Song of Aria #8 - Rain
Mereka akhirnya sampai di restoran itu lagi. Alih-alih membawa gadis itu ke dapur, ia malah menyeretnya ke lantai tiga dan masuk ke ruangannya. Pintu tertutup di belakang mereka sedangkan Aira mengambil jarak sekitar tiga meter dari pria itu. Ia menatap curiga sambil memaki dirinya sendiri yang mau-maunya diseret ke sini.
Erland nyaris tertawa karena bisa membaca ketakutan gadis
itu. Gadis itu mudah ditebak.
“Kamu bilang nggak ingin terlihat, kan?” dengan santai ia berjalan mendekati
Aira.
Aira mundur ke belakang seiring dengan mendekatnya orang
itu.
“Dan aku memberikannya,” kata Erland sambil terus
mendesaknya mundur. “Kenapa nggak berterima kasih?”
Merasa terancam, Aira mencoba mengendalikan ketenangannya
agar tidak panik. “Aku bilang…,” ia berdeham karena suaranya parau, “aku bisa
kerja di dapur.”
“Tapi aku nggak mengatakan kalau kau harus jadi pelayan di
restoranku.” Ia terus berjalan. “Iya, kan?”
Aira terkesiap saat punggungnya menyentuh dinding. Dengan
cepat Erland meletakkan tangannya di dinding dan mengunci jalan keluar Aira.
“Hm?” ia masih meminta Aira menjawabnya. “Apa aku bilang
begitu?”
“Kupikir… itu yang mau kau lakukan,” jawabnya gugup karena
jarak mereka yang terlalu dekat.
“Kau bisa membaca pikiranku? Hebat sekali,” ia tertawa kecil
dan sambil tersenyum berkata, “sekarang baca lagi pikiranku.”
Aira menggeleng. Pikirannya berkabut dan ia berusaha
berkonsentrasi padanya dan mengabaikan denyut nadinya yang tak beraturan. “Mana
bisa –,” lalu ia terkesiap saat pria itu menyandarkan dahinya ke dahi Aira.
“Jangan!” Aira menolehkan kepalanya dan itu hanya membuat kepala pria itu
beralih ke lehernya.
Wangi yang seharum mawar menyebar di inderanya saat
hidungnya menyentuh leher jenjang gadis itu. Lonjakan nadinya dan getaran
tubuhnya bisa dirasakan Erland.
Ia terhanyut dan merengkuh gadis itu dalam pelukannya.
“Apa…? Lepaskan!” teriak Aira sambil berusaha melepaskan
diri.
Tapi tidak bisa. Pria itu besar dan kuat. Ia jatuh dalam
pesona yang tak bisa dipatahkan. Dan walau ia mencoba lepas, ia tahu kalau itu
akan sulit. Rasa damai menguasai hatinya hanya dalam satu pelukan ini dan ini
membuatnya tercengang.
Selama ini ia mencoba menghindar dari semua orang. Selama
ini ia tidak percaya pada lelaki. Tapi kenapa dia lemah dengan orang ini? Ia
tahu kalau Erland tidak serius. Ia sama sekali tidak serius dan lelaki ini
hanya mempermainkannya. Lalu satu bayangan kelam muncul dengan cepat di
benaknya saat Erland mengangkat wajahnya dan menatap matanya. Mata pria itu
menggelap dan jantung Aira serasa berhenti berdetak.
Oh ya. Dia menginginkannya. Ia membutuhkan pria ini di
sampingnya seperti ini, memeluknya, menenangkannya, mengenyahkan rasa sepinya,
dan mempercayainya.
Tapi kesadaran menamparnya. Hasratnya lenyap dan satu
bayangan kelam muncul kembali di benaknya. Ia berkedip dan langsung mendorong
pria itu menjauh dan melepaskan diri dari pelukannya.
“Aira?” panggil pria itu padanya.
Aira menutup mulutnya dengan tangan. Ia nyaris saja
berteriak menahan frustasi dan amarahnya sendiri. Akhirnya ia berderap pergi
meninggalkan ruangan itu dan bersumpah untuk tidak bertemu lagi dengan pria itu
apapun yang terjadi.
Melihat pintu di banting di depannya, ia merasa kalau Aira
baru saja memberi peringatan keras padanya. Ia membiarkan gadis itu pergi dan
sebagai gantinya, pikirannya berfungsi kembali.
Sial! Apa yang barusan ia akan lakukan? Ia merasa hilang
kendali saat wangi gadis itu menusuk inderanya dan membuatnya lupa dengan
tujuannya membawanya ke sini. Awalnya ia ingin membuat kamarnya berantakan dan
ia ingin gadis itu membersihkan semuanya. Ia ingin melihatnya jengkel saat
mengerjakan itu. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, ia terhanyut dalam
gairahnya sendiri.
Ia pikir hasrat primitif itu sudah hilang seiring dengan
rasa bosannya. Tapi tidak. Ia merasakan hasrat itu bangkit hanya dengan tatapan
dan kedekatan mereka.
Erland mengumpat pada kelemahannya sendiri sekarang. Tapi ia
merasa tak bisa begitu saja membiarkan gadis itu pergi.
Ia melawan akal sehatnya dan justru berlari ke luar. Ia
sampai di luar restoran itu dengan cepat dan melihat kesekelilingnya. Ia tidak
menemukan gadis itu di manapun. Mungkin ia berlari pulang setelah kejadian
tadi.
“Erland?” sapa seseorang di
belakangnya.
Mendengar seseorang memanggilnya dengan logat Inggris yang
kental, Erland berbalik dan melihat seseorang yang sangat dikenalnya. “Nana?” ia berkata dengan nada tidak
percaya.
“Erland!” serunya yakin
sekarang. “Kau Erland! Ya ampun! Sudah lama sekali!” katanya senang saat
melihat tetangganya yang ada di London
dua tahun lalu itu. “Apa kabar?”
“Baik. Kau di sini?” tanyanya.
“Tentu saja aku harus pulang. Kenapa di sini? Kau sedang
jalan-jalan?”
“Tidak. Aku sedang mengadakan penelitian. Mana ibumu?”
tanyanya.
“Dia di rumah kami.”
“Oh.”
“Kau sedang apa?”
“Apa kau melihat seseorang yang berlari dari dalam restoran
ini?” ia menunjuk ke sebuah restoran yang ada di belakangnya.
“Seseorang? Siapa?”
“Seorang gadis…”
“Ha! Apa yang kau lakukan padanya?” tanyanya curiga.
“Aku sedang menghukumnya dan dia pergi.”
Nana berpikir. “Oh ya? Seperti apa orangnya?”
“Dia memakai baju lengan panjang warna cokelat, celana pendek…
rambutnya diikat dan sedikit bergelombang…”
“Hmm? Tidak tahu,” jawabnya.
“Begitu?”
“Kau mau menghukumnya apa, hm?”
“Dia merusak bisnisku. Aku terpaksa memberikan banyak diskon
untuk pelanggan.”
Nana tertawa. “Bagus! Kau akan banyak dapat pelanggan lagi, kan? Seorang pengusaha
harus berbagi kesenangan dengan pelanggan mereka dengan memberi potongan harga.
Jangan pikir kau rugi karena itu.”
Tentu saja aku rugi karena orang itu menghilang sekarang,
pikirnya kesal.
Jantung Aira sedang berdegup kencang saat ia membelah
deretan pertokoan itu sambil berlari. Oh tidak! Apa dia sudah gila? Sekejap
tadi ia mengatakan pada dirinya bahwa ia menginginkan pria itu. Ini sama sekali
bukan dirinya! Dia itu orang asing dan dia tahu
kalau orang
asing itu sangat berbahaya. Ia nyaris ingin mewujudkan fantasinya sendiri.
“Bodoh! Bodoh! Bodoh!” katanya pada dirinya sendiri. Untung
saja ia bisa mengendalikan dirinya karena bayangan kelam itu berputar di
kepalanya, menggantikan rasa tertariknya pada pria itu.
Mungkin pria itu berpikir kalau ia mudah dikelabui, atau
lebih ngerinya lagi ia dianggap pelacur. Brengsek! Ia takkan memaafkan pikiran
itu jika itu benar. Rasanya ia sangat ingin membunuh Erland Avendale. Dan jika
ia menyentuhnya lagi, maka ia takkan segan melakukannya.

0 comments: