The Moon and The Sun #4 - Rain
4
Apa itu operasi?
Sebenarnya aku tidak tahu. Yang aku tahu aku hanya akan mendapat jantung baru
dan setelah itu aku akan sehat seperti anak-anak lainnya.
Saat aku sedang
membaca buku bergambar Mickey Mouse sendirian di kamar, seseorang membuka pintu
dengan pelan dan masuk. Aku mengalihkan mataku dari gambar di buku dan melihat
seorang anak laki-laki yang kemarin bersembunyi di kamarku. Ia memakai jaket
hitam dengan resleting terbuka, celana jeans hitam, dan ransel. Kulitnya yang
putih bersih tampak menonjol dibalik penampilannya. Hanya saja matanya agak
bengkak dan merah. Wajahnya juga memerah, seperti orang yang baru habis
menangis. Tapi ia justru terlihat biasa saja.
“Kau…?” aku mencoba
mengingat namanya, “Frankeinstein?” tanyaku dengan nada tidak yakin.
“Ingatan yang
bagus.” Ia mendekat. “Bagaimana keadaanmu?”
“Baik.” Aku
tersenyum senang. “Kau dari mana?” tanyaku sambil melirik ranselnya.
“Kau sedang apa?”
tanyanya tanpa mengacuhkan pertanyaanku.
Aku diam sejenak
karena ia tidak menjawab pertanyaanku.
“Aku dengar kau
akan dioperasi.” Katanya lagi.
Aku terkejut
mendengarnya. “Ya. Kau tahu dari mana?”
“Well, tidak sulit
mengetahuinya.” Ia bersikap seakan itu adalah hal yang tidak penting. Tapi aku
berpikir kalau dia adalah anak yang tahu segalanya.
“Aku senang karena
akan dioperasi. Sebentar lagi aku akan sehat dan bisa keluar bermain salju.”
Kataku senang.
Ia menatapku
sejenak. “Kau tahu?”
“Apa?”
“Aku tidak yakin
kau bisa selamat.”
Aku diam menatapnya
bingung. “Selamat? Apa itu?”
“Maksudku… Kau akan
dioperasi. Dan operasi adalah hal yang sangat rumit.” Ia menerangkan. “Apalagi
yang harus dioperasi adalah jantungmu. Oke, jika kau selamat maka kau bisa
hidup. Tapi kalau jantung baru yang kau terima tidak berfungsi dengan baik, kau
tetap saja akan mati.”
Aku terkejut dan
seketika merasa takut. “Aku… akan mati?” ulangku dengan nada tidak percaya.
“Kau pikir operasi
itu seperti sihir? Kau tahu kalau ada yang namanya pisau atau gergaji?
Jantungmu akan diganti dan itu pasti sangat sakit.”
Kali ini semangatku
benar-benar runtuh total. Aku sangat takut benda-benda itu menusuk tubuhku.
Sampai saat ini aku memang masih bisa bertahan dengan jarum suntik, tapi
membayangkan pisau atau gergaji itu akan memotong tubuhmu tentu saja akan
sangat sakit.
Aku mencengkram
selimutku erat-erat.
“Aku tidak
bermaksud menakutimu. Tapi… masa kau tidak tahu apa itu operasi?” ia mengerutkan
keningnya dengan sikap heran.
Aku menggelengkan
kepala dengan tubuh gemetar.
“Yah, itu pilihanmu
apa kau mau operasi atau tidak –“
Brak!
Pintu terbuka
dengan paksa dan kata-kata Frankeinstein langsung terputus. Untung saja aku
tidak terkejut karena itu.
“Apa yang kau
lakukan?” tanya seorang Dokter Synyster yang menanganiku selama ini yang juga
teman baik Papa.
“Papa?”
Frankeinstein langsung tergagap dan ketakutan karena kedapatan di sini.
Dr.Synyster
langsung menghampirinya dan menamparnya keras. Satu tamparan membuatnya
terhuyung dan hampir jatuh. Tapi ia segera berpegangan pada tepi tempat
tidurku.
“Keluar dari sini!
Sekarang!” katanya dengan wajah murka sambil menarik kerah baju Frankeinstein.
Aku tidak pernah
melihat wajah Dr.Synyster semurka itu dan itu membuatku terdiam.
“Lepas! Lepaskan!
Aku tidak mau –” Frankeinstein mencoba memprotes, tapi tidak bisa karena
Dr.Synyster memotongnya.
“Sekarang!”
perintahnya tegas.
Tidak tahan melihat
perlakuan kasar Dr.Synyster, aku segera meraih tangannya yang mencengkram kerah
baju Frankeinstein, “hentikan! Jangan tarik dia!” teriakku memohon.
Dokter itu
terkejut. “Selene, jangan –“
Tapi sebelum ia
selesai mengatakan kalimat itu, aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh dari
tempat tidur.
Seketika itu juga
aku berteriak karena jantungku langsung terasa sakit lagi. Aku bisa mendengar
dia memanggil namaku dan memerintahkan anak lelaki itu untuk memanggil perawat.
Tapi setelahnya aku tida memperdulikan apa yang terjadi disekitarku lagi. Aku
mencengkram bajuku dan bertahan dari rasa sakit yang meremas jantungku, yang
membuatku tidak bisa menarik napas karena akan semakin terasa perih.
Aku dibaringkan
keranjang dan dari mataku yang kabur karena menangis, aku bisa melihat beberapa
perawat yang sudah kukenal.
“Tidak bisa. Kita
tidak bisa menunggu lama. Dia harus segera dioperasi.” Putus sebuah suara yang
samar-samar kudengar.
Operasi? Aku ingin
berteriak kalau aku tidak mau dioperasi. Tapi suaraku tidak keluar. Aku ingin
menggeleng, tapi tidak bisa.
“Kita akan
mengoperasinya. Segera siapkan ruangan!” Putus suara Dr.Synyster.

0 comments: