The Moon and The Sun #4 - Rain

9:03 PM fe 0 Comments

4
Apa itu operasi? Sebenarnya aku tidak tahu. Yang aku tahu aku hanya akan mendapat jantung baru dan setelah itu aku akan sehat seperti anak-anak lainnya.

Saat aku sedang membaca buku bergambar Mickey Mouse sendirian di kamar, seseorang membuka pintu dengan pelan dan masuk. Aku mengalihkan mataku dari gambar di buku dan melihat seorang anak laki-laki yang kemarin bersembunyi di kamarku. Ia memakai jaket hitam dengan resleting terbuka, celana jeans hitam, dan ransel. Kulitnya yang putih bersih tampak menonjol dibalik penampilannya. Hanya saja matanya agak bengkak dan merah. Wajahnya juga memerah, seperti orang yang baru habis menangis. Tapi ia justru terlihat biasa saja.

“Kau…?” aku mencoba mengingat namanya, “Frankeinstein?” tanyaku dengan nada tidak yakin.


“Ingatan yang bagus.” Ia mendekat. “Bagaimana keadaanmu?”

“Baik.” Aku tersenyum senang. “Kau dari mana?” tanyaku sambil melirik ranselnya.

“Kau sedang apa?” tanyanya tanpa mengacuhkan pertanyaanku.

Aku diam sejenak karena ia tidak menjawab pertanyaanku.

“Aku dengar kau akan dioperasi.” Katanya lagi.

Aku terkejut mendengarnya. “Ya. Kau tahu dari mana?”

“Well, tidak sulit mengetahuinya.” Ia bersikap seakan itu adalah hal yang tidak penting. Tapi aku berpikir kalau dia adalah anak yang tahu segalanya.

“Aku senang karena akan dioperasi. Sebentar lagi aku akan sehat dan bisa keluar bermain salju.” Kataku senang.

Ia menatapku sejenak. “Kau tahu?”

“Apa?”

“Aku tidak yakin kau bisa selamat.”

Aku diam menatapnya bingung. “Selamat? Apa itu?”

“Maksudku… Kau akan dioperasi. Dan operasi adalah hal yang sangat rumit.” Ia menerangkan. “Apalagi yang harus dioperasi adalah jantungmu. Oke, jika kau selamat maka kau bisa hidup. Tapi kalau jantung baru yang kau terima tidak berfungsi dengan baik, kau tetap saja akan mati.”

Aku terkejut dan seketika merasa takut. “Aku… akan mati?” ulangku dengan nada tidak percaya.

“Kau pikir operasi itu seperti sihir? Kau tahu kalau ada yang namanya pisau atau gergaji? Jantungmu akan diganti dan itu pasti sangat sakit.”

Kali ini semangatku benar-benar runtuh total. Aku sangat takut benda-benda itu menusuk tubuhku. Sampai saat ini aku memang masih bisa bertahan dengan jarum suntik, tapi membayangkan pisau atau gergaji itu akan memotong tubuhmu tentu saja akan sangat sakit.

Aku mencengkram selimutku erat-erat.

“Aku tidak bermaksud menakutimu. Tapi… masa kau tidak tahu apa itu operasi?” ia mengerutkan keningnya dengan sikap heran.

Aku menggelengkan kepala dengan tubuh gemetar.

“Yah, itu pilihanmu apa kau mau operasi atau tidak –“

Brak!

Pintu terbuka dengan paksa dan kata-kata Frankeinstein langsung terputus. Untung saja aku tidak terkejut karena itu.

“Apa yang kau lakukan?” tanya seorang Dokter Synyster yang menanganiku selama ini yang juga teman baik Papa.

“Papa?” Frankeinstein langsung tergagap dan ketakutan karena kedapatan di sini.

Dr.Synyster langsung menghampirinya dan menamparnya keras. Satu tamparan membuatnya terhuyung dan hampir jatuh. Tapi ia segera berpegangan pada tepi tempat tidurku.

“Keluar dari sini! Sekarang!” katanya dengan wajah murka sambil menarik kerah baju Frankeinstein.

Aku tidak pernah melihat wajah Dr.Synyster semurka itu dan itu membuatku terdiam.

“Lepas! Lepaskan! Aku tidak mau –” Frankeinstein mencoba memprotes, tapi tidak bisa karena Dr.Synyster memotongnya.

“Sekarang!” perintahnya tegas.

Tidak tahan melihat perlakuan kasar Dr.Synyster, aku segera meraih tangannya yang mencengkram kerah baju Frankeinstein, “hentikan! Jangan tarik dia!” teriakku memohon.

Dokter itu terkejut. “Selene, jangan –“

Tapi sebelum ia selesai mengatakan kalimat itu, aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh dari tempat tidur.

Seketika itu juga aku berteriak karena jantungku langsung terasa sakit lagi. Aku bisa mendengar dia memanggil namaku dan memerintahkan anak lelaki itu untuk memanggil perawat. Tapi setelahnya aku tida memperdulikan apa yang terjadi disekitarku lagi. Aku mencengkram bajuku dan bertahan dari rasa sakit yang meremas jantungku, yang membuatku tidak bisa menarik napas karena akan semakin terasa perih.

Aku dibaringkan keranjang dan dari mataku yang kabur karena menangis, aku bisa melihat beberapa perawat yang sudah kukenal.

“Tidak bisa. Kita tidak bisa menunggu lama. Dia harus segera dioperasi.” Putus sebuah suara yang samar-samar kudengar.

Operasi? Aku ingin berteriak kalau aku tidak mau dioperasi. Tapi suaraku tidak keluar. Aku ingin menggeleng, tapi tidak bisa.

“Kita akan mengoperasinya. Segera siapkan ruangan!” Putus suara Dr.Synyster.

You Might Also Like

0 comments: