She #18 - Rain

12:06 PM fe 0 Comments



Zulki. Bagi Ren nama itu tidak cocok untuknya. Seharusnya dia dipanggil Hulk karena badannya besar dan otot-ototnya menonjol ke luar seperti poster-poster lelaki berbadan besar ala Ade Ray yang sering dilihatnya di tempat fitness. Tapi tidak seperti Hulk yang bisa mengamuk, sikap Zulki sungguh berbeda dengan bentuk tubuhnya.
Ia sangat ramah, baik, dan humoris. Siapa sangka kalau malamnya dia akan berubah jahat, sangar, dan kejam? Ren seperti menemukan dunia yang sebenarnya. Siang yang cerah dan terang adalah sisi dari sikap dan sifat manusia yang baik, ramah, dan penuh dengan cinta sementara malam adalah sisi dunia yang lain yang penuh dengan kegelapan, putus asa, dan penuh dengan kebencian.
Segalanya berubah sesuai dengan peredaran matahari.

Ren bertemu dengannya saat sore, menjelang pukul lima. Zulki datang bersama Ferry – dia tidak ingin dipanggil Pak – dan Andrea.
“Waah! Jadi Kakak akan meneliti di sini dengan Andrea, ya?” tanyanya ramah penuh minat.
Ren langsung merasa aneh panggilan itu.
“Jangan panggil kakak,” katanya buru-buru. “Ren. Cukup panggil Ren saja.”
Ferry tertawa, “Baginya status mahasiswa itu selalu lebih tinggi beberapa derajat.”
“Tapi dia nggak manggil Andrea dengan sebutan Pak,” kata Ren.
“Kami berempat sudah saling kenal dari dulu, jadi nggak aneh lagi,” sambung Ginny.
“Panggil aku Ren karena aku juga akan jadi bagian dari kalian,” tegas Ren pada Zulki.
Zulki mengangguk patuh.
Setidaknya itu yang Ren temui tadi sore sebelum akhirnya ia terjebak di dalam lautan manusia-manusia pemabuk dan lelaki hidung belang di rumah bordir milik Ferry. Setidaknya ia aman di balik bar yang memisahkannya dengan kumpulan pengunjung sangar di sana.
Dari tempatnya bekerja sekarang ia bisa melihat Zulki sedang memarahi beberapa pelanggan nakal dan juga melempar mereka karena tidak membayar. Sudah hampir tiga jam penuh dia di sini dan tercengang-cengang sendiri melihat pemandangan mengerikan itu.
Zulki berubah menjadi Hulk sungguhan yang lupa diri. Ia sama sekali tidak seramah dan selembut tadi saat mereka berkenalan. Semakin malam ia semakin sangar.
Di sampingnya, rekan sekerja dan semejanya, Mint alias nama gaul singkatan dari Mintarsih seorang gadis asli desa yang ada di Jawa sibuk melayani pelanggan. Mereka sudah berkenalan tadi tepat sebelum tempat ini buka. Pengetahuannya tentang alkohol dimulai dari yang murahan sampai yang mahal bak ensiklopedia. Ren pusing dibuatnya.
“Kalau yang ini harganya bisa sampai tiga ratus ribu…” dan ia terus menjelaskan pada Ren yang sangat asing dengan yang namanya minuman keras sampai akhirnya Mint berkata, “Tapi tenang saja, kamu nggak akan melayani bagian minuman ini. Kamu cukup sediakan kopi dan jus saja.”
Mint sangat ramah dan kalau tersenyum ia sangat manis sekali. Sialnya itulah yang membuat bar ini jadi sangat ramai. Semua orang mengantre duduk di sini dan mulai menggoda Mint. Lalu saat melihat Ren mereka pun mulai coba-coba.
Ren risih bukan main. Ia sama sekali tidak tahu kalau orang-orang itu berminat padanya. Mata mereka melirik nakal dan Ren langsung menghindar ke bagian terjauh bar untuk sibuk dengan segala macam cuciannya. Ia juga marah pada diri sendiri karena jika ini masih berlajut terus maka ia takkan bisa mendapat informasi apapun.
Ren menghidar dengan sukses dan Mint dengan piawai mengalihkan perhatian mereka dari Ren yang malam ini mencoba berdandan tidak menarik. Ia bersi keras menggunakan celan jeans dan sepatu keatsnya yang bisa membuatnya berlari ringan sekencang angin jika memang ada sesuatu yang terjadi. Lagi pula bar ini cukup tinggi sehingga mata para pria tolol itu tidak bisa melihat pakaiannya seluruhnya.
Ginny sudah pergi. Tadi Ren melihatnya membawa seorang pria pergi ke lantai dua dan Ren tahu maksudnya. Ada tamu yang sedang membayar mahal dirinya sekarang. Ren sedih melihat wanita secantik itu tersia-sia di sini. Dan kemana Andrea?
Ren mendongak mencari kepala dosennya itu diantara kumpulan pria malang yang sedang menikmati dentuman musik disko berisik bervolume besar. Ia mendongak, berjinjit sambil mengelap piring dan gelas yang basah setelah dicucinya tadi. Lalu ia terhenyak.
Dosennya itu, di sana, sedang dikelilingi para wanita cantik, berbicara dengan santainya sambil tertawa-tawa. Hanya saja wanita-wanita itu terlihat lebih sopan dan menahan diri di depan pria itu. Ren sadar kalau Andrea sangat bahagia, buktinya dia tertawa dan salah seorang wanita yang duduk di dekatnya mulai bermanja-manja. Tanpa sadar Ren menggenggam gelas yang dilapnya terlalu kuat.
“Ren?” tegur Mint kuatir.
Ren kaget. Gelas yang dipegangnya hampir saja jatuh. “Oh! Maaf!” katanya buru-buru.
“Kamu nggak apa-apa?”
“Iya, nggak apa-apa. Nggak apa-apa,” jawabnya sambil menekan rasa kaget dan paniknya.
Mint kuatir, tapi ia hanya mengangguk dan akhirnya kembali bekerja.
Dasar lelaki payah! Ren menghela napasnya dan mulai berkonsentrasi lagi. Ia yakin kalau dosennya itu sedang senang sekarang.


Andrea sudah mengamatinya. Mahasiswinya yang satu itu terlihat kaku, menghindar, dan sangat ingin lari dari sarang macan ini. Ia kasihan tapi mau bagaimana lagi? Semuanya sudah dimulai dan ia berharap kalau tidak banyak kesalahan yang dilakukan Ren di malam pertama kerjanya ini.
Mint bersamanya dan ia sudah memastikan kalau Ren akan aman dibalik bar ini. Tapi tetap saja Mint tahu kalau Ren masih awam dengan urusan ini. Dibalik itu semua ia mendapati kalau Ren payah dalam hal rayu merayu.
Andrea hampir tertawa.
Gadis itu berpakaian seperti seorang intel dengan celana jeans potongan lelaki dan juga sepatu keats larinya yang bewarna hitam dan diikat kuat-kuat. Jelas sekali kalau alam bawah sadarnya sedang melakukan pertahanan diri mutakhir ala diri gadis itu.
Andrea juga hampir tertawa saat melihatnya.
Tapi ia membiarkannya. Sekarang ia ingin tahu apa saja yang diamati gadis itu selama berada di balik sana. Jelas sekali kalau Ren terlalu lelah sedangkan malam masih panjang. Ia juga masih sempat melihat Ren berjinjit mencari orang-orang yang mungkin dikenalnya dan juga sepintas melihat dirinya.
Di sini ia sedang melakukan observasi awal juga. Ia duduk sendirian di sofa tempat favoritnya dulu sebelum menjadi seorang akademisi chivitas yang sukses. Tiga orang wanita penghibur datang padanya dan ia mengenal salah satunya. Namanya Rossa, salah seorang temannya yang juga bekerja duluan seperti Ginny. Dua orang yang bersamanya diperkenalkan sebagai Bunga dan Sinta.
“Oh, jadi kamu kembali anak kecil?” goda Rossa sambil tertawa.
Usia Rossa hampir sama dengan Ferry dan ia masih sangat cantik, ramping, dan putih dengan bola mata memikat.
“Yah, begitulah,” ia tersenyum, “Apa kabar?”
Ia mengangkat tangannya tanda menyerah, “Parah. Kamu tahu? Ferry memborbardirku untuk segera membereskan kamarmu sebelum kamu pulang. Dia bilang kalau aku harus membereskan ini itu, memasak ini itu, mengisi kulkas, dan mencuci gorden.”
Andrea tertawa, “Sibuk ya? Aku nggak minta itu semua, lho.”
“Memang. Aku tahu kok. Tapi dianya saja yang suka manjain kamu. Kamu sudah lihat kan kamarnya?”
Andrea mengangguk, “Aku suka dekorasinya.”
Rossa tersenyum senang sambil menerawang masa lalu, “Aku senang kamu bisa jadi orang yang lebih baik dari kami.”
“Rossa…”
“Aku serius,” wanita itu menyandarkan kepalanya ke bahu Andrea dan melepaskan rasa penatnya sambil tersenyum senang, “Diantara kita semua hanya kamu yang bisa keluar dari dunia ini. Aku senang karena mengancammu untuk keluar dari sini waktu itu.”
“Kamu mau membunuhku,” ia mengingatkan.
Rossa tertawa pelan dan dalam, “Memang. Aku akan membunuhmu kalau kamu nggak pergi. Dan sekarang kamu bisa kembali sesukamu tapi aku nggak akan berhenti memburumu kalau kamu masih ingin tinggal di sini.”
Andrea menerawang, merasakan pedih di hatinya. “Kenapa kalian nggak mau ikut aku?” tanyanya pelan.
Rossa beranjak, menatap mata pria itu dalam-dalam, “Kita sudah membahas ini. Jangan dibahas lagi.”

You Might Also Like

0 comments: