The Moon and The Sun #2 - Rain
2
Mr.Feagal adalah
orang yang sangat menyenangkan dan aku sangat menyukainya. Ia terlihat seperti
santa dengan janggut putih yang lebat di wajahnya serta badannya yang gemuk. Ia
suka menyambutku dengan senyum ramahnya.
“Oh! Mrs.Anderson,
selamat datang, selamat datang,” katanya senang saat kami masuk ke dalam
tokonya. “Dan siapa di sana ?”
tanyanya dengan wajah heran.
“Selamat pagi
Mr.Feagal!” sapaku dengan suara melengking seperti biasa kalau aku menyapanya.
“Hoo… Ternyata kau,
Selene.” Sambutnya sambil berjongkok agar sejajar dengan tubuhku yang pendek.
“Bagaimana kabarmu, nak?” tanyanya.
“Baik. Sangat
baik!”
“Bagus.” Ia berdiri
lagi.
“Selene ingin
membeli sesuatu untuk temannya yang sedang berulang tahun.” Kata Mama padanya.
“Ulang tahun? Apa
dia akan ke pesta?” tanyanya sambil melihatku yang terbungkus mantel dan jaket
tebal.
“Sebenarnya dia
ingin datang ke sana ,
hanya saja aku kuatir kalau dia tidak kuat. Jadi gantinya dia ingin memilih
sendiri hadiahnya untuk temannya.” Terang Mama.
“Dan masuk ke toko
alat musik?”
“Sebenarnya aku
agak kuatir kalau dia memilih barang yang mahal. Bagaimanapun juga dia masih
enam tahun…”
Mr.Feagal tersnyum,
“dia tahu banyak tentang musik karena itu sangat menghibur.”
“Yah, benar.”
“Mr.Feagal, apa kau
punya pic gitar?” tanyaku tiba-tiba menyela mereka.
Mr.Feagal menaikkan
alisnya saat menjawab, “tentu saja. Kemari, aku punya banyak.” Katanya sambil
berjalan kembali ke balik konternya.
Ia mengeluarkan
empat kotak yang berisi pic gitar yang memiliki motif bermacam-macam. Mama
mendudukkanku di kursi tinggi yang ada di sana
sehingga aku bisa melihat barang yang ditawarkan Mr.Feagal.
“Kau mau beli pic
gitar?” tanya Mama heran.
“Aku tahu Gates
sangat suka main gitar.” Kataku sambil menganalisa pic mana yang cocok
untuknya. “Dia sangat hebat.” Tambahku sambil mengambil satu pic gitar bewarna
hitam dengan garis-garis tegak warna putih yang tipis. “Aku beli ini.”
Mr.Feagal melihat
pic pilihanku, “pilihan yang bagus.” Komentarnya puas. “Dia punya selera yang
bagus juga.”
“Yah, sepertinya
begitu.” Komentar Mama sambil mengelus-ngelus rambutku.
“Apa kau bisa
membungkusnya dengan kertas kado?” tanyaku pada Mr.Feagal. Bagaimanapun juga
ini adalah hadiah dan hadiah harus dibungkus dalam kertas kado yang cantik.
“Aku akan
membungkusnya.” Tawar Mama pada Mr.Feagal sambil tersenyum penuh arti. “Aku
tahu kau agak susah membungkus hadiah.”
“Bukan berarti aku
tak pernah memberi hadiah.”
Mama tertawa, “tentu
saja.” Ia mengeluarkan kertas kado yang sudah disiapkan sebelum kami berangkat
tadi.
Mr.Feagal
memasukkan pic tersebut ke dalam kotaknya sambil bertanya, “kau yakin dengan
pilihanmu?”
“Tentu saja.”
Jawabku. “Ah! Masukkan ini juga.” Kataku sambil buru-buru mengeluarkan sebuah
kertas kecil.
“Apa ini?” tanya
Mr.Feagal saat menerimanya.
“Surat ucapan selamat ulang tahun dan
permintaan maaf karena aku tidak bisa datang.” Jawabku.
Mr.Feagal melirik
kepada Mama dan aku langsung berkata, “nanti, kalau aku sudah sehat, aku akan
datang ke pestanya yang selanjutnya. Aku… sudah… janji,” kata terakhirku
diucapkan dengan nada samar.
“Selene!” Mama dan
Mr.Feagal berteriak memanggil namaku. Aku bisa mendengar suarnya. Hanya saja
aku tidak bisa menyahut mereka.
Jantungku terasa
sangat sakit seolah-olah ada yang meremasnya. Tuhan! Aku tidak tahan! Sambil
memegangi dadaku, aku mencoba bernapas. Hanya saja rasanya sangat sesak, dan
semakin aku mencoba bernapas, semakin sakit rasanya.
Aku tidak bisa
melakukan gerakan apapun dan seketika itu juga aku berjuang untuk tidak
menangis keras. Air mataku keluar dan aku merasa diangkat dan dilarikan ke
dalam mobil. Aku ingin memberontak dan berkata jangan sentuh aku. Hanya saja
suaraku tidak keluar. Rasanya setiap gerakan adalah hal yang salah dilakukan.
Dan pada saat aku
merasa kalau semua ini sudah cukup, aku berdoa kepada Tuhan agar ini semua
segera berakhir. Karena saat ini semua berakhir, maka takkan ada rasa sakit
lagi yang terasa.

0 comments: