The Moon and The Sun #17 - Rain

10:11 PM fe 0 Comments

17
Aku kembali ke apartemenku dengan Rev. Ia ingin bertemu dengan Gates sebelum pulang ke rumahnya. Ada beberapa hal yang harus mereka urus bersama dan mungkin akan makan waktu agak lama. Saat pintu lift terbuka, aku melihat Gates berdiri di luar pintu itu bersama seorang wanita yang kulihat semalam.
Jantungku langsung terlonjak kaget. Hatiku merasa sakit melihat mereka berdua.
“Oh? Hai!” Gates mengangkat tangannya sambil tersenyum menyapa kami.
“Hai,” balas Rev sambil mendorongku dengan lembut keluar dari lift itu.
Aku yang awalnya terpaku langsung sadar lagi dan memperingatkan diri kalau aku harus bersikap biasa. Akhirnya aku memaksakan senyumku.
“Kalian berdua dari mana?” tanya Gates pada kami.
“Kami berdua baru dari makam Victoria,” jawab Rev ringan.
“Oh ya? Kalian berdua?”
“Sebenarnya Selene lebih dulu sampai di sana. Ya, kan?” tanyanya padaku untuk meminta kepastian.
“Ha? Oh, ya.” Jawabku gugup. Aku harus bisa bersikap tenang dihadapan mereka, kalau tidak Gates pasti akan sadar kalau aku gugup. “Kalian mau kemana?” tanyaku dengan nada biasa.
“Aku akan mengantar Emily pulang.” Jawab Gates.
“Kau tidak ingin mengenalkannya padanya?” tanya Rev pada Gates yang membuatku mendongak melihatnya. Tapi Rev dengan senyum samarnya itu tidak membalas tatapan mataku.
“Ah! Aku lupa,” katanya. “Aku ingin mengenalkannya tadi malam padamu, tapi kau pulang duluan. Kenalkan, ini Emily Gardner.” Katanya padaku, dan pada Emily ia berkata, “dan ini Selene, dia temanku sejak kecil.”
“Oh, dia gadis yang sering kau ceritakan itu?” tanya Emily pada Gates.
“Kau menceritakanku padanya?” tanyaku.
“Yah… sedikit banyak begitu.”
Kami berdua saling berjabat tangan.
“Aku senang bisa bertemu denganmu. Gates selalu berkata kalau kau seperti pahlawan.” Ia tertawa dengan cara yang sangat menyenangkan. “Kalau aku diposisimu, aku pasti sudah menyerah duluan.”
Aku hanya tersenyum samar saat ia mengatakannya, dan aku bisa merasakan kalau Rev menatapku.
“Aku akan menunggumu sampai kau kembali.” Kata Rev pada Gates. “Ada yang ingin kubicarakan.”
“Oh, ok.”
Lalu kamipun berpisah. Saat pintu lift tertutup aku hanya menatap pantulan wajahku di pintu itu. Lalu aku merasa Rev menggenggam tanganku dan dengan lembut menarikku untuk beranjak dari sana.
Aku hanya diam saja sampai akhirnya kami masuk ke dalam apartemenku. Aku masih diam saat berhenti di tengah ruangan. Wajah wanita pirang yang sangat menenangkan itu masih terbayang di wajahku. Ia sangat cantik dan mempesona, persis seperti yang digambarkan Gates. Sosok bangsawan yang sangat cantik… pikirku.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Rev padaku.
“Dia sangat cantik, kan?” aku meminta pendapatnya tanpa menatapnya. “Aku bisa merasakan kalau dia orang yang baik dan menyenangkan…”
Rev tidak bilang apa-apa.
“Maaf… Aku hanya merasa… yah,” aku mengatupkan rahangku dan menahan rasa sakit di dadaku sambil mencengkram bajuku. Aku menarik napas dalam-dalam dan mencoba untuk tidak menangis. Aku tidak mau bersuara karena aku tahu kalau suaraku akan serak dan gemetar karena emosi. Aku juga tak mau membebani Rev dengan kondisiku yang payah ini.
Tapi Rev membuatnya jadi semakin sulit saat ia membalikkan tubuhku menghadapnya dan memelukku erat.
“Kau bisa memilih kalau kau mau,” katanya padaku.
Aku hampir menangis keras di dadanya. Tapi aku berusaha untuk tidak melakukannya. “Memilih?” ulangku.
“Kau tahu? Cinta itu adalah berani untuk pergi dan berani untuk ditinggal pergi.”
Aku melepaskan pelukannya. Dengan air mata mengalir dipipi, aku menatapnya. “Tapi sekuat apapun aku mencoba, aku tidak bisa… aku…” aku menundukkan kepalaku dan menangis.
Ia menghapus air mataku yang mengalir dengan ibu jarinya. “Aku akan membuatmu lupa.” Katanya.
Aku mengangkat kepalaku dan bertanya, “bagaimana caranya?”
Ia menatap mataku dalam-dalam dan aku langsung terpaku dengan tatapannya. “Aku mencintaimu.” Katanya tulus.
Aku sama sekali tidak menyangka akan mendengar kalimat itu darinya. Dalam matanya aku tahu kalau dia serius dengan pengakuannya dan aku tidak siap dengan itu semua.
“A… Aku–”
Ia menekankan satu jarinya ke bibirku agar aku berhenti bicara dan berkata, “aku mencintaimu lebih dari siapapun juga. Tapi aku tahu kau belum siap melupakannya, dan aku juga tidak tahu pilihan apa yang kau pilih. Jawab aku jika kau siap.”
Ia melangkah mundur dan pergi dari apartemenku setelah mengatakannya sedangkan aku masih terdiam setelah mendengarnya.
Mana mungkin Rev mencintaiku? Aku memang menyukainya, tapi itu hanya sekedar suka, kan? Perasaanku padanya sama dengan perasaanku pada yang lain, pada Flea, Joe, dan Victor. Selama ini aku merasa Gates selalu nomor satu sehingga aku tidak bisa melihat pria lain selainnya. Lalu… apa yang harus kulakukan?
Aku tidak bisa pura-pura menerima cintanya. Itu hanya akan menyakiti dia saja. Dan aku tidak bisa berbohong padanya demi melupakan Gates.

o � o ��� � if"; color:#1A1A1A;mso-themecolor:background1;mso-themeshade:26'>Aku terkejut mendengar pertanyaan itu. Apa aku masih menyukainya? Apa aku masih menyukai Gates? Aku tidak bisa membaca hatiku sekarang. Gates sudah menjadi cinta pertamaku dan perasaan itu adalah harta berharga yang masih bisa kurasakan hingga sekarang. Tapi kejadian malam tadi membuat aku merasa tidak yakin dengan perasaanku.

“Maaf,” ia melepaskan tanganku dan menarik tangannya menjauh. “Aku tahu kau berbeda.”
Aku mengangkat mataku dan melihat dia sedang memandang keluar jendela lagi dengan tatapan mata sendu.
“Kau tidak seperti kebanyakan gadis lainnya yang sudah kukenal. Aku tahu kalau kau orang yang sangat setia dengan perasaanmu. Dan aku juga tahu kalau kau belum pernah ciuman,” ia mengatakannya dengan terus terang dan itu membuatku makin malu.
“Apa aku salah?” aku bertanya. “Aku tahu kalau aku tidak seperti kebanyakan gadis lainnya. Aku hanya berpikir kalau aku tidak bisa mengkhianati orang yang kucintai. Kau bisa bilang kalau aku ini…”
“Tidak.” Potongnya. “Aku tidak bilang kalau itu salah. Aku justru kagum pada orang yang bisa menjaga kehormatannya.” Ia menatapku dengan wajah tenang dan seulas senyum kecil. “Ini hanya masalah pilihan. Dan apa yang kita lakukan di dunia ini semuanya hanya pilihan.”
Aku mengangguk setuju.
“Dibandingkan wanita, pria bisa memiliki banyak kekasih dan bisa tidur dengan siapapun yang mereka suka. Tapi saat mereka memiliki komitmen untuk serius, mereka akan setia sampai mati.” Sambungnya.
Aku masih mendengarnya sambil berusaha menerka kemana arah pembicaraan ini.

“Aku hanya ingin bilang itu saja,” katanya sambil meminum kopinya. 

You Might Also Like

0 comments: