The Moon and The Sun #13 - Rain
13
Rev menuntunku
memasuki Chrome Café setelah kami hampir lima
belas menit melaju di jalanan Chicago
yang ramai. Hentakan musik terdengar memekakkan telinga saat kami baru saja
melewati pintu depan. Aku bertanya-tanya kenapa Rev membawaku ke sini. Sambil
membetulkan letak ranselku, aku berjalan mengikutinya. Untung saja ia
menggenggam tanganku karena suasana di dalam sini sangat ramai.
Saat aku bisa
melihat siapa vokalis yang sedang berteriak-teriak di depan sana , aku langsung tercengang.
“Flea?” seruku tak
percaya.
“Well, ini hanya
mini konser. Chrome mengundang mereka untuk off air malam ini.” Terang Rev yang
berdiri dekat di sampingku.
Aku melihat
euphoria dari para penonton yang didominasi anak muda berpakaian hitam. Suara
teriakan mereka saat mengikuti Flea bernyanyi teredengar sangat kompak. Raven
sedang tampil memukau dan penuh semangat. Joe dan Gates sedang meloncat-loncat
puas di depan sana
sedangkan Victor dengan leluasa menabuh drumnya secepat kilat. Semua orang
berteriak memanggil nama mereka dan menyanyikan lagu mereka dengan teriakan. Aku
menyipitkan mataku dan meresapi irama dan lirik lagu mereka. Tepat sepuluh menit kemudian suasananya
tiba-tiba berubah sesak dan panas. Aku tidak bisa mengikuti hentakan bass dan
drum mereka yang keras.
Seketika aku panik.
Aku balik menggenggam erat tangan Rev dan mencoba mencari pegangan lain. Rev
menyadarinya dan menatapku kuatir.
“Kau tidak
apa-apa?”
Aku mulai merasa
sedikit gugup, tapi aku malah menggelengkan kepala. Aku tidak suka dianggap
lemah hanya karena keramaian ini.
Tapi Rev tampak
tidak percaya. Ia menarikku pergi dari sana
dan menuju ke belakang panggung. Dengan kartu identitas khusus miliknya kami
bisa sampai ke ruang ganti para personel Raven.
Tanpa sadar aku
mengeluarkan napas lega dan itu membuatku merasa hidup kembali.
“Kau tidak suka
keramaian ya?” tanyanya sambil menyerahkan segelas air.
Aku duduk di bangku
yang tersedia di koridor itu dan menerima gelasnya. “Aku tidak tahu…” jawabku.
“Aku hanya… gugup.”
Ia berdiri santai
di seberangku sambil bersandar ke dinding. “Gugup?”
Aku tertawa miris.
“Yah… seharusnya itu tidak perlu.”
“Tidak semua orang
suka keramaian. Itu bukan hal memalukan.” Katanya.
Aku menatapnya sejenak
sebelum menghabiskan minumanku. Aku selalu berusaha berpikir kalau aku akan
baik-baik saja di dalam keramaian. Hanya saja semakin aku meyakinkan diri, aku
semakin merasa takut. Aneh. Aku sangat ingin datang ke pesta dan itu membuatku
bertekad untuk sembuh. Aku sudah mendapatkan jantung yang baru sekarang dan itu
artinya tidak ada masalah lagi, kan ?
Tapi tetap saja aku
berpikir kalau aku akan mati jika jantungku berdetak keras. Dan saat pikiran
burukku datang atau saat aku sudah tak tahan lagi, aku pasti pergi. Aku tak
ingin sakitku kembali.
Tanpa sadar aku
menggenggam erat gelas plastikku dan menghela napas lagi.
“Kau tahu apa
penyebabnya?” tanya Rev.
Aku tersentak
mendengar suaranya. “Maaf?”
“Kenapa kau tidak
suka keramaian?” ia memperjelas pertanyaannya.
Aku menurunkan
gelasku dan menggenggamnya. “Ada
yang harus kujaga…” jawabku pelan.
Aku tak ingin
jantungku meledak begitu saja.
“Apa?”
“Sesuatu yang
membuatmu… bernyawa.” Aku tersenyum. “Yah… lebih baik jangan tanya.”
“Kalau begitu
bagaimana caranya melihat konser mereka?” Rev tampak berpikir sekarang.
Aku tertawa.
“Jangan terlalu dipikirkan. Aku punya caranya.”
“Oh ya?”
“Jadi… kapan mereka
selesai?” aku mengubah topik pembicaraan.
Rev melihat jam
tangannya. “Seharusnya sudah.”
Aku mengangguk dan
berdiri. “Kau tahu di mana toiletnya?” tanyaku.
“Diujung koridor sana , sebelah kanan.”
Jawabnya sambil menunjukkan arahnya.
Aku mengangguk dan
pergi meninggalkannya. Sesampai di sana
aku langsung melihat ke cermin, melihat seperti apa wajahku sekarang karena mau
tak mau aku akan bertemu Gates. Aku tidak boleh risih. Aku harus tenang dan itu
adalah kuncinya! Lagi pula di sini bukan hanya ada Gates. Ada Flea, Joe, dan
Victor. Tiga orang ini sama berbahayanya dengan Rev. Mereka bisa saja bekerja
sama untuk menjebakku keluar dari kebohonganku sendiri. Aku terlalu mudah
ditebak!
Sambil menghela
napas dan menenangkan diri, aku akhirnya keluar dari sana dengan keyakinan kalau hari ini akan berakhir
baik.
Saat aku kembali,
aku tidak melihat Rev berdiri di dekat bangku itu. Tidak ada siapa-siapa di
sini selain beberapa orang yang berlalu lalang dengan cepat. Aku berjalan pelan
sambil memperhatikan suasana yang tiba-tiba sepi.
Suara musik tidak terdengar
lagi dan aku merasa pertunjukan mereka sudah berakhir. Mungkin mereka sedang di
ruang ganti. Dan saat berpikir begitu, aku berhenti tepat di depan sebuah pintu
yang sedikit terbuka. Jantungku berdebar-debar saat mendekatinya. Aku mencoba
untuk tidak mendorong pintu itu agar terbuka lebar karena aku tidak tahu ini
ruangan apa.
Alih-alih berjalan
pergi, aku mendekat dan mengintip ke dalam. Lalu aku berharap tidak pernah
melakukannya!
Aku terpaku saat
melihat Gates di dalam sana
sedang berciuman dengan seorang wanita. Pertahananku langsung runtuh dan dengan
bodohnya aku terpaku di sana
seolah-olah tenagaku untuk berlari lenyap begitu saja.
Tepat sedetik
kemudia, sebuah tangan langsung menutup mataku dan tangan yang lainnya
melingkari pinggangku. Aku ditarik ke belakang dan itu membuatku sangat
terkejut. Aku berteriak kaget dan mencoba mendongak menatap orang yang
menyerangku.
“Ssstt!!” Rev
menutup mulutku dan memperingatkanku dengan cepat.
Hanya saja itu
kurang cepat karena sekarang pintu itu terbuka dan Gates dengan wajah kaget
muncul di sana .
“Kau…?”
“Sudah kubilang, di
sini agak licin.” Rev membentakku dengan wajah kesal tanpa memperduliakan
Gates. Ia membantuku untuk berdiri dengan benar lalu barulah ia pura-pura sadar
kalau Gates ada di sana .
“Oh. Hai!” sapanya ringan.
“Kalian datang?”
tanyanya tidak percaya.
“Tepat di dua lagu
terakhir.” Kata Rev sambil tersnyum, lalu padaku dia bertanya. “Kau tidak
apa-apa?”
Aku yang masih syok
dengan kejadian barusan dan bingung dengan percakapan ini memaksakan diri untuk
menjawab pertanyaannya. “Ya.” Jawabku dengan nada tidak enak dan ragu.
“Seingatku aku
tidak memberitahumu tentang acara ini.” Gates berpikir.
“Kau tidak
memberitahunya karena kau sendiri lupa sampai sejam sebelum acara dimulai,” Rev
memperingatkan. “Joe menceritakannya.”
Lalu Gates
tersenyum. “Yah… banyak yang harus kupikirkan. Terima kasih sudah membawanya ke
sini.”
Rev hanya
mengangguk menerima ucapan itu. Ia menatapku yang merasa risih dengan kejadian
tadi. “Kau tidak apa-apa?” katanya pelan.
“Kau kenapa,
Selene?” Gates tampak kuatir sekarang. “Kau sakit? Wajahmu pucat.”
Aku mencoba
tersenyum… dan dengan terpaksa melakukannya. “Kurasa aku… migren.” Aku menatap
Rev saat mengatakan kata terakhir. “Yah… tidak apa-apa…”
“Tunggu! Aku akan
mengantarmu –”
“Tidak.” Rev
menyela Gates. “Biar aku yang mengantarnya. Kau masih punya urusan, kan ? Lagi pula aku yang
mengajaknya ke sini.”
Gates menatapku
lalu menyerah. “Oke. Pastikan dia sampai dengan selamat di apartemennya.”
Rev tertawa karena
Gates terlihat sangat serius mengatakannya. “Kau bisa percaya padaku.” Ia
menepuk bahu temannya.
Ia mengerutkan
keningnya sesaat lalu tertawa. “Aku akan meneleponmu nanti.” Ia berkata padaku.
Aku tersenyum
mengangguk dan kemudian Rev mengajakku pergi.
Tiba-tiba aku merasa
tanganku digenggam erat dan aku mendongak menatapnya. Tapi Rev menatap lurus ke
depan sana .
“Aku bisa pulang
sendiri. Bukannya kau ada urusan?” kataku. Aku berharap bisa sendirian malam
ini.
“Memang.” Ia
menarikku menuju mobilnya sambil mengeluarkan kunci lalu menekan tombol. Ia
membukakan pintu untukku tapi aku tidak masuk ke dalam. “Kita akan beku kalau
kau tidak masuk.” Katanya saat melihatku ragu.
“Aku bisa –”
“Itu bukan solusi.”
Potongnya sambil dengan lembut mendorong punggungku.
Aku masuk ke dalam
dengan perasaan tidak enak. Lalu dia membanting pintu dan dengan cepat
mengintari mobilnya lalu masuk ke dalam.
“Rev.”
“Aku memang punya
urusan.” Ia menyalakan mobilnya, “denganmu.”
Lalu kami melaju di
jalanan.

0 comments: