Song of Aria #9 - Rain

7:11 PM fe 0 Comments


          Aira sedang duduk di pasir saat matahari mulai terbenam di barat. Ia membiarkan debur ombak menyentuh ujung jemari kakinya dan membiarkan dirinya dilingkupi kesenyapan dalam hatinya yang sunyi. Ini tempat favorit nya dan ia sangat senang karena bisa menyendiri di sini sebelum suara seorang pria yang menyebalkan itu datang.
“Jadi kamu suka ke sini?” tanyanya dengan wajah biasa.
Aira menengadah untuk melihat si pemilik suara dan dengan ngeri mendapati Erland di sana.
Erland duduk di sampingnya, dekat dengannya, dan dengan santai menjulurkan kakinya sambil menumpu badannya ke belakang dengan dua tangan. “Hmm… Tempat yang bagus.”
Ia merasa sangat puas karena bisa menemukan gadis itu lagi dengan mudah. Sepertinya keberadaan Aira mudah ditebak dan hidupnya hanya berpusat pada laut dan bangunan itu. Awalnya dia ke sana untuk mencarinya tapi ia tak menemukannya. Ia lalu menelusuri tepi jalan yang ada di pinggir pantai sambil berjalan kaki hingga akhirnya melihat gadis itu lagi sedang duduk di sana.

Aira yang awalnya terpana tidak percaya, langsung mendapatkan kembali akal sehatnya saat ia melihat pria itu menatapnya dengan wajah biasa. Komentarnya itu sama sekali tidak membuatnya tenang.
Aira berdiri, tapi dengan tegas ia ditarik turun lagi oleh pria itu hingga terduduk.
“Apa-apaan –”
“Ssttt… Dengar,” katanya dengan isyarat. “Kau bisa mendengarnya?”
“Apa?”
Erland memejamkan matanya seolah menikmati suara angin dan deburan ombak. “Suara alam,” katanya pelan.
Merasa aneh dengan pria yang disebelahnya, Aira berusaha menegaskan kalau orang itu hanya senang bermain-main saja. Lalu hatinya menjadi kesal karena pria itu bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu diantara mereka. Hanya dia saja yang kacau karena masih memikirkan itu.
Sambil menghembuskan napas kesal, ia melepaskan tangannya dengan kasar dari pria itu.
“Nah. Kamu sama sekali nggak menikmatinya,” kata Erland polos.
“Kenapa ke sini?” tanyanya kasar.
Erland tertawa. “Kamu menghilang begitu saja padahal aku belum selesai denganmu.”
“Ah ya? Apa yang kamu ingin aku lakukan?” tanyanya sambil mengeja kata-kata itu dengan cepat.
“Banyak,” jawabnya takjub. “Kamu belum membersihkan apartemenku, belum menyapu, mengepel lantai, mencuci baju…”
“Apa?” potong Aira tak percaya.
“Itu tugasmu untuk membayar ganti rugimu. Kamu pikir aku mau melepasmu?” Erland menggeleng. “Mana bisa begitu.”
“Kamu ingin aku melakukan itu?”
“Menjadi pelayanku… Nggak buruk, kan? Hanya sehari saja untuk membersihkan semua sudut restoran, lalu hutangmu lunas.”
Aira tidak suka mendengarnya. Lalu apa yang pria itu lakukan tadi? Menggodanya? Membuatnya berharap akan hal yang tidak-tidak? Membangkitkan fantasi liarnya yang… yang…
Aira menarik napas tajam dan menghembuskannya dengan keras. “Seharusnya kamu bilang dari awal,” katanya dengan nada tidak suka.
“Bisakah aku mengatakannya sedangkan kamu lari dari sana?”
“Itu karena –”
Erland menatapnya untuk menunggu kelanjutannya yang terputus. Wajah gadis itu terlihat memerah sekarang. Ia tidak tahu apakah itu karena pantulan cahaya matahari yang mulai terbenam atau memang gadis itu sedang malu. Dia terlihat sangat cantik sekarang. Dan walau tahu apa maksud perkataannya, ia tetap menunggu.
“Aku bisa melakukannya dari tadi kalau kamu nggak mengulur waktu!” kata Aira.
Erland menarik sudut bibirnya dan tertawa. Ia tahu kalau ia terlalu malu mengatakannya. “Kenapa aku mengulur waktu?” tanyanya memancing ingatan itu kembali.
“Aku bisa melakukannya dengan catatan kamu nggak boleh ada di restoran selagi aku kerja.”
“Hoo… Nggak! Aku nggak mau ambil resiko itu.”
“Aku nggak akan membakar restoranmu walau aku ingin.”
“Nah!” Erland berseru, “itu yang kutakutkan. Aku harus mengawasimu kalau begitu.”
Aira mengatupakan rahangnya. “Aku nggak mau!” ia berdiri dan berjalan pergi.
Erland menyusulnya dan menghentaknya ke belakang. “Jangan pikir masalah ini selesai begitu saja.”
“Sekarang keselamatanku lebih penting dari pada apapun,” katanya tanpa ragu.
“Memangnya kenapa?”
“Dari apa yang kamu lakukan tadi, aku ragu bisa pulang dengan selamat.”
Erland terpana sesaat melihatnya lalu dengan suara pelan dan rendah ia bertanya, “apa yang coba kulakukan tadi?”
“Kamu tahu itu!”
“Oh ya? Coba ingatkan aku.”
“Kamu…,” dengan rasa malu yang meluap Aira memalingkan tatapannya ke samping dan berkata, “kamu hampir menciumku.”
Seakan dilontarkan dari meriam, pegangan Erland mengendur sesaat. Ia tidak tertawa seperti yang seharusnya. Ia hanya merasa… benarkah itu? Dan itu memang benar! Mana mungkin gadis ini tidak bisa merasakannya?
“Sekarang kamu paham, kan? Lepaskan aku!” ia menghentak tangannya agar bisa lepas dari genggaman Erland.
“Kau bisa mengatakannya dengan baik,” kata Erland sambil menatapnya.
Gadis itu dengan wajah cemberut mendongak menatapnya. “Kamu beruntung karena aku nggak histeris dengan itu,” ia memperingatkan.
“Dan karena kamu bisa mengatasinya dengan baik, kenapa kamu nggak mulai membayar hutangmu sekarang?” ia meraih tangannya lagi. “Aku tahu ini menyebalkan, tapi kamu nggak bisa pergi semudah itu.”
Ia menarik Aira meninggalkan pantai itu.
“Lepaskan!”
“Nggak!”
“Dasar brengsek! Lepaskan aku! Kau pria sombong, keras kepala, angkuh, penguasa… lepaskan aku!” teriaknya.
Erland tertawa karena panggilan-panggilan itu. “Aku nggak akan mengambil resiko itu,” katanya saat menatap Aira. “Aku pebisnis, dan aku harus menang.”
Tidak suka mendengarnya, ia memukul punggung Erland dengan satu tangannya yang bebas. “Kuingatkan, ya –”
“Seharusnya aku yang memperingatkanmu.”
“Sial!”
“Apa yang kalian lakukan?” teriak seorang wanita yang berdiri di atas mereka sekarang. Mereka berdua mendongak pada Nana yang terlihat geli dengan pemandangan itu.
“Nana!” seru mereka serentak saat Nana ada di sana. Lalu karena saling menyeru nama yang sama, mereka saling menatap sekarang.
“Kamu kenal dia?” tanya Aira padanya.
“Kamu juga kenal dia?” tanya Erland tidak percaya.
“Ya ampun! Kalian berdua saling kenal rupanya?” Nana yang sekarang berdiri di antara mereka juga tidak percaya tapi sekaligus senang mendapati kenyataan ini. “Bagus, Aira! Kamu baru saja berurusan dengan iblis angkuh se-Inggris!” katanya dalam bahasa Ibunya sambil tertawa.
“Ini hanya kebetulan,” sergah Aira.
“Jangan-jangan orang yang kamu cari itu dia,” terka Nana pada Erland. Tapi pria itu tidak menjawab. “Oh, baiklah,” lalu dengan resmi ia berkata, “Maafkan dia karena membuat bisnismu rugi. Tapi kurasa restoranmu makin maju pesat saja berkat dia.”
Erland tidak mengomentari hal itu. Ia memasang wajah tidak sukanya karena kali ini Nana pasti akan menghalangi niatnya. Ia yakin itu.
Well, kamu nggak akan memintanya untuk kerja di restoranmu, kan?” tanya Nana sambil tersenyum.
“Begitu?” Erland membalas senyumnya dengan rasa percaya diri yang sama. “Masalah takkan selesai dengan hanya minta maaf.”
“Ah! Selalu begitu,” katanya tidak senang. “Bagaimana kalau kita mengadakan pertukaran yang lain?”
“Apa?”
“Bagaimana kalau dia memainkan pianonya untukmu? Aku yakin kamu akan suka.”
“Nggak!” Aira langsung bersuara.
“Kamu sudah membuat kesalahan, dan kamu juga nggak bisa kerja sendirian membersihkan gedung besar berlantai tiga itu,” katanya pada Aira sebelum akhirnya menatap Erland. “Bagaimana?”
“Sejujurnya aku lebih senang menyeretnya ke polisi saja,” kata Erland dingin.
“Sial kau!” umpat Aira.
“Kamu nggak akan menang sekalipun membawanya ke pengadilan. Terima tawaranku atau kamu akan menyesal,” kata Nana serius.
Erland menghela napasnya. Ia sudah terlalu lama bernegosiasi dan Nana tidak membuat semuanya mudah sesuai keinginannya.
“Baiklah.”
“Dan setelah itu, jangan pernah mencarinya lagi.”
Untuk yang satu ini ia tidak menjawab.


Aira sedang makan malam di rumah Nana. Sejam yang lalu temannya itu memintanya untuk menemaninya di rumah sebentar sementara orang tuanya sedang ada acara di luar.
Nana membuka kotak yang ada di depannya dan berkata pada Aira bahwa irama dalam kotak musik itu membosankan.
“Bayangkan, sudah bertahun-tahun aku mencari kotak musik yang beda, tapi nada di dalamnya selalu sama. Itu menyebalkan kan?” ia berkata pada Aira yang sedang menyantap mie goreng di depannya. “Mereka sama sekali nggak kreatif.”
“Aku nggak punya kotak musik,” kata Aira.
“Kamu nggak punya, tapi aku punya. Ah! Kenapa nggak kurekam saja kamu?” ia mendapat ide sekarang.
“Merekam apa?”
“Song of Aria!” serunya. “Kamu bisa memaikannya untukku dan membayar hutangmu,” katanya.
“Nggak.” Aira menolak.
“Ayolah… Kamu nggak boleh pelit. Ayolah…” ia membujuk Aira memainkan pianonya.
“Song of Aria terlalu sakral untuk dimainkan.”
“Lalu kenapa kamu memainkannya di restoran itu?” pancing Nana.
“Karena aku kesal padamu!”
“Kamu nggak bisa memainkan lagu sesakral itu saat marah.” Nana memperingatkan. “Tapi kalau bisa memainkannya di sana, kenapa kamu nggak mencoba memainkannya untukku?”
“Ini untuk orang itu, kan? Nggak!” tolaknya tegas.
“Aira… Dengar,” bujuknya. “Dia nggak akan berhenti kalau kamu nggak mejalankan apa yang kusarankan.”
“Kamu yang menyarankan, bukan aku,” Aira mengingatkan.
“Memang aku yang menyarankan, tapi itu impas. Kamu sudah membuat restorannya rugi dan itu bukan berita baik bagi orang seperti dia.”
Aira menyipitkan matanya, “Bukannya tadi kamu bilang dia untung?”
“Diskon dadakan terkadang membawa petaka,” alasannya. “Kamu nggak tahu bisnis, tapi aku tahu. Dan satu lagi, aku kenal dia sejak tinggal di Inggris dulu. Kalau dia belum mendapatkan apa yang dia mau, dia nggak akan nyerah semudah itu. Dia itu… menyeramkan,” akhirnya ia menemukan satu kata yang mudah dipahami Aira. “Sangat menyeramkan,” ulangnya untuk menanamkan itu dibenak temannya. “Dan aku sarankan jangan macam-macam padanya. Dia bisa menjadi monster kalau dia mau.”
“Aku akan melawannya!” Aira masih berkeras.
“Oh ya? Kau lupa dia itu siapa? Dia itu pria! Dia kuat dan mungkin lebih kuat dari pa –” Nana berhenti. Ia hampir saja mengucapkan nama itu. “Yah, kau nggak akan mau berurusan dengan orang macam itu. Aku tahu itu.”
Aira menatapnya dengan wajah tidak suka. Kewaspadaannya meningkat dan ia memang takkan suka dikejar dengan cara apapun. Ia sudah lelah dengan hidupnya dan ia butuh sesuatu untuk mengembalikan ketenangannya.
“Kau akan merekamku,” protesnya lemah yang artinya dia mulai setuju.
“Hanya suaranya,” ia mengeluarkan sebuah Mp4 player dari tasnya untuk meyakinkan Aira. “Lihat, aku hanya akan merekam musiknya saja.”
Melihat itu Aira berpikir sekarang lalu akhirnya menyerah. “Baiklah.”
“Bagus.”
Selesai makan, mereka langsung menuju ke ruang tengah yang ada di rumah Nana. Ada grand piano bewarna putih di sana. Nana menyetel Mp4 nya dan berdiri di samping piano itu. Pada Speaker Mp4-nya ia bicara dan merekam suaranya.
“Song of Aria adalah musik yang dibuat oleh Aira dengan cerita yang mengagung-agungkan sosok seorang pahlawan rekaannya sendiri. Ia berada di Dartmoor, tempat tertenang dan terindah yang jauh dari jamahan dunia modern. Latarnya adalah saat masa perang dulu. Silahkan menikmati musik ini yang dimainkan khusus oleh penciptanya, Aira.” Nana menekan tombol pause dan tersenyum pada temannya itu. “Nah, ayo mulai.”
“Apa perlu memberi mukadimah seperti itu?” tanya Aira yang mulai duduk dan membuka penutup pianonya.
“Sangat perlu. Kalau nggak dia nggak akan tahu cerita lagu ini.”
Aira tidak berkata-kata lagi.
“Suatu hari nanti kamu harus menceritakan perjuangan Aria yang kamu kagumi itu,” katanya pada Aira. “Aku yakin seseorang akan terkesan dengan tokoh rekaanmu yang kompleks itu. Dan... Kenapa harus Dartmoor? Di mana itu?”
“Inggris.”
“Ah! Obsesimu rupanya,” Nana mengerti.
“Hm?”
“Kamu mau ke sana untuk berkuda atau melihat keajaiban alamnya?” tanya Nana.
“Dartmoor itu sangat indah,” Aira tersenyum. “Hanya karena ayahku pernah tinggal di sana maka aku ingin ke sana.”
“Oke,” ia meletakkan Mp4 palyernya di atas piano. “Silahkan mulai kalau siap., lalu ia menekan tombol play untuk memulai proses merekam dan menunggu Aira menekan tuts pianonya.
Aira memulai.
Satu lagu mengalun dibenaknya saat jari jemarinya menekan tuts-tuts piano itu dengan lincahnya. Suaranya menenangkan, membuat pendengarnya terhanyut dan merasakan rasa tenang seperti di sungai dan padang rumput yang luas. Angin semilir bertiup menerbangkan rambut-rambut yang tergerai lepas dari ikatannya. Kuda-kuda berlarian di padang rumput luas dan air di sungai mengalir membunyikan musik yang nyaring. Lalu bau alam menyusup melalui indera di bawah langit biru yang luas dan sinar matahari cerah. Musik itu membuat penikmatnya merasa santai dan tenang.
Lalu semuanya berubah saat pada bagian bridge musik itu mulai menghentak, seperti ada konflik yang mulai terjadi dan kemudian musik itu terdengar keras, pilu, dan cepat dengan nada-nada yang membuat semua orang terpukau. Kecepatannya, rasa sedih, marah, dan segala melankolinya masuk menusuk hati. Gadis itu memejamkan matanya dengan kening berkerut saat memainkannya seolah-olah melihat konflik yang entah apa itu di matanya.
Lalu pada bagian akhir nadanya kembali menurun dan cepat kembali dan akhirnya berhenti begitu saja dengan bagian akhir yang mengambang dan membuat pendengarnya mengharapkan kelanjutannya.
Tapi tidak ada kelanjutannya. Ia berhenti dan selesai sudah pertunjukannya. Nana bertepuk tangan. Ia menekan tombol pause dan saving untuk menyimpan hasil rekamannya.
“Bagus sekali!” pujinya senang dan puas.
“Terima kasih.”
“Nah, sekarang bisakah kamu menceritakan sejarah lagu ini?”
“Oh, Nggak,” ia menolak.
“Kenapa?”
“Aku sedang nggak ingin menceritakannya.”
“Ckckck… Alasan sang master terlalu lemah,” Nana menggelengkan kepalanya. “Kamu membuat karyamu sendiri tapi kamu nggak mau menceritakan  maknanya.”
“Lagu ini punya cerita yang sangat panjang. Aku nggak tahu harus mulai dari mana.”
“Apa itu tentang kisah hidup seorang pahlawan? Kamu membuat nada mengambang diakhirnya? Kenapa?”
Aira tersenyum. “Karena dia menghilang.”
“Aria?”
“Sang pahlawan menghilang di akhir cerita, jadi aku nggak tahu nasibnya,” jawab Aira.
“Oh, begitu. Pantas kamu membuat musiknya terputus begitu. Tapi menghilang karena apa?”
“Entahlah.”
“Aira,” panggil Nana.
“Apa?”
“Kamu terlalu banyak rahasia.”

You Might Also Like

0 comments: