The Moon and The Sun #3 - Rain

8:59 PM fe 0 Comments

3
Saat kupikir semuanya sudah cukup, aku justru mendapat jawaban yang sebaliknya.

Aku bisa mencium bau yang kukenal dari kamar ini.

Bau rumah sakit terasa kental di udara. Saat aku membuka mata aku bisa melihat satu ruangan yang sangat kukenal. Langit-langit yang putih bersih, tempat tidur yang biasa kupakai, tabung oksigen, dan benda-benda lainnya yang biasa menemaniku jika sendirian di kamar ini.

Akhirnya aku kembali lagi ke rumah sakit, ke kamar yang selalu kupakai.

Kupikir kepulanganku ke rumah merupakan keputusan yang bagus. Kupikir aku sudah membaik walau belum benar-benar sehat. Tapi akhirnya aku kembali ke sini, ke tempat ini, ke kamar ini.


Saat aku melihat ke luar jendela, aku sadar kalau sekarang sudah sore. Pesta sebentar lagi pasti akan dimulai. Tapi buat apa menyesal? Aku juga takkan pergi ke sana, kan?

Saat aku mulai memejamkan mata lagi, aku mendengar seseorang membuka pintu kamarku dengan pelan. Seorang anak laki-laki yang aku yakini lebih tua dariku melongokkan kepalanya ke dalam dan saat ia melihatku ia langsung cepat-cepat masuk dan menutup pintu dengan pelan lagi.

“Ssstt…” ia mengisyaratkan agar aku tidak bersuara dengan satu telunjuk menempel dibibirnya. “Jangan bilang aku sembunyi di sini!” bisiknya dengan wajah cemas. Ia kemudian berdiri di balik pintu dan berjaga di sana.

Aku mengangguk dan diam. Lama kami menunggu siapa yang akan membuka pintu itu, tapi tidak ada satupun yang datang. Ia mulai bergerak lagi dan membuka pintu itu sedikit sambil melongokkan kepalanya keluar.

“Bagus. Sekarang aman.” Katanya lega sambil membuka pintu itu lagi. “Terimakasih ya,” katanya sambil tersenyum penuh percaya diri.

“Kau siapa?” tanyaku tiba-tiba saat ia akan keluar.

Anak laki-laki itu berbalik menatapku. Aku langsung gugup di bawah tatapan matanya yang tajam. Tapi ia segera tersenyum. “Frankenstein.” Jawabnya. “Kau pasti Selene, kan?”

Aku mengedip. “Dari mana kau tahu?” tanyaku.

Ia mengangkat bahunya dengan sikap tidak peduli saat menjawab, “yah, semua orang di sini tahu tentangmu.”

“Semuanya?” seharusnya aku tidak terkejut dengan fakta itu karena dari umur dua tahun aku telah dirawat intensif di sini.

“Namamu terpajang di pintu depan ruangan. Karena itu aku tahu kalau itu kau.” Jawabnya lagi.

“Ooh…” lalu sambil tersenyum aku berkata, “salam kenal.”

“Yah, salam kenal juga.”  Lalu ia bertanya lagi. “Kau sakit apa?”

“Aku –”

Tiba-tiba Frankenstein menoleh kearah pintu karena terdengar suara ribut-ribut di luar. “Sepertinya aku harus pergi. Mereka pasti mencariku.” Katanya buru-buru menuju pintu. “Nanti kalau ada waktu, aku bisa ke sini lagi.” Itu pernyataan, bukan pertanyaan. “Sampai nanti, Selene.”

Aku ingin memanggilnya, hanya saja ia sudah menutup pintunya dan kemudian terdengar suara langkah orang berlari di koridor. Aku ingin tertawa. Anak laki-laki itu terlihat penuh rasa percaya diri. Ia seperti penguasa saja… dan dia sangat manis. Dia memiliki pipi yang terlihat cabi, kulit putih bersih, dan mata yang memikat. Yah, mata itu yang membuatku agak terusik karena tatapannya yang bisa berubah-ubah dalam waktu singkat. Kadang tatapannya tajam menyelidik seolah ia bisa mencari tahu siapa aku sebenarnya, tapi sesaat kemudian melembut dan terlihat sangat cerdas.

Aku memejamkan mataku dan menunggu Mama kembali. Biasanya ia sudah ada di sini pada jam sesore ini. Tapi kenapa sampai sekarang dia belum datang juga? Aku tidak suka sendirian.

Saat sore beranjak senja akhirnya pintu kamarku terbuka lagi. Aku melihat mereka, bukan hanya Mama, tapi Papa juga ada di sana. Mereka masuk dengan senyum yang menenangkanku seperti biasa.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Papa sambil menghampiriku. “Apa masih sakit?”

Aku menggeleng, “sudah tidak sakit lagi.”

Mereka berdua saling berpandangan sebelum kembali menatapku. “Kami punya kabar gembira. Dalam waktu dekat ini kau bisa dioperasi.” Kata Papa menjelaskannya padaku.

“Operasi?” aku mengulangi kalimat itu.

Mama ikut bicara, “ada pendonor yang bersedia mendonorkan jantungnya untukmu. Setelah operasi kau bisa sehat lagi.”

Aku merasa sangat senang mendengarnya. Berarti doaku selama ini dikabulkan. “Kalau begitu apa aku bisa datang ke pesta ulang tahun?”

“Tentu saja.” Jawab Papa senang. “Kau bisa datang kesetiap pesta ulang tahun. Kau juga bisa membuat pesta ulang tahunmu sendiri.”

Mendapat janji seperti itu aku segera mengangguk senang. “Kalau begitu aku mau!” seruku.

“Baiklah. Operasi akan dijalankan secepatnya. Kau harus siap.”


You Might Also Like

0 comments: