?”
“Di lantai satu seperti biasa.”
Aku masih bisa mengingat di mana ruangan dokter itu dengan jelas. “Oke, terima kasih.”
Aku segera berbalik dan memutuskan untuk ke rumah Cirino pagi ini juga. Ketidaksabaranku benar-benar diuji sampai batas sekarang. Tepat saat aku berbalik, seseorang meneriakkan namaku.
“Selene?”
Aku berhenti melangkah dan langsung mencari asal suara itu. Seorang wanita tua dengan rambut putih yang disanggul rapi menatapku dengan tatapan takjub. Matanya yang bewarna hijau limau, wajah cantiknya yang sudah mengeriput, dan senyuman khasnya itu… aku mencermati wajahnya sesaat sebelum akhirnya teringat dengannya.
“Mrs.Ross?” aku tidak percaya kalau akan bertemu dengannya.
Ia tersenyum bahagia dan langsung menghampiriku dengan suka cita. Aku memeluknya senang dan tertawa. “Tidak kusangka kita bertemu lagi!” pekikku senang.
“Aku juga, sayang. Kau sudah sebesar ini rupanya. Ya ampun… kau sangat cantik.” Pujinya. “Aku senang kau bisa mengingatku.”
“Tentu saja. Ingatanku kan kuat.” Itu karena aku selalu melihat foto-foto mereka dan senang menceritakan mereka pada teman-temanku.
“Apa kau sehat? Apa kau tidak sakit lagi?” tanyanya cepat tidak sabaran.
Aku tersenyum senang. “Aku sehat. Tentu saja!”
“Ayo! Ikut aku. Aku sangat ingin bercerita banyak hal padamu.” Ia menarikku dengan paksa ke halaman belakang rumah sakit dan aku terpaksa membiarkannya karena aku tahu kalau akan sangat tidak enak jika aku harus pergi sekarang. Kami baru saja bertemu hari ini setelah aku pindah ke Indonesia.
“Aku sangat merindukanmu, Selene. Kau tahu? Rasanya ada yang kurang kalau kau tidak di sini. Apa kau masih suka main musik?” tanyanya saat kami duduk di bangku taman.
“Aku hanya main gitar dan piano saja.” Jawabku sambil bersandar ke sandaran bangku. “Selebihnya aku tidak bisa lagi. Ah! Aku bisa main drum walau tidak begitu mahir.”
“Aku ingat kalau kau pernah memukul-mukul tabung oksigen dengan stik drummu dan itu membuat Dr.Synyster marah.” Ia tertawa mengingat itu. “Kau pasti belum bertemu dengannya lagi, kan?”
“Sebenarnya sudah.” Jawabku bangga.
“Sudah?” ia terkejut. “Kau sudah bertemu dengannya tapi baru sekarang bertemu denganku?” ia tidak percaya itu.
“Sebenarnya itu juga tidak sengaja.” Lalu aku menceritakan kejadian malam saat Ciro over dosis itu. Ia menyimaknya dengan wajah yang tidak menunjukkan rasa terkejut. Saat aku mengakhiri ceritaku aku menatapnya bingung. “Kupikir kau sudah tahu.” Kataku.
Ia tersenyum tipis dan akhirnya mengangguk. “Kau sudah bertemu dengannya.”
Aku meraih tangannya, “bukan berarti aku tak ingin bertemu denganmu, Mrs.Ross…” aku tersenyum. “Oh ya, apa aku bisa mengunjungi kamar yang sering kupakai dulu?” tanyaku mengalihkan topik pembicaraan.
Ia tersenyum. “Tentu saja. Ah, dia juga menderita penyakit yang sama denganmu dulu.”
“Oh ya?”
Namanya Margaretha. Dia gadis yang cantik dan sabar. Aku harap dia seberuntung dirimu. Sekarang untuk mencari pendonor itu sangat susah…” ia menghela napas. “Dia butuh keajaiban agar bisa segera dioperasi.”
Aku mengangguk untuk mengiyakannya.
“Apa kau punya masalah dengan jantungmu yang baru?” tanyanya.
“Tidak. Aku justru merasa sehat walau kadang aku tidak tahan berada di pesta terlalu lama.” Jawabku. “Tapi aku bersyukur karena mereka memaksaku dioperasi. Aku ingat kalau saat itu seorang anak laki-laki bernama Frankeinstein menakut-nakutiku. Dia bilang operasi itu sangat sakit. Dadamu akan dipotong, jantungmu akan diambil dan diganti… bukankah itu sakit?” lalu aku tertawa pelan. “Ah! Frankeinstein pembohong! Kenyataannya aku harus dibius dulu agar rasa sakitnya hilang. Aku pikir kalau aku akan dipotong saat aku sadar. Itu mengerikan!”
Mrs.Ross tidak menanggapi cerita itu dengan antusias seperti biasa. Alih-alih menatapku dengan semangat, raut wajahnya berubah menjadi sedih. “Maafkan dia. Cirino saat itu sedang murka.” Katanya pelan.
Aku mengerutkan dahiku tanda bingung. “Cirino?” ulangku. “Yang kuceritakan tentang Frankenstein.” Aku mengingatkannya lagi.
Mrs.Ross tersenyum. “Yang dimaksud Frankenstein itu adalah Cirino. Cirino Synyster adalah Frankeinstein, anak yang menakut-nakutimu tentang operasi itu.”
Aku ternganga saat ia mengungkapkan hal itu. “Frankenstein adalah Cirino Synyster? Dia anak Dr.Synyster?” tanyaku tidak percaya.
Mrs.Ross mengangguk.
“Tapi… kenapa?”
“Kau ingin tahu ceritanya kenapa dia datang ke kamarmu dan mengatakan tentang masalah operasi itu?” tanyanya.
Aku mengangguk. “Ya. Tentu saja.”
Mrs.Ross bersandar dan mulai bercerita. “Kau tahu kan, nak, kalau aku bukanlah perawat lulusan apapun di sini?” tanyanya memastikan.
Aku mengangguk.
“Akan kuceritakan semua yang kutahu tentangnya.” Katanya. “Sebulan setelah suamiku meninggal, Dr.Synyster mengajakku untuk bekerja di rumah sakit ini sebagai asistennya. Ia percaya dengan kemampuanku saat merawat istrinya yang sakit. Nama istrinya Sarah, dan ia menderita asma akut yang parah. Dari mereka berdua lahir anak kembar, seorang putra dan seorang putri. Anak laki-lakinya diberi nama Cirino Synyster dan yang perempuan bernama Victoria Synyster.”
“Tunggu! Victoria? Victoria Synyster?” aku ingat dengan tulisan dinisan itu sekarang. “Dia adik kembar Cirino?”
Ia mengangguk membenarkan. “Cirino lahir lima menit lebih awal dari Victoria. Mereka lahir di musim panas.” Lalu ia melanjutkan. “Pada saat umur mereka tujuh tahun aku dipanggil ke rumahnya untuk merawat istrinya, Sarah. Saat itu aku bisa memperhatikan mereka berdua dengan sangat baik.” Kemudian ia mulai menggambarkan sifat mereka. “Cirino itu anak periang tapi kadang keras kepala. Ia sangat memegang teguh pendiriannya dan sangat menyayangi adiknya walau kadang terlihat posesif. Ia bisa membuat Victoria dan ibunya tertawa. Tapi ia tidak dekat dengan ayahnya. Ia akan berubah menjadi dingin dan lebih senang menyendiri dari pada berhubungan dengan ayahnya. Ia sering membuat ayahnya kesal dan mereka sering bertengkar. Jika itu terjadi, Cirino suka mengadu ke ibunya hingga pada satu titik ia memilih untuk menyendiri sambil meredam emosinya.
Victoria justru kebalikannya.” Kenangnya. “Dia adalah gadis periang yang bisa dengan cepat membalikkan keadaan. Ia sangat senang bermain dan sangat senang memperhatikan Cirino. Ia memanggil Cirino dengan panggilan Ciro. Victoria bisa membuat Ciro yang muram tersenyum kembali dan melupakan kesedihannya. Hanya saja ia tetap tidak bisa membuat Ciro berdamai dengan ayahnya.”
“Memangnya apa yang dilakukan ayahnya?” tanyaku.
“Kurasa Ciro mencoba mencari perhatian ayahnya. Anak laki-laki selalu punya keinginan untuk dekat dengan ayah mereka dan Dr.Synyster terlalu sibuk untuk memperdulikan itu.” Jawabnya.
Aku mengangguk paham sekarang.
“Ciro selalu menyendiri seiring dengan bertambah parah sakit ibunya. Jika dia hilang, Victoria selalu menawarkan diri untuk mencarinya. Dan jika dia mencarinya, dia pasti menemukannya dimanapun itu.”
“Benarkah?”
“Ya. Kau tahu? Aku selalu percaya dengan kekuatan anak kembar. Mereka bisa merasakan apa yang dirasakan kembaran mereka. Dalam hal ini insting Victoria lebih terasah tajam dari pada Ciro.” Lalu ia mendesah. “Satu hal yang membuatku kagum adalah kekuatan Victoria sendiri. Awalnya aku tidak percaya dengan yang namanya kekuatan supranatural. Tapi Victoria memilikinya sedangkan Ciro tidak. Ia bisa melihat apa yang tak bisa kulihat, dan ia kadang bisa meramal masa depan. Apa kau percaya dengan hal itu?”
“Mereka dipanggil indigo,” kataku. “Aku punya teman yang seperti itu. Percaya atau tidak, mereka memang memiliki kekuatan itu. Kupikir mereka gila, tapi ternyata tidak. Mereka memang punya anugerah itu.”
Victoria memilikinya.” Lanjutnya. “Memasuki usia delapan tahun aku melihatnya berlari ke kamar Ciro dan memeluknya sambil menangis. Ciro bingung dengan sikap aneh itu. Aku bertanya padanya tapi ia hanya menggeleng tidak mau menjawab. Ia mengajak Ciro untuk menghabiskan waktu bersama ibunya di kamar. Victoria tertawa walau aku merasa dia masih sedih. Malamnya ibunya terpaksa harus dilarikan ke rumah sakit. Aku memanggil ambulans, hanya saja di tengah jalan ia meninggal. Hal itu membuat Ciro terpukul. Tapi Victoria tersenyum menenangkannya dan berkata kalau mereka sudah menghabiskan waktu yang menyenangkan dengannya. Jadi tidak ada yang perlu disesali.
“Sejak saat itu Victoria selalu bersama Ciro dan tersenyum padanya. Ia pernah mengadu padaku bagaimana caranya agar Ciro bisa akur dengan ayahnya. Ciro yang awalnya terpukul perlahan bisa mendapatkan rasa percaya dirinya dan kembali seperti semula hingga pada suatu hari Victoria tertabrak mobil dan kondisinya sangat parah. Kepalanya selalu terasa sakit akibat tabrakan itu dan perlahan-lahan ia merasa kalau ingatannya melemah.
“Ia selalu menulis apa yang sudah ia lakukan agar bisa mengingat dengan mudah. Tapi ia selalu tersenyum jika Ciro datang. Ia masih bisa mengingat Ciro dengan jelas. Suatu hari saat aku datang ke kamarnya untuk memberinya obat, dia memberikan dua buah surat padaku. Satu surat untuk ayahnya, satu surat lagi untuk Ciro. Padaku ia mengucapkan banyak terimakasih karena selalu menemaninya selama ini.
“Ia memintaku segera menyerahkan surat itu pada Ayahnya apapun yang terjadi. Dan untuk Ciro, ia memintaku memberikannya saat waktunya tepat. Tapi aku tidak tahu kapan waktu yang tepat itu. Lalu ia bilang kalau bukan aku yang memberikannya, surat ini cepat atau lambat pasti akan dia baca juga.” Ia menengadah ke langit. “Dan dua hari setelah itu ia koma. Saat itulah aku memberikan surat untuk ayahnya. Sepertinya Dr.Synyster sangat terpukul saat membacanya. Lama dokter itu mengurung dirinya di ruang kerjanya hingga akhirnya saat ia memanggilku ia menceritakan semuanya.”
“Semuanya?”
“Isi surat itu sangat memukulnya. Selama ini Victoria tahu kalau ada seorang anak yang sedang menunggu donor jantung untuknya. Ternyata diam-diam ia sudah melihat siapa orang itu.”
Aku terkejut. “Apa itu… aku?” bisikku akhirnya.
Mrs.Ross mengangguk. “Kau memang belum pernah melihatnya tapi dia pernah melihatmu. Dan dia memutuskan dalam suratnya untuk mendonorkan jantungnya padamu dan ia meminta ayahnya berjanji melakukannya. Ia juga berharap kalau ayahnya bisa berdamai dengan Ciro. Aku menangis saat itu juga. Tapi masalahnya Ciro mendengar ini. Dan bagian yang ia tahu hanya keputusan ayahnya untuk mendonorkan jantung itu. Dia langsung berteriak tidak setuju. Lalu diam-diam ia mencuri data tentang siapa yang akan mendapat donor jantung adiknya. Tapi ia ketahuan oleh seorang perawat karena membuka dokumen rahasia di meja kerja ayahnya. Ia kabur dan bersembunyi entah di mana.”
Aku teringat dengan seorang anak yang mengaku bernama Frankenstein dan bersembunyi di kamarku.
“Ia menamai dirinya Frankenstein karena ia yakin ia bisa menghidupkan kembali adiknya. Ia tak ingin adiknya pergi meninggalkannya. Kondisi Victoria semakin parah dan aku lupa memberikan surat itu padanya. Dengan harapan kalau adiknya itu pasti akan sembuh, ia terus menungguinya. Dan pada akhirnya otaknya dinyatakan mati. Saat itulah ia merasa marah dan ingin menyerbu masuk ke dalam ruangan. Ia berteriak kalau Victoria masih bisa hidup dan ia tak rela kalau jantung adiknya didonorkan. Ia juga… bersumpah… kalau ia akan membenci orang yang akan menerima jantung adiknya seumur hidupnya...”
Deg!
Jantungku seketika berdegup kencang karena takut.
“Itu hanya sumpah anak kecil,” tambahnya buru-buru agar aku tenang.
Aku tidak percaya itu. Sambil menggeleng aku berkata, “aku tidak tahu… tapi rasanya dia benar-benar melakukannya.”
“Kau tahu, anak kecil akan melupakan hal itu sesegera mungkin. Dia sudah dewasa dan–“
“Kau pikir begitu?” potongku. “Lalu pesan itu? Pesan yang kau berikan padaku itu? Itu apa?”
“Ayahnya memaksanya untuk menulisnya. Kau tidak usah memikirkan masalah itu.”
Ketakutanku memuncak sekarang. Aku menggigit bibirku dan mulai memikirkan hal yang tidak-tidak. Akhirnya dengan pelan aku bertanya, “apa… Apa dia tahu kalau itu aku?”
Ia meremas tanganku dengan wajah sedih. “Aku tidak tahu.” Katanya. “Tapi semoga dia tidak tahu.”


Aku diam saat duduk sendirian di bangku taman itu.
Mrs.Ross telah kembali bekerja dan aku memutuskan untuk tinggal di sini lebih lama lagi agar bisa merenung. Aku memejamkan mataku, mendengar detak jantungku yang berdenyut teratur sementara pikiranku kembali melayang pada saat aku dan Ciro ada di depan makan Victoria.
Ciro sangat yakin kalau adiknya masih hidup. Dia sangat mengutuk ayahnya karena telah melakukan hal itu pada adiknya dan Dokter itu melakukannya demiku… Tiba-tiba aku merasa semuanya menjadi berat. Tanpa sadar air mataku mengalir begitu saja. Aku tahu kalau rahasia tak selamanya bisa disimpan. Dan saat ini aku di sini menerima satu kenyataan lain lagi.
Aku meletakkan tanganku di dadaku dan merasakan jantung Victoria berdetak di dalamnya. Selama ini aku bertahan dengan jantung ini. Selama ini pula aku bisa merasakan hidup normal. Tapi kenapa? Kenapa Dr.Synyster melakukan hal itu padaku? Kenapa dia tega melakukannya padaku dan pada anaknya?
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana murkanya Ciro jika tahu kalau aku adalah salah satu penyebab kematian adiknya. Seperti kata-katanya, Victoria memang masih bisa diselamatkan selama jantungnya masih bisa diselamatkan.
Pada jam makan siang aku kembali ke dalam gedung rumah sakit dan memutuskan untuk langsung menuju ke ruangan Dr.Synyster. Untung saja ruangannya tidak berubah. Aku mengetuk pintunya dan menggesernya saat terdengar suara dari dalam.
Dr.Synyster sedang duduk di balik meja kerjanya sambil mempelajari dokumen di tangannya. Ia mendongak menatapku dan terkejut.
“Selene?”
Aku tersenyum lalu menutup pintu. Aku harus berusaha untuk tetap tenang di depannya agar bisa menanyakan semua pertanyaan yang sudah kususun. Ia mempersilahkanku duduk.
“Apa kau sudah bertemu Mrs.Ross?” tanyanya sambil tersenyum.
Aku tidak bisa tersenyum padanya. Perasaanku sedang tidak menentu sekarang. Aku hanya menatapnya sebelum pertanyaan itu akhirnya keluar. “Apa dia tahu?”
Pertanyaan pelan itu membuat Dr.Synyster terdiam. Dengan pelan ia meletakkan dokumen itu ke atas meja dan mengubah posisi duduknya sedikit. Aku tidak bergerak dan hanya menatap ke dalam matanya, mencari kebenaran di sana.
“Tahu apa?” ia mencoba membuatku memperjelas maksudnya.
“Kalau aku penerima donor jantung adiknya.” Jawabku datar tanpa ekspresi.
Kali ini ia bergerak gelisah dan meminum kopinya. Ia menunduk sesaat dan menatapku dari balik bulu matanya. Aku masih menatapnya lurus hingga akhirnya ia menghela napas tanda menyerah.
“Maaf…” katanya menyesal. “Tapi dari mana –”
“Kapan?”
Ia terdiam saat aku memotong pertanyaannya. Dengan rasa tidak nyaman ia akhirnya mengaku pelan. “Kemarin… Saat aku bicara dengannya.” Ia menunduk dengan wajah menyesal.
Aku mengatupkan rahangku agar tidak berteriak. Air mataku mengalir dalam diam dan aku merasa ingin lari.
“Aku tidak sengaja mengatakannya…” ia menatapku. “Maafkan aku.”
“Lalu?” aku menarik napasku, “apa yang terjadi?”
Dengan berat hati ia berkata, “dia menangis.”
Pandanganku kabur dan aku merasa mataku panas. Aku memejamkan mataku dan merasakan air mataku mengalir deras.
Sakit.
Rasanya sangat sakit.
Aku meletakkan tanganku di atas jantungku, merasakan detaknya, merasakan kehidupan yang diberikannya. Seketika itu juga aku terisak dan menangis di depannya.
“Selene…” ia menghampiriku dan memelukku.
Aku tidak menjawab.
Siapa yang paling sakit di sini? Ciro atau aku? Apa masih ada jalan kembali? Apa masih ada kesempatan untuk kembali?
Satu hal yang pasti… Ciro pasti membenciku.
Dan aku yakin itu.
“Aku… Aku harus menemuinya.” Kataku terbata-bata.
“Tidak. Jangan sekarang.”
Aku mendongak menatapnya. “Aku harus bicara. Di mana dia?”
“Maaf, Selene. Untuk sekarang biarkan dia sendiri.”
“Tidak!” teriakku. “Sekarang!”
“Selene, dengar.” Ia membujukku untuk tenang. “Dia butuh waktu untuk sendiri. Ini juga tak mudah baginya, dan dia juga harus bisa sembuh dari sakitnya.”
“Aku harus bicara… Sekarang…” aku memohon dengan sangat. “Dimana dia? Kumohon… Dimana dia?”
Ia menggeleng tanda menolak. Aku marah. Dengan kasar aku berdiri dan keluar dari ruangan itu sambil membanting pintu. Aku menghapus air mataku sambil berjalan cepat meninggalkan ruangan itu. Aku kembali menelepon Gates, Flea, dan Victor. Tapi mereka sama sekali sulit dihubungi. Untunglah Joe mengangkat teleponnya.
“Kau tahu dimana Ciro sekarang?” tuntutku cepat.
“Apa?” nada suaranya terdengar bingung.
“Ciro! Dimana dia?” tanyaku tidak sabar.
“Memangnya dia dimana?”
Nada bingung itu membuatku mendengus kesal dan dengan kasar menutup teleponnya. Mrs.Ross datang menghampiriku dan dengan wajah sedih menatap wajahku yang basah karena air mata sekaligus marah. Ia memegangi tanganku dan merangkulku pergi bersamanya.


You Might Also Like

0 comments: