Song of Aria #8 - Rain

7:09 PM fe 0 Comments


        Mereka akhirnya sampai di restoran itu lagi. Alih-alih membawa gadis itu ke dapur, ia malah menyeretnya ke lantai tiga dan masuk ke ruangannya. Pintu tertutup di belakang mereka sedangkan Aira mengambil jarak sekitar tiga meter dari pria itu. Ia menatap curiga sambil memaki dirinya sendiri yang mau-maunya diseret ke sini.
Erland nyaris tertawa karena bisa membaca ketakutan gadis itu. Gadis itu mudah ditebak.
“Kamu bilang nggak ingin terlihat, kan?” dengan santai ia berjalan mendekati Aira.
Aira mundur ke belakang seiring dengan mendekatnya orang itu.

“Dan aku memberikannya,” kata Erland sambil terus mendesaknya mundur. “Kenapa nggak berterima kasih?”
Merasa terancam, Aira mencoba mengendalikan ketenangannya agar tidak panik. “Aku bilang…,” ia berdeham karena suaranya parau, “aku bisa kerja di dapur.”
“Tapi aku nggak mengatakan kalau kau harus jadi pelayan di restoranku.” Ia terus berjalan. “Iya, kan?”
Aira terkesiap saat punggungnya menyentuh dinding. Dengan cepat Erland meletakkan tangannya di dinding dan mengunci jalan keluar Aira.
“Hm?” ia masih meminta Aira menjawabnya. “Apa aku bilang begitu?”
“Kupikir… itu yang mau kau lakukan,” jawabnya gugup karena jarak mereka yang terlalu dekat.
“Kau bisa membaca pikiranku? Hebat sekali,” ia tertawa kecil dan sambil tersenyum berkata, “sekarang baca lagi pikiranku.”
Aira menggeleng. Pikirannya berkabut dan ia berusaha berkonsentrasi padanya dan mengabaikan denyut nadinya yang tak beraturan. “Mana bisa –,” lalu ia terkesiap saat pria itu menyandarkan dahinya ke dahi Aira. “Jangan!” Aira menolehkan kepalanya dan itu hanya membuat kepala pria itu beralih ke lehernya.
Wangi yang seharum mawar menyebar di inderanya saat hidungnya menyentuh leher jenjang gadis itu. Lonjakan nadinya dan getaran tubuhnya bisa dirasakan Erland.
Ia terhanyut dan merengkuh gadis itu dalam pelukannya.
“Apa…? Lepaskan!” teriak Aira sambil berusaha melepaskan diri.
Tapi tidak bisa. Pria itu besar dan kuat. Ia jatuh dalam pesona yang tak bisa dipatahkan. Dan walau ia mencoba lepas, ia tahu kalau itu akan sulit. Rasa damai menguasai hatinya hanya dalam satu pelukan ini dan ini membuatnya tercengang.
Selama ini ia mencoba menghindar dari semua orang. Selama ini ia tidak percaya pada lelaki. Tapi kenapa dia lemah dengan orang ini? Ia tahu kalau Erland tidak serius. Ia sama sekali tidak serius dan lelaki ini hanya mempermainkannya. Lalu satu bayangan kelam muncul dengan cepat di benaknya saat Erland mengangkat wajahnya dan menatap matanya. Mata pria itu menggelap dan jantung Aira serasa berhenti berdetak.
Oh ya. Dia menginginkannya. Ia membutuhkan pria ini di sampingnya seperti ini, memeluknya, menenangkannya, mengenyahkan rasa sepinya, dan mempercayainya.
Tapi kesadaran menamparnya. Hasratnya lenyap dan satu bayangan kelam muncul kembali di benaknya. Ia berkedip dan langsung mendorong pria itu menjauh dan melepaskan diri dari pelukannya.
“Aira?” panggil pria itu padanya.
Aira menutup mulutnya dengan tangan. Ia nyaris saja berteriak menahan frustasi dan amarahnya sendiri. Akhirnya ia berderap pergi meninggalkan ruangan itu dan bersumpah untuk tidak bertemu lagi dengan pria itu apapun yang terjadi.


Melihat pintu di banting di depannya, ia merasa kalau Aira baru saja memberi peringatan keras padanya. Ia membiarkan gadis itu pergi dan sebagai gantinya, pikirannya berfungsi kembali.
Sial! Apa yang barusan ia akan lakukan? Ia merasa hilang kendali saat wangi gadis itu menusuk inderanya dan membuatnya lupa dengan tujuannya membawanya ke sini. Awalnya ia ingin membuat kamarnya berantakan dan ia ingin gadis itu membersihkan semuanya. Ia ingin melihatnya jengkel saat mengerjakan itu. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, ia terhanyut dalam gairahnya sendiri.
Ia pikir hasrat primitif itu sudah hilang seiring dengan rasa bosannya. Tapi tidak. Ia merasakan hasrat itu bangkit hanya dengan tatapan dan kedekatan mereka.
Erland mengumpat pada kelemahannya sendiri sekarang. Tapi ia merasa tak bisa begitu saja membiarkan gadis itu pergi.
Ia melawan akal sehatnya dan justru berlari ke luar. Ia sampai di luar restoran itu dengan cepat dan melihat kesekelilingnya. Ia tidak menemukan gadis itu di manapun. Mungkin ia berlari pulang setelah kejadian tadi.
“Erland?” sapa seseorang di belakangnya.
Mendengar seseorang memanggilnya dengan logat Inggris yang kental, Erland berbalik dan melihat seseorang yang sangat dikenalnya. “Nana?” ia berkata dengan nada tidak percaya.
“Erland!” serunya yakin sekarang. “Kau Erland! Ya ampun! Sudah lama sekali!” katanya senang saat melihat tetangganya yang ada di London dua tahun lalu itu. “Apa kabar?”
“Baik. Kau di sini?” tanyanya.
“Tentu saja aku harus pulang. Kenapa di sini? Kau sedang jalan-jalan?”
“Tidak. Aku sedang mengadakan penelitian. Mana ibumu?” tanyanya.
“Dia di rumah kami.”
“Oh.”
“Kau sedang apa?”
“Apa kau melihat seseorang yang berlari dari dalam restoran ini?” ia menunjuk ke sebuah restoran yang ada di belakangnya.
“Seseorang? Siapa?”
“Seorang gadis…”
“Ha! Apa yang kau lakukan padanya?” tanyanya curiga.
“Aku sedang menghukumnya dan dia pergi.”
Nana berpikir. “Oh ya? Seperti apa orangnya?”
“Dia memakai baju lengan panjang warna cokelat, celana pendek… rambutnya diikat dan sedikit bergelombang…”
“Hmm? Tidak tahu,” jawabnya.
“Begitu?”
“Kau mau menghukumnya apa, hm?”
“Dia merusak bisnisku. Aku terpaksa memberikan banyak diskon untuk pelanggan.”
Nana tertawa. “Bagus! Kau akan banyak dapat pelanggan lagi, kan? Seorang pengusaha harus berbagi kesenangan dengan pelanggan mereka dengan memberi potongan harga. Jangan pikir kau rugi karena itu.”
Tentu saja aku rugi karena orang itu menghilang sekarang, pikirnya kesal.


Jantung Aira sedang berdegup kencang saat ia membelah deretan pertokoan itu sambil berlari. Oh tidak! Apa dia sudah gila? Sekejap tadi ia mengatakan pada dirinya bahwa ia menginginkan pria itu. Ini sama sekali bukan dirinya! Dia itu orang asing dan dia tahu kalau orang asing itu sangat berbahaya. Ia nyaris ingin mewujudkan fantasinya sendiri.
“Bodoh! Bodoh! Bodoh!” katanya pada dirinya sendiri. Untung saja ia bisa mengendalikan dirinya karena bayangan kelam itu berputar di kepalanya, menggantikan rasa tertariknya pada pria itu.
Mungkin pria itu berpikir kalau ia mudah dikelabui, atau lebih ngerinya lagi ia dianggap pelacur. Brengsek! Ia takkan memaafkan pikiran itu jika itu benar. Rasanya ia sangat ingin membunuh Erland Avendale. Dan jika ia menyentuhnya lagi, maka ia takkan segan melakukannya.

You Might Also Like

0 comments: