The Moon and The Sun #32 - Rain

10:37 PM fe 0 Comments

32
Aku hanya duduk diam di atap rumah sakit melihat awan yang menutupi rembulan. Bulan separuh itu seperti tanda hidup dan mati. Separuh bercahaya separuh tidak. Aku merasa di dalam kotak abu-abu sekarang menanti keputusan yang belum jelas. Aku ingin malam ini segera berakhir agar aku tahu jawabannya. Aku berusaha mengeringkan air mataku dan kembali ke sana.
Aku duduk diam selama sepuluh menit penuh.
Rasanya baru tadi ia mengatakan selamat ulang tahun padaku. Rasanya baru tadi ia memelukku, dan berbisik kalau dia sangat mencintaiku. Rasanya baru tadi ia tersenyum padaku.
Aku mengelus cincin pemberiannya dan merasa kalau semua itu hanya mimpi. Tapi itu mimpi yang sangat menyenangkan. Aku tersenyum sambil terisak. Semuanya terlalu cepat berubah.
Dan aku belum sempat mengatakan banyak hal padanya padahal kami sedekat ini.

Sambil memejamkan mataku, aku bertanya pada diriku sendiri, apa yang kulihat di sana?
Aku menghapus air mataku dan sekali lagi mencoba menenangkan diri.
Saat aku kembali aku melihat mereka berempat sedang diam dengan posisi masing-masing. Gates dan Flea duduk sambil menekurkan kepala mereka. Victor bersandar ke dinding sedangkan Joe terlihat sangat gelisah saat menghampiriku.
“Masuklah…,” kata Joe pelan padaku.
Aku mengangguk dan masuk ke sana. Wajah pucat Ciro terlihat sangat tenang dan tentram. Mungkin ia sedang tidak merasakan rasa sakitnya. Aku duduk di sampingnya dan menggenggam tangannya.
“Sama sepertiku kemarin, kau juga menggenggam tanganku seperti ini.” Kataku. “Saat itu aku merasa kuat tapi juga hancur karena melihatmu disampingku. Aku berpura-pura merasa baik padahal aku tahu kita berdua terluka.”
Aku tidak mendapat reaksi apapun darinya. Dia tetap diam dalam damainya.
“Kau pucat.” Aku menyentuh wajahnya. “Dan dingin…” sambungku. Tapi kata-kata selanjutnya serasa sulit keluar. Aku tak ingin pikiran burukku menyergapku begitu saja. Aku tak ingin hari ini menjadi hari terakhir. Tapi aku takkan meminta apa yang ingin Tuhan ambil dariku.
Aku takkan melakukan itu.
Sebagai gantinya aku mengangkat tangannya dan meletakkannya tepat di atas jantungku. “Kau bisa merasakannya, kan? Victoria ada di sini juga.” Aku menatapnya sambil tersenyum lalu meletakkan tangannya di pipiku. “Aku ingin kau melakukan ini lagi padaku.” Bisikku. “Aku suka kau melakukannya.”
Aku diam menatapnya. “Aku mencintaimu Cirino… Kau yang pertama untukku…”
Bulan takkan hidup tanpa ada cahaya matahari, kan?
“Aku akan baik-baik saja karena sampai saat ini aku tak pernah kehilangan cintamu.” Sambungku lagi. Air mataku akhirnya meleleh lagi dan aku mendesah, “aku mencintaimu dan aku bersyukur karena Tuhan tahu itu. Aku akan sangat menyesal jika aku tak mengatakannya padamu.”
Aku diam sejenak memandangnya. “Aku juga melihatnya… masa depan itu.” Aku menundukkan kepala. “Aku melihatmu… di sana.” Tapi jika kita berakhir begini, apa masa depan yang kulihat itu nyata? Atau itu hanya khayalanku saja?
Aku beranjak mendekat dan mengecup keningnya.
Dan aku melihat setetes air mata jatuh disudut matanya dan meleleh dipipinya disusul bunyi panjang dan datar yang membuatku membeku. Aku beralih pada monitor yang ada di sampingku dan pada Cirino yang diam membeku.
Rasanya kecepatan tubuhku berkurang. Aku ingin mengambil tombol yang ada di samping tempat tidur, hanya saja aku merasa kurang cepat sehingga Flea menyambarnya duluan. Aku terpaku.
Gates menarikku menjauh dari sana saat tim dokter menyerbu masuk dan memberikan pertolongan pada Cirino. Aku terdiam. Gates memelukku erat dan berbisik di telingaku. Tapi aku tidak mendengar apapun.
“Selene! Lihat aku!” Gates memaksaku melihatnya.
Aku yang tidak percaya dengan apa yang terjadi menatap matanya. Aku tahu ada air mata yang menggenang di sana dan aku merasa ia menegaskan semuanya padaku.
Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku mengerutkan keningku padanya seolah-olah bertanya “benarkah?” dan ia langsung membelai rambutku sambil menggertakkan giginya.
Akhirnya tangisku pecah. Sambil berusaha mengerti, aku berusaha untuk tidak menjerit.
Oh Tuhan, maafkan aku!
Aku tahu kenapa Kau mengambilnya sekarang…

Tapi kenapa rasanya terlalu sebentar dia di sini?

You Might Also Like

0 comments: