The Moon and The Sun #30 - Rain
30
Selene adalah nama yang
didasarkan pada nama Vampir wanita. Ayahku seorang penggemar misteri dan sangat
menyukai film horror. Menurutnya film fantasi-horor itu keren. Ia juga seorang
penggemar Vampir dan ingin memberi anaknya nama sesuai dengan seleranya. Ibuku
menyerahkan masalah itu padanya dan ia dengan senang hati mencari banyak
referensi sampai akhirnya aku lahir di malam bulan purnama yang cerah. Ia
segera memberiku nama Selene yang artinya bulan.
Aku ingat, suatu hari ia
bercerita saat aku tidak bisa tidur di malam ulang tahunku karena terlalu
gembira. Tapi aku tahu kalau dia terlalu kuatir denganku karena penyakitku. Ia
berkata, “Selene, kau harus tidur. Bulan takkan pergi kemana-mana saat kau
tidur nanti.” Ia mencoba membujukku.
“Tapi saat aku bangun pasti hari
sudah terang.” Aku protes.
“Kau tidak suka bertemu Cirino?”
tanyanya dengan nada tidak percaya.
“Cirino?” tanyaku. “Siapa itu?”
“Matahari, sayang. Kau tidak
menyukainya?”
Aku menggeleng. “Kalau siang
datang, sakitku selalu kumat.” Kataku dengan nada tidak suka.
Ia tersenyum membelai rambutku.
“Kau tahu kenapa bulan bersinar?”
Aku menggeleng.
“Dia membutuhkan cahaya matahari
agar bisa bersinar seterang itu.” Ayahku menunjuk ke arah bulan yang bersinar
separuh di langit. “Dia hanya bisa menyala hidup dengan cahaya matahari.”
“Tapi tidak ada matahari di malam
hari.”
“Ada .”
“Mana?”
“Dia memang tak terlihat, tapi
cahayanya selalu datang menyinari bulan.”
Aku tidak percaya kalau memang
benar-benar ada orang yang bernama Cirino sampai akhirnya aku bertemu dengan
orang yang bernama aneh itu. Dia benar-benar Cirino walau lebih senang memakai
nama Ciropada siapapun yang ingin mengenalnya. Kecuali pada keluarga dan
teman-teman dekatnya, ia akan berkata kalau namanya Rev… atau lebih parah lagi
memperkenalkan dirinya sebagai Frankenstein kepadaku waktu itu.
Tapi akhirnya aku sadar kalau
Cirino memang ada. Dia adalah orang yang memberiku cahaya, banyak cahaya. Dan
orang itulah yang membuatku jatuh cinta…
Tapi ayah, aku juga orang yang
membuatnya menderita. Andai nasib kami tidak begini, apa aku bisa bertemu
dengannya? Apa aku bisa jatuh cinta padanya? Kenapa justru hal ini yang
membuatku tertawa miris? Kenapa aku tidak bisa seberuntung itu dalam masalah
cinta?
Aku merasa
perlahan-lahan kesadaranku kembali. Apa aku sudah mati? Rasanya sangat hangat,
berbeda dengan apa yang kurasakan tadi. Dan rasanya sangat nyaman berbaring di
sini. Aku juga bisa merasakan genggaman tangan seseorang di sampingku. Apa ini
mimpi?
Sambil membuka mata
aku melihat langit-langit kamar yang sangat asing di atasku. Cahaya bulan yang
terang menerangi ruangan ini dari jendela kamar yang tirainya dibiarkan
terbuka. Aku bisa mendengar suara mesin medis yang berbunyi di sampingku dan
bisa merasakan tusukan tajam jarum infus di tanganku.
Aku mencoba
mencerna di mana aku berada sekarang. Bukankah tadi aku jatuh dan jantungku
seketika merasa sakit? Apa ini artinya aku selamat?
Sepertinya aku
benar-benar selamat.
Dan siapa yang
memegang tanganku?
Aku melihat
seseorang sedang duduk sambil tertidur di sampingku. Saat melihat rambutnya aku
tahu kalau itu dia.
Ciro ada di sini.
Ia menungguiku.
Aku ingin
membangunkannya, tapi aku merasa buruk. Pada akhirnya aku aku tetap harus meninggalkannya.
Pada akhirnya dialah yang menang. Pada akhirnya kebahagiaan Ciro lah yang selalu jadi taruhan.
Aku memejamkan
mataku, mencengkram bajuku tepat di atas jantungku. Aku menghirup dalam-dalam
oksigen yang diberikan dari tabung besar yang ada disebelahku. Rasanya memang
seperti hidup lagi. Rasanya seperti kembali seperti dulu lagi, berkutat dengan
rasa nyeri di dada dan udara yang tipis disekitarku.
Sambil mencoba
menarik tanganku dengan pelan dari genggaman tangannya. Aku merasa rasa lelah menyelimutiku
dan suaraku tidak bisa keluar. Aku bisa merasakan Ciro terbangun dari tidurnya
dan langsung menatapku.
“Selene?”
panggilnya parau saat mengangkat kepalanya.
Ia benar-benar
terbangun dari tidurnya sekarang saat mata kami bertemu. “Kau sudah sadar?” ia
beranjak dan menyentuh kepalaku.
Aku membuka mulutku
mencoba untuk bersuara tapi rasanya suaraku tidak mau keluar. Jadi aku hanya
menatapnya saja.
“Kau tidak apa-apa?
Apa ada yang sakit?” tanyanya lagi.
Aku merasa Ciro
berubah lagi sekarang. Sedetik yang lalu ia membenciku, membentakku, dan bahkan
menamparku. Tapi sedetik kemudian ia berubah menjadi lembut dan penyayang
seperti ini. Aku takut dan aku tidak tahu kepribadian yang mana yang sebenarnya
dia punya.
Aku gemetar takut
dan ternyata Ciro menyadari itu. Ia menarik sentuhannya seluruhnya dan duduk di
kursi samping tempat tidurku. Ia menatapku dengan rasa sesal yang belum pernah
kulihat sebelumnya.
“Aku tahu kau
takut.”
Aku terkejut karena
itu memang benar. Aku takut padanya. Aku takut padanya yang keras, dingin, dan
kejam. Tapi ia tersenyum penuh sesal sekarang.
“Mungkin kau takkan
memaafkanku tapi…” ia menatapku sedih,
“aku minta maaf karena telah menamparmu.”
Aku berkedip.
“Seharusnya aku
tidak melakukannya. Seharusnya aku tak pernah melakukannya padamu. Aku
benar-benar pengecut.” Akunya pelan. “Tapi aku juga tak bisa menyalahkanmu
kalau kau tak bisa memaafkanku.”
Aku menggelengkan
kepalaku mencoba menyangkal.
“Saat kau jatuh,
kupikir aku yang akan mati. Aku panik.” Katanya. “Kupikir kau akan… yah… Kau
tahu? Kau sudah tiga hari di sini.”
Tiga hari? Selama
itu?
“Kau dinyatakan
koma. Jantung Victoria …
jantungmu mengalami masalah dan kau harus dirawat.” Lanjutnya. “Dan aku
menemukan ini.” Ciro mengambil sebuah kartu dari dalam sakunya dan
memperlihatkannya padaku.
Untuk sesaat aku
terkejut, tapi kemudian aku tenang kembali. Aku tahu kalau dia akan membongkar
tasku atau kartu itu akan ditemukan perawat yang mencari identitasku dari dalam
ransel. Dan aku tidak perlu berpura-pura membantah kalau kartu itu memang
milikku.
Kartu pendonor. Aku
telah membuat kartu itu sebulan lalu, tepat seminggu setelah Ciro pergi. Aku
tidak tahu kapan aku akan mati dan aku tahu kalau ini adalah langkah terbaik
yang bisa kupikirkan saat itu. Aku tak meminta jantung yang ini berada di dalam
tubuhku, karena itu aku berniat mengembalikannya jika memang sudah saatnya.
Ciro merobek kartu
itu tepat di depan mataku dan kali ini aku benar-benar terkejut. Aku mengangkat
tanganku dan menghentikannya sambil menggelengkan kepala.
“Kau tidak boleh
melakukannya.” Katanya sambil membuang robekan kartu itu. “Aku takkan
mengizinkannya.” Tambahnya serius.
Aku mencoba bangun
dari tidurku tapi dia menahanku. Aku memberontak. “Lepaskan!” perintahku dengan
bisikan parau.
“Tidak.”
“Lepas!” aku masih
berontak saat ia menahanku.
Akhirnya dia
memelukku dan menenangkanku yang masih memberontak. “Kau tidak bisa
melakukannya!” kataku. “Lepaskan atau kau akan menyesal!”
“Sudah kubilang
dari awal aku sudah menyesal, kan ?”
katanya di telingaku. “Kau hanya akan menambah penyeselanku jika melakukannya.”
Aku memukul
punggungnya, “kau takkan menyesal karena ini!” aku memberontak dan ia masih
terus menahanku dalam pelukannya. “Ciro!” aku memberi peringatan.
“Aku sudah
membacanya.” Katanya sambil mengeratkan pelukannya. “Aku sudah membacanya…”
bisiknya.
Aku mencengkram
bajunya, mencoba mendorongnya. Tapi dia terlalu kuat dan tak bergeming
sedikitpun.
“Kupikir semua itu
hanya lelucon. Kupikir mereka mengelabuiku karena aku masih anak-anak. Tapi
seharusnya aku bisa menghubungkan semuanya karena aku tahu kalau itu keinginan Victoria sendiri.”
Ceritanya.
Aku tak dapat
melihat wajahnya karena ia masih memelukku. Ia menundukkan kepalanya di bahuku
sekarang. Aku bisa mendengar helaan napasnya yang berat. “Dia benar-benar
menulis surat
untukku.” Akunya dengan suara parau penuh emosi. Aku berhenti mendorongnya dan
diam dalam pelukannya selagi ia bercerita.
“Dia bilang…” ia
menarik napasnya. “Dia sangat bahagia bisa bersama denganku. Dia juga mendapat
firasat kalau suatu hari nanti dia akan pergi dan aku akan bertemu dengan
seseorang yang akan selalu menemukanku seperti dia yang selalu menemukanku.”
Katanya. “Kau tahu kenapa?”
Aku diam sejenak
lalu menggeleng.
“Karena jantung
kami berdetak bersama.” Bisiknya.
Aku bisa merasakan
kalau debaran jantung kami berdetak bersamaan saat ini. Aku merasa seolah-olah Victoria ada di sini,
diantara kami. Dan aku bisa merasakan kalau bahuku basah oleh air matanya.
Cirino menangis.
Aku mengelus
punggungnya, mencoba memberikan rasa nyaman dan menenangkannya.
“Maaf…” katanya
sungguh-sungguh diantara isakannya. “Maafkan aku…”
Aku menyandarkan
kepalaku dibahunya dan membiarkannya menangis dibahuku.
Masalah telah
selesai. Semuanya telah usai…
Benarkah?

0 comments: