The Moon and The Sun #3 - Rain
3
Saat kupikir
semuanya sudah cukup, aku justru mendapat jawaban yang sebaliknya.
Aku bisa mencium
bau yang kukenal dari kamar ini.
Bau rumah sakit
terasa kental di udara. Saat aku membuka mata aku bisa melihat satu ruangan
yang sangat kukenal. Langit-langit yang putih bersih, tempat tidur yang biasa
kupakai, tabung oksigen, dan benda-benda lainnya yang biasa menemaniku jika
sendirian di kamar ini.
Akhirnya aku
kembali lagi ke rumah sakit, ke kamar yang selalu kupakai.
Kupikir
kepulanganku ke rumah merupakan keputusan yang bagus. Kupikir aku sudah membaik
walau belum benar-benar sehat. Tapi akhirnya aku kembali ke sini, ke tempat
ini, ke kamar ini.
Saat aku melihat ke
luar jendela, aku sadar kalau sekarang sudah sore. Pesta sebentar lagi pasti
akan dimulai. Tapi buat apa menyesal? Aku juga takkan pergi ke sana ,
kan ?
Saat aku mulai
memejamkan mata lagi, aku mendengar seseorang membuka pintu kamarku dengan
pelan. Seorang anak laki-laki yang aku yakini lebih tua dariku melongokkan
kepalanya ke dalam dan saat ia melihatku ia langsung cepat-cepat masuk dan
menutup pintu dengan pelan lagi.
“Ssstt…” ia
mengisyaratkan agar aku tidak bersuara dengan satu telunjuk menempel
dibibirnya. “Jangan bilang aku sembunyi di sini!” bisiknya dengan wajah cemas.
Ia kemudian berdiri di balik pintu dan berjaga di sana .
Aku mengangguk dan
diam. Lama kami menunggu siapa yang akan membuka pintu itu, tapi tidak ada
satupun yang datang. Ia mulai bergerak lagi dan membuka pintu itu sedikit
sambil melongokkan kepalanya keluar.
“Bagus. Sekarang
aman.” Katanya lega sambil membuka pintu itu lagi. “Terimakasih ya,” katanya
sambil tersenyum penuh percaya diri.
“Kau siapa?”
tanyaku tiba-tiba saat ia akan keluar.
Anak laki-laki itu
berbalik menatapku. Aku langsung gugup di bawah tatapan matanya yang tajam.
Tapi ia segera tersenyum. “Frankenstein.” Jawabnya. “Kau pasti Selene, kan ?”
Aku mengedip. “Dari
mana kau tahu?” tanyaku.
Ia mengangkat
bahunya dengan sikap tidak peduli saat menjawab, “yah, semua orang di sini tahu
tentangmu.”
“Semuanya?” seharusnya
aku tidak terkejut dengan fakta itu karena dari umur dua tahun aku telah
dirawat intensif di sini.
“Namamu terpajang
di pintu depan ruangan. Karena itu aku tahu kalau itu kau.” Jawabnya lagi.
“Ooh…” lalu sambil
tersenyum aku berkata, “salam kenal.”
“Yah, salam kenal
juga.” Lalu ia bertanya lagi. “Kau sakit
apa?”
“Aku –”
Tiba-tiba
Frankenstein menoleh kearah pintu karena terdengar suara ribut-ribut di luar.
“Sepertinya aku harus pergi. Mereka pasti mencariku.” Katanya buru-buru menuju
pintu. “Nanti kalau ada waktu, aku bisa ke sini lagi.” Itu pernyataan, bukan
pertanyaan. “Sampai nanti, Selene.”
Aku ingin
memanggilnya, hanya saja ia sudah menutup pintunya dan kemudian terdengar suara
langkah orang berlari di koridor. Aku ingin tertawa. Anak laki-laki itu
terlihat penuh rasa percaya diri. Ia seperti penguasa saja… dan dia sangat
manis. Dia memiliki pipi yang terlihat cabi, kulit putih bersih, dan mata yang
memikat. Yah, mata itu yang membuatku agak terusik karena tatapannya yang bisa
berubah-ubah dalam waktu singkat. Kadang tatapannya tajam menyelidik seolah ia
bisa mencari tahu siapa aku sebenarnya, tapi sesaat kemudian melembut dan
terlihat sangat cerdas.
Aku memejamkan
mataku dan menunggu Mama kembali. Biasanya ia sudah ada di sini pada jam sesore
ini. Tapi kenapa sampai sekarang dia belum datang juga? Aku tidak suka
sendirian.
Saat sore beranjak
senja akhirnya pintu kamarku terbuka lagi. Aku melihat mereka, bukan hanya
Mama, tapi Papa juga ada di sana .
Mereka masuk dengan senyum yang menenangkanku seperti biasa.
“Bagaimana
keadaanmu?” tanya Papa sambil menghampiriku. “Apa masih sakit?”
Aku menggeleng,
“sudah tidak sakit lagi.”
Mereka berdua
saling berpandangan sebelum kembali menatapku. “Kami punya kabar gembira. Dalam
waktu dekat ini kau bisa dioperasi.” Kata Papa menjelaskannya padaku.
“Operasi?” aku
mengulangi kalimat itu.
Mama ikut bicara,
“ada pendonor yang bersedia mendonorkan jantungnya untukmu. Setelah operasi kau
bisa sehat lagi.”
Aku merasa sangat
senang mendengarnya. Berarti doaku selama ini dikabulkan. “Kalau begitu apa aku
bisa datang ke pesta ulang tahun?”
“Tentu saja.” Jawab
Papa senang. “Kau bisa datang kesetiap pesta ulang tahun. Kau juga bisa membuat
pesta ulang tahunmu sendiri.”
Mendapat janji
seperti itu aku segera mengangguk senang. “Kalau begitu aku mau!” seruku.
“Baiklah. Operasi
akan dijalankan secepatnya. Kau harus siap.”

0 comments: