The Moon and The Sun #29 - Rain

10:32 PM fe 0 Comments

29
Ciro tidak terlihat seperti pasien lainnya. Ia tidak memakai baju pasien atau terlihat seperti pasien pada umumnya. Ia memakai pakaiannya sendiri, sebuah jaket tebal bewarna cokelat gelap dan juga jeans tebal serta sepatu. Ia terlihat seperti biasa, seperti orang yang sedang bepergian.
Tapi apa yang dia lakukan di sana?
Aku yang masih tersengal-sengal langsung mendapat pikiran buruk. Jangan bilang kalau dia ingin bunuh diri di sini! Itu salah!
Dengan dipenuhi rasa takut akan hal itu, aku berlari secepatnya, meraih tangannya, dan langsung menariknya ke belakang.
“Jangan!” pekikku saat menariknya turun sekuat tenaga dari sana.
Aku bisa mendengar kalau dia terkejut sebelum akhirnya kami sama-sama jatuh ke lantai dan ia menindihku. Rasa sakit langsung menghantam punggungku dan aku merasa napasku tersentak keluar dari paru-paruku. Aku terbatuk sesaat.

“Apa yang – ”
Aku mendengar protes tertahan darinya sebelum akhirnya aku membuka mata dan melihat wajah terkejutnya yang menunduk ke arah ku. Ia memanggil namaku tanpa suara. Ia tidak percaya kalau aku ada di sini.
“Ciro…” aku memanggilnya. “Aku –”
Ia langsung bangkit berdiri sebelum aku menyelesaikan kalimatku. Aku langsung duduk lalu berdiri mengikutinya dengan pelan. Ia sama sekali tidak membantuku.
“Ciro,” aku memanggilnya, mengharapkan perhatiannya. Tapi ia sama sekali tidak menatapku. Ia malah menatap ke arah lain. Aku merasa udara semakin dingin di sini. “Kau terlihat sehat.” Aku mencoba membuka percakapan untuk mencairkan suasana.
“Siapa yang memberitahumu?” tanyanya dingin.
Aku paham pertanyaannya dan menjawab, “hatiku.”
Ia tersenyum sinis. “Jawaban apa itu.”
“Akhirnya aku paham kalau aku selalu menemukanmu saat hatiku menuntunku. Itulah kenapa aku bisa menemukanmu di taman itu, atau di depan makan Victoria.” Kataku tenang.
Ia menatapku dengan tatapan serius sekarang.
“Aku tidak tahu kalau jantung yang ada dalam tubuhku ternyata milik Victoria, adik kembarmu. Aku juga tidak tahu kalau kau adalah Frankenstein yang menakut-nakutiku tentang operasi saat aku kecil dulu. Tapi aku tahu kalau seseorang bernama Cirino Synyster takkan pernah memaafkanku karena mengambil jantung adiknya.” Kataku. “Karena itu kau pergi, kan? Kau pasti sangat membenciku karena kau tahu kalau orang itu aku.”
Ia masih terus menatapku tajam selagi aku menjelaskannya.
Aku menarik napas pelan dan berkata, “sekarang aku paham kenapa aku selalu terhubung denganmu. Victoria sangat menyayangimu dan ia menyampaikannya padaku. Tapi di samping itu, perasaanku padamu juga sangat kuat.”
“Kau hanya ingin bilang itu?”
Aku merasa kecewa dengan ketidakpedulian Ciro padaku. Rasanya sangat sulit meyakinkannya. Aku hampir kehilangan kata-kata saat ia memutuskan untuk berbalik dan berjalan pergi.
Dengan cepat aku meraih lengan bajunya dan menahan langkahnya. Ia berhenti dan berbalik sedikit untuk menatapku.
Aku mencoba mengeluarkan kata-kata walau sulit. “Aku…” aku menarik napas sebentar sebelum melanjutkan, “aku merindukanmu.” Akuku sambil menatap matanya.
Rasa terkejut terlihat dimatanya.
“Aku sungguh merindukanmu. Apa kau merindukanku?”
Tapi ia tidak menjawab juga.
“Aku datang karena aku sangat ingin bertemu denganmu. Selalu… Selama sebulan itu aku selalu memikirkanmu. Kau pergi dan aku tidak bisa menemukanmu seperti biasa. Dan saat itu aku sadar bagaimana rasanya kehilangan orang yang paling dicintai.” Aku menatap matanya lagi. “Apa aku boleh mencintaimu?”
Ia diam mendengar kata-kataku dan akhirnya sepenuhnya berbalik menghadapku. Aku melepaskan tanganku dari lengan bajunya.
“Selene,” ia mulai bicara. “Kau tidak bisa semudah itu melupakan orang yang kau cintai. Aku yakin kau lebih mengerti itu.”
Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat. “Aku –”
Ia tersenyum samar. “Lebih baik kau kembali.” Lalu ia pergi begitu saja.
Aku terdiam dengan perasaan tercengang. Ciro sama sekali berubah. Aku mengejarnya dan sekali lagi menghalangi jalannya.
“Ciro. Aku ingin bicara.” Aku mengatakannya dengan tegas. “Dan aku serius. Aku ingin kau mendengarku.”
Ia tidak peduli dengan hal itu dan terus berjalan. Akhirnya aku meraihnya dan memeluknya dari belakang. Ia berhenti.
“Lepaskan aku!” perintahnya dengan nada dingin.
Aku menegang sebentar dan tetap memeluknya walau ia sekarang mencoba melepaskan pelukanku. Saat aku tersentak karena ia melakukannya dengan kasar, aku dengan cepat menarik tanganku agar lepas dari cengkramannya. 
“Kau hanya membuat ini jadi sulit.” Katanya geram. “Bisakah kau pergi sekarang dan menjauh dariku? Jangan cari aku lagi.”
“Aku tidak bisa.” Jawabku keras kepala.
Ia mengerutkan keningnya. “Aku tidak tahu kau bisa sekeras kepala itu.”
Aku merasa kalau ini memang bukan diriku. Tapi apa boleh buat, aku harus menyelesaikan apa yang kumulai. “Memang.” Aku tidak mau kalah. “Aku datang bukan hanya untuk melihatmu, tapi juga untuk meluruskan masalah ini. Masalah kita.”
“Masalah? Dari dulu memang kita sudah bermasalah!” teriaknya frustasi dan itu membuatku terdiam. “Berengsek!” ia mengumpat sambil membuang mukanya ke samping.
Aku menurunkan ranselku dan mengambil buku itu. “Aku datang bukan hanya untuk itu. Aku ingin kau membaca buku ini.” Aku mengulurkannya.
Ia melihatnya sesaat dan kemudian dengan letih berkata, “buku ini lagi?” tanyanya tidak percaya.
Victoria menulis ini –”
“Aku tahu itu.” Ia memotongnya dengan nada tidak sabar. “Ternyata kau juga sama saja.”
“Apa?” aku tidak mengerti dengan tuduhannya.
“Kau sama saja dengan mereka. Kau juga ingin membodohiku, kan? Kau pikir Victoria mau mati semudah itu? Buku ini,” ia merebut buku itu dariku, “ini hanya bohongan!” ia menghempaskannya dengan marah.
Aku termundur selangkah. Baru kali ini aku melihat Ciro semarah dan semurka itu. Dia berhasil membuatku gemetar dan takut.
“Kau belum membacanya.” Kataku. “Kau takkan tahu kalau kau tidak membacanya.”
“Aku tidak perlu membacanya karena itu hanya rekayasa.”
“Itu bukan rekayasa!” teriakku frustasi. “Kau tidak bisa mengabaikannya. Kau harus melihatnya atau kau akan menyesal!”
“Dari awal aku sudah menyesal!” Katanya cepat. Ia menatapku tajam sebelum berkata dengan nada rendah, “dari awal aku sudah menyesal kenapa itu semua terjadi, kenapa dia mati, dan kenapa…” ia mengatupkan rahangnya sebelum berkata, “kenapa orang itu kau.”
Aku terkejut dengan pengakuannya. Kalimat terakhir itu juga menghantamku yang juga bertanya-tanya kenapa orang itu harus dia? Kenapa dia?
Nasib seakan mempermainkan kami dengan mengungkap kebenaran yang begitu dingin. Aku merasa mataku panas karena air mata. Aku akhirnya menatap ke atas, mencoba menahan air mataku agar tak jatuh.
“Aku juga… menanyakan hal yang sama,” bisikku parau. “Kenapa kita harus begini?” aku mengatupkan rahangku, menahan isakanku sekuat tenaga saat menatapnya.
Wajah keras Ciro benar-benar membuatku takut. Tapi aku tahu kalau kami sama-sama terluka karena berada di dalam situasi yang sama. Tuhan… Tolong aku. Kembalikan waktu.
Kembalikan waktu saat aku kecil dulu sehingga kami takkan berakhir seperti ini… atau aku membuatnya terluka seperti ini.
“Sebaiknya kau pergi.” Putusnya. “Kita tidak usah bertemu lagi.”
Aku tidak suka mendengarnya! “Jangan!” kataku. “Jangan begitu! Jangan katakan itu!”
“Kita hanya akan sama-sama terluka. Jadi lebih baik begitu.”
“Tidak mau!” pekikku.
Ciro hanya menatapku. Aku tahu kalau dia juga terluka. Aku tahu kalau dia juga tidak suka dengan ide itu. Aku tahu kalau kami tidak bisa melakukannya. Aku tahu itu!
Aku bisa melihat kesedihan di matanya yang sekelam malam. Aku tahu kalau dia hampir menangis sama sepertiku. Tapi… aku tidak akan melakukan apa yang dia inginkan.
“Kau membuat ini jadi sulit.” Gumamnya marah.
“Kau yang membuat ini jadi sulit!” aku mendebat. “Kau yang bilang kalau tidak semudah itu bisa melupakan orang yang kau cintai. Kau pikir apa ini mudah? Aku juga tidak bisa melakukannya semudah itu!” teriakku.
Ia hanya diam menerima amukanku.
“Kau adalah orang yang paling paham itu. Kumohon…” aku meminta dengan sangat, “kumohon jangan suruh aku melakukannya…” air mataku mengalir turun sekarang.
Ciro memalingkan wajahnya.
“Aku tahu kau sangat mencintai adikmu, tapi…” aku menarik napas sejenak, “tapi bisakah kau menerima kenyataan kalau dia sudah…” aku langsung terdiam saat dia langsung menatapku tajam. Aku merasa tidak punya nyali melanjutkannya sementara ia menungguku mengatakannya. Tapi aku memilih diam.
“Kau ingin bilang kalau dia sudah mati? Begitu?” selidiknya.
Tepat. Aku ingin bilang begitu tapi aku tahu kalau itu salah.
Ia tertawa miris sekarang sebelum diam dan berkata, “kau sama saja dengan mereka.”
“Hanya kau yang tidak bisa menerima itu.” Aku tahu kalau ini akan memancing amarahnya.
“Karena kau salah satu pembunuhnya.”
“Tidak.”
“Ya.”
“Kenapa kau tidak terima kalau dia sudah mati?” teriakku.
Plak!
Satu tamparan mendarat keras dipipiku dan itu membuatku langsung terdiam. Rasa sakitnya membakar wajahku dan aku merasa sangat amat terkejut.
“Sekali lagi kau bicara begitu, aku takkan memaafkanmu!” ancamnya dengan nada rendah.
Aku terdiam sambil memandang ke arah yang berbeda. Mataku panas dan aku hampir benar-benar menangis. Tapi aku menahannya sekuat tenaga. Tidak. Dia tak boleh melihatku menangis sekarang.
“Kau benar.” Akuku pelan. “Dia memang belum mati.”
Ciro mengatupkan rahangnya dengan marah.
“Karena jantungnya di sini.” Sambungku pelan.  “Karena dia hidup di sini.” Air mataku tak terbendung lagi. Pandanganku kabur saat melihatnya. “Karena dia masih di sini…”
Ia mengangkat dagunya sedikit dan menatapku dengan tatapan dingin tanpa belas kasih. Aku bisa melihat kalau dia benar-benar murka dan aku tahu sekalipun aku menangis itu takkan membuat amarahnya luntur.
Aku menghapus air mataku. “Maaf…” kataku penuh sesal. “Seandainya aku tahu duluan kalau –” aku menarik napas karena tak sanggup melanjutkan. “Apa yang bisa kulakukan agar kau mau memaafkanku?”
Dia diam sejenak sebelum akhirnya tertawa, “apa yang bisa kau lakukan?” tanyanya sebelum akhirnya tertawa lagi.
Aku gamang berhadapan dengannya sekarang karena dia bukanlah Cirino yang kukenal. Dia seperti orang lain. Itu seperti bukan dirinya.
“Kau tanya apa yang bisa kau lakukan?” ulangnya lagi sebelum akhirnya dengan rahang terkatup ia berkata, “kembalikan dia. Kembalikan jantungnya dan hidupkan dia!”
Aku menatapnya tidak percaya. Apa dia bercanda? Tapi aku tidak melihat tanda-tanda itu didirinya. Ia menatapku serius.
Ia menantangku.
“Kau ingin… ini kembali?” tanyaku tidak percaya dengan nada setengah berbisik.
Ia tersenyum angkuh padaku. “Kalau kau bisa.”
“Lalu? Apa setelah itu kau mau memaafkanku?” tanyaku. “Apa setelah itu kau akan memaafkan mereka?”
Ia hanya diam menatapku.
Aku tidak mendapat jawaban yang kuharapkan. Atau memang diam itu adalah pertanda ‘iya’ darinya?
“Kalau aku melakukannya, apa kau mau membaca ini setelahnya?” tanyaku sambil mengangkat buku itu. “Kalau aku melakukannya apa kau mau memaafkan mereka? Apa kau bisa hidup seperti dulu? Apa kau bisa melakukannya?” nadaku semakin lama semakin tinggi.
Tapi dia hanya diam menatapku tanpa ekspresi.
Aku tidak menyangka kalau dia bisa sedingin itu dan itu membuatku merasa seperti dihantam oleh benda yang tak terlihat. Hatiku sakit. Dadaku sakit. Tapi dia sama sekali tidak bereaksi.
“Ciro…” panggilku lemah. “Aku bisa melakukannya.” Kataku akhirnya. “Aku bisa melakukan apa yang kau mau.”
“Cih!” ia membuang mukanya sesaat dan dengan sombong berkata, “aku tidak suka omong kosong…”
“…aku tidak bercanda.”
“…dan romantisme berlebihan seperti itu.” katanya lagi. “Semua itu hanya ada dilirik lagu. Melakukan segalanya? Apa itu?” ia terlihat geli sekarang.
Aku menghela napasku. Memang berlebihan mengatakan itu, tapi aku merasa punya kekuatan untuk melakukannya.
“Jangan katakan kalimat menggelikan itu.” Perintahnya dingin.
Aku menatapnya, menyerah dengan tingkah lakunya. Tanpa mempedulikanku ia akhirnya pergi meninggalkanku sendirian di atap. Aku terdiam sampai akhirnya pintu di belakangku dibanting agar tertutup.
Aku terkejut dan menoleh ke belakang.
Apa yang harus kulakukan? Perasaanku campur aduk sekarang. Aku tidak punya cara lain lagi untuk mengatakannya. Aku ingin bicara!
Akhirnya aku berlari dan membuka pintu itu. Aku melihat Ciro dengan cepat menuruni tangga dan aku langsung berlari mengejarnya.
“Ciro! Tunggu! Ciro!” teriakku.
Ia sama sekali tidak menoleh menatapku. Aku berusaha berhati-hati menuruni tangga karena sepatuku yang licin terkena salju. Tapi dia terlalu cepat. Aku berlari menuruni tangga sambil meneriakkan namanya dan akhirnya aku terpeleset jatuh dari anak tangga paling atas.
Aku merasa alarm bahaya di kepalaku berbunyi!
Aku terjatuh ke depan dan dengan bebasnya jatuh ke bawah. Dagu dan kepalaku membentur anak-anak tangga itu dengan keras. Aku berteriak kesakitan saat membenturnya. Lalu aku jatuh berguling ke bawah dengan cepat dan dadaku langsung membentur sebuah tempat sampah besi yang ada di depan sana dengan keras dan kuat.
Aku tersentak dan langsung terdiam menerima rasa sakitnya. Napasku serasa keluar semua dari paru-paruku dan aku merasa berhenti bernapas saat itu juga. Jantungku serasa ingin meloncat keluar dan sangat amat sakit. Aku sangat ingin berteriak, tapi jika aku bersuara maka rasa sakitnya akan terasa seribu kali lipat. Sebelah tanganku menggenggam erat buku itu, dan sebelah lainnya mencoba meraba-raba mencari pegangan yang bisa menguatkanku dari rasa sakit ini.
Aku tidak bisa bernapas karena itu akan membuatku sakit. Aku merasa sangat nyeri. Air mataku mengalir turun… 
Dan mungkin sebentar lagi aku akan mati.
Dengan pandangan mata yang semakin mengabur dan rasa sakit yang membuatku putus asa, aku berdoa.
Tuhan, jika ini memang akhirnya, ku mohon… semoga tidak ada yang menyesal setelahnya.


You Might Also Like

0 comments: