The Moon and The Sun #2 - Rain

8:57 PM fe 0 Comments

2
Mr.Feagal adalah orang yang sangat menyenangkan dan aku sangat menyukainya. Ia terlihat seperti santa dengan janggut putih yang lebat di wajahnya serta badannya yang gemuk. Ia suka menyambutku dengan senyum ramahnya.

“Oh! Mrs.Anderson, selamat datang, selamat datang,” katanya senang saat kami masuk ke dalam tokonya. “Dan siapa di sana?” tanyanya dengan wajah heran.

“Selamat pagi Mr.Feagal!” sapaku dengan suara melengking seperti biasa kalau aku menyapanya.

“Hoo… Ternyata kau, Selene.” Sambutnya sambil berjongkok agar sejajar dengan tubuhku yang pendek. “Bagaimana kabarmu, nak?” tanyanya.

“Baik. Sangat baik!”

“Bagus.” Ia berdiri lagi.


“Selene ingin membeli sesuatu untuk temannya yang sedang berulang tahun.” Kata Mama padanya.

“Ulang tahun? Apa dia akan ke pesta?” tanyanya sambil melihatku yang terbungkus mantel dan jaket tebal.

“Sebenarnya dia ingin datang ke sana, hanya saja aku kuatir kalau dia tidak kuat. Jadi gantinya dia ingin memilih sendiri hadiahnya untuk temannya.” Terang Mama.

“Dan masuk ke toko alat musik?”

“Sebenarnya aku agak kuatir kalau dia memilih barang yang mahal. Bagaimanapun juga dia masih enam tahun…”

Mr.Feagal tersnyum, “dia tahu banyak tentang musik karena itu sangat menghibur.”

“Yah, benar.”

“Mr.Feagal, apa kau punya pic gitar?” tanyaku tiba-tiba menyela mereka.

Mr.Feagal menaikkan alisnya saat menjawab, “tentu saja. Kemari, aku punya banyak.” Katanya sambil berjalan kembali ke balik konternya.

Ia mengeluarkan empat kotak yang berisi pic gitar yang memiliki motif bermacam-macam. Mama mendudukkanku di kursi tinggi yang ada di sana sehingga aku bisa melihat barang yang ditawarkan Mr.Feagal.

“Kau mau beli pic gitar?” tanya Mama  heran.

“Aku tahu Gates sangat suka main gitar.” Kataku sambil menganalisa pic mana yang cocok untuknya. “Dia sangat hebat.” Tambahku sambil mengambil satu pic gitar bewarna hitam dengan garis-garis tegak warna putih yang tipis. “Aku beli ini.”

Mr.Feagal melihat pic pilihanku, “pilihan yang bagus.” Komentarnya puas. “Dia punya selera yang bagus juga.”

“Yah, sepertinya begitu.” Komentar Mama sambil mengelus-ngelus rambutku.

“Apa kau bisa membungkusnya dengan kertas kado?” tanyaku pada Mr.Feagal. Bagaimanapun juga ini adalah hadiah dan hadiah harus dibungkus dalam kertas kado yang cantik.

“Aku akan membungkusnya.” Tawar Mama pada Mr.Feagal sambil tersenyum penuh arti. “Aku tahu kau agak susah membungkus hadiah.”

“Bukan berarti aku tak pernah memberi hadiah.”

Mama tertawa, “tentu saja.” Ia mengeluarkan kertas kado yang sudah disiapkan sebelum kami berangkat tadi.

Mr.Feagal memasukkan pic tersebut ke dalam kotaknya sambil bertanya, “kau yakin dengan pilihanmu?”

“Tentu saja.” Jawabku. “Ah! Masukkan ini juga.” Kataku sambil buru-buru mengeluarkan sebuah kertas kecil.

“Apa ini?” tanya Mr.Feagal saat menerimanya.

Surat ucapan selamat ulang tahun dan permintaan maaf karena aku tidak bisa datang.” Jawabku.

Mr.Feagal melirik kepada Mama dan aku langsung berkata, “nanti, kalau aku sudah sehat, aku akan datang ke pestanya yang selanjutnya. Aku… sudah… janji,” kata terakhirku diucapkan dengan nada samar.

“Selene!” Mama dan Mr.Feagal berteriak memanggil namaku. Aku bisa mendengar suarnya. Hanya saja aku tidak bisa menyahut mereka.

Jantungku terasa sangat sakit seolah-olah ada yang meremasnya. Tuhan! Aku tidak tahan! Sambil memegangi dadaku, aku mencoba bernapas. Hanya saja rasanya sangat sesak, dan semakin aku mencoba bernapas, semakin sakit rasanya.

Aku tidak bisa melakukan gerakan apapun dan seketika itu juga aku berjuang untuk tidak menangis keras. Air mataku keluar dan aku merasa diangkat dan dilarikan ke dalam mobil. Aku ingin memberontak dan berkata jangan sentuh aku. Hanya saja suaraku tidak keluar. Rasanya setiap gerakan adalah hal yang salah dilakukan.


Dan pada saat aku merasa kalau semua ini sudah cukup, aku berdoa kepada Tuhan agar ini semua segera berakhir. Karena saat ini semua berakhir, maka takkan ada rasa sakit lagi yang terasa.

You Might Also Like

0 comments: