The Moon and The Sun #18 - Rain

10:12 PM fe 0 Comments

18
Aku hanya berbaring sampai malam menjelang tanpa melakukan apapun. Aku tidak keluar lagi setelah itu. Aku juga tidak bisa membaca hatiku. Bayangan tentang mereka berdua masih terlintas dibenakku. Aku tidak mau melukai mereka, apalagi melukai orang sebaik Rev.
Karena merasa resah, akhirnya aku bangun tepat saat ponselku berdering. Nama Victor tertera di sana. Dengan cepat aku mengangkatnya.
“Halo?”
“Selene, ini aku Victor.” Aku mendengar nada suara panik dari sana. “Apa Rev bersamamu?” tanyanya buru-buru.
“Rev? Dia sudah kembali siang tadi. Memangnya kenapa?” tanyaku.
“Kami ingin mengadakan pertemuan malam ini tapi dia belum muncul-muncul juga.”
Aku berpikir sejenak lalu teringat sesuatu. “Ah! Tadi siang dia ingin bicara dengan Gates, mungkin…”
“Gates sudah ada di sini. Dia tidak datang ke sana tadi.” Potongnya cepat. “Aku juga sudah menghubungi ponselnya, tapi tidak bisa.”
“Apa?”
“Ya sudah kalau begitu, maaf mengganggumu.” Katanya akhirnya.
“Tidak apa-apa…” lalu sambungan terputus setelahnya.
Aku mengerutkan keningku saat mendengar berita itu. Di mana dia? Saat aku mencoba menghubungi ponselnya, ia tidak mengangkatnya. Lalu perasaanku berubah takut. Apa terjadi sesuatu? Apa ada hal buruk?

Jantungku berdegup kencang sekali dengan perasaan cemas yang membuncah. Tanpa pikir panjang aku segera berganti pakaian dan berlari keluar apartemen. Tiba-tiba aku menjadi sangat cemas dengannya. Tapi di mana aku bisa menemukannya? Aku tidak tahu. Berkali-kali aku menenangkan diri dan berkata kalau dia pasti baik-baik saja. Tapi semakin keras aku berusaha, semakin besar pula rasa cemas itu timbul. 
Aku terus berlari ditrotoar yang dingin dan tidak menghiraukan orang-orang yang menatapku. Satu atau dua kali aku menabrak orang yang berjalan berlawanan arah denganku. Aku segera meminta maaf dan kemudian berlari lagi. Tapi tak lama setelah itu aku berhenti karena napasku terlalu sesak.
Aku tidak biasa berlari dan aku sebenarnya paling takut berlari selama dan sekencang itu. Waktu kecil aku pernah melakukannya dan aku harus menahan sakit yang sangat luar biasa karena jantungku berdetak begitu cepat dan setelahnya aku sekarat. Tapi, walau aku sudah sembuh, aku masih takut melakukannya. Hanya saja untuk situasi seperti ini aku tidak punya pilihan lain. Dan aku serasa didesak dari dalam untuk melakukannya lebih cepat lagi.
Tapi dimana aku bisa menemukannya?
Aku mengambil ponselku lagi dan menekan nomornya tapi tetap saja ia tidak mengangkatnya. “Kau dimana?” bisikku cemas sambil terus mengatur napas. Aku memegangi dadaku dan merasakan detaknya yang cepat dan hebat. Aku harus bergegas, tapi kenapa aku belum menemukannya?
Aku mencoba memejamkan mataku dan membaca hatiku.
Kumohon. Kumohon bawa aku ke sana. Bawa aku ke tempat Rev sekarang!
Rasa cemasku yang aneh makin menjadi-jadi. Akhirnya aku memutuskan untuk menyetop taxi dan menekan rasa panikku sendiri.
Kumohon… Bawa aku bertemu dengannya!
Aku mengandalkan instingku untuk mencarinya. Mungkin ini memang hal gila yang pernah kulakukan. Tapi aku merasa kalau arah yang kutunjuk itu benar. Dari mana aku dapat kekuatan ini? Aku sendiri bingung. Hanya saja aku tidak ingin memikirkan masalah ketajaman instingku itu sekarang. Ada yang lebih penting dari itu!
Taxi yang kutumpangi berhenti disebuah blok rumah yang sangat sepi. Aku merasa seperti dituntun kembali pergi ke tempat yang pagi tadi kukunjungi. Aku ingat kalau tempat ini tidak begitu jauh dari area pemakaman Victoria Synyster.
Aku berjalan di trotoar yang sepi seolah-olah tidak ada orang yang tinggal di area perumahan ini. Aku tidak tahu kenapa aku bisa sampai dituntun kembali ke sini, hanya saja aku merasa kalau ini adalah tempat yang tepat sampai akhirnya aku berhenti di depan sebuah rumah besar berlantai dua yang megah.
Aku terdiam sejenak memandangi keindahan rumah itu sampai akhirnya tersentak oleh sesuatu yang sangat menyakitkan. Pikiranku langsung melayang pada Rev yang entah kenapa aku yakin ada di sana.
Tanpa basa-basi lagi aku langsung menerobos masuk melewati pagar yang hanya ditutup rapat saja dan langsung menyerbu ke dalam rumah. Perasaanku semakin tajam saat aku yakin kalau dia ada di lantai dua. Aku berlari melalui tangga dan langsung menyerbu masuk ke pintu ke dua dari tangga. Di sana aku melihat Rev terbaring di ranjangnya dengan mata terbuka lebar dan kejang.
Aku hampir terduduk lemas melihat pemandangan itu. Tapi tidak ada waktu untuk terkejut dan jatuh. Aku segera menyerbu kearahnya dan melihat kondisinya yang parah. Mulutnya mengeluarkan busa dan ia masih terus kejang-kejang.
“Rev! Rev!” aku menepuk-nepuk pipinya. Saat aku turun dari sana, aku melihat obat-obatan tersebar disampingnya. Dengan susah payah aku menekan rasa panikku. Aku menekan 911 untuk meminta bantuan segera.
“Apa yang kau lakukan?” tanya suara seseorang yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar itu. Seorang pria tua bermuka keras dan marah masuk ke dalam dan meneriakiku. “Kau–”
“Tolong! Rev sedang –”
Tanpa mendengar apa-apa lagi ia segera beranjak ke sisi tempat tidur dan melihat kondisinya. Pria tua itu mengumpat kesal sambil meneriakkan nama seseorang.
“Pedro! PEDRO!” ia terlihat tidak sabar sekarang dan aku seketika melangkah mundur.
Seorang pria muda Spanyol yang tinggi dan kekar langsung masuk ke dalam kamar saat namanya dipanggil dan ia seketika terkejut melihat kondisi Rev,
“Bantu aku mengangkatnya ke mobil!” perintahnya sambil merogoh saku celananya. Ia melemparkan sebuah kunci padaku. Aku menangkapnya. “Kau nyalakan mobilnya! Cepat!”
Dengan cepat aku berlari keluar ruangan dan menuruni tangga. Aku panik! Dan saat aku keluar rumah, aku melihat sebuah mobil terparkir di depan sana. Dengan cepat aku menekan tombol pada kunci itu, masuk ke dalam, dan berusaha memasukkan kuncinya.
“Tenang… Tenang!” perintahku pada diriku sendiri yang gemetaran dan panik. “Sial!” kataku saat kunci itu belum masuk ke dalam lubang nya. Aku mencobanya lagi dan akhirnya berhasil. Aku menstater mobilnya dan melajukannya hingga ke pintu depan.
Pedro dan orang tua itu datang sambil menggendong Rev yang masih kejang dan terlihat sangat sakit. Aku turun dari mobil dan segera membuka pintu belakang. Pedro segera masuk duluan disusul Rev. Aku kembali ke kursi kemudiku dan orang tua itu segera menghentikanku.
“Kau tidak bisa melakukannya!” katanya tegas sambil masuk ke dalam mobil. “Duduk di sampingku.” Perintahnya.
Aku buru-buru mengintari mobil itu dan langsung masuk ke dalam. Kami langsung mengebut menuju rumah sakit terdekat yang ada di sana untuk membuat Rev tenang sebelum semuanya terlambat. Sesekali aku menengok ke belakang, kepada Rev yang terlihat masih kesakitan. Aku menekan rasa panikku dan dengan tangan gemetar meraih ponselku.
Mobil melaju dengan kecepatan benar-benar tinggi sehingga aku berdoa dalam hati kalau kami bisa sampai dengan selamat ke rumah sakit. Hanya dalam waktu singkat kami bisa langsung masuk ke halaman parkir rumah sakit. Aku langsung turun dan membantu Rev untuk keluar dari sana. Aku bisa melihat wajah Rev yang menegang, rasa sakit, dan kejang tubuhnya yang masih berlanjut. Beberapa perawat langsung berdatangan membantu kami membaringkannya di atas brankar dan membawanya langsung ke IGD.
Rasanya aku tak bisa bernapas untuk beberapa saat. Firasatku terbukti sudah. Rev memang dalam bahaya. Dan sekarang aku berdoa dalam hati kalau dia akan baik-baik saja. Tidak. Berdoa saja tidak cukup. Aku harus yakin kalau ia akan baik-baik saja. Sambil duduk di bangku depat IGD aku berusaha menenangkan diri.
“Terima kasih…”
Aku langsung mendongak saat pria tua bertampang keras itu mengucapkannya di bangku seberangku. Kali ini aku bisa melihat wajahnya dengan lebih jelas. Selama berada di rumah Rev tadi aku tidak bisa memperhatikannya dengan baik karena aku panik dan suasana kamar Rev yang remang-remang. Dan aku terkejut saat sesuatu melintas di benakku.
Aku berdiri, mendekatinya, dan duduk di sampingnya.
“Anda..” aku menyipitkan mataku dan mengingat-ingat namanya. Wajahnya sama sekali tidak asing. “Anda… Dokter? Dr.Synyster?” aku memperhatikan wajahnya yang sangat familiar di benakku.
Ia terkejut menatapku. “Dari mana kau tahu?”
Pelan-pelan senyumku mengembang. “Dokter tidak ingat? Aku Selene! Selene Anderson!” aku mengingatkannya dengan wajah yakin.
Ia tampak berpikir sejenak dan akhirnya terkejut. “Kau… Selene? Kau anak Robert Anderson itu? Pasien jantungku?”
Aku mengangguk cepat.
Ia terlihat takjub. “Ya Tuhan… Kau sudah besar ternyata.”
Aku tersenyum. “Terima kasih karena telah menyelamatkanku waktu itu.”
Ia menggeleng. “Tuhan yang menyelematkanmu.” Ia mengangguk bijak. “Bagaimana dengan jantungmu?”
“Sehat.” Kataku yakin. “Aku sangat berterima kasih pada orang yang mendonorkannya.”
“Yah… Kalau kau menjaganya, dia pasti sangat senang.” Lalu wajahnya terlihat muram. Ia memandangi pintu IGD itu.
“Rev pasti akan baik-baik saja.” Kataku meyakinkannya.
Ia menatapku bingung. “Rev?” tanyanya.
“Rev. Namanya Rev… Yah, setidaknya itulah yang dikatakannya padaku walau aku yakin kalau namanya bukan itu...”
Ia menatapku sejenak sebelum akhirnya mendesah. “Dasar anak itu…” katanya pelan sambil menyapu rambutnya dengan tangan dan bersandar. “Kau sudah bertemu dengannya rupanya.”
“Apa?” aku tidak mengerti dengan apa yang dikatakannya.

“Namanya Cirino. Cirino Synyster lebih tepatnya. Dia anak lelakiku.”

You Might Also Like

0 comments: