The Moon and The Sun #32 - Rain
32
Aku hanya duduk
diam di atap rumah sakit melihat awan yang menutupi rembulan. Bulan separuh itu
seperti tanda hidup dan mati. Separuh bercahaya separuh tidak. Aku merasa di
dalam kotak abu-abu sekarang menanti keputusan yang belum jelas. Aku ingin
malam ini segera berakhir agar aku tahu jawabannya. Aku berusaha mengeringkan
air mataku dan kembali ke sana .
Aku duduk diam
selama sepuluh menit penuh.
Rasanya baru tadi
ia mengatakan selamat ulang tahun padaku. Rasanya baru tadi ia memelukku, dan
berbisik kalau dia sangat mencintaiku. Rasanya baru tadi ia tersenyum padaku.
Aku mengelus cincin
pemberiannya dan merasa kalau semua itu hanya mimpi. Tapi itu mimpi yang sangat
menyenangkan. Aku tersenyum sambil terisak. Semuanya terlalu cepat berubah.
Dan aku belum sempat
mengatakan banyak hal padanya padahal kami sedekat ini.
Sambil memejamkan
mataku, aku bertanya pada diriku sendiri, apa yang kulihat di sana ?
Aku menghapus air
mataku dan sekali lagi mencoba menenangkan diri.
Saat aku kembali
aku melihat mereka berempat sedang diam dengan posisi masing-masing. Gates dan
Flea duduk sambil menekurkan kepala mereka. Victor bersandar ke dinding
sedangkan Joe terlihat sangat gelisah saat menghampiriku.
“Masuklah…,” kata
Joe pelan padaku.
Aku mengangguk dan
masuk ke sana .
Wajah pucat Ciro terlihat sangat tenang dan tentram. Mungkin ia sedang tidak
merasakan rasa sakitnya. Aku duduk di sampingnya dan menggenggam tangannya.
“Sama sepertiku
kemarin, kau juga menggenggam tanganku seperti ini.” Kataku. “Saat itu aku
merasa kuat tapi juga hancur karena melihatmu disampingku. Aku berpura-pura
merasa baik padahal aku tahu kita berdua terluka.”
Aku tidak mendapat
reaksi apapun darinya. Dia tetap diam dalam damainya.
“Kau pucat.” Aku
menyentuh wajahnya. “Dan dingin…” sambungku. Tapi kata-kata selanjutnya serasa
sulit keluar. Aku tak ingin pikiran burukku menyergapku begitu saja. Aku tak
ingin hari ini menjadi hari terakhir. Tapi aku takkan meminta apa yang ingin
Tuhan ambil dariku.
Aku takkan
melakukan itu.
Sebagai gantinya
aku mengangkat tangannya dan meletakkannya tepat di atas jantungku. “Kau bisa
merasakannya, kan ?
Victoria ada
di sini juga.” Aku menatapnya sambil tersenyum lalu meletakkan tangannya di
pipiku. “Aku ingin kau melakukan ini lagi padaku.” Bisikku. “Aku suka kau
melakukannya.”
Aku diam
menatapnya. “Aku mencintaimu Cirino… Kau yang pertama untukku…”
Bulan takkan hidup
tanpa ada cahaya matahari, kan ?
“Aku akan baik-baik
saja karena sampai saat ini aku tak pernah kehilangan cintamu.” Sambungku lagi.
Air mataku akhirnya meleleh lagi dan aku mendesah, “aku mencintaimu dan aku
bersyukur karena Tuhan tahu itu. Aku akan sangat menyesal jika aku tak
mengatakannya padamu.”
Aku diam sejenak
memandangnya. “Aku juga melihatnya… masa depan itu.” Aku menundukkan kepala.
“Aku melihatmu… di sana .”
Tapi jika kita berakhir begini, apa masa depan yang kulihat itu nyata? Atau itu
hanya khayalanku saja?
Aku beranjak
mendekat dan mengecup keningnya.
Dan aku melihat
setetes air mata jatuh disudut matanya dan meleleh dipipinya disusul bunyi
panjang dan datar yang membuatku membeku. Aku beralih pada monitor yang ada di
sampingku dan pada Cirino yang diam membeku.
Rasanya kecepatan
tubuhku berkurang. Aku ingin mengambil tombol yang ada di samping tempat tidur,
hanya saja aku merasa kurang cepat sehingga Flea menyambarnya duluan. Aku
terpaku.
Gates menarikku
menjauh dari sana
saat tim dokter menyerbu masuk dan memberikan pertolongan pada Cirino. Aku
terdiam. Gates memelukku erat dan berbisik di telingaku. Tapi aku tidak mendengar
apapun.
“Selene! Lihat
aku!” Gates memaksaku melihatnya.
Aku yang tidak
percaya dengan apa yang terjadi menatap matanya. Aku tahu ada air mata yang
menggenang di sana
dan aku merasa ia menegaskan semuanya padaku.
Aku tidak tahu
harus bagaimana. Aku mengerutkan keningku padanya seolah-olah bertanya
“benarkah?” dan ia langsung membelai rambutku sambil menggertakkan giginya.
Akhirnya tangisku
pecah. Sambil berusaha mengerti, aku berusaha untuk tidak menjerit.
Oh Tuhan, maafkan
aku!
Aku tahu kenapa Kau
mengambilnya sekarang…
Tapi kenapa rasanya
terlalu sebentar dia di sini?

0 comments: