The Moon and The Sun #12 - Rain

10:06 PM fe 0 Comments

12
Mengakhiri pertemuan dengan Mark adalah hal tersulit yang kurasakan sekarang. Tapi apa boleh buat karena aku harus segera pulang. Kami berbicara dan tertawa selama dua setengah jam. Dan dalam waktu dua setengah jam itu juga aku sama sekali tidak ingat apapun tentang masalah Gates dan rasa cemburuku sendiri. Mark benar-benar seperti penawar racun bagiku. Aku bisa menjadi seorang anak kecil saat bersamanya.
Saat aku melangkah keluar toko itu, hawa dingin langsung menyergapku. Aku seakan dilempar kembali ke dunia nyata di mana aku bukan lagi seorang anak kecil tapi seorang wanita dewasa. Aku merasa aku terperangkap dalam tubuh yang besar padahal di dalam aku masih merasa seperti seorang anak kecil.
Sambil menyusuri trotoar seorang diri, aku berusaha menenangkan diri. Andai waktu bisa diputar, aku ingin kembali jadi anak kecil lagi. Andai waktu bisa diputar, aku ingin membuat Gates jadi milikku seorang. Andai waktu bisa diputar, akan kulakukan apapun agar Gates tak pernah bertemu dengan wanita itu.
Tapi itu semua hanya ‘andai’.
Aku mempercepat langkahku karena tiba-tiba ingin menangis. Aku ingin kembali ke toko itu lagi tapi aku takut kalau Mark akan menganggapku seperti anak kecil. Dan pada saat aku berbelok diujung jalan sambil setengah berlari, aku tanpa sengaja membentur keras seseorang dan hampir terjatuh.
Kaget dengan itu, aku buru-buru mendongak, “maaf!” kataku cepat lalu terdiam.
Kami berdua sama-sama kaget karena tidak menyangka akan bertemu di sini. Rev masih memegangiku saat aku melangkah mundur.
“Kau?” aku merasa suaraku tercekat.
“Siapa?” tanya seorang gadis yang ada di sampingnya. Gadis itu sangat cantik dengan rambut pirang panjang yang mempesona. Ia menatap Rev dan aku dengan pandangan bertanya.
Aku buru-buru menarik tanganku dari Rev dan mencoba tenang. “Hai!” aku menyapanya dengan suara sedikit bergetar dan rasa kecewa yang tiba-tiba muncul.
Rev tidak menjawab tapi gadis itu mewakilinya. “Hai.” Sapanya sambil tersenyum. Senyumnya sangat manis.
Seketika pikiranku kosong dan aku hanya dapat menatap mereka berdua bergantian. Rev jelas-jelas memperhatikanku dengan wajah tidak senang. Hari ini ia terlihat sempurna dengan kacamata bingkai hitamnya. Ia terkesan sangat misterius malam ini. Tapi saat melihat wanita cantik di sampingnya, aku tersentak. Apa aku mengganggu kencan mereka? Tapi aku kan tidak sengaja!
“Kalian… mau pergi ya?” tanyaku, berusaha mencairkan kegugupanku sendiri dan suasana canggung yang tiba-tiba terjadi.
Rev tidak menjawab tapi gadis itu segera menggaet lengan Rev dan menyandarkan sedikit kepalanya di lengannya dengan sikap mesra. “Yah… Kami ingin makan malam.” Jawabnya sambil tersenyum. Ia menatap Rev untuk meminta persetujuan tapi pria itu tidak menghiraukannya.
“Oh, kalau begitu… yah… selamat bersenang-senang.” Tiba-tiba aku merasa bodoh! Kenapa aku kembali dihantam rasa kecewa?
Kenapa aku merasa tidak suka melihat mereka… terutama gadis itu? Jantungku bergemuruh dan itu membuatku risih. Aku menatap Rev sekilas sebelum akhirnya mengucapkan selamat tinggal. Tapi baru beberapa langkah aku meninggalkan mereka, tiba-tiba aku segera berbalik dan menarik jaket Rev dengan kuat.
“Apa yang – ” Rev mencoba protes.
“Maaf, aku ada urusan sebentar dengannya.” Kataku cepat pada gadis itu sambil menarik Rev menjauh darinya.
“Hei!” Rev mencoba lepas dari sergapanku. “Apa yang kau lakukan?”
Aku melepaskannya dan berdiri di depannya sambil melemparkan senyum sekilas pada gadis yang menunggunya di depan sana.
“Kau tahu?” tanyaku.
“Apa?”
Aku menatapnya sejenak sambil berpikir cepat. “Aku…” aku menelan ludahku sambil menekan rasa panik. “Aku haya ingin bilang kalau…”
Rev menungguku saat aku mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan berita ini padanya.
“Yeah… Kau benar soal Gates.” Akuku akhirnya sambil menunduk. “Itu saja.” Aku tersenyum singkat dan dengan cepat berlalu meninggalkannya.
Aku menelusuri trotoar seorang diri. Sebenarnya bukan itu yang ingin kukatakan! Aku hanya ingin Rev tidak sedekat itu dengan gadis itu.
Dasar bodoh! Itu haknya kan? Kenapa sekarang aku jadi orang yang sesenstitif itu pada seorang pria yang baru kukenal kemarin? Ini aneh!
Aku menghela napas kesal. Aku kesal pada diriku sendiri dan kurangnya pengendalian diriku. Sambil mengepalkan tangan karena dingin, aku teringat kalau sarung tanganku hilang entah di mana dan itu membuat suasana hatiku langsung menjadi sangat buruk.
Tiba-tiba seseorang meraih tanganku dan menggenggamnya. Aku tersentak dan dengan reflek menariknya.
“Apa kemarahanmu membuatmu tidak merasa dingin?” tanyanya sambil menggenggam tanganku.
Aku mengedip sekali. “Rev?”
“Tidak, ya?” ia menarik tanganku dan memasukkannya ke dalam saku mantelnya sambil tetap menggenggamnya sehingga aku tidak bisa menariknya.
Aku menoleh ke belakang sambil berusaha menarik tanganku dari dalam sakunya. “Mana dia?” tanyaku.
“Pulang.”
“Apa?” aku terkejut dengan jawaban itu. “Bukannya kalian mau –”
“Kubatalkan.”
“Kenapa?”
Ia menahan tanganku agar tetap di dalam sakunya dan terus berjalan. Aku terpaksa mengikutinya.
“Rev?” aku menuntut jawaban.
“Kurasa ada hal penting yang harus kulakukan.” Jawabnya ringan.
“Apa?”
“Apa kau harus tahu sebanyak itu?” tanyanya serius.
“Tidak juga… tapi kenapa tiba-tiba? Demi Tuhan, kau baru saja membatalkan acara makan malammu begitu saja dengannya!” kataku tidak percaya.
“Lalu? Apa itu buruk?” tanyanya dengan alis terangkat.
Aku langsung merasa kesal padanya. “Kau baru saja merusak suasana. Itu buruk untuknya, bukan untukumu.” Tegasku. “Kembali dan kejar dia!” aku berusaha menghentikan langkahku tapi ia tetap berjalan dan aku merasa seperti diseret. Dengan terpaksa aku mengikuti langkahnya yang cepat.
“Apa dunia akan berakhir?”
“Berakhir untuknya, bukan untukmu!” aku hampir marah sekarang. “Rev!” tegurku.
“Aku rasa tidak.”
“Tapi dia pacarmu, kan? Apa kau senang melihatnya mengamuk?” tanyaku.
Rev tertawa seakan-akan ini sangat lucu.
“Kenapa tertawa?”
“Aku bisa membatalkan janjiku sesukaku.” Katanya.
“Itu… buruk!”
“Well, itu artinya aku tak perlu menghamburkan uang sekarang.” Katanya ringan.
“Kau tidak suka mentraktir pacarmu?” tanyaku bingung.
“Apa dia pacarku?” tanyanya sambil menatapku.
Aku membalas tatapannya dan terdiam sejenak. “Well… Bukannya kalian… akan makan malam?” tanyaku ragu.
“Aku bisa makan malam dengan siapapun.”
“Kupikir dia spesial?”
“Aku lupa kalau kau ini polos.”
Dan aku langsung merasa seperti dihantam. Aku tidak nyaman berada di bawah tatapan matanya yang hitam dan dalam seakan-akan dia tahu segalanya. Sambil menarik napas pelan aku berusaha untuk mengingatkan diriku sendiri kalau Rev bukan orang sembarangan.
“Maaf.” Ia tiba-tiba minta maaf dan menyesal.
“Aku tahu kalau aku… memang sepolos itu.” Walau berat mengakuinya tapi aku memang sepolos itu. Aku bertahan demi Gates. Hanya pria itu yang berhasil membuatku tetap berharap dan aku memegang teguh janjiku kalau hanya dia yang boleh menyentuhku. Dan aku akui kalau aku naif juga.
Tiba-tiba aku merasa tanganku digenggam erat dan aku mendongak menatapnya. Tapi Rev menatap lurus ke depan sana.
“Aku bisa pulang sendiri. Bukannya kau ada urusan?” kataku. Aku berharap bisa sendirian malam ini.
“Memang.” Ia menarikku menuju mobilnya sambil mengeluarkan kunci lalu menekan tombol. Ia membukakan pintu untukku tapi aku tidak masuk ke dalam. “Kita akan beku kalau kau tidak masuk.” Katanya saat melihatku ragu.
“Aku bisa –”
“Itu bukan solusi.” Potongnya sambil dengan lembut mendorong punggungku.
Aku masuk ke dalam dengan perasaan tidak enak. Lalu dia membanting pintu dan dengan cepat mengintari mobilnya lalu masuk ke dalam.
“Rev.”
“Aku memang punya urusan.” Ia menyalakan mobilnya, “denganmu.”
Lalu kami melaju di jalanan.

You Might Also Like

0 comments: