Song of Aria #9 - Rain
Aira sedang duduk di pasir saat matahari mulai terbenam di barat. Ia membiarkan debur ombak menyentuh ujung jemari kakinya dan membiarkan dirinya dilingkupi kesenyapan dalam hatinya yang sunyi. Ini tempat favorit nya dan ia sangat senang karena bisa menyendiri di sini sebelum suara seorang pria yang menyebalkan itu datang.
“Jadi kamu suka ke sini?” tanyanya dengan wajah biasa.
Aira menengadah untuk melihat si pemilik suara dan dengan
ngeri mendapati Erland di sana.
Erland duduk di sampingnya, dekat dengannya, dan dengan
santai menjulurkan kakinya sambil menumpu badannya ke belakang dengan dua
tangan. “Hmm… Tempat yang bagus.”
Ia merasa sangat puas karena bisa menemukan gadis itu lagi
dengan mudah. Sepertinya keberadaan Aira mudah ditebak dan hidupnya hanya
berpusat pada laut dan bangunan itu. Awalnya dia ke sana untuk mencarinya tapi
ia tak menemukannya. Ia lalu menelusuri tepi jalan yang ada di pinggir pantai
sambil berjalan kaki hingga akhirnya melihat gadis itu lagi sedang duduk di
sana.
Aira yang awalnya terpana tidak percaya, langsung
mendapatkan kembali akal sehatnya saat ia melihat pria itu menatapnya dengan
wajah biasa. Komentarnya itu sama sekali tidak membuatnya tenang.
Aira berdiri, tapi dengan tegas ia ditarik turun lagi oleh
pria itu hingga terduduk.
“Apa-apaan –”
“Ssttt… Dengar,” katanya dengan isyarat. “Kau bisa
mendengarnya?”
“Apa?”
Erland memejamkan matanya seolah menikmati suara angin dan
deburan ombak. “Suara alam,” katanya pelan.
Merasa aneh dengan pria yang disebelahnya, Aira berusaha
menegaskan kalau orang itu hanya senang bermain-main saja. Lalu hatinya menjadi
kesal karena pria itu bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu
diantara mereka. Hanya dia saja yang kacau karena masih memikirkan itu.
Sambil menghembuskan napas kesal, ia melepaskan tangannya
dengan kasar dari pria itu.
“Nah. Kamu sama sekali nggak menikmatinya,” kata Erland
polos.
“Kenapa ke sini?” tanyanya kasar.
Erland tertawa. “Kamu menghilang begitu saja padahal aku
belum selesai denganmu.”
“Ah ya? Apa yang kamu ingin aku lakukan?” tanyanya sambil
mengeja kata-kata itu dengan cepat.
“Banyak,” jawabnya takjub. “Kamu belum membersihkan
apartemenku, belum menyapu, mengepel lantai, mencuci baju…”
“Apa?” potong Aira tak percaya.
“Itu tugasmu untuk membayar ganti rugimu. Kamu pikir aku mau
melepasmu?” Erland menggeleng. “Mana bisa begitu.”
“Kamu ingin aku melakukan itu?”
“Menjadi pelayanku… Nggak buruk, kan? Hanya sehari saja untuk membersihkan
semua sudut restoran, lalu hutangmu lunas.”
Aira tidak suka mendengarnya. Lalu apa yang pria itu lakukan
tadi? Menggodanya? Membuatnya berharap akan hal yang tidak-tidak? Membangkitkan
fantasi liarnya yang… yang…
Aira menarik napas tajam dan menghembuskannya dengan keras.
“Seharusnya kamu bilang dari awal,” katanya dengan nada tidak suka.
“Bisakah aku mengatakannya sedangkan kamu lari dari sana?”
“Itu karena –”
Erland menatapnya untuk menunggu kelanjutannya yang
terputus. Wajah gadis itu terlihat memerah sekarang. Ia tidak tahu apakah itu
karena pantulan cahaya matahari yang mulai terbenam atau memang gadis itu
sedang malu. Dia terlihat sangat cantik sekarang. Dan walau tahu apa maksud
perkataannya, ia tetap menunggu.
“Aku bisa melakukannya dari tadi kalau kamu nggak mengulur
waktu!” kata Aira.
Erland menarik sudut bibirnya dan tertawa. Ia tahu kalau ia
terlalu malu mengatakannya. “Kenapa aku mengulur waktu?” tanyanya memancing
ingatan itu kembali.
“Aku bisa melakukannya dengan catatan kamu nggak boleh ada
di restoran selagi aku kerja.”
“Hoo… Nggak! Aku nggak mau ambil resiko itu.”
“Aku nggak akan membakar restoranmu walau aku ingin.”
“Nah!” Erland berseru, “itu yang kutakutkan. Aku harus
mengawasimu kalau begitu.”
Aira mengatupakan rahangnya. “Aku nggak mau!” ia berdiri dan
berjalan pergi.
Erland menyusulnya dan menghentaknya ke belakang. “Jangan
pikir masalah ini selesai begitu saja.”
“Sekarang keselamatanku lebih penting dari pada apapun,” katanya
tanpa ragu.
“Memangnya kenapa?”
“Dari apa yang kamu lakukan tadi, aku ragu bisa pulang
dengan selamat.”
Erland terpana sesaat melihatnya lalu dengan suara pelan dan
rendah ia bertanya, “apa yang coba kulakukan tadi?”
“Kamu tahu itu!”
“Oh ya? Coba ingatkan aku.”
“Kamu…,” dengan rasa malu yang meluap Aira memalingkan
tatapannya ke samping dan berkata, “kamu hampir menciumku.”
Seakan dilontarkan dari meriam, pegangan Erland mengendur
sesaat. Ia tidak tertawa seperti yang seharusnya. Ia hanya merasa… benarkah
itu? Dan itu memang benar! Mana mungkin gadis ini tidak bisa merasakannya?
“Sekarang kamu paham, kan?
Lepaskan aku!” ia menghentak tangannya agar bisa lepas dari genggaman Erland.
“Kau bisa mengatakannya dengan baik,” kata Erland sambil
menatapnya.
Gadis itu dengan wajah cemberut mendongak menatapnya. “Kamu
beruntung karena aku nggak histeris dengan itu,” ia memperingatkan.
“Dan karena kamu bisa mengatasinya dengan baik, kenapa kamu
nggak mulai membayar hutangmu sekarang?” ia meraih tangannya lagi. “Aku tahu
ini menyebalkan, tapi kamu nggak bisa pergi semudah itu.”
Ia menarik Aira meninggalkan pantai itu.
“Lepaskan!”
“Nggak!”
“Dasar brengsek! Lepaskan aku! Kau pria sombong, keras
kepala, angkuh, penguasa… lepaskan aku!” teriaknya.
Erland tertawa karena panggilan-panggilan itu. “Aku nggak
akan mengambil resiko itu,” katanya saat menatap Aira. “Aku pebisnis, dan aku
harus menang.”
Tidak suka mendengarnya, ia memukul punggung Erland dengan
satu tangannya yang bebas. “Kuingatkan, ya –”
“Seharusnya aku yang memperingatkanmu.”
“Sial!”
“Apa yang kalian lakukan?” teriak seorang wanita yang
berdiri di atas mereka sekarang. Mereka berdua mendongak pada Nana yang
terlihat geli dengan pemandangan itu.
“Nana!” seru mereka serentak saat Nana ada di sana. Lalu karena saling
menyeru nama yang sama, mereka saling menatap sekarang.
“Kamu kenal dia?” tanya Aira padanya.
“Kamu juga kenal dia?” tanya Erland tidak percaya.
“Ya ampun! Kalian berdua saling kenal rupanya?” Nana yang
sekarang berdiri di antara mereka juga tidak percaya tapi sekaligus senang
mendapati kenyataan ini. “Bagus, Aira! Kamu baru saja berurusan dengan iblis
angkuh se-Inggris!” katanya dalam bahasa Ibunya sambil tertawa.
“Ini hanya kebetulan,” sergah Aira.
“Jangan-jangan orang yang kamu cari itu dia,” terka Nana
pada Erland. Tapi pria itu tidak menjawab. “Oh, baiklah,” lalu dengan resmi ia
berkata, “Maafkan dia karena membuat bisnismu rugi. Tapi kurasa restoranmu
makin maju pesat saja berkat dia.”
Erland tidak mengomentari hal itu. Ia memasang wajah tidak
sukanya karena kali ini Nana pasti akan menghalangi niatnya. Ia yakin itu.
“Well, kamu nggak
akan memintanya untuk kerja di restoranmu, kan?” tanya Nana sambil tersenyum.
“Begitu?” Erland membalas senyumnya dengan rasa percaya diri
yang sama. “Masalah takkan selesai dengan hanya minta maaf.”
“Ah! Selalu begitu,” katanya tidak senang. “Bagaimana kalau
kita mengadakan pertukaran yang lain?”
“Apa?”
“Bagaimana kalau dia memainkan pianonya untukmu? Aku yakin
kamu akan suka.”
“Nggak!” Aira langsung bersuara.
“Kamu sudah membuat kesalahan, dan kamu juga nggak bisa kerja
sendirian membersihkan gedung besar berlantai tiga itu,” katanya pada Aira
sebelum akhirnya menatap Erland. “Bagaimana?”
“Sejujurnya aku lebih senang menyeretnya ke polisi saja,” kata
Erland dingin.
“Sial kau!” umpat Aira.
“Kamu nggak akan menang sekalipun membawanya ke pengadilan.
Terima tawaranku atau kamu akan menyesal,” kata Nana serius.
Erland menghela napasnya. Ia sudah terlalu lama bernegosiasi
dan Nana tidak membuat semuanya mudah sesuai keinginannya.
“Baiklah.”
“Dan setelah itu, jangan pernah mencarinya lagi.”
Untuk yang satu ini ia tidak menjawab.
Aira sedang makan malam di rumah Nana. Sejam yang lalu
temannya itu memintanya untuk menemaninya di rumah sebentar sementara orang
tuanya sedang ada acara di luar.
Nana membuka kotak yang ada di depannya dan berkata pada
Aira bahwa irama dalam kotak musik itu membosankan.
“Bayangkan, sudah bertahun-tahun aku mencari kotak musik
yang beda, tapi nada di dalamnya selalu sama. Itu menyebalkan kan?” ia berkata
pada Aira yang sedang menyantap mie goreng di depannya. “Mereka sama sekali
nggak kreatif.”
“Aku nggak punya kotak musik,” kata Aira.
“Kamu nggak punya, tapi aku punya. Ah! Kenapa nggak kurekam
saja kamu?” ia mendapat ide sekarang.
“Merekam apa?”
“Song of Aria!” serunya. “Kamu
bisa memaikannya untukku dan membayar hutangmu,” katanya.
“Nggak.” Aira menolak.
“Ayolah… Kamu nggak boleh pelit. Ayolah…” ia membujuk Aira
memainkan pianonya.
“Song of Aria terlalu sakral
untuk dimainkan.”
“Lalu kenapa kamu memainkannya di restoran itu?” pancing
Nana.
“Karena aku kesal padamu!”
“Kamu nggak bisa memainkan lagu sesakral itu saat marah.”
Nana memperingatkan. “Tapi kalau bisa memainkannya di sana, kenapa kamu nggak mencoba memainkannya
untukku?”
“Ini untuk orang itu, kan? Nggak!” tolaknya tegas.
“Aira… Dengar,” bujuknya. “Dia nggak akan berhenti kalau
kamu nggak mejalankan apa yang kusarankan.”
“Kamu yang menyarankan, bukan aku,” Aira mengingatkan.
“Memang aku yang menyarankan, tapi itu impas. Kamu sudah
membuat restorannya rugi dan itu bukan berita baik bagi orang seperti dia.”
Aira menyipitkan matanya, “Bukannya tadi kamu bilang dia
untung?”
“Diskon dadakan terkadang membawa petaka,” alasannya. “Kamu
nggak tahu bisnis, tapi aku tahu. Dan satu lagi, aku kenal dia sejak tinggal di
Inggris dulu. Kalau dia belum mendapatkan apa yang dia mau, dia nggak akan
nyerah semudah itu. Dia itu… menyeramkan,” akhirnya ia menemukan satu kata yang
mudah dipahami Aira. “Sangat menyeramkan,” ulangnya untuk menanamkan itu
dibenak temannya. “Dan aku sarankan jangan macam-macam padanya. Dia bisa
menjadi monster kalau dia mau.”
“Aku akan melawannya!” Aira masih berkeras.
“Oh ya? Kau lupa dia itu siapa? Dia itu pria! Dia kuat dan
mungkin lebih kuat dari pa –” Nana berhenti. Ia hampir saja mengucapkan nama
itu. “Yah, kau nggak akan mau berurusan dengan orang macam itu. Aku tahu itu.”
Aira menatapnya dengan wajah tidak suka. Kewaspadaannya
meningkat dan ia memang takkan suka dikejar dengan cara apapun. Ia sudah lelah
dengan hidupnya dan ia butuh sesuatu untuk mengembalikan ketenangannya.
“Kau akan merekamku,” protesnya lemah yang artinya dia mulai
setuju.
“Hanya suaranya,” ia mengeluarkan sebuah Mp4 player dari
tasnya untuk meyakinkan Aira. “Lihat, aku hanya akan merekam musiknya saja.”
Melihat itu Aira berpikir sekarang lalu akhirnya menyerah.
“Baiklah.”
“Bagus.”
Selesai makan, mereka langsung menuju ke ruang tengah yang
ada di rumah Nana. Ada grand piano bewarna putih
di sana. Nana
menyetel Mp4 nya dan berdiri di samping piano itu. Pada Speaker Mp4-nya ia
bicara dan merekam suaranya.
“Song of Aria adalah musik yang
dibuat oleh Aira dengan cerita yang mengagung-agungkan sosok seorang pahlawan
rekaannya sendiri. Ia berada di Dartmoor,
tempat tertenang dan terindah yang jauh dari jamahan dunia modern. Latarnya
adalah saat masa perang dulu. Silahkan menikmati musik ini yang dimainkan
khusus oleh penciptanya, Aira.” Nana menekan tombol pause dan tersenyum pada temannya itu. “Nah, ayo mulai.”
“Apa perlu memberi mukadimah seperti itu?” tanya Aira yang
mulai duduk dan membuka penutup pianonya.
“Sangat perlu. Kalau nggak dia nggak akan tahu cerita lagu
ini.”
Aira tidak berkata-kata lagi.
“Suatu hari nanti kamu harus menceritakan perjuangan Aria
yang kamu kagumi itu,” katanya pada Aira. “Aku yakin seseorang akan terkesan
dengan tokoh rekaanmu yang kompleks itu. Dan... Kenapa harus Dartmoor?
Di mana itu?”
“Inggris.”
“Ah! Obsesimu rupanya,” Nana mengerti.
“Hm?”
“Kamu mau ke sana
untuk berkuda atau melihat keajaiban alamnya?” tanya Nana.
“Dartmoor itu sangat indah,”
Aira tersenyum. “Hanya karena ayahku pernah tinggal di sana
maka aku ingin ke sana.”
“Oke,” ia meletakkan Mp4 palyernya di atas piano. “Silahkan
mulai kalau siap., lalu ia menekan tombol play
untuk memulai proses merekam dan menunggu Aira menekan tuts pianonya.
Aira memulai.
Satu lagu mengalun dibenaknya saat jari jemarinya menekan
tuts-tuts piano itu dengan lincahnya. Suaranya menenangkan, membuat pendengarnya
terhanyut dan merasakan rasa tenang seperti di sungai dan padang rumput yang luas. Angin semilir
bertiup menerbangkan rambut-rambut yang tergerai lepas dari ikatannya. Kuda-kuda
berlarian di padang
rumput luas dan air di sungai mengalir membunyikan musik yang nyaring. Lalu bau
alam menyusup melalui indera di bawah langit biru yang luas dan sinar matahari
cerah. Musik itu membuat penikmatnya merasa santai dan tenang.
Lalu semuanya berubah saat pada bagian bridge musik itu mulai menghentak, seperti ada konflik yang mulai
terjadi dan kemudian musik itu terdengar keras, pilu, dan cepat dengan
nada-nada yang membuat semua orang terpukau. Kecepatannya, rasa sedih, marah,
dan segala melankolinya masuk menusuk hati. Gadis itu memejamkan matanya dengan
kening berkerut saat memainkannya seolah-olah melihat konflik yang entah apa
itu di matanya.
Lalu pada bagian akhir nadanya kembali menurun dan cepat
kembali dan akhirnya berhenti begitu saja dengan bagian akhir yang mengambang
dan membuat pendengarnya mengharapkan kelanjutannya.
Tapi tidak ada kelanjutannya. Ia berhenti dan selesai sudah
pertunjukannya. Nana bertepuk tangan. Ia menekan tombol pause dan saving untuk
menyimpan hasil rekamannya.
“Bagus sekali!” pujinya senang dan puas.
“Terima kasih.”
“Nah, sekarang bisakah kamu menceritakan sejarah lagu ini?”
“Oh, Nggak,” ia menolak.
“Kenapa?”
“Aku sedang nggak ingin menceritakannya.”
“Ckckck… Alasan sang master terlalu lemah,” Nana menggelengkan
kepalanya. “Kamu membuat karyamu sendiri tapi kamu nggak mau menceritakan maknanya.”
“Lagu ini punya cerita yang sangat panjang. Aku nggak tahu
harus mulai dari mana.”
“Apa itu tentang kisah hidup seorang pahlawan? Kamu membuat
nada mengambang diakhirnya? Kenapa?”
Aira tersenyum. “Karena dia menghilang.”
“Aria?”
“Sang pahlawan menghilang di akhir cerita, jadi aku nggak
tahu nasibnya,” jawab Aira.
“Oh, begitu. Pantas kamu membuat musiknya terputus begitu.
Tapi menghilang karena apa?”
“Entahlah.”
“Aira,” panggil Nana.
“Apa?”
“Kamu terlalu banyak rahasia.”

0 comments: