She #18 - Rain
Zulki. Bagi Ren nama itu tidak cocok
untuknya. Seharusnya dia dipanggil Hulk karena badannya besar dan otot-ototnya
menonjol ke luar seperti poster-poster lelaki berbadan besar ala Ade Ray yang
sering dilihatnya di tempat fitness. Tapi tidak seperti Hulk yang bisa mengamuk,
sikap Zulki sungguh berbeda dengan bentuk tubuhnya.
Ia sangat ramah, baik, dan humoris.
Siapa sangka kalau malamnya dia akan berubah jahat, sangar, dan kejam? Ren
seperti menemukan dunia yang sebenarnya. Siang yang cerah dan terang adalah
sisi dari sikap dan sifat manusia yang baik, ramah, dan penuh dengan cinta
sementara malam adalah sisi dunia yang lain yang penuh dengan kegelapan, putus
asa, dan penuh dengan kebencian.
Segalanya berubah sesuai dengan peredaran
matahari.
Ren bertemu dengannya saat sore,
menjelang pukul lima. Zulki datang bersama Ferry – dia tidak ingin dipanggil
Pak – dan Andrea.
“Waah! Jadi Kakak akan meneliti di sini
dengan Andrea, ya?” tanyanya ramah penuh minat.
Ren langsung merasa aneh panggilan itu.
“Jangan panggil kakak,” katanya
buru-buru. “Ren. Cukup panggil Ren saja.”
Ferry tertawa, “Baginya status mahasiswa
itu selalu lebih tinggi beberapa derajat.”
“Tapi dia nggak manggil Andrea dengan
sebutan Pak,” kata Ren.
“Kami berempat sudah saling kenal dari
dulu, jadi nggak aneh lagi,” sambung Ginny.
“Panggil aku Ren karena aku juga akan
jadi bagian dari kalian,” tegas Ren pada Zulki.
Zulki mengangguk patuh.
Setidaknya itu yang Ren temui tadi sore
sebelum akhirnya ia terjebak di dalam lautan manusia-manusia pemabuk dan lelaki
hidung belang di rumah bordir milik Ferry. Setidaknya ia aman di balik bar yang
memisahkannya dengan kumpulan pengunjung sangar di sana.
Dari tempatnya bekerja sekarang ia bisa
melihat Zulki sedang memarahi beberapa pelanggan nakal dan juga melempar mereka
karena tidak membayar. Sudah hampir tiga jam penuh dia di sini dan
tercengang-cengang sendiri melihat pemandangan mengerikan itu.
Zulki berubah menjadi Hulk sungguhan
yang lupa diri. Ia sama sekali tidak seramah dan selembut tadi saat mereka
berkenalan. Semakin malam ia semakin sangar.
Di sampingnya, rekan sekerja dan
semejanya, Mint alias nama gaul singkatan dari Mintarsih seorang gadis asli
desa yang ada di Jawa sibuk melayani pelanggan. Mereka sudah berkenalan tadi
tepat sebelum tempat ini buka. Pengetahuannya tentang alkohol dimulai dari yang
murahan sampai yang mahal bak ensiklopedia. Ren pusing dibuatnya.
“Kalau yang ini harganya bisa sampai
tiga ratus ribu…” dan ia terus menjelaskan pada Ren yang sangat asing dengan
yang namanya minuman keras sampai akhirnya Mint berkata, “Tapi tenang saja,
kamu nggak akan melayani bagian minuman ini. Kamu cukup sediakan kopi dan jus
saja.”
Mint sangat ramah dan kalau tersenyum ia
sangat manis sekali. Sialnya itulah yang membuat bar ini jadi sangat ramai. Semua
orang mengantre duduk di sini dan mulai menggoda Mint. Lalu saat melihat Ren
mereka pun mulai coba-coba.
Ren risih bukan main. Ia sama sekali
tidak tahu kalau orang-orang itu berminat padanya. Mata mereka melirik nakal
dan Ren langsung menghindar ke bagian terjauh bar untuk sibuk dengan segala
macam cuciannya. Ia juga marah pada diri sendiri karena jika ini masih berlajut
terus maka ia takkan bisa mendapat informasi apapun.
Ren menghidar dengan sukses dan Mint
dengan piawai mengalihkan perhatian mereka dari Ren yang malam ini mencoba
berdandan tidak menarik. Ia bersi keras menggunakan celan jeans dan sepatu
keatsnya yang bisa membuatnya berlari ringan sekencang angin jika memang ada
sesuatu yang terjadi. Lagi pula bar ini cukup tinggi sehingga mata para pria
tolol itu tidak bisa melihat pakaiannya seluruhnya.
Ginny sudah pergi. Tadi Ren melihatnya
membawa seorang pria pergi ke lantai dua dan Ren tahu maksudnya. Ada tamu yang
sedang membayar mahal dirinya sekarang. Ren sedih melihat wanita secantik itu
tersia-sia di sini. Dan kemana Andrea?
Ren mendongak mencari kepala dosennya
itu diantara kumpulan pria malang yang sedang menikmati dentuman musik disko
berisik bervolume besar. Ia mendongak, berjinjit sambil mengelap piring dan
gelas yang basah setelah dicucinya tadi. Lalu ia terhenyak.
Dosennya itu, di sana, sedang
dikelilingi para wanita cantik, berbicara dengan santainya sambil tertawa-tawa.
Hanya saja wanita-wanita itu terlihat lebih sopan dan menahan diri di depan
pria itu. Ren sadar kalau Andrea sangat bahagia, buktinya dia tertawa dan salah
seorang wanita yang duduk di dekatnya mulai bermanja-manja. Tanpa sadar Ren
menggenggam gelas yang dilapnya terlalu kuat.
“Ren?” tegur Mint kuatir.
Ren kaget. Gelas yang dipegangnya hampir
saja jatuh. “Oh! Maaf!” katanya buru-buru.
“Kamu nggak apa-apa?”
“Iya, nggak apa-apa. Nggak apa-apa,”
jawabnya sambil menekan rasa kaget dan paniknya.
Mint kuatir, tapi ia hanya mengangguk
dan akhirnya kembali bekerja.
Dasar lelaki payah! Ren menghela
napasnya dan mulai berkonsentrasi lagi. Ia yakin kalau dosennya itu sedang
senang sekarang.
Andrea sudah mengamatinya. Mahasiswinya
yang satu itu terlihat kaku, menghindar, dan sangat ingin lari dari sarang
macan ini. Ia kasihan tapi mau bagaimana lagi? Semuanya sudah dimulai dan ia
berharap kalau tidak banyak kesalahan yang dilakukan Ren di malam pertama kerjanya
ini.
Mint bersamanya dan ia sudah memastikan
kalau Ren akan aman dibalik bar ini. Tapi tetap saja Mint tahu kalau Ren masih
awam dengan urusan ini. Dibalik itu semua ia mendapati kalau Ren payah dalam
hal rayu merayu.
Andrea hampir tertawa.
Gadis itu berpakaian seperti seorang
intel dengan celana jeans potongan lelaki dan juga sepatu keats larinya yang
bewarna hitam dan diikat kuat-kuat. Jelas sekali kalau alam bawah sadarnya
sedang melakukan pertahanan diri mutakhir ala diri gadis itu.
Andrea juga hampir tertawa saat
melihatnya.
Tapi ia membiarkannya. Sekarang ia ingin
tahu apa saja yang diamati gadis itu selama berada di balik sana. Jelas sekali
kalau Ren terlalu lelah sedangkan malam masih panjang. Ia juga masih sempat
melihat Ren berjinjit mencari orang-orang yang mungkin dikenalnya dan juga
sepintas melihat dirinya.
Di sini ia sedang melakukan observasi
awal juga. Ia duduk sendirian di sofa tempat favoritnya dulu sebelum menjadi
seorang akademisi chivitas yang sukses. Tiga orang wanita penghibur datang
padanya dan ia mengenal salah satunya. Namanya Rossa, salah seorang temannya
yang juga bekerja duluan seperti Ginny. Dua orang yang bersamanya diperkenalkan
sebagai Bunga dan Sinta.
“Oh, jadi kamu kembali anak kecil?” goda
Rossa sambil tertawa.
Usia Rossa hampir sama dengan Ferry dan ia
masih sangat cantik, ramping, dan putih dengan bola mata memikat.
“Yah, begitulah,” ia tersenyum, “Apa
kabar?”
Ia mengangkat tangannya tanda menyerah,
“Parah. Kamu tahu? Ferry memborbardirku untuk segera membereskan kamarmu sebelum
kamu pulang. Dia bilang kalau aku harus membereskan ini itu, memasak ini itu,
mengisi kulkas, dan mencuci gorden.”
Andrea tertawa, “Sibuk ya? Aku nggak
minta itu semua, lho.”
“Memang. Aku tahu kok. Tapi dianya saja
yang suka manjain kamu. Kamu sudah lihat kan kamarnya?”
Andrea mengangguk, “Aku suka
dekorasinya.”
Rossa tersenyum senang sambil menerawang
masa lalu, “Aku senang kamu bisa jadi orang yang lebih baik dari kami.”
“Rossa…”
“Aku serius,” wanita itu menyandarkan kepalanya
ke bahu Andrea dan melepaskan rasa penatnya sambil tersenyum senang, “Diantara
kita semua hanya kamu yang bisa keluar dari dunia ini. Aku senang karena
mengancammu untuk keluar dari sini waktu itu.”
“Kamu mau membunuhku,” ia mengingatkan.
Rossa tertawa pelan dan dalam, “Memang.
Aku akan membunuhmu kalau kamu nggak pergi. Dan sekarang kamu bisa kembali
sesukamu tapi aku nggak akan berhenti memburumu kalau kamu masih ingin tinggal
di sini.”
Andrea menerawang, merasakan pedih di
hatinya. “Kenapa kalian nggak mau ikut aku?” tanyanya pelan.
Rossa beranjak, menatap mata pria itu
dalam-dalam, “Kita sudah membahas ini. Jangan dibahas lagi.”

0 comments: