The Moon and The Sun #6 - Rain

9:16 PM fe 0 Comments

6
Musim dingin, 2011

Musim dingin Ekstrim di Chicago membuatku seperti dilempar ke kutub utara. Apa sekarang aku bisa melihat penguin di jalan? Aku tertawa miris. Mana ada yang seperti itu. Sambil menggigil di dalam jaket dan mantel tebal, aku berusaha melewati jalan bersalju, belum lagi salju yang turun membuat pandangan mataku semakin kabur.

Tapi aku terpaksa harus berjalan kaki sekarang karena rumah teman baikku, Gates, hanya tinggal beberapa rumah saja dari jalan ini. Sudah lama sekali aku tidak ke sini. Dulu aku bertetangga dengan Gates yang nakal dan sangar karena suka marah-marah. Aku tinggal tepat di sebelah rumahnya dan jendela kamar kami saling berhadap-hadapan.


Dalam pikiran yang hampir ikut beku aku berpikir kenapa aku bisa sampai ada di sini lagi. Ah ya, seminggu yang lalu Gates meneleponku jauh-jauh dari California ke Indonesia hanya untuk memintaku datang mengunjunginya.

“Jadi datang saja! Kalau tidak aku akan sangat menyesal.” Katanya padaku.

“Aku yang menyesal atau kau yang menyesal?” tanyaku sambil menggigit pulpen. Aku baru saja menulis beberapa ide baru dalam buku. Hanya saja telepon tengah malam itu langsung mengganggu konsentrasiku.

“Oh, baiklah… tapi sebenarnya aku yang akan sangat menyesal. Kami punya beberapa proyek di sini dan aku yakin kau bisa membantu.”

“Proyek apa?”

“Apa kau tidak merindukan rumahmu?” tanyanya.

“Rumahku sudah dijual.”Aku tahu kalau dia sedang mengalihkan topik pembicaraan. Bujukan agar aku pulang ke rumah memang sudah berbulan-bulan lalu disampaikannya. Sambil menatap wajahnya di monitor komputer, aku akhirnya menghela napas.
            
            “Oke, aku akan pulang…” putusku akhirnya. Lagi pula sudah lama sekali aku tidak ke sana.

“Bagus!” katanya senang. “Kau tahu? Aku takkan ingkar janji.”

Aku mengerutkan kening. “Tidak?” ulangku dengan nada tidak yakin awalnya. “Yah, memang tidak. Sampai jumpa di rumahmu.” Kataku sambil tersenyum.

Dan di sinilah aku, kembali ke Amerika seorang diri. Sebenarnya sejak lima belas tahun yang lalu aku sudah bermukim di Indonesia bersama orang tuaku. Indonesia adalah kampung halaman ibuku sedangkan ayaku asli Amerika. Aku masih sering pulang untuk menghabiskan waktu liburan dua minggu penuh di Amerika bersama keluarga pamanku. Hanya saja sejak dua tahun yang lalu aku tidak kembali lagi ke sini. Gates dan aku masih sering berhubungan lewat Skype walau tidak rutin.

Apa salahnya untuk kembali lagi dan liburan lagi, kan? Toh, pekerjaanku di Indonesia juga sudah selesai. Mungkin aku butuh waktu untuk bersenang-senang sambil merancang beberapa desain baru untuk sepatu.

Sambil menggigil kedinginan akhirnya aku menemukan rumahnya yang sama sekali tidak berubah. Rumah bertingkat dua dengan halaman luas dan bergarasi itu dipenuhi salju. Aku membuka pintu pagarnya dan masuk begitu saja seperti kebiasaanku dulu – karena aku tahu kalau pintu itu takkan dikunci disiang hari – dan segera menekan bel.

Aku hampir beku.

Tak lama kemudian pintu dibuka dan muncullah sesosok pria yang kukenal baik. Gates Silverstone menyambutku dengan senyum manisnya yang selalu membuatku nyaman dan berdebar-debar.

Ada apa dengan senyum pria tampan ini?

Rambut hitamnya yang sedikit panjang itu terlihat sedikit berantakan dan aku baru sadar kalau ia sudah menambah tato di lengan kirinya sampai kepergelangan tangan. Oh, lengkap sudah.

“Aku tahu itu kau!” katanya senang dengan senyum lebar. Ia memelukku erat seperti teman lama.

“Hei!” aku memprotesnya sambil tertawa. “Kau terlihat sangat sehat.”

“Tentu saja,” katanya sambil melepaskan pelukannya. “Kau terlalu lama di Indonesia. Memangnya apa yang menarik di Negara itu?”

Aku membuka mantel dan sepatu musim dinginku. “Well, kau akan menemukan alam Asia yang hangat dengan banyak jenis makanan yang luar biasa lezat.”

Aku melihat Gates memperhatikan bentuk tubuhku dari tatapan matanya.

“Kau takkan melihatku jadi gemuk.” Kataku sambil menyipitkan mata.

Ia menyengir sekarang. “Oke, itu cocok untukmu. Ayo masuk. Mereka sudah menunggumu.” Ajaknya sambil menarikku ke dalam ruangan yang bersih dan hangat.

Aku mengikutinya hingga ke ruang makan, tempat favorit ia dan teman-temannya berkumpul. Kenapa tidak? Dari kecil Ibu Gates, Mrs.Silverstone sudah membiasakan anak-anaknya yang suka makan itu untuk selalu makan di ruang makan agar tidak mengotori ruangan lainnya.

Dan saat aku masuk ke sana, suara teriakan “selamat datang” terdengar keras dari tiga orang pria bertubuh besar.

Aku benar-benar kaget!

“Kuharap kau tidak lupa rumah ini, Sel.” Kata seorang pria yang segera menyambutku dengan peulakannya.

Aku tertawa, “Tidak semudah itu, Flea. Kau tahu kalau ingatanku kuat.”

“Yeah, aku selalu kalah dalam masalah itu.” Sela Joe, pria yang bertubuh agak sedikit berisi dengan rambut yang di cat warna putih. “Selamat datang.” Katanya sambil memelukku dan menepuk-nepuk punggungku seperti kawan lama.

“Tentu saja, sangat sehat!” kataku senang.

“Kau ingat siapa aku?” tanya seorang pria lain yang dandanan rambutnya terlihat sangat khas dengan warna biru donker yang mencolok sedikit diponinya. Ia menundukkan kepalanya sambil menatapku tajam dan aku bisa melihat tindikan di bibirnya.

“Aha! Kau pikir aku lupa? Kau Victor!” tebakku.

Ia tersenyum dan berjalan untuk memelukku. Victor adalah anak yang sangat penakut waktu kecil dulu. Tapi ia tiba-tiba berubah jadi sangat percaya diri sejak ditarik Gates untuk jadi temannya.

Kami tertawa dan merasa seperti kembali ke masa kecil. Hanya saja waktu terlalu cepat berlalu. Aku bukan lagi anak kecil sakit-sakitan yang berusia enam tahun. Gates, Flea, Joe, dan Victor bukan lagi anak laki-laki walau tetap dua tahun lebih tua dariku. Aku baru bisa merasakannya sekarang.

Bulan Desember ini aku akan genap berusia dua puluh enam tahun. Aku mandiri, punya bisnis yang sangat membanggakan, seorang penulis terkenal – yang tidak mau menampakkan diri di depan orang banyak – dan masih single.

Lalu empat pria ini tumbuh dengan begitu cepatnya. Mereka memiliki tinggi yang mengingatkanku seperti anak tangga. Coba saja jejerkan mereka, maka Gates akan terlihat lebih tinggi sekitar tiga centi dari Flea, Flea akan terlihat lebih tinggi tiga setengah centi dari Victor, dan Victor akan terlihat lebih tinggi dua centi dari Joe. Jika aku dijejerkan setelah Joe, maka Joe akan terlihat lebih tinggi lagi dariku.

Dan pria-pria bertato ini, walau terlihat sangar, tetap saja sangat baik, penuh perhatian, dan setia kawan.

“Hei, mungil. Aku tahu kau pasti kedinginan,” kata Flea. “Apa kau punya –”

Tapi bel berbunyi sebelum Flea selesai bicara.

“Aku rasa orang yang kita tunggu-tunggu akhirnya datang juga,” kata Victor sambil memandang kearah pintu.

“Well, aku tak perlu menyambutnya, kan?” kata Gates dengan sikap tak acuh karena kami semua bisa mendengar suara pintu dibuka.

Aku menatap kearah pintu dengan wajah penasaran. Siapa orang yang paling mereka tunggu-tunggu selain aku?

Dan satu hal lagi. Kenapa jantungku berdebar-debar menunggunya?

Lalu dari sana muncullah sesosok pria lain yang terlihat lebih tinggi dari Gates.

“Ups! Maaf, aku telat.” Katanya santai.

Semua yang ada di sana berdiri dan langsung menyalaminya. Aku masih bingung menatapnya. Pria itu terlihat sangat tinggi dengan kulit putih yang menonjol, bibir yang terlihat sensual dan menarik, dan tatapan mata yang mengusik. Ia terlihat tenang dan penuh percaya diri serta…

Gates menatapku. “Oh, perkenalkan, dia –”

“Rev,” ia memotong perkataan Gates padaku. “Salam kenal.”

Joe menyengir padanya, “seperti biasa.” katanya.

“Yeah, seperti biasa.” Kata Gates sambil memutar bola matanya. “Rev, ini Selene. Kau bisa memanggilnya… mmm… Sel… atau apapun yang kau suka…”

“Atas izinku,” potongku jengkel. Aku sangat terkejut karena terang-terangan menatapnya seperti itu.  Dan aku sadar kalau aku dari tadi menahan napas.

“Yeah, atas izinnya,” Gates membenarkan.

Rev hanya memandang kami bergantian.

“Panggil saja dia Sel. Itu panggilan kami untuknya,” kata Flea.

“Baiklah, apa kita mulai saja?” Joe mengambil alih situasi. “Mungkin kau butuh wine, Rev?” tawarnya.

“Tentu saja.” Rev mengiyakannya.

Kami duduk di meja makan yang ternyata muat menampung enam orang. Tentu saja karena keluarga Gates sendiri adalah keluarga besar dan mereka sering menerima tamu. Dari kabar yang kutanya, kakak dan adik Gates sedang tinggal di Georgia. Orang tua mereka juga ikut ke Seattle untuk mengunjungi anak mereka yang bungsu, Emily.

Flea mengeluarkan satu gelas lagi dan mengisinya dengan Wine. Aku yang anti alkohol pun langsung mendesah. Apa mereka bisa berdiskusi tanpa mabuk? Tapi aku tidak yakin mereka bisa mabuk semudah itu karena mereka sangat kuat minum.

“Kau mau minum apa?” tawar Gates padaku.

“Teh.”

Aku mendengar suara tersedak dari seseorang. Orang itu pasti akan tertawa mendengar permintaanku yang tidak biasa. Dan aku tahu kalau Rev orangnya. Siapa lagi yang akan tertawa selain dia?

“Kau tidak salah?” tanyanya padaku sambil meletakkan gelasnya ke meja.

Aku menatapnya, lebih tepatnya berusaha untuk menatapnya karena ia terlihat sangat… manis, walau sekejap kemudian ia pantas dianggap iblis. Heran, padahal aku baru kali ini bertemu dengannya. Aku tidak tahu kenapa anggapan itu datang begitu saja.

“Aku tidak minum.” kataku mantap.

“Tidak?”

“Sama sekali tidak pernah.” Aku meyakinkannya.

“Dia tak pernah melakukannya dan sia-sia saja kau membujuknya,” Victor membantuku. “Dia tidak minum, tidak berkata-kata kotor, tidak merokok, tidak… hei! Apa kau masih sendiri?”

Aku merasa malu karena Victor dengan gamblangnya menjelaskan siapa aku. “Victor!” aku menegurnya dengan bisikan.

“Ah! Dia masih sendiri. Gates bilang begitu.” Lanjutnya tanpa memperdulikan peringatanku sedangkan Joe berusaha keras menahan tawanya sambil menggembungkan pipinya, Flea bersikap acuh, dan Gates mulai duduk di sampingku sambil meletakkan secangkir teh panas di depanku.

“Kau mempromosikannya dengan sangat… yah… baik?” komentar Gates yang hampir tertawa.

Aku menatap Gates dengan tatapan membunuh sekarang.

“Polos?” Rev mengangkat sebelah alisnya saat memperhatikanku dengan terang-terangan.

Oh, inilah yang terjadi jika aku berkumpul dengan sekelompok pria yang suka bicara terang-terangan. Mereka sama sekali tidak malu atau ragu mengungkapkan pendapat mereka dan harusnya aku tahu itu. Aku hanya perlu membiasakan diri lagi jika masih ingin bertahan dalam satu grup pria-pria sangar bertato dan bertindik ini. Aku harus menekankan itu!

“Lebih tepatnya aku tidak suka melakukannya.” Aku menjawabnya. “Aku tidak suka minum karena rasanya memang tidak enak dan… yah, bukan berarti aku tidak pernah marah. Aku hanya tidak bisa mengeluarkan kalimat-kalimat itu. Itu saja.”

“Harus kuakui. Jarang ada wanita yang seperti itu.” Flea membenarkan.

Rev mengangguk. “Tapi… kau tidak punya kekasih?” ia bertanya dengan nada tidak percaya dan menatapku seolah aku ini makhluk aneh.

Ada masalah dengan itu?” tanyaku.

Ia hanya mengangguk paham. “Yah, aku tahu.” Katanya, “aku sudah melihatnya,” gumamnya pelan.

“Maaf?” aku minta pengulangan untuk kalimat terakhir tadi, tapi Gates segera menyela.

“Bisa kita mulai?”

Semuanya mengangguk setuju.

“Jadi… Aku memanggilmu ke sini untuk… yah, selain untuk pulang ke rumah, aku ingin kau membantu kami.” Gates memulai. “Aku tahu kalau kau seorang penulis.”

“Aku tak pernah mengatakan itu padamu,” selaku.

“Yah, kami tidak butuh penegasanmu, sayang. Hanya saja buku yang kau tulis itu sangat mengusik insting kami.” Kata Flea sambil tersenyum.

Aku yang masih belum siap mengakui profesi lainku langsung tetawa sumbang. “Buku apa?”

“Kau lihat? Dia tidak pandai berbohong.” Kata Joe pada Rev.

Rev hanya mengangguk sambil menatapku tanpa ekspresi.

Aku berusaha untuk tidak gugup di bawah tatapan matanya. Hanya saja jantungku masih tidak mau berhenti berdebar karena sesuatu yang tidak pasti. Kenapa tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang tiba-tiba menjadi lengkap? Dan anehnya tiba-tiba aku merasa debaran ini sangat menyenangkan.

Aku kesal.

Di saat seperti ini aku hanya perlu melihat kepada Gates agar cepat bisa mengendalikan diri.

“Kenapa?” tanya Gates sambil tersenyum padaku.

Aku dengan cepat mencari kalimat. “Buku apa?” tanyaku lagi.

“The Sun.” Katanya. “Buku itu sangat terkenal di sini.” Jawab Gates.

“Oh ya?” seharusnya aku tidak usah terkejut karena aku tahu buku itu Best Seller di Amerika.

“Penggambaran tokohnya sangat familiar bagi kami,” Joe menambahkan. “Bayangkan! Namaku berubah jadi Joe the Fest karena aku suka dengan festival.” Ia tertawa.

“Dan namaku berubah jadi Vic, anak yang selalu ditindas Flea.” Ia menatap Flea tajam.

Flea mengangkat tangannya dengan sikap menyerah. “Aku tahu kalau aku keterlaluan, jadi maaf.”

Victor tersenyum. “Aku tak memikirkannya, kawan… Itu sudah masa lalu.” Lalu ia tersenyum jahil, “tapi aku senang kau mendapat peran yang bagus di sini.”

Flea hanya memandang pasrah. “Andai kau memberitahuku tentang buku ini sebelumnya –”

“Oh! Tidak bisa. Aku tahu kau ingin mengubah peranmu di sana sebagai waria itu.” Potongku cepat.

“Apa?” Rev menanggapinya.

“Kau belum baca bukunya?” tanya Gates. “Di sana Flea harus berperan sebagai waria untuk festival drama sekolah.” Lalu ia terbahak. “Itu adalah bagian yang sangat kusuka. Siapa namamu, sayang? Monica?”

“Diam, Gates!” ancam Flea.

“Tapi aku sangat menyukainya.” Kata Victor senang. “Kau menulisnya dengan humor yang bagus.”

“Terima ka–” aku langsung tercengang saat menyadari kalau aku dijebak. “Kalian menjebakku!” teriakku.

Mereka semua tertawa keras dan aku langsung merasa bodoh.

“Lihat. Dia tidak pandai berbohong, kan?” kata Victor sambil tertawa keras.


You Might Also Like

0 comments: