The Moon and The Sun #16 - Rain

10:10 PM fe 0 Comments

16
Kami duduk di dalam café yang berjarak dua ratus meter dari area pemakaman itu. Rev kenal baik dengan pemilik café kecil yang hangat dan nyaman ini. Kami duduk di meja yang ada di sudut ruangan di samping jendela. Hujan salju turun lagi dari langit yang tiba-tiba beranjak jadi kelabu.
“Hei! Siapa tamu baru ini?” tanya seorang pria dengan apron abu-abunya. Pria gemuk dengan janggut lebat itu terlihat sangat ramah saat menyapa Rev. Mereka pasti sudah saling kenal.
Rev berdiri dari duduknya dan memeluk pria yang menyapanya itu. “Apa kabar?”
“Tentu saja, sangat baik. Sudah lama sekali kau tidak ke sini. Nah, apa kau bisa mengenalkannya padaku?”
Aku berdiri saat Rev memperkenalkanku. “Dia Selene. Selene, dia pemilik café ini, Mr.Silvester.”
Aku mengulurkan tangan untuk menyambut uluran tangannya. “Salam kenal.” Kataku.
“Salam kenal juga… rrr… Selene?” ia mencoba memanggil namaku.
“Ya.” Kataku saat melepas jabatan tangannya.
“Hmm… apa itu nama aslimu? Atau justru dia yang memberikannya?” tanyanya tidak yakin.
Aku mengerutkan kening karena bingung. “Ya, itu namaku.” Apa Rev suka memberi julukan pada setiap temannya?
Mr.Silvester menatap kami bergantian lalu tertawa. “Bagus, nak.” Ia menepuk bahu Rev dengan keras. “Cocok sekali.”
Aku tidak mengerti apa maksudnya, hanya saja orang tua itu terlihat sangat senang dan bersemangat. Tapi wajah Rev terlihat pasrah dan itu membuatku semakin bingung.
“Kalian mau pesan apa?” tanyanya sekarang.
“Cappucino hangat,” jawab kami serentak lalu kami saling berpandangan karena kaget.
“Oke. Cappuccino hangat.” Katanya sambil mengulangi pesanan kami. “Tunggu sebentar.” Ia kembali ke konternya dengan langkah berat dan senyum puas.
Aku kembali duduk dan bertanya, “ada apa dengannya?”
Dengan sikap tidak acuh ia mengangkat bahunya lalu menghela napas, “jangan pikirkan.”
“Sepertinya kalian sangat dekat.”
“Aku selalu ke sini setelah ziarah.”
Aku mengangguk paham. “Tapi aku tidak mengerti kenapa dia bilang sangat cocok?”
Rev tersenyum sambil melihat keluar jendela. “Dia memang suka begitu.”
“Apa?”
Ia bersandar sekarang. “Nama.”
“Nama?”
“Namamu. Selene. Apa kau tahu artinya?”
Aku tersenyum, “tentu saja. Selene artinya bulan. Orang tuaku bilang aku lahir di malam bulan purnama yang cerah.”
“Kau dekat dengan orang tuamu, ya?”
Aku mengangguk. “Bagiku mereka kadang seperti orang tua, kadang seperti teman. Aku tidak punya saudara, jadi aku sangat senang disekitar mereka.”
Rev tidak bereaksi apa-apa saat aku mengatakannya. Mr.Silvesteir datang sambil membawakan pesanan kami. “Silahkan,” katanya.
“Terimakasih,” kataku.
Ia meninggalkan kami berdua lagi. Rev mengaduk isi gelasnya dan meminumnya sedikit.
“Rev,” aku memanggilnya.
Ia mengangkat kepalanya. “Ya?”
“Apa namamu benar-benar Rev?” tanyaku begitu saja.
Ia tidak menjawab untuk beberapa saat. Dan dalam saat-saat yang hening itu aku meyakinkan diriku kalau pertanyaan itu biasa saja. Tapi kenapa ia bisa membuatku gugup? Di bawah pandangan matanya aku tidak bisa berbohong. Dan di bawah tatapannya aku bisa bercerita banyak hal. Tapi aku tahu kalau dia tak pernah bercerita tentang dirinya dan itu membuatku penasaran.
“Kalau kau tidak mau jawab juga tidak apa-apa,” kataku buru-buru sambil mengangkat gelasku.
“Kau yakin kalau namaku bukan Rev?”
Pertanyaan itu membuat gerakanku terhenti. “Sebenarnya… aku punya firasat kalau namamu bukan itu. Maksudku nama aslimu.”
“Aku tidak punya hal bagus untuk diceritakan.”
Aku diam sejenak saat mencerna kalimat itu. “Kupikir tidak.” Kataku menyangkalnya. “Gates bilang kau adalah orang yang sangat baik dan penuh perhatian. Kau sangat pintar dan jenius. Kau punya banyak ide baru yang sangat menarik dan mereka semua menyukaimu.”
Dia hanya diam mendengarkan.
“Aku memang baru mengenalmu,” tambahku. “Tapi kenapa rasanya aku sudah lama mengenalmu?” aku menggelengkan kepala tanda bingung.
Ia menampakkan senyum angkuhnya sambil menatap kesamping, senyum yang kuanggap sangat berbahaya dan sangat menyebalkan. Tapi walau aku merasa diremehkan dengan senyum jahat itu, aku tetap saja tidak bisa memukulnya seperti niatku semula. Karena itu tanpa kusadari aku mengulurkan tanganku dan meletakkan satu jari telunjukku ke bibirnya.
Kami berdua sama-sama tersentak kaget. Aku segera menarik tanganku dengan cepat dan menyimpannya dipangkuanku. Dengan wajah malu aku menundukkan kepalaku dan berdoa dalam hati semoga ia tidak bertanya atau semoga Mr.Silvester tidak melihat hal itu. Jantungku berdegup kencang sekali dan itu membuatku sangat gelisah.
Aku meraih gelasku dengan tangan yang lain dan Rev menghentikannya. Ia meraih tanganku dan menggenggamnya. Aku tidak berani menatapnya.
“Apa kau masih menyukainya?” tanyanya padaku yang masih menunduk menahan malu.  
Aku terkejut mendengar pertanyaan itu. Apa aku masih menyukainya? Apa aku masih menyukai Gates? Aku tidak bisa membaca hatiku sekarang. Gates sudah menjadi cinta pertamaku dan perasaan itu adalah harta berharga yang masih bisa kurasakan hingga sekarang. Tapi kejadian malam tadi membuat aku merasa tidak yakin dengan perasaanku.
“Maaf,” ia melepaskan tanganku dan menarik tangannya menjauh. “Aku tahu kau berbeda.”
Aku mengangkat mataku dan melihat dia sedang memandang keluar jendela lagi dengan tatapan mata sendu.
“Kau tidak seperti kebanyakan gadis lainnya yang sudah kukenal. Aku tahu kalau kau orang yang sangat setia dengan perasaanmu. Dan aku juga tahu kalau kau belum pernah ciuman,” ia mengatakannya dengan terus terang dan itu membuatku makin malu.
“Apa aku salah?” aku bertanya. “Aku tahu kalau aku tidak seperti kebanyakan gadis lainnya. Aku hanya berpikir kalau aku tidak bisa mengkhianati orang yang kucintai. Kau bisa bilang kalau aku ini…”
“Tidak.” Potongnya. “Aku tidak bilang kalau itu salah. Aku justru kagum pada orang yang bisa menjaga kehormatannya.” Ia menatapku dengan wajah tenang dan seulas senyum kecil. “Ini hanya masalah pilihan. Dan apa yang kita lakukan di dunia ini semuanya hanya pilihan.”
Aku mengangguk setuju.
“Dibandingkan wanita, pria bisa memiliki banyak kekasih dan bisa tidur dengan siapapun yang mereka suka. Tapi saat mereka memiliki komitmen untuk serius, mereka akan setia sampai mati.” Sambungnya.
Aku masih mendengarnya sambil berusaha menerka kemana arah pembicaraan ini.
“Aku hanya ingin bilang itu saja,” katanya sambil meminum kopinya.
m � s M �� �~� style='text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%'>“Rev, aku ingin…”

Tapi ia menciumku lagi hampir dengan buas dan wajahku terasa semakin panas sampai akhirnya ia membiarkan tubuhku merosot perlahan ke lantai dan ujung jemari kakiku menyentuh lantai. Ia mengangkat kepalanya dan menatap mataku dalam-dalam. Aku menatap matanya yang menggelap dan membara di sana. Ia terlihat sangat sempurna. Aku hanya ingin ciuman ini tidak terhenti. Aku ingin menciumnya lagi.
Ia mengecup ringan bibirku lagi sebelum akhirnya menyandarkan dahinya di dahiku dan mencoba mengatur napasnya yang terengah.
Ibu jarinya dengan lembut menyentuh bibirku dan itu membuat mataku otomatis tertutup. Aku bisa merasakan sentuhannya di wajahku dan harum napasnya serta tubuhnya yang manis dan memabukkan. Aku menghirup napas dalam-dalam dan merasa kalau aku sangat ingin tenggelam di sana.
“Selene,” ia memanggil namaku dengan suara serak yang pelan. “Aku –”
Suara dering ponselnya langsung merusak suasana magis ini. Mataku seketika terbuka dan aku seakan-akan dihantam untuk kembali ke dunia nyata. Aku segera menjauh darinya sedangkan Rev mengumpat pelan sambil mengambil ponselnya yang ada di meja. Saat ia mengangkat teleponnya, aku langsung menjadi salah tingkah.
Apa yang kulakukan tadi? Aku dan Rev sudah… Aku menarik napas dalam-dalam dan mencoba menenangkan diri. Hanya saja aku merasa tidak bisa tenang sekarang. Dalam hidupku aku sudah bertekad kalau orang yang akan menciumku adalah orang yang paling kucintai. Dan aku sudah memutuskan kalau Gates orangnya. Tapi kenapa? Kenapa aku tidak berusaha lebih kuat lagi menghentikan Rev saat melakukannya?
Aku segera berjalan ke dapur dan mengambil air dingin di sana. Aku meminumnya agar wajahku yang panas bisa mereda dan aku bisa berpikir jernih.
“Gates meneleponku.”
Aku tersedak saat ia tiba-tiba bicara begitu.
“Kau tidak apa-apa?” tanyanya sambil menghampiriku.
Aku terbatuk dan menggeleng sebagai jawaban. Seharusnya aku tidak berbalik menatapnya karena hal pertama yang kulihat adalah bibirnya. Aku segera berbalik lagi dan memasukkan gelasku ke kulkas. Aku mencoba menarik napas sepelan mungkin dan menenangkan degup jantungku sendiri.
Aku butuh berpikir jernih.
“Dia menanyakanmu.” Rev melanjutkan. “Aku sudah bilang kalau aku mengantarmu pulang.”
Aku memejamkan mataku sejenak, memohon kekuatan untuk bisa berbalik dan menatapnya. “Terimakasih,” kataku sambil berbalik menatapnya dengan senyuman yang susah payah kuulas.
Ia menunduk menatapku karena jarak kami yang begitu dekat. Aku langsung melangkah mundur, tapi malah membentur dinding. Ia lalu menangkup wajahku dan menatapku. Aku langsung mengalihkan tatapan mataku.
“Maaf.”
Satu kata itu membuatku langsung menatapnya lagi. Ia menarik tangannya dan mundur untuk memberi jarak diantara kami.
Apa dia minta maaf karena telah menciumku? Aku bisa melihat penyesalan di wajahnya. Aku tidak ingin hanya karena ini hubungan pertemanan kami langsung merenggang begitu saja. Padahal baru kali ini aku merasa sedekat ini dengannya.
“Rev, aku–”
“Aku tahu,” katanya sambil mengangguk. “Aku harus pergi.” Ia berpaling dan pergi.
Kenapa aku merasa bersalah? Ini aneh.
Aku segera mengejarnya ke pintu dan menahan lengannya. “Tunggu!”
Ia berhenti dan menatapku. Aku segera kehilangan kata-kata. Memangnya aku ingin bilang apa? Aku segera berpikir karena dia masih menunggu.
“Terimakasih sudah mengantarku.” Kataku akhirnya.
Ia mengangguk dan aku melepaskan peganganku. “Hati-hati.” Kataku saat dia pergi.


You Might Also Like

0 comments: