The Moon and The Sun #31 - Rain
31
Kepada kakakku tersayang, Cirino Synyster.
Aku sangat senang dari awal kita
sudah bersama. Kita tumbuh dalam satu janin yang sama dan akhirnya lahir di
tanggal dan musim yang sama. Aku senang karena kau bisa menjadi kakakku yang
selalu mendukung dan membuatku tertawa. Kau tahu? Aku sangat mencintaimu lebih
dari siapapun.
Ciro, aku tak mau menganggap
firasatku ini benar walau nanti hal itu akan terbukti. Sebentar lagi aku akan
pergi menyusul mama di surga. Dengan begini kita impas. Mama takkan lagi
kesepian dan kamu bisa menjaga papa untuk kami. Tidak ada yang bisa melawan
takdir saat takdir itu sudah diputuskan.
Ciro, aku selalu berdoa agar
apapun yang terjadi kau tetap bisa menjadi Ciro yang kukenal. Ciro yang
periang. Ciro yang bersinar seperti matahari sama seperti saat kita lahir di
musim panas yang indah. Dan aku selalu berdoa pada Tuhan agar aku bisa
menemukanmu dimanapun kau berada. Bukankah itu janjiku?
Ciro, mungkin saat kau membaca
surat ini, aku sudah tidak ada. Tapi aku tahu ada orang yang pasti akan
menemukanmu suatu hari nanti. Dia pasti menemukanmu dimanapun kau berada.
Kau tahu kenapa aku selalu
menemukanmu setiap kali kau sembunyi? Itu karena jantung kita berdetak bersama.
Dan aku tahu orang itu pasti akan
sangat mencintaimu. Dan saat kau bertemu dengan orang itu kau akan merasakan kehadiranku
lagi di sana .
Aku janji itu.
Tapi bisakah kau berjanji pada
masa depan yang belum pasti itu bahwa apapun yang terjadi kau takkan pernah
berubah?
Aku bisa melihatmu tersenyum
setelah membaca ini.
Aku selalu mencintaimu sampai
kapanpun juga. Sampai jumpa dikehidupan yang lain. Aku takkan mati semudah itu,
kan ?
Salam sayang dari adik kembarmu
Victoria Synyster
Aku membaca surat itu saat menunggu
Ciro di atap ini dua hari kemudian. Sekarang aku tahu seberapa besar rasa
cintanya pada adik kembarnya. Ia berhak untuk marah karena ada hal yang tidak
adil yang datang dalam hidupnya. Aku tahu kalau Ciro menganggap Victoria sebagai penyelamatnya
itu karena dia selalu bisa menemukannya. Dan melaluiku, dia bisa menemukan Ciro
lagi. Aku takkan mengabaikan kekuatan anak kembar yang misterius itu karena aku
sudah merasakannya. Aku bisa mencari Ciro sejauh apapun pria itu sembunyi.
Dan aku tahu
alasannya.
Itu karena jantung
kami berdetak bersama.
Kondisiku sudah membaik walau masih belum
diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Jantungku sedikit bermasalah dan aku
harus terus diawasi. Tapi kondisi Ciro masih menjadi misteri bagiku. Selama aku
dirawat, aku tidak boleh keluar kamar. Ciro selalu mengunjungiku di siang dan
malam hari. Mungkin karena dia dalam masa pemulihan juga maka ia tidak bisa
menemaniku sesukanya. Aku paham itu. Hanya saja aku tidak bisa mendapat jawaban
kenapa dia ada di sini dan sakit apa dia sebenarnya. Semua perawat yang kutanya
hanya tersenyum dan berkata kalau dia akan baik-baik saja.
Sebuah jawaban yang
menurutku aneh.
Hanya saja malam
ini Ciro memaksaku untuk ke atap karena ada yang ingin diberikannya.
Aku menatap jam
tanganku dan melihat kalau sudah hampir pukul sebelas malam. Hari ini sangat
cerah. Bulan bersinar terang di langit malam yang dingin dan aku merasa tidak
setenang biasa.
“Kau sudah
membacanya?” tanya Ciro yang tiba-tiba datang di belakangku.
Aku terkesiap dan
terkejut karena ia tiba-tiba muncul dan bertanya. Ia tertawa dan duduk di
sampingku sambil mengambil surat
Victoria yang kupegang dan
membacanya sekilas.
“Tulisannya memang
seperti ini. Tidak rapi.” Komentarnya.
Aku menatap Ciro
yang terlihat lebih pucat dari biasa. “Kau tidak apa-apa?” tanyaku sambil
memegang dahinya. Ia agak demam.
Ciro langsung
mengelak. “Tidak.” Jawabnya.
“Kau demam.” Kataku
tajam. Aku menariknya berdiri, “ayo. Kita harus kembali.”
“Tidak.” Ciro tidak
bergeming dari duduknya.
“Ayo kita pergi. Di
sini terlalu dingin dan kau sedang demam.” Aku memaksanya dengan wajah cemas.
Tapi dia hanya tertawa sambil balik menarikku mendekat dan memelukku.
“Aku ingin di sini
sebentar.” Pintanya.
Aku merasa ada yang
salah di sini. Dia tidak boleh di sini. Tapi… dia itu keras kepala, kan ? Aku mengusap-usap
rambutnya.
“Tapi kau demam…”
“Aku merindukanmu,”
katanya sambil mengangkat kepalanya dan menatapku. “Apa kau merindukanku?”
Aku berkedip dan
merasa wajahku memanas karena pertanyaan itu. “Ya…” jawabku pelan.
Ia melepaskan
pelukannya dan berdiri sekarang. “Aku juga merindukan mereka… selama ini aku
selalu menganggap kalau aku benar. Tapi aku salah. Mereka yang benar.”
Aku hanya
menatapnya.
“Mungkin ini telat,
tapi…” ia membuka cincin yang ada dijarinya yang selama ini sama sekali tidak
pernah kuperhatikan kalau benda itu ada. “… selamat ulang tahun.”
Aku terkejut karena
mendapat ucapan itu darinya. Ia meraih tangan kiriku dan memasang cincin itu
dijari manisku. Hanya saja setelah ia memasangnya, ia tertawa kecil, “kebesaran
ya…” gumamnya.
Aku tertawa. “Tentu
saja, itu kan
ukuran jarimu.” Kataku sambil menatap cincin itu.
Cincin itu sama
sekali tidak berukir apapun. Ia memantulkan kilau perak yang indah dan polos.
“Kalau begitu begini
saja,” ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan rantai kalung dari dalam sana . Dengan cepat ia
membuka kalung itu dan menyelipkan cincin itu ke rantainya lalu tanpa aba-aba
ia langsung memasangnya ke leherku. “Selesai.” Katanya. “Bagaimana? Sekarang
bisa dipakai kan ?”
Aku meraba cincin
itu dengan rasa hangat yang tiba-tiba datang menyelimutiku. Aku merasa ini
adalah momen paling membahagiakan dari semua hal menyenangkan yang pernah
terjadi. Lidahku kelu. Aku tidak tahu harus berkata apa selain hampir menangis
karenanya.
Dasar cengeng!
Tapi hak seorang
wanita adalah menangis, kan ?
Tapi aku tak ingin menangis di depannya. Pria itu hanya akan tertawa. Jadi
aih-alih begitu aku langsung memeluknya.
“Terima kasih.”
Kataku dengan suara yang hampir susah keluar.
Ia balas memlukku
dan aku merasa kalau akhirnya mendapatkan kebahagiaan yang indah. Aku bahkan
bertanya-tanya apa ada orang yang bisa merasakan kebahagiaan sehebat ini?
Ia mengajakku duduk
dan menautkan jari jemari kami sambil menyandarkan kepalanya dibahuku dan memejamkan
mata.
“Aku bisa
mendengarnya,” katanya pelan.
“Apa?”
“Detak jantungmu.”
Aku tersenyum,
“detak jantung Victoria .”
Ia tertawa kecil.
“Bukan. Ini juga detak jantung kalian.”
“Ciro –”
“Ssttt… Aku ingin
begini sebentar. Bolehkan?” tanyanya sambil memelukku.
Aku tiba-tiba
merasa gelisah saat melihat butiran-butiran keringan di dahinya dan juga rasa
sakit di wajahnya yang sengaja ia tahan. Aku mengeratkan genggaman tanganku.
Tubuhnya panas. Ia demam.
“Apa kau menyesal
mengenalku?” tanyanya tiba-tiba.
Aku terkejut
mendapat pertanyaan itu. “Tidak. Tentu saja tidak.”
“Sekalipun aku
sudah menyakitimu?”
“Ciro…” aku
menegurnya.
“Apa aku bisa
dimaafkan?” tanyanya takut. “Apa kau mau memaafkanku? Apa ayah… dan juga
Mrs.Ross mau memaafkanku?”
“Semuanya tahu
kalau ada salah paham di sini. Aku yakin mereka mau memaafkanmu.” Kataku
menenangkannya. “Semuanya akan baik-baik saja…”
“Terima kasih…” ia
tersenyum sambil masih terus memejamkan mata dengan kening berkerut karena
menahan sakit.
“Kita harus –”
“Tidak.” Ia menegakkan
tubuhnya dan duduk tegak menatapku sambil tersenyum. “Kau tahu tadi aku melihat
apa?”
Aku menatapnya
sejenak. “Kau melihat apa?”
Ia bersandar dan
terlihat santai sekarang. “Aku melihat masa depan.”
“Oh ya?” aku
tiba-tiba merasa antusias. “Apa yang kau lihat di sana ?”
Ia menatapku
sejenak dengan wajah lembutnya dan tersenyum. “Kau.” Jawabnya. “Dan
kebahagiaanmu.”
Aku berkedip
mendengar jawaban itu dan tidak tahu harus merespon apa. Ia menyandarkan
dahinya di dahiku dan memejamkan matanya. “Aku sangat senang bisa bertemu
denganmu, mengenalmu, dan jatuh cinta padamu.” Akunya pelan.
“Aku –“
“Tapi,” potongnya
cepat, “sekalipun ada hal-hal yang harus berakhir, aku tahu kalau rasa ini
takkan pernah hilang. Sekarang aku tahu kalau aku mencintaimu bukan karena
jatung Tara ada padamu. Tapi karena kamu
adalah kamu.”
Aku menahan napasku
saat ia mengucapkan kalimat terakhirnya. Kalimat itu sangat tulus. Aku bisa
merasakannya karena dia mengucapkannya dengan hatinya. Aku memejamkan mataku
dan meresapinya.
“Aku juga
mencintaimu.” Kalimat itu tiba-tiba begitu mudah kuucapkan.
Ciro tersenyum.
“Aku tahu.”
“Apa?”
“Aku sudah tahu.”
“Tapi… Kapan?”
“Tara memberitahuku
lewat surat
itu. Jangan lupa kalau dia juga peramal.”
Aku tersenyum
sebelum akhirnya ia mendekapku erat. Terlalu erat dan itu membuatku sesak.
“Ciro?” aku memanggilnya tapi ia tidak menjawab. Badannya semakin panas dan aku
bisa merasakan kalau ada hal buruk yang terjadi.
“Ciro!” panggilku
kuatir sambil mencoba melepaskan pelukannya. Begitu pelukannya terlepas, ia
langsung ambruk di bahuku. Ia terlihat menahan erangan. Bulir-bulir keringat
jatuh dari keningnya. Seketika aku merasa panik.
“Ciro! Kau kenapa?
Ciro!” aku mengguncang tubuhnya.
Ini tidak baik!
“Tunggu! Aku akan
panggil –”
Suara pintu dari
tangga darurat dalam yang dibuka paksa membuatku terkejut dan langsung menatap
ke belakang.
“Gates?” panggilku
kaget melihatnya ada di sana .
Tapi Gates tidak
terkejut melihatku. Dia langsung berlari menghampiri kami dan melihat keadaan
Ciro.
“Dia harus
kembali.” Katanya sambil merangkul Ciro.
“Bagaimana dia?”
teriak Victor yang tiba-tiba muncul.
“Buruk.” Jawab
Gates saat merangkul Ciro yang terlihat sangat kesakitan sebelum akhirnya
wajahnya terlihat tenang.
Kami bertiga
langsung terdiam.
“Ciro! Hey!
Bangun!” Gates menepuk-nepuk pipinya
tapi ia tidak bangun juga.
“Ciro?” Victor
mencoba menyadarkannya. “Dia pingsan!”
Aku merasa panik
saat itu juga. Tapi Gates dengan tenang merangkulnya kembali dan Victor
memmbantunya.
Aku tidak mengerti
kenapa mereka bisa datang ke sini dan kenapa mereka sama sekali tidak terkejut
dengan kehadiranku. Tapi semua itu terlupa saat Victor membantu Ciro untuk
digendong di punggung Gates.
“Ayo masuk.” Victor
meraih tanganku dan menarikku masuk dengan langkah cepat mengikuti Gates di
depan sana .
Aku mencoba
mengikuti langkah cepatnya. “Apa yang terjadi? Apa sebenarnya yang terjadi?”
tanyaku pada Victor.
“Dia sakit.”
“Sakit apa?”
tuntutku.
“Nanti saja.”
Aku langsung
melepaskan tanganku darinya. “Jawab aku sekarang! Dia kenapa?”
“Selene –”
“Sekarang, Victor!”
tegasku marah.
Ia terlihat gelisah
saat mempertimbangkan itu. Lalu dengan lembut ia memegang kedua bahuku dan
berkata, “kau harus tenang saat aku mengatakannya.”
Aku diam sejenak
sebelum akhirnya setuju.
“Begini. Dia
sebenarnya…” ia melihatku yang sedang menahan napas sekarang. “Dia kena kanker
lambung.”
Dan aku terdiam.
“Sudah stadium
empat.” Katanya pelan.
Aku masih diam
sambil mengatupkan rahang agar aku tidak berteriak dan menjerit saat itu juga.
Tapi aku tahu kalau air mataku tidak bisa dibendung lagi hingga setetes air
mata itu jatuh membasahi pipiku begitu saja.
“Sebenarnya dia
sangat stress dengan hal itu. Saat kau menyelamtakannya waktu itu… sebenarnya
dia sudah berada dalam kondisi terburuk.”
Aku hanya menatap
lurus ke mata Victor sebelum akhirnya aku menghambur kepelukannya dan menangis
keras di sana .
“Kenapa?” tanyaku
sambil terisak. “Kenapa aku tidak tahu?”
“Maaf.”
“Kembalikan.”
Pintaku pelan.
“Selene?”
“Kembalikan!
Kembalikan waktuku! Kembalikan! Kembalikan! KEMBALIKAN!” teriakku frustasi
sambil memukulinya. “Kumohon… kembalikan! Kembalikan dia! Kembalikan!”
Victor menahanku
dan memelukku. “Semuanya akan baik-baik saja. Tenanglah.”
Tenang?
Tapi kenapa tubuhmu
gemetar? Kenapa suaramu tidak terlihat yakin? Aku mencoba menenangkan diri.
Aku memejamkan
mataku, berdoa pada Tuhan agar diberi kesempatan kedua. Aku belum sempat
memberinya kebahagiaan. Aku belum sempat minta maaf. Aku masih ingin melihat
senyumnya… aku masih ingin disampingnya.
Aku takkan bohong
lagi. Kali ini aku tidak baik-baik saja. Kali ini jantungku sakit…
Aku percaya pada
kesempatan kedua… Aku percaya ada kesempatan kedua.
“Dia akan sadar.
Aku yakin dia akan sadar.” Bisik Victor. Aku yakin kalau dia juga sama
kuatirnya denganku. Tapi ia berusaha tenang di depanku.
Lalu aku mulai bisa
mengendalikan diri. Bukan hanya aku yang sesedih ini, tapi Gates, Flea, Joe,
dan Victor juga sama. Tangisku mereda dan aku mengangkat kepalaku dengan
keyakinan baru. Aku tak boleh serapuh itu. Mereka juga menekan rasa kuatir
mereka dengan ketegaran. Kenapa aku tidak?
Ciro sedang
berjuang di sana .
Sendirian. Dan kami hanya bisa menunggunya kembali di sini. Dengan pelan aku
melepaskan pelukan Victor walau ia masih memegangiku.
“Kau tidak
apa-apa?” tanyanya pelan.
Aku mengangguk
sambil mengusap air mataku sambil berusaha tersenyum. “Tidak apa-apa…”
Hanya itu yang bisa
kulakukan agar aku bisa tenang dan tegar. Aku berdoa pada Tuhan, memohon
pada-NYA agar Ciro bisa mendapatkan pilihan terbaik. Jika ia pergi, maka itu
baik baginya. Jika ia hidup, maka itu juga baik baginya.
“Tuhan akan memberikan apa yang
kau butuhkan, bukan apa yang kau inginkan.”
Kalimat itu
terngiang-ngiang di kepalaku. Aku selalu percaya dengan hal itu. Bagaimanapun
juga, kemanapun ia akan pulang, itu pasti tempat yang terbaik untuknya.
Aku memejamkan
mataku, sepenuhnya menyerah sekarang. Ia takkan kemana-mana sekalipun ia nanti
takkan di sini lagi.
“Aku mau keluar
sebentar,” kataku memutuskan.
“Tapi Selene –”
Victor mencoba menahanku.
“Aku ingin sendiri.
Nanti aku kembali.”
“Kau tidak ingin ke
sana ?” tanyanya
lagi.
Aku menggeleng.
“Kalau aku kembali aku akan melihatnya. Lebih baik kau duluan.” Lalu aku
beranjak pergi.

0 comments: