The Moon and The Sun #19 - Rain

10:19 PM fe 0 Comments

19
Aku mengambil ponselku yang bergetar tiba-tiba dan dengan senyum minta maaf aku segera mengangkatnya.
“Halo?” kataku pelan.
“Kau di mana?” tanya Victor cemas. “Dari tadi Gates mencoba menghubungimu. Kau juga tidak ada di apartemenmu.”
“Victor, apa kau sendirian?” tanyaku langsung.
“Tidak… Flea dan Joe di sini. Kenapa?”
“Cirino… maksudku Rev, dia masuk rumah sakit.”
“Apa?” Victor tampak sangat terkejut dengan berita itu. “Kapan? Kau di mana sekarang?”
“Aku di rumah sakit… di…” aku mengedarkan pandanganku, mencari nama dari rumah sakit ini. “Di mana ini?” tanyaku tanpa sadar.
“Kau tidak tahu kau di mana?” tanya Victor bingung.
Lalu terdengar suara samar Joe di belakangnya. “Kau kenapa?”
“Selene tidak tahu dia ada di mana.” Jawab Victor. “Dan Rev masuk rumah sakit.”
Terdengar suara kaget dan ribut di ponselku saat aku masih berusaha mencari nama rumah sakit ini. “Ah!” aku berseru saat menemukannya. “St. Mirachel!” seruku cepat.
“Oh! Aku tahu itu!” tiba-tiba Flea berseru. “Kami akan segera ke sana.”

Lalu sambungan terputus. Aku kembali duduk di samping Dr.Synyster dan menunggu pintu ruang IGD terbuka. Semoga ada kabar baik yang keluar dari sana. Sudah lima belas menit penuh kami menunggu hingga akhirnya pintu itu terbuka dan seorang Dokter keluar dari sana menghampiri kami.
Kami berdiri menyambutnya.
“Dia sudah baikan sekarang. Kami akan memindahkannya ke ruang rawat. Hanya saja… dia ketergantungan obat.” Dokter itu menyuarakan kebenarannya secara langsung. “Kau bersabarlah.” Ia menepuk pundak Dr.Synyster layaknya teman yang sedang menghibur.
Dr.Synyster terlihat lemas seketika. “Apa yang dilakukan anak itu? Apa maunya?” tanyanya pada dirinya sendiri.
Tak lama kemudian pintu itu terbuka lagi. Sebuah brankar di dorong dari dalam. Aku melihat wajah Rev yang pucat tertidur tenang di sana. Aku menghampirinya.
“Selene, temani dia. Aku ingin bicara dengan Dr.Johnsson dulu.” Katanya.
Aku mengangguk setuju dan pergi meninggalkan mereka.


Rev diantar hingga ke kamar VIP lantai tiga. Kamar itu luas dengan kursi tamu dan sebuah kulkas kecil serta televisi. Para perawat segera memindahkannya ke tempat tidur dan mengatur letak infusnya. Setelah mereka selesai melakukan tugasnya aku langsung mengucapkan terima kasih. Sekarang hanya kami berdua yang tinggal di ruangan ini.
Aku mendekat dan dengan pelan membelai rambutnya. Rev terlihat pucat. Tapi sekarang ia sedang tertidur. Aku bertanya-tanya kenapa dia bisa mengkonsumsi obat-obatan macam itu. .
Aku menggenggam tangannya yang dingin sambil berdoa kalau ia akan baik-baik saja setelah ini.
Aku mendongak, menatap kearah jam dinding yang ada di sana. Pukul sepuluh malam. Ponselku bergetar lagi. Nama Victor tertera di display nya.
“Ya, Victor?” aku menyapanya.
“Selene…” ia memanggilku. “Kurasa kami dapat masalah di sini. Bagaimana keadaannya?” tanyanya.
“Dia tidak apa-apa. Sekarang dia tidur.” Jawabku sambil memandangi wajah Rev yang damai.
“Maafkan kami. Sebenarnya kami ingin datang tapi… kami dapat masalah di sini. Tapi setelah ini selesai kami akan ke sana. Kau pasti sendirian.”
“Tidak. Ayahnya ada di sini.”
“Ayahnya?” Victor tampak terkejut.
“Ya. Jadi tenang saja, aku tidak sendirian.”
“Ha? Oh, ya…” ia agak tergagap sedikit. “Oke. Kami akan datang besok pagi.”
Aku mengangguk. “Aku menunggu.”
“Kalau ada apa-apa telepon aku.”
“Ya.” Aku berjanji.
Saat sambungan terputus, aku menatap Rev sambil tersenyum. “Kau dengar? Victor dan yang lainnya mencemaskanmu. Mereka akan datang nanti. Karena itu… kumohon, bertahanlah.”


Aku terbangun dengan perut lapar saat menunggui Rev semalaman. Leherku terasa kaku karena aku tidur sambil duduk di sampingnya. Aku mengangkat kepalaku dan meregangkan tubuh. Hampir pukul lima dini hari dan aku ingat kalau aku sama sekali belum makan malam. Tapi tidak ada kantin yang buka jam segini, kan? Sambil berdiri dari dudukku aku menatap Rev yang tertidur nyenyak di sana. Aku melepaskan genggaman tanganku darinya dan membungkuk mencium keningnya.
Rasa damai langsung menyelimutiku. Aku merasa semuanya akan baik-baik saja. Rev sudah aman sekarang.
Aku memutuskan untuk ke toilet agar bisa cuci muka dan merapikan rambutku yang berantakan. Setelah itu aku keluar dan memutuskan untuk mencari mesin pembuat kopi otomatis. Aku menatap kearah tempat tidur sejenak untuk memastikan kalau Rev masih tertidur. Setelah itu aku membiarkan pintu itu tertutup sendiri dan aku menuju ke lift di lantai dua karena tidak ada mesin kopi di lantai tiga.
Aku sama sekali tidak melihat Dr.Synyster setelah ia menyuruhku untuk menemani Rev tadi. Aku juga tidak tahu ruangan dokter yang menangani Rev tadi di mana dan aku tidak mungkin bertanya di jam sepagi ini.
Aku menemukan mesin kopi di ujung koridor yang luas dan langsung mengambil gelas plastik yang tersedia. Kopi panas itu mengalir ke cangkir yang kupegang. Saat aku mencicipinya, aku langsung mengerutkan hidung. Baiklah, rasanya memang tidak seenak yang kuharapkan. Lagi pula dari dulu aku selalu bermasalah dengan makanan rumah sakit.
Aku meneguknya sedikit dan langsung hilang selera. Aku butuh sesuatu untuk di makan tapi aku tahu kalau rumah sakit ini saja belum buka. Sambil memaksakan diri meminumnya, aku kembali ke lift dan menekan tombol nomor tiga. Lift melaju ke atas dan segera berhenti. Aku keluar dari sana dan berusaha menghabiskan kopiku karena sayang sekali dengan uang yang sudah kukeluarkan.
Saat kopi itu habis, aku membuang gelasnya ke tempat sampah dan kembali masuk ke kamar tepat saat Rev duduk di atas tempat tidur sambil dengan marah mencabut jarum infusnya. Aku terpana sesaat sebelum akhirnya bergerak cepat menghalanginya. Hanya saja jarum itu sudah lepas darinya dan darah dari tangannya tempat jarum itu ditancapkan tadi keluar.
“Rev! Jangan!” teriakku. “Apa yang kau lakukan?” aku meraih tangannya tapi ia segera menyentaknya.
“Apa yang kulakukan?” tanyanya pelan sambil menatapku marah. “Apa yang kulakukan?” kali ini nadanya meninggi dan ia membentakku.
Aku terkejut dengan sikapnya yang aneh.
“Harusnya aku yang tanya apa yang kalian lakukan!” ia berteriak padaku.
Aku melihat rasa sakit di matanya dan rasa marah bercampur sedih yang luar biasa memancar darinya.
“Rev…?” aku memanggilnya. “Kau kenapa?” tanyaku pelan, sepenuhnya tidak mengerti.
“Kenapa aku di sini? Kenapa kau tidak membiarkanku mati?” tanyanya sambil berteriak.
“Tenang dulu, Rev.” Aku mencoba menekan rasa takutku sendiri demi menghadapinya yang sedang mengamuk. Aku bisa merasakannya. Rev sedang putus asa karena sesuatu tapi aku tidak tahu itu apa.
Ia masih menatapku tajam dengan tatapan membunuh yang membuat wanita manapun ingin lari darinya. Tapi aku tahu kalau itu salah! Dia butuh pegangan dan hanya aku yang ada di sini.
“Apa yang kalian pikirkan?” tanyanya tidak mengerti. “Kenapa kalian tidak membiarkanku mati?”
“Hentikan! Aku tidak suka mendengarnya!” aku membentaknya.
“Kalau begitu jangan dengar!” bentaknya.
Aku menggelengkan kepalaku. “Kau sengaja?” tuduhku sekarang. “Kau sengaja melakukannya?”
Ia menatapku dingin dan aku langsung tahu jawabannya.
“Kenapa?” tanyaku tidak percaya. “Kenapa kau melakukannya?” teriakku.
“Karena itu pilihanku.”
Aku langsung menamparnya dan itu membuatnya terkejut.
“Kenapa? Kenapa kau memilih mati? Mati itu bukan pilihan!” teriakku padanya.
“Mati itu bisa jadi pilihan.” Rev masih bertahan dengan pendapatnya. “Dan aku memilihnya.”
Aku menggelengkan kepala.
Salah. Ini salah. “Kau… apa kau pernah hidup diambang kematian? Apa kau tahu bagaimana rasanya hidup saat kau sudah divonis untuk mati?” tanyaku. “Aku sudah merasakannya.” Kataku. “Waktu kecil dulu aku menderita lemah jantung. Setiap musim dingin keadaanku selalu memburuk. Setiap hari aku selalu diawasi. Setiap hari aku selalu menunggu pendonor datang padaku. Setiap jantungku sakit, aku serasa ingin mati. Setiap gerakan yang kulakukan membuatku semakin terasa nyeri. Setiap aku tidak kuat, aku selalu berharap agar aku bisa tetap hidup. Dan setiap kali aku putus asa, aku baru berharap agar Tuhan mengambil nyawaku.” Air mataku mengalir turun. “Tapi kenapa? Kenapa kau menyia-nyiakan hidupmu padahal kau tidak sakit?” tanyaku.
Rev menatapku dengan mata berkaca-kaca dan bibir terkatup. Aku meraih tangannya dan meletakkannya tepat di atas jantungku. “Kau dengar?” tanyaku. “ Aku mendapat jantung yang baru. Aku sangat bersyukur ada orang yang berbaik hati memberi satu kehidupannya untukku. Kau dengar?” aku tertawa lirih. “Kau bisa merasakannya kan? Jantung orang itu berdetak. Dia hidup dalam diriku. Dia seperti seorang malaikat dihidupku. Karenanya aku bisa hidup. Karenanya aku bisa berlari, aku bisa mewujudkan impianku, aku bisa bertemu denganmu…” aku menggenggam erat tangannya. “Aku tidak mau kau menjadi seperti aku yang dulu. Kau tidak bisa memilih kematian sesukamu. Nanti, jika waktunya tiba, dia akan datang dengan cara baik-baik, bukan dengan cara yang kau pilih. Bukan dengan cara seperti ini!”
Rev menundukkan kepalanya dan mulai terisak. Aku rasa dia sudah mulai mengerti sekarang. Hidup itu adalah anugerah dan kematian adalah anugerah yang lain. Kau bisa merasakan keindahan keduanya jika memang sudah saatnya.
Aku mendekat padanya dan memeluknya erat sementara ia menangis. Aku bisa merasakan tubuhnya gemetar dan bajuku yang basah karenanya. Tapi aku terus memeluknya dan membelai rambutnya agar ia tenang. Aku sendiri mulai mengatur napasku agar tangisku terhenti. Tapi kesedihannya begitu kuat dan mencengkramku.
“Rev,” aku berbisik di telinganya. “Aku menyukaimu. Karena itu kumohon, jangan begini.”


You Might Also Like

0 comments: