The Moon and The Sun #14 - Rain

10:09 PM fe 0 Comments

14
Selama di perjalanan hingga masuk ke dalam apartemenku sendiri, aku hanya diam. Rev juga tidak memancingku dengan pertanyaannya. Aku hanya merasa ingin menangis saat itu juga tapi tak bisa. Aku tak bisa merepotkan Rev walau hatiku ingin berteriak.
Di sana, di depan mataku aku melihat Gates dan wanita itu… Yah… selama ini aku berpikir kalau Gates memang pasti akan melakukan itu. Tapi aku tidak siap saat ia benar-benar melakukannya di depan mataku. Lebih tepatnya aku tidak sengaja melihatnya berciuman di sana.
Aku menyentuh bibirku. Selama ini aku menahan diri untuk berciuman dengan siapapun hanya karena aku percaya kalau hanya dengannya aku akan melakukannya. Tapi sepertinya harapan itu terlalu polos dan naif. Mana ada yang seperti itu. Aku merasa hancur dan aku masih harus menahannya karena Rev ada di sini.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Rev saat menghampiriku.
Aku menggeleng sebagai jawaban. “Terima kasih… kau sudah menyelamatkanku.”
Ia memperhatikanku baik-baik. “Kau melihatnya.” Itu lebih seperti pernyataan, bukan pertanyaan.”
Aku menarik napasku. “Aku… Yah…” aku tidak bisa melanjutkan kalimatku.
“Sekarang kau sudah tahu, kan?”
Aku mengangguk sambil menundukkan kepala. Lalu aku merasa ia menyentuh bahuku dan aku dituntun untuk mendekat padanya. Saat aku berada dipelukannya, saat itu juga pertahananku hancur.
Aku menangis sejadi-jadinya sambil memeluknya. Aku tak bisa bersuara. Rev dengan sabar menungguku merasa tenang. Ia mendekapku erat sambil membelai rambutku dan itu membuatku merasa hilang kendali. Aku terisak dan ia tidak mengatakan apapun.
Ia membiarkanku menumpahkan semua emosiku hingga aku puas.

.
“Seharusnya aku tidak perlu sekaget itu.” Kataku pelan. Aku sudah menceritakan apa yang terjadi hari ini padanya setelah lima menit penuh menangis dipelukannya. Aku menceritakan tentang Gates yang mengajakku keluar masuk toko untuk mencari hadiah. “Tapi rasanya aneh kalau aku tidak sekaget itu.” Aku tertawa miris.
Rev menunjukkan wajah paham. “Aku tahu kalau itu sangat menyakitkan.”
Aku diam sebelum akhirnya mendesah. “Yah… mungkin sudah saatnya menyerah…” kataku pasrah. “Sebenarnya salahku juga tidak mengakui perasaanku dari dulu. Tapi… jika aku mengakuinya… apa kejadian ini akan ada?” aku menggelengkan kepala sambil tersenyum getir. “Kupikir cukup. Gates hanya menganggapku sebagai teman lelakinya… sama seperti Flea, Joe, dan Victor…”
Rev menatapku sejenak. “Lalu apa yang akan kau lakukan?”
Menjauh? Menghilang? Kembali pulang? Bekerja? Pilihan-pilihan itu tampak sangat menggoda untuk dilakukan. Tapi aku masih berhutang satu lagu pada mereka dan aku tak ingin membuat mereka curiga kalau aku tiba-tiba kembali ke Indonesia. Aku menatap Rev dan menemukan hal yang membuatku merasa kalau pilihan-pilihan tadi adalah neraka. Kenapa? Aku juga tidak tahu kenapa.
“Mungkin butuh waktu untuk melakukannya.” Kataku pelan. “Bagaimanapun juga aku harus meneimanya. Aku dan Gates sudah berteman sejak kecil. Aku tidak ingin hubungan kami rusak hanya gara-gara ini.” Aku meyakinkan diriku kalau semuanya akan baik-baik saja. “Aku harap setelah malam ini semuanya akan kembali seperti semula.”
“Kau butuh keajaiban untuk hal itu. Tidak mungkin semuanya menghilang dalam semalam.” Kata Rev.
Aku menundukkan kepalaku dan membenarkannya. Butuh waktu untuk kembali menjadi diri sendiri.
“Kau tahu?” tanyaku. “Kebenaran itu sungguh dingin.” Sambungku pelan.
Tiba-tiba ia meraih ranselku dan mengambil satu bungkusan yang menonjol keluar dari dalamnya. Aku ingat kalau kembang api itu tidak muat masuk ke dalam ransel kecilku. Ia menarik keluar bungkusan itu dan langsung membuka isinya. “Kadang kita yang harus membuat keajaiban.” Gumamnya sambil mengeluarkan isinya. Ia berdiri dan membuka jendela beranda apartemenku.
Aku memperhatikannya saat ia mengambil sebatang kembang api dan menyulut apinya dengan korek api miliknya. Batang kembang api itu terbakar dan menyemburkan euphoria musim panas di musim dingin. Ia memperhatikan kembang api itu sambil mengulas senyum manis yang mungkin tanpa sadar ia lakukan.
Aku merasa terpana dan langsung berdiri menghampirinya. Aku mengambil satu batang kembang api dan menyulutnya. Sesaat kemudian kami tenggelam dalam dunia yang berbeda. Aku tiba-tiba melupakan masalahku saat kami bermain kembang api ini. Diiringi cerita Rev tentang kekonyolan Joe dan Victor yang membuatku tertawa, aku merasa seperti orang yang berbeda. Saat ia tertawa lepas dan bahagia seperti ini aku melihat sisi lainnya. Wajahnya terlihat seperti anak-anak. Sangat amat manis.
Ia menatapku sambil tersenyum lebar. Ia memutar kembang api yang dipegangnya sehingga terlihat seperti lingkaran api yang cantik. Aku mengikutinya, memutar kembang apiku sendiri. Siapa sangka orang yang paling kusegani saat awal bertemu itu ternyata punya sisi lain yang sangat kusukai? Ia bisa menghiburku dalam sekejap sehingga aku bisa melupakan kejadian hari ini.
Sakitku seperti menghilang. Sama seperti saat Dr.Synyster datang untuk menenangkan jantungku yang sakit, ia datang untuk menenangkan hatiku yang sakit.
Kemudian api kembang api kami mulai padam.
Apa setelah api ini habis aku bisa tertawa lagi? Apa setelah malam ini berakhir aku bisa tersenyum lagi melihat Gates? Apa perasaanku masih sama?
“Kau belum mau menyerah?” tanya Rev padaku.
Aku menatapnya dan terdiam. Aku tidak tahu harus bilang apa. Apa aku akan menyerah? Apa aku siap menyerah? Rasa suka yang sudah kupendam sejak dulu itu apa akan jadi sia-sia?
Aku menundukkan kepalaku. “Entahlah.” Jawabku lemah. Bayangan Gates yang mencium perempuan itu melintas lagi dibenakku padahal tadi aku sudah lupa.
Kami hanya diam untuk beberapa saat. Hujan salju turun lagi di luar sana. Aku mengulurkan tanganku dan menangkap butiran-butiran salju yang turun. Rasanya sedingin es dan aku cepat-cepat menarik tanganku lagi.
“Ayo masuk. Di sini terlalu dingin,” ajakku sambil masuk duluan.
Saat aku baru melangkah ke dalam, tiba-tiba ada sepasang tangan yang memelukku dari belakang. Aku terkejut dan mencoba berbalik. Tapi ia mengencangkan pelukannya dan membuatku tetap diam di tempat.
“Rev, aku–”
“Apa kau bisa melupakannya?” tanyanya pelan tepat di telingaku.
Seketika aku merasa merinding karena bisa mendengar suara napasnya di sana. Itu membuatku merasa nyaman sekaligus berdebar-debar. Tapi ini tidak boleh.
Aku mencoba lepas dari pelukannya.
“Rev! Jangan –” tapi ia segera memutar tubuhku menghadapnya dan membungkamku dengan bibirnya sehingga aku merasa jantungku seperti ingin melompat keluar. Pikiranku berputar cepat. Seharusnya ini tidak terjadi! Tapi setiap kali aku mencoba untuk menghentikannya, setiap kali itu juga ia menahanku untuk tetap di sana sampai akhirnya ia memegang kepalaku, memantapkan pegangannya, dan menciumku dengan sikap menuntut.
Dan tanpa sadar aku membalas ciumannya dengan pelan. Aku membuka bibirku, mencoba merasakannya, dan dalam sekejap aku seperti kehilangan arah. Aku gemetar. Bibirnya terasa lembut dan amat sangat manis. Aku terpana. Lututku melemas dan aku harus berpegangan pada lehernya supaya tidak jatuh. Ia menciumku lembut sekarang dan mendekapku erat di dadanya. Sangat erat sehingga membuatku sesak dan sulit bernapas. Tapi aku merasa sangat nyaman dan aku tak ingin ia berhenti melakukannya.
Ia melakukannya seperti sihir saat jari jemarinya mengelus pipiku dan saat ia membujukku lembut dengan lidahnya. Seketika aku gemetar saat ia melakukannya. Aku mencengkram rambutnya, mengacaknya, dan membelainya. Aku merasa pikiranku sudah dipenuhi dengan kabut dan yang ada hanyalah dia yang menuntunku dengan sentuhannya. Aku mendengarnya menggeram dalam dan itu membuatku semakin menginginkannya.
Aku belum pernah merasakan seperti apa rasanya berciuman dan sekarang aku merasakannya. Pikiranku lenyap dan aku merasa sangat berdebar-debar serta gemetar saat ia melakukannya. Selama ini aku berharap Gates akan melakukan ini padaku, tapi aku tak menyangka kalau Rev yang melakukannya padaku dan itu membuatku merasa senang sekaligus takut.
 Aku seketika mengerang saat merasakan ujung jemarinya yang dingin membelai punggungku dengan lembut dan ringan. Aku hilang akal. Dengan reflek aku melengkungkan punggungku agar semakin merapat ketubuhnya dan mencengkram bahunya. Aku terkesiap dan ia menangkap hembusan napasku dengan cepat lalu aku merasa seperti diangkat.
“Rev, aku ingin…”
Tapi ia menciumku lagi hampir dengan buas dan wajahku terasa semakin panas sampai akhirnya ia membiarkan tubuhku merosot perlahan ke lantai dan ujung jemari kakiku menyentuh lantai. Ia mengangkat kepalanya dan menatap mataku dalam-dalam. Aku menatap matanya yang menggelap dan membara di sana. Ia terlihat sangat sempurna. Aku hanya ingin ciuman ini tidak terhenti. Aku ingin menciumnya lagi.
Ia mengecup ringan bibirku lagi sebelum akhirnya menyandarkan dahinya di dahiku dan mencoba mengatur napasnya yang terengah.
Ibu jarinya dengan lembut menyentuh bibirku dan itu membuat mataku otomatis tertutup. Aku bisa merasakan sentuhannya di wajahku dan harum napasnya serta tubuhnya yang manis dan memabukkan. Aku menghirup napas dalam-dalam dan merasa kalau aku sangat ingin tenggelam di sana.
“Selene,” ia memanggil namaku dengan suara serak yang pelan. “Aku –”
Suara dering ponselnya langsung merusak suasana magis ini. Mataku seketika terbuka dan aku seakan-akan dihantam untuk kembali ke dunia nyata. Aku segera menjauh darinya sedangkan Rev mengumpat pelan sambil mengambil ponselnya yang ada di meja. Saat ia mengangkat teleponnya, aku langsung menjadi salah tingkah.
Apa yang kulakukan tadi? Aku dan Rev sudah… Aku menarik napas dalam-dalam dan mencoba menenangkan diri. Hanya saja aku merasa tidak bisa tenang sekarang. Dalam hidupku aku sudah bertekad kalau orang yang akan menciumku adalah orang yang paling kucintai. Dan aku sudah memutuskan kalau Gates orangnya. Tapi kenapa? Kenapa aku tidak berusaha lebih kuat lagi menghentikan Rev saat melakukannya?
Aku segera berjalan ke dapur dan mengambil air dingin di sana. Aku meminumnya agar wajahku yang panas bisa mereda dan aku bisa berpikir jernih.
“Gates meneleponku.”
Aku tersedak saat ia tiba-tiba bicara begitu.
“Kau tidak apa-apa?” tanyanya sambil menghampiriku.
Aku terbatuk dan menggeleng sebagai jawaban. Seharusnya aku tidak berbalik menatapnya karena hal pertama yang kulihat adalah bibirnya. Aku segera berbalik lagi dan memasukkan gelasku ke kulkas. Aku mencoba menarik napas sepelan mungkin dan menenangkan degup jantungku sendiri.
Aku butuh berpikir jernih.
“Dia menanyakanmu.” Rev melanjutkan. “Aku sudah bilang kalau aku mengantarmu pulang.”
Aku memejamkan mataku sejenak, memohon kekuatan untuk bisa berbalik dan menatapnya. “Terimakasih,” kataku sambil berbalik menatapnya dengan senyuman yang susah payah kuulas.
Ia menunduk menatapku karena jarak kami yang begitu dekat. Aku langsung melangkah mundur, tapi malah membentur dinding. Ia lalu menangkup wajahku dan menatapku. Aku langsung mengalihkan tatapan mataku.
“Maaf.”
Satu kata itu membuatku langsung menatapnya lagi. Ia menarik tangannya dan mundur untuk memberi jarak diantara kami.
Apa dia minta maaf karena telah menciumku? Aku bisa melihat penyesalan di wajahnya. Aku tidak ingin hanya karena ini hubungan pertemanan kami langsung merenggang begitu saja. Padahal baru kali ini aku merasa sedekat ini dengannya.
“Rev, aku–”
“Aku tahu,” katanya sambil mengangguk. “Aku harus pergi.” Ia berpaling dan pergi.
Kenapa aku merasa bersalah? Ini aneh.
Aku segera mengejarnya ke pintu dan menahan lengannya. “Tunggu!”
Ia berhenti dan menatapku. Aku segera kehilangan kata-kata. Memangnya aku ingin bilang apa? Aku segera berpikir karena dia masih menunggu.
“Terimakasih sudah mengantarku.” Kataku akhirnya.
Ia mengangguk dan aku melepaskan peganganku. “Hati-hati.” Kataku saat dia pergi.


You Might Also Like

0 comments: