The Moon and The Sun #12 - Rain
12
Mengakhiri
pertemuan dengan Mark adalah hal tersulit yang kurasakan sekarang. Tapi apa
boleh buat karena aku harus segera pulang. Kami berbicara dan tertawa selama
dua setengah jam. Dan dalam waktu dua setengah jam itu juga aku sama sekali
tidak ingat apapun tentang masalah Gates dan rasa cemburuku sendiri. Mark
benar-benar seperti penawar racun bagiku. Aku bisa menjadi seorang anak kecil
saat bersamanya.
Saat aku melangkah
keluar toko itu, hawa dingin langsung menyergapku. Aku seakan dilempar kembali
ke dunia nyata di mana aku bukan lagi seorang anak kecil tapi seorang wanita
dewasa. Aku merasa aku terperangkap dalam tubuh yang besar padahal di dalam aku
masih merasa seperti seorang anak kecil.
Sambil menyusuri
trotoar seorang diri, aku berusaha menenangkan diri. Andai waktu bisa diputar,
aku ingin kembali jadi anak kecil lagi. Andai waktu bisa diputar, aku ingin
membuat Gates jadi milikku seorang. Andai waktu bisa diputar, akan kulakukan
apapun agar Gates tak pernah bertemu dengan wanita itu.
Tapi itu semua
hanya ‘andai’.
Aku mempercepat
langkahku karena tiba-tiba ingin menangis. Aku ingin kembali ke toko itu lagi
tapi aku takut kalau Mark akan menganggapku seperti anak kecil. Dan pada saat
aku berbelok diujung jalan sambil setengah berlari, aku tanpa sengaja membentur
keras seseorang dan hampir terjatuh.
Kaget dengan itu,
aku buru-buru mendongak, “maaf!” kataku cepat lalu terdiam.
Kami berdua
sama-sama kaget karena tidak menyangka akan bertemu di sini. Rev masih
memegangiku saat aku melangkah mundur.
“Kau?” aku merasa
suaraku tercekat.
“Siapa?” tanya
seorang gadis yang ada di sampingnya. Gadis itu sangat cantik dengan rambut
pirang panjang yang mempesona. Ia menatap Rev dan aku dengan pandangan
bertanya.
Aku buru-buru
menarik tanganku dari Rev dan mencoba tenang. “Hai!” aku menyapanya dengan
suara sedikit bergetar dan rasa kecewa yang tiba-tiba muncul.
Rev tidak menjawab
tapi gadis itu mewakilinya. “Hai.” Sapanya sambil tersenyum. Senyumnya sangat
manis.
Seketika pikiranku
kosong dan aku hanya dapat menatap mereka berdua bergantian. Rev jelas-jelas
memperhatikanku dengan wajah tidak senang. Hari ini ia terlihat sempurna dengan
kacamata bingkai hitamnya. Ia terkesan sangat misterius malam ini. Tapi saat
melihat wanita cantik di sampingnya, aku tersentak. Apa aku mengganggu kencan
mereka? Tapi aku kan
tidak sengaja!
“Kalian… mau pergi
ya?” tanyaku, berusaha mencairkan kegugupanku sendiri dan suasana canggung yang
tiba-tiba terjadi.
Rev tidak menjawab
tapi gadis itu segera menggaet lengan Rev dan menyandarkan sedikit kepalanya di
lengannya dengan sikap mesra. “Yah… Kami ingin makan malam.” Jawabnya sambil
tersenyum. Ia menatap Rev untuk meminta persetujuan tapi pria itu tidak
menghiraukannya.
“Oh, kalau begitu…
yah… selamat bersenang-senang.” Tiba-tiba aku merasa bodoh! Kenapa aku kembali
dihantam rasa kecewa?
Kenapa aku merasa
tidak suka melihat mereka… terutama gadis itu? Jantungku bergemuruh dan itu
membuatku risih. Aku menatap Rev sekilas sebelum akhirnya mengucapkan selamat
tinggal. Tapi baru beberapa langkah aku meninggalkan mereka, tiba-tiba aku
segera berbalik dan menarik jaket Rev dengan kuat.
“Apa yang – ” Rev
mencoba protes.
“Maaf, aku ada
urusan sebentar dengannya.” Kataku cepat pada gadis itu sambil menarik Rev
menjauh darinya.
“Hei!” Rev mencoba
lepas dari sergapanku. “Apa yang kau lakukan?”
Aku melepaskannya
dan berdiri di depannya sambil melemparkan senyum sekilas pada gadis yang
menunggunya di depan sana .
“Kau tahu?”
tanyaku.
“Apa?”
Aku menatapnya
sejenak sambil berpikir cepat. “Aku…” aku menelan ludahku sambil menekan rasa
panik. “Aku haya ingin bilang kalau…”
Rev menungguku saat
aku mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan berita ini padanya.
“Yeah… Kau benar
soal Gates.” Akuku akhirnya sambil menunduk. “Itu saja.” Aku tersenyum singkat
dan dengan cepat berlalu meninggalkannya.
Aku menelusuri
trotoar seorang diri. Sebenarnya bukan itu yang ingin kukatakan! Aku hanya
ingin Rev tidak sedekat itu dengan gadis itu.
Dasar bodoh! Itu
haknya kan ?
Kenapa sekarang aku jadi orang yang sesenstitif itu pada seorang pria yang baru
kukenal kemarin? Ini aneh!
Aku menghela napas
kesal. Aku kesal pada diriku sendiri dan kurangnya pengendalian diriku. Sambil
mengepalkan tangan karena dingin, aku teringat kalau sarung tanganku hilang
entah di mana dan itu membuat suasana hatiku langsung menjadi sangat buruk.
Tiba-tiba seseorang
meraih tanganku dan menggenggamnya. Aku tersentak dan dengan reflek menariknya.
“Apa kemarahanmu
membuatmu tidak merasa dingin?” tanyanya sambil menggenggam tanganku.
Aku mengedip
sekali. “Rev?”
“Tidak, ya?” ia
menarik tanganku dan memasukkannya ke dalam saku mantelnya sambil tetap
menggenggamnya sehingga aku tidak bisa menariknya.
Aku menoleh ke
belakang sambil berusaha menarik tanganku dari dalam sakunya. “Mana dia?”
tanyaku.
“Pulang.”
“Apa?” aku terkejut
dengan jawaban itu. “Bukannya kalian mau –”
“Kubatalkan.”
“Kenapa?”
Ia menahan tanganku
agar tetap di dalam sakunya dan terus berjalan. Aku terpaksa mengikutinya.
“Rev?” aku menuntut
jawaban.
“Kurasa ada hal
penting yang harus kulakukan.” Jawabnya ringan.
“Apa?”
“Apa kau harus tahu
sebanyak itu?” tanyanya serius.
“Tidak juga… tapi
kenapa tiba-tiba? Demi Tuhan, kau baru saja membatalkan acara makan malammu
begitu saja dengannya!” kataku tidak percaya.
“Lalu? Apa itu
buruk?” tanyanya dengan alis terangkat.
Aku langsung merasa
kesal padanya. “Kau baru saja merusak suasana. Itu buruk untuknya, bukan
untukumu.” Tegasku. “Kembali dan kejar dia!” aku berusaha menghentikan
langkahku tapi ia tetap berjalan dan aku merasa seperti diseret. Dengan
terpaksa aku mengikuti langkahnya yang cepat.
“Apa dunia akan
berakhir?”
“Berakhir untuknya,
bukan untukmu!” aku hampir marah sekarang. “Rev!” tegurku.
“Aku rasa tidak.”
“Tapi dia pacarmu, kan ? Apa kau senang
melihatnya mengamuk?” tanyaku.
Rev tertawa
seakan-akan ini sangat lucu.
“Kenapa tertawa?”
“Aku bisa
membatalkan janjiku sesukaku.” Katanya.
“Itu… buruk!”
“Well, itu artinya
aku tak perlu menghamburkan uang sekarang.” Katanya ringan.
“Kau tidak suka
mentraktir pacarmu?” tanyaku bingung.
“Apa dia pacarku?”
tanyanya sambil menatapku.
Aku membalas
tatapannya dan terdiam sejenak. “Well… Bukannya kalian… akan makan malam?”
tanyaku ragu.
“Aku bisa makan
malam dengan siapapun.”
“Kupikir dia
spesial?”
“Aku lupa kalau kau
ini polos.”
Dan aku langsung
merasa seperti dihantam. Aku tidak nyaman berada di bawah tatapan matanya yang
hitam dan dalam seakan-akan dia tahu segalanya. Sambil menarik napas pelan aku
berusaha untuk mengingatkan diriku sendiri kalau Rev bukan orang sembarangan.
“Maaf.” Ia
tiba-tiba minta maaf dan menyesal.
“Aku tahu kalau aku…
memang sepolos itu.” Walau berat mengakuinya tapi aku memang sepolos itu. Aku
bertahan demi Gates. Hanya pria itu yang berhasil membuatku tetap berharap dan
aku memegang teguh janjiku kalau hanya dia yang boleh menyentuhku. Dan aku akui
kalau aku naif juga.
Tiba-tiba aku merasa
tanganku digenggam erat dan aku mendongak menatapnya. Tapi Rev menatap lurus ke
depan sana .
“Aku bisa pulang
sendiri. Bukannya kau ada urusan?” kataku. Aku berharap bisa sendirian malam
ini.
“Memang.” Ia
menarikku menuju mobilnya sambil mengeluarkan kunci lalu menekan tombol. Ia
membukakan pintu untukku tapi aku tidak masuk ke dalam. “Kita akan beku kalau
kau tidak masuk.” Katanya saat melihatku ragu.
“Aku bisa –”
“Itu bukan solusi.”
Potongnya sambil dengan lembut mendorong punggungku.
Aku masuk ke dalam
dengan perasaan tidak enak. Lalu dia membanting pintu dan dengan cepat
mengintari mobilnya lalu masuk ke dalam.
“Rev.”
“Aku memang punya
urusan.” Ia menyalakan mobilnya, “denganmu.”
Lalu kami melaju di
jalanan.

0 comments: