The Moon and The Sun #15 - Rain

10:09 PM fe 0 Comments

15
Aku masuk ke kamar untuk istirahat. Malam ini sungguh melelahkan. Saat aku tanpa sengaja menghadap cermin, aku mendapati sesuatu. Rambutku berantakan seperti diacak-acak badai. Dan aku ternganga.
Bodoh! Jadi dari tadi Rev melihatku berantakan?
Aku memejamkan mata dan dengan segera merebahkan diri ke ranjang. Ini benar-benar membuatku malu! Dan aku tidak pernah merasa semalu ini. Dan aku tidak pernah mendapat ciuman seperti itu.
Kenapa aku tidak berteriak padanya? Kenapa aku tidak menuntutnya untuk mengembalikan ciuman pertamaku? Aku menghela napas berat dan merasa kalau semuanya menjadi berat. Di satu sisi aku sudah melanggar sumpahku kalau ciumanku hanya untuk Gates. Tapi malam ini Gates membuatnya terasa sulit. Di sisi lain aku merasa mengkhianatinya. Di sisi lain lagi aku merasa kami berdua impas, ia mencium wanita itu, aku mencium Rev. Tapi di sisi lain lagi… aku sangat ingin Rev menciumku lagi.
Dan fakta terakhir membuatku mukaku memerah.
Semua hal yang terjadi tadi – caranya menciumku, sentuhannya, harum tubuh dan napasnya – membuatku gila. Aku tak ingin ia berhenti dan aku tak ingin… merindukannya? Kenapa aku sangat ingin dia ada di sini?
Oh! Diamlah! Aku tidak suka mendengar degup jantungku sendiri sekarang.


Esok paginya aku bangun dalam keadaan linglung. Aku malas turun dari tempat tidur padahal aku tahu kalau matahari sudah bersinar terang di luar sana. Tampaknya hari ini sangat cerah. Tapi aku tidak harus bangun, kan? Aku tidak punya jadwal apapun di sini. Aku bisa malas-malasan seharian.
Sambil berguling-guling di atas tempat tidur, aku menolak berpikir tentang apa yang terjadi semalam. Ini hari baru dan aku tidak suka bangun dengan perasaan yang sama dengan hari kemarin.
Lalu ponselku berdering dan dengan malas aku mengangkatnya.
“Ya?”
“Selene? Kau sudah bangun?” tanya Gates dari seberang sana.
Aku segera terduduk. “Ya? Oh, ya, tentu saja.” Jawabku cepat sambil berusaha menjernihkan pikiran.
“Apa kau sudah baikan?” tanyanya.
“Eh?” aku tidak mengerti.
“Sakitmu.” Ia mengingatkanku. “Apa kau sudah tidak apa-apa?”
Aku teringat dengan kebohongan semalam. “Oh, ya… Sudah hilang, kok.” Jawabku.
“Maaf, aku tidak bisa mengantarmu.”
“Tenang saja. Rev mengantarku pulang dengan selamat, kok.”
“Yah, aku percaya padanya.” Katanya senang. “Dia benar-benar sangat baik, kan? Aku sudah bilang itu padamu.”
Aku menarik napas, “aku tahu. Kau tak usah menekankan kalimat itu.”
“Kalau begitu sampai nanti.”
“Ya, sampai nanti.”
Aku mematikan ponselku dan memutuskan untuk mencuci muka lalu menggosok gigi. Saat aku mengganti pakaian, tiba-tiba jantungku berdegup kencang lagi. Aku merasa seakan-akan ditarik lagi untuk pergi kesuatu tempat.
Dan lagi-lagi aku harus ke sana sesegera mungkin.
Dengan cepat aku mengenakan jaket, mantel, dan sarung tanganku. Aku segera meninggalkan apartemen dan mengikuti instingku. Kemana dia akan membawaku sekarang?
Aku memanggil taxi dan menunjukkan arah yang ingin kutempuh. Aku menunjuk bengkolan di depan sana. Hampir tiga puluh menit berlalu saat akhirnya taxi itu kuminta berhenti.
Aku turun dari mobil setelah membayarnya dan melihat di mana aku sekarang. Aku berdiri di depan gerbang pemakaman yang ada dipinggir kota Chicago. Tempat ini diselimuti salju di mana-mana. Aku melangkah memasuki gerbang itu dan mengelilingi tempat itu.
Heran. Kenapa aku sekarang dituntun ke tempat seperti ini? Aku masih terus melangkah, mengabaikan dengan sekuat tenaga perasaan-perasaan takutku sendiri. Aku sama sekali tidak suka jika sampai bertemu hantu.
Aku berdebar-debar dengan perasaan takut dan gelisah saat mengelilinginya. Tiba-tiba aku berhenti di depan sebuah batu nisan saat pikiranku berkata kalau di sini tempatnya. Aku berdiri di depan sebuah batu nisan yang ditutupi salju tebal. Aku berlutut di sana lalu mengulurkan tangan untuk membersihkan salju yang menutupinya sehingga aku tahu makam siapa ini.

VICTORIA SYNYSTER
1983 – 1991

Aku mencermati namanya. Victoria? Aku tidak pernah punya teman atau kenalan yang bernama Victoria. Lalu kenapa aku merasa sangat dekat dengan orang ini? Aku ingat kalau musim dingin tahun 1991 adalah saat aku dioperasi. Tapi seingatku aku tidak pernah bertemu dengan orang ini dulu. Hanya saja aku bisa merasakan perasaan hangat saat berada di sini, seolah-olah aku diterima dan seolah-olah aku bertemu dengan teman lama.
Victoria Synyster pastilah orang yang sangat baik.
“Sedang apa kau di sini?”
Aku terlonjak kaget dan hampir jatuh terduduk saat mendengar suara itu. Hanya saja orang itu menahanku agar tidak terjatuh.
“Maaf, aku…” seketika aku terdiam saat terkejut menatap wajahnya. “Rev?” aku tidak menyangka dia ada di sini. Tapi ia sama sekali tidak terlihat terkejut.
Ia menarikku berdiri dan aku langsung menghela napas lega. “Kupikir siapa,” gumamku.
“Yah, kupikir juga siapa.” Ia menatap makam itu sekarang. “Kenapa kau di sini?”
Aku bingung sekarang. “Sebenarnya… Aku tidak tahu.” Aku tahu kalau jawaban itu sama sekali tidak membantu. “Aku hanya tiba-tiba ingin di sini…” aku melihat karangan bunga yang dibawa Rev ditangannya. Setangkai bunga mawar putih yang sangat cantik. Sebelum aku sempat bertanya ia berlutut di depan makam itu dan meletakkan bunga itu di sana.
Ia tersenyum lembut saat melakukannya dan itu membuatku tertegun. Victoria pasti adalah orang yang sangat penting baginya. Itu membuatku sedikit iri…
Aku mundur beberapa langkah untuk memberi ruang baginya. Sebenarnya aku ingin pergi saja, tapi rasanya itu tidak sopan. Aku membiarkannya berdoa.
“Sudah lama sekali,” katanya sambil berdiri lagi.
“Kau mengenalnya?” tanyaku memastikan.
“Ya,” jawabnya sambil mengangguk. “Kau mengenalnya?” tanyanya balik.
“Aku? Sebenarnya tidak.” Jawabku jujur.
“Tapi kau di sini.” Ia mengingatkanku.
Aku mengangkat bahu dengan wajah tidak tahu dan bingung, “aku hanya tiba-tiba ingin di sini dan… yah… hanya begitu.” Aku menggigit bibir sekarang.
“Jangan gigit bibirmu,” katanya sambil menyentuh sekilas bibirku dengan jari telunjuknya.
Sentuhan ringan itu membuat jantungku tersentak dan aku terdiam. Sepertinya dia juga merasakan hal yang sama. Rev buru-buru menarik tangannya dan melihat makam itu lagi. Kami diam untuk beberapa saat.
Aku tersenyum, “dia pasti orang yang sangat berharga bagimu.”
“Sangat.”
Aku merasa jantungku lagi-lagi berdebar keras. Ada perasaan senang yang tiba-tiba muncul di sana. “Well… Dia pasti sangat beruntung.”
“Kenapa?”
Aku tersenyum lembut, “karena kau mencintainya.”
Dia menatapku sejenak dan itu membuatku hampir salah tingkah. “Apa itu begitu istimewa?”
“Tentu saja. Kau sangat baik, dan lembut. Kau juga penyayang. Dia pasti senang saat bersamamu.” Jawabku begitu saja.
Rev menatap makam itu, “kau pikir aku orang baik?”
Aku berkedip dan bingung. Apa aku salah menilainya?
Ia menatapku lagi. “Saat aku menciummu, apa kau pikir aku orang baik?”
Aku terkesiap karena diingatkan lagi dengan kejadian semalam. Kali ini aku tidak bisa memberikan penilaian tepat atas itu. Aku merasa malu dan dengan cepat mengalihkan tatapanku ke nisan itu.
“Kalau boleh tahu, siapa dia?” tanyaku mencoba mengalihkan topik pembicaraan lagi.
“Kau bisa bilang kalau dia orang yang paling berharga. Dia seperti nyawa kedua. Dia orang yang sangat ceria dan bisa membuatku tenang.”
Aku menatapnya saat ia bercerita.
Victoria itu sangat luar biasa. Ia selalu menemukanku dimanapun aku berada.” Sambungnya. “Dan dia akan selalu begitu.” Tambahnya pelan.
“Benarkah?” tanyaku pelan. “Aku jadi iri…”
“Hm?” ia menatapku dengan tatapan tidak mengerti.
“Dalam hidupku, aku belum pernah mendapat janji seperti itu. Tidak ada yang berjanji kalau dia akan menemukanku dimanapun aku berada. Kalau ada yang berjanji seperti itu, bukankah itu sangat luar biasa?” aku meminta pendapatnya.
Ia tertawa kecil. “Bagaimana bisa ia menemukanku lagi sedangkan dia sudah tidak di sini?”
Aku berpikir sejenak. “Mungkin dia tidak perlu menemukanmu. Dia hanya harus mengawasimu.”
Ia menatapku lagi. Aku tersenyum padanya saat berkata, “suster yang sangat dekat denganku selalu bilang kalau ia selalu diawasi oleh orang-orang yang disayanginya. Tuhan, suaminya, anaknya, orang tuanya. Ia selalu menunjuk ke langit dan berkata kalau mereka akan menangis jika aku nakal.” Lalu dengan pelan aku berkata, “aku benci membuat orang menangis.”
“Karena itu kau begitu baik.”
Aku mengangkat kepalaku dan melihatnya tersenyum.
Aku menggeleng. “Aku tidak tahu aku sejahat apa atau sebaik apa. Aku hanya…” aku menarik napasku. “Aku hanya tidak suka melakukannya. Dulu Mama suka menangis diam-diam saat sakitku kumat. Aku tidak mau melihat hal itu lagi. Kau tahu? Itu sangat menyakitkan.”  
Ia melepaskan tangannya. “Begitu juga dengannya.” Katanya. “Dia juga tidak suka membuat orang menangis. Hatinya sangat baik… terlalu baik malah. Aku selalu merasa sangat berhutang budi padanya. Dia tahu bagaimana caranya membuatku tertawa.”
Aku merasa bersyukur bisa datang ke sini karena bisa melihat sisi Rev yang lain, sisinya yang lembut dan terlihat penuh rasa sayang. Wajahnya melembut saat membicarakan tentang Victoria.
“Kalau boleh tahu… dia meninggal karena apa?” pertanyaan itu muncul begitu saja dalam pikiranku. Tapi aku merasa kalau aku kembali membawa Rev pada hal yang tak ingin diingatnya. Aku buru-buru berkata, “Oh, maaf, maksudku, kalau boleh aku tahu…” nadaku melemah saat ia mengubah posisi berdirinya menjadi santai.
“Waktu kami masih kecil… orang itu melakukannya.” Ia mulai bercerita.
“Orang itu?”
Ia menatapku, “ayahku.” Jawabnya. “Dia membunuhnya.”
Aku terkejut, tidak menyangka akan mendengar pengakuan itu darinya. Ayahnya membunuh Victoria. “Aku yakin saat itu Tara masih hidup. Tapi si brengsek itu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.”
Aku tahu kalau yang dimaksud dengan ‘si brengsek’ itu pasti ayahnya. Dan aku hanya bisa diam membiarkan dia bicara.
“Aku sangat membenci orang-orang yang mendukung kematiannya. Sampai saat pemakamannya dan sampai sekarang aku sangat yakin kalau dia masih hidup. Dan aku yakin kalau dia dikubur hidup-hidup.” Matanya memancarkan kesedihan bercampur amarah yang bisa membuatku merinding. Lalu dengan marah dan suara rendah ia berkata, “aku takkan memaafkan mereka yang telah membunuhnya sampai kapanpun.”
Aku melihat tangannya terkepal dan tatapannya yang dingin. Dengan cepat aku meraih tangannya dan menggenggamnya berharap cara ini dapat menenangkannya. Ia menatap ke bawah, kearah tangan kami.
“Maafkan aku,” kataku sungguh-sungguh. “Sebaiknya aku tidak –”
“Kau boleh bertanya.” Potongnya. “Terima kasih sudah mau datang ke sini.” Katanya padaku.
“Hanya kebetulan…”
Ia menggeleng, “kami tidak percaya pada kebetulan.”
Kami? Apa itu maksudnya ia dan Victoria?
Tara selalu bilang kalau semuanya pasti ada jalan. Tidak ada yang namanya kebetulan.”
Tara?”
“Itu panggilannya.”
Aku menatap nisan itu lagi. Victoria Synyster, gadis kecil yang meninggal diusia delapan tahun itu sudah bisa berpikir sejauh itu. Aku tersenyum karenanya.
Benar. Tidak ada yang kebetulan.

Salam kenal, Tara.

You Might Also Like

0 comments: