The Moon and The Sun #29 - Rain
29
Ciro tidak terlihat
seperti pasien lainnya. Ia tidak memakai baju pasien atau terlihat seperti
pasien pada umumnya. Ia memakai pakaiannya sendiri, sebuah jaket tebal bewarna
cokelat gelap dan juga jeans tebal serta sepatu. Ia terlihat seperti biasa,
seperti orang yang sedang bepergian.
Tapi apa yang dia
lakukan di sana ?
Aku yang masih
tersengal-sengal langsung mendapat pikiran buruk. Jangan bilang kalau dia ingin
bunuh diri di sini! Itu salah!
Dengan dipenuhi
rasa takut akan hal itu, aku berlari secepatnya, meraih tangannya, dan langsung
menariknya ke belakang.
“Jangan!” pekikku
saat menariknya turun sekuat tenaga dari sana .
Aku bisa mendengar
kalau dia terkejut sebelum akhirnya kami sama-sama jatuh ke lantai dan ia
menindihku. Rasa sakit langsung menghantam punggungku dan aku merasa napasku
tersentak keluar dari paru-paruku. Aku terbatuk sesaat.
“Apa yang – ”
Aku mendengar
protes tertahan darinya sebelum akhirnya aku membuka mata dan melihat wajah
terkejutnya yang menunduk ke arah ku. Ia memanggil namaku tanpa suara. Ia tidak
percaya kalau aku ada di sini.
“Ciro…” aku
memanggilnya. “Aku –”
Ia langsung bangkit
berdiri sebelum aku menyelesaikan kalimatku. Aku langsung duduk lalu berdiri
mengikutinya dengan pelan. Ia sama sekali tidak membantuku.
“Ciro,” aku
memanggilnya, mengharapkan perhatiannya. Tapi ia sama sekali tidak menatapku.
Ia malah menatap ke arah lain. Aku merasa udara semakin dingin di sini. “Kau
terlihat sehat.” Aku mencoba membuka percakapan untuk mencairkan suasana.
“Siapa yang
memberitahumu?” tanyanya dingin.
Aku paham
pertanyaannya dan menjawab, “hatiku.”
Ia tersenyum sinis.
“Jawaban apa itu.”
“Akhirnya aku paham
kalau aku selalu menemukanmu saat hatiku menuntunku. Itulah kenapa aku bisa
menemukanmu di taman itu, atau di depan makan Victoria .” Kataku tenang.
Ia menatapku dengan
tatapan serius sekarang.
“Aku tidak tahu
kalau jantung yang ada dalam tubuhku ternyata milik Victoria , adik kembarmu. Aku juga tidak tahu
kalau kau adalah Frankenstein yang menakut-nakutiku tentang operasi saat aku
kecil dulu. Tapi aku tahu kalau seseorang bernama Cirino Synyster takkan pernah
memaafkanku karena mengambil jantung adiknya.” Kataku. “Karena itu kau pergi, kan ? Kau pasti sangat
membenciku karena kau tahu kalau orang itu aku.”
Ia masih terus
menatapku tajam selagi aku menjelaskannya.
Aku menarik napas
pelan dan berkata, “sekarang aku paham kenapa aku selalu terhubung denganmu. Victoria sangat
menyayangimu dan ia menyampaikannya padaku. Tapi di samping itu, perasaanku
padamu juga sangat kuat.”
“Kau hanya ingin
bilang itu?”
Aku merasa kecewa
dengan ketidakpedulian Ciro padaku. Rasanya sangat sulit meyakinkannya. Aku
hampir kehilangan kata-kata saat ia memutuskan untuk berbalik dan berjalan
pergi.
Dengan cepat aku
meraih lengan bajunya dan menahan langkahnya. Ia berhenti dan berbalik sedikit
untuk menatapku.
Aku mencoba
mengeluarkan kata-kata walau sulit. “Aku…” aku menarik napas sebentar sebelum
melanjutkan, “aku merindukanmu.” Akuku sambil menatap matanya.
Rasa terkejut
terlihat dimatanya.
“Aku sungguh
merindukanmu. Apa kau merindukanku?”
Tapi ia tidak
menjawab juga.
“Aku datang karena
aku sangat ingin bertemu denganmu. Selalu… Selama sebulan itu aku selalu
memikirkanmu. Kau pergi dan aku tidak bisa menemukanmu seperti biasa. Dan saat
itu aku sadar bagaimana rasanya kehilangan orang yang paling dicintai.” Aku
menatap matanya lagi. “Apa aku boleh mencintaimu?”
Ia diam mendengar
kata-kataku dan akhirnya sepenuhnya berbalik menghadapku. Aku melepaskan
tanganku dari lengan bajunya.
“Selene,” ia mulai
bicara. “Kau tidak bisa semudah itu melupakan orang yang kau cintai. Aku yakin
kau lebih mengerti itu.”
Aku menggelengkan
kepalaku kuat-kuat. “Aku –”
Ia tersenyum samar.
“Lebih baik kau kembali.” Lalu ia pergi begitu saja.
Aku terdiam dengan
perasaan tercengang. Ciro sama sekali berubah. Aku mengejarnya dan sekali lagi
menghalangi jalannya.
“Ciro. Aku ingin
bicara.” Aku mengatakannya dengan tegas. “Dan aku serius. Aku ingin kau
mendengarku.”
Ia tidak peduli
dengan hal itu dan terus berjalan. Akhirnya aku meraihnya dan memeluknya dari
belakang. Ia berhenti.
“Lepaskan aku!”
perintahnya dengan nada dingin.
Aku menegang
sebentar dan tetap memeluknya walau ia sekarang mencoba melepaskan pelukanku.
Saat aku tersentak karena ia melakukannya dengan kasar, aku dengan cepat
menarik tanganku agar lepas dari cengkramannya.
“Kau hanya membuat
ini jadi sulit.” Katanya geram. “Bisakah kau pergi sekarang dan menjauh dariku?
Jangan cari aku lagi.”
“Aku tidak bisa.”
Jawabku keras kepala.
Ia mengerutkan
keningnya. “Aku tidak tahu kau bisa sekeras kepala itu.”
Aku merasa kalau
ini memang bukan diriku. Tapi apa boleh buat, aku harus menyelesaikan apa yang
kumulai. “Memang.” Aku tidak mau kalah. “Aku datang bukan hanya untuk
melihatmu, tapi juga untuk meluruskan masalah ini. Masalah kita.”
“Masalah? Dari dulu
memang kita sudah bermasalah!” teriaknya frustasi dan itu membuatku terdiam.
“Berengsek!” ia mengumpat sambil membuang mukanya ke samping.
Aku menurunkan
ranselku dan mengambil buku itu. “Aku datang bukan hanya untuk itu. Aku ingin
kau membaca buku ini.” Aku mengulurkannya.
Ia melihatnya
sesaat dan kemudian dengan letih berkata, “buku ini lagi?” tanyanya tidak percaya.
“Victoria menulis ini –”
“Aku tahu itu.” Ia
memotongnya dengan nada tidak sabar. “Ternyata kau juga sama saja.”
“Apa?” aku tidak
mengerti dengan tuduhannya.
“Kau sama saja
dengan mereka. Kau juga ingin membodohiku, kan ? Kau pikir Victoria mau mati semudah itu? Buku ini,” ia
merebut buku itu dariku, “ini hanya bohongan!” ia menghempaskannya dengan
marah.
Aku termundur
selangkah. Baru kali ini aku melihat Ciro semarah dan semurka itu. Dia berhasil
membuatku gemetar dan takut.
“Kau belum membacanya.”
Kataku. “Kau takkan tahu kalau kau tidak membacanya.”
“Aku tidak perlu
membacanya karena itu hanya rekayasa.”
“Itu bukan
rekayasa!” teriakku frustasi. “Kau tidak bisa mengabaikannya. Kau harus
melihatnya atau kau akan menyesal!”
“Dari awal aku sudah
menyesal!” Katanya cepat. Ia menatapku tajam sebelum berkata dengan nada
rendah, “dari awal aku sudah menyesal kenapa itu semua terjadi, kenapa dia
mati, dan kenapa…” ia mengatupkan rahangnya sebelum berkata, “kenapa orang itu
kau.”
Aku terkejut dengan
pengakuannya. Kalimat terakhir itu juga menghantamku yang juga bertanya-tanya
kenapa orang itu harus dia? Kenapa dia?
Nasib seakan
mempermainkan kami dengan mengungkap kebenaran yang begitu dingin. Aku merasa
mataku panas karena air mata. Aku akhirnya menatap ke atas, mencoba menahan air
mataku agar tak jatuh.
“Aku juga…
menanyakan hal yang sama,” bisikku parau. “Kenapa kita harus begini?” aku
mengatupkan rahangku, menahan isakanku sekuat tenaga saat menatapnya.
Wajah keras Ciro
benar-benar membuatku takut. Tapi aku tahu kalau kami sama-sama terluka karena
berada di dalam situasi yang sama. Tuhan… Tolong aku. Kembalikan waktu.
Kembalikan waktu
saat aku kecil dulu sehingga kami takkan berakhir seperti ini… atau aku
membuatnya terluka seperti ini.
“Sebaiknya kau
pergi.” Putusnya. “Kita tidak usah bertemu lagi.”
Aku tidak suka
mendengarnya! “Jangan!” kataku. “Jangan begitu! Jangan katakan itu!”
“Kita hanya akan
sama-sama terluka. Jadi lebih baik begitu.”
“Tidak mau!”
pekikku.
Ciro hanya
menatapku. Aku tahu kalau dia juga terluka. Aku tahu kalau dia juga tidak suka
dengan ide itu. Aku tahu kalau kami tidak bisa melakukannya. Aku tahu itu!
Aku bisa melihat
kesedihan di matanya yang sekelam malam. Aku tahu kalau dia hampir menangis
sama sepertiku. Tapi… aku tidak akan melakukan apa yang dia inginkan.
“Kau membuat ini
jadi sulit.” Gumamnya marah.
“Kau yang membuat
ini jadi sulit!” aku mendebat. “Kau yang bilang kalau tidak semudah itu bisa
melupakan orang yang kau cintai. Kau pikir apa ini mudah? Aku juga tidak bisa
melakukannya semudah itu!” teriakku.
Ia hanya diam
menerima amukanku.
“Kau adalah orang
yang paling paham itu. Kumohon…” aku meminta dengan sangat, “kumohon jangan
suruh aku melakukannya…” air mataku mengalir turun sekarang.
Ciro memalingkan
wajahnya.
“Aku tahu kau
sangat mencintai adikmu, tapi…” aku menarik napas sejenak, “tapi bisakah kau
menerima kenyataan kalau dia sudah…” aku langsung terdiam saat dia langsung
menatapku tajam. Aku merasa tidak punya nyali melanjutkannya sementara ia
menungguku mengatakannya. Tapi aku memilih diam.
“Kau ingin bilang
kalau dia sudah mati? Begitu?” selidiknya.
Tepat. Aku ingin
bilang begitu tapi aku tahu kalau itu salah.
Ia tertawa miris
sekarang sebelum diam dan berkata, “kau sama saja dengan mereka.”
“Hanya kau yang
tidak bisa menerima itu.” Aku tahu kalau ini akan memancing amarahnya.
“Karena kau salah
satu pembunuhnya.”
“Tidak.”
“Ya.”
“Kenapa kau tidak
terima kalau dia sudah mati?” teriakku.
Plak!
Satu tamparan
mendarat keras dipipiku dan itu membuatku langsung terdiam. Rasa sakitnya
membakar wajahku dan aku merasa sangat amat terkejut.
“Sekali lagi kau
bicara begitu, aku takkan memaafkanmu!” ancamnya dengan nada rendah.
Aku terdiam sambil
memandang ke arah yang berbeda. Mataku panas dan aku hampir benar-benar
menangis. Tapi aku menahannya sekuat tenaga. Tidak. Dia tak boleh melihatku
menangis sekarang.
“Kau benar.” Akuku
pelan. “Dia memang belum mati.”
Ciro mengatupkan
rahangnya dengan marah.
“Karena jantungnya
di sini.” Sambungku pelan. “Karena dia
hidup di sini.” Air mataku tak terbendung lagi. Pandanganku kabur saat
melihatnya. “Karena dia masih di sini…”
Ia mengangkat
dagunya sedikit dan menatapku dengan tatapan dingin tanpa belas kasih. Aku bisa
melihat kalau dia benar-benar murka dan aku tahu sekalipun aku menangis itu
takkan membuat amarahnya luntur.
Aku menghapus air
mataku. “Maaf…” kataku penuh sesal. “Seandainya aku tahu duluan kalau –” aku
menarik napas karena tak sanggup melanjutkan. “Apa yang bisa kulakukan agar kau
mau memaafkanku?”
Dia diam sejenak
sebelum akhirnya tertawa, “apa yang bisa kau lakukan?” tanyanya sebelum
akhirnya tertawa lagi.
Aku gamang
berhadapan dengannya sekarang karena dia bukanlah Cirino yang kukenal. Dia
seperti orang lain. Itu seperti bukan dirinya.
“Kau tanya apa yang
bisa kau lakukan?” ulangnya lagi sebelum akhirnya dengan rahang terkatup ia
berkata, “kembalikan dia. Kembalikan jantungnya dan hidupkan dia!”
Aku menatapnya
tidak percaya. Apa dia bercanda? Tapi aku tidak melihat tanda-tanda itu
didirinya. Ia menatapku serius.
Ia menantangku.
“Kau ingin… ini
kembali?” tanyaku tidak percaya dengan nada setengah berbisik.
Ia tersenyum angkuh
padaku. “Kalau kau bisa.”
“Lalu? Apa setelah
itu kau mau memaafkanku?” tanyaku. “Apa setelah itu kau akan memaafkan mereka?”
Ia hanya diam
menatapku.
Aku tidak mendapat
jawaban yang kuharapkan. Atau memang diam itu adalah pertanda ‘iya’ darinya?
“Kalau aku
melakukannya, apa kau mau membaca ini setelahnya?” tanyaku sambil mengangkat
buku itu. “Kalau aku melakukannya apa kau mau memaafkan mereka? Apa kau bisa
hidup seperti dulu? Apa kau bisa melakukannya?” nadaku semakin lama semakin
tinggi.
Tapi dia hanya diam
menatapku tanpa ekspresi.
Aku tidak menyangka
kalau dia bisa sedingin itu dan itu membuatku merasa seperti dihantam oleh
benda yang tak terlihat. Hatiku sakit. Dadaku sakit. Tapi dia sama sekali tidak
bereaksi.
“Ciro…” panggilku
lemah. “Aku bisa melakukannya.” Kataku akhirnya. “Aku bisa melakukan apa yang
kau mau.”
“Cih!” ia membuang
mukanya sesaat dan dengan sombong berkata, “aku tidak suka omong kosong…”
“…aku tidak
bercanda.”
“…dan romantisme
berlebihan seperti itu.” katanya lagi. “Semua itu hanya ada dilirik lagu.
Melakukan segalanya? Apa itu?” ia terlihat geli sekarang.
Aku menghela
napasku. Memang berlebihan mengatakan itu, tapi aku merasa punya kekuatan untuk
melakukannya.
“Jangan katakan
kalimat menggelikan itu.” Perintahnya dingin.
Aku menatapnya,
menyerah dengan tingkah lakunya. Tanpa mempedulikanku ia akhirnya pergi
meninggalkanku sendirian di atap. Aku terdiam sampai akhirnya pintu di
belakangku dibanting agar tertutup.
Aku terkejut dan
menoleh ke belakang.
Apa yang harus
kulakukan? Perasaanku campur aduk sekarang. Aku tidak punya cara lain lagi
untuk mengatakannya. Aku ingin bicara!
Akhirnya aku berlari
dan membuka pintu itu. Aku melihat Ciro dengan cepat menuruni tangga dan aku
langsung berlari mengejarnya.
“Ciro! Tunggu!
Ciro!” teriakku.
Ia sama sekali
tidak menoleh menatapku. Aku berusaha berhati-hati menuruni tangga karena
sepatuku yang licin terkena salju. Tapi dia terlalu cepat. Aku berlari menuruni
tangga sambil meneriakkan namanya dan akhirnya aku terpeleset jatuh dari anak
tangga paling atas.
Aku merasa alarm
bahaya di kepalaku berbunyi!
Aku terjatuh ke
depan dan dengan bebasnya jatuh ke bawah. Dagu dan kepalaku membentur anak-anak
tangga itu dengan keras. Aku berteriak kesakitan saat membenturnya. Lalu aku
jatuh berguling ke bawah dengan cepat dan dadaku langsung membentur sebuah
tempat sampah besi yang ada di depan sana
dengan keras dan kuat.
Aku tersentak dan
langsung terdiam menerima rasa sakitnya. Napasku serasa keluar semua dari
paru-paruku dan aku merasa berhenti bernapas saat itu juga. Jantungku serasa
ingin meloncat keluar dan sangat amat sakit. Aku sangat ingin berteriak, tapi jika
aku bersuara maka rasa sakitnya akan terasa seribu kali lipat. Sebelah tanganku
menggenggam erat buku itu, dan sebelah lainnya mencoba meraba-raba mencari
pegangan yang bisa menguatkanku dari rasa sakit ini.
Aku tidak bisa
bernapas karena itu akan membuatku sakit. Aku merasa sangat nyeri. Air mataku
mengalir turun…
Dan mungkin
sebentar lagi aku akan mati.
Dengan pandangan
mata yang semakin mengabur dan rasa sakit yang membuatku putus asa, aku berdoa.
Tuhan, jika ini memang akhirnya,
ku mohon… semoga tidak ada yang menyesal setelahnya.

0 comments: