Song of Aria #11 - Rain

7:16 PM fe 0 Comments


          Erland bingung. Seharusnya ia tak di sini lagi dan seharusnya urusannya dengan gadis itu sudah cukup. Hanya saja ia masih penasaran padanya.
 Sambil menatap gadis itu yang menjulurkan kakinya di pantai, ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Ada yang salah, ia yakin itu, tapi apa?
Ia menghampirinya diam-diam lalu duduk di sebelahnya hingga gadis itu tersentak dan terkejut melihatnya.
“Hei…” sapa Erland.
Panik dengan kedatangan Erland, Aira langsung mencoba berdiri tapi pria itu malah menarik tangannya dan membuatnya duduk kembali.
“Mau apa –”
“Cuma mau duduk aja,” ia langsung menjulurkan kakinya dan mencoba terlihat santai. “Kamu suka banget ke sini, ya?” tanyanya.
Aira menghembuskan napas kesal, “Aku udah ngasih apa yang kamu mau. Sekarang kamu datang lagi.”
“Pantai ini punyamu?” tanyanya.

Aira berkedip, “Nggak…” akunya. Tentu saja, memangnya dia sanggup beli pantai?
“Kalau gitu aku boleh ada di sini, kan?” tanyanya lagi.
Kesal dengan itu, ia langsung berdiri. “Terserah.”
Tapi Erland menariknya turun lagi.
“Mau apa sih?” Aira protes.
“Temani aku sebentar. Aku nggak punya kenalan lain selain kamu dan Nana.”
“Ya udah! Panggil aja Nana ke sini!”
“Tapi dia sibuk, kan?” Erland tersenyum, “Lagi pula urusan kita memang sudah selesai, tapi bukan berarti kamu nggak boleh pura-pura nggak kenal sama aku.”
Aira menatapnya tidak percaya. “Terus?”
“Begitu saja,” jawabnya cuek. “Aaah… Aku bahkan nggak tahu kalau di sini sangat menyenangkan,” ia berbaring di pasir sekarang. “Di sini juga sangat tenang,” ia memujinya sambil memejamkan matanya.
Aira memperhatikannya dan keheningan merambat diantara mereka. Apa yang Erland dengar memang benar. Di sini menyenangkan, tenang, dan semuanya hanya ada suara alam. Deburan ombak, gemuruh angin, sentuhan lembut air, pemandangan luas di cakrawala, kaki langit… Semuanya menjelma indah dan polos.
Ini adalah keindahan murni tanpa ada sentuhan tangan-tangan manusia. Ini adalah tempatnya di mana ia bisa melihat dan merasakan hitam putih kehidupan dan apa yang bumi berikan dari kehebatan ciptaan Tuhan.
Pengendalian diri…
Dua kata itu melintas dalam pikirannya dan ia tersentak karena tahu betapa tak normal dirinya. Ia mulai membanding-bandingkan dirinya dengan orang yang jelas-jelas lebih baik darinya. Padahal sampai detik tadi ia tak peduli.
Dan pria yang berbaring dengan mata terpejam di sampingnya ini seperti tertidur pulas. Ia tak bergerak. Ia diam. Ia damai.
Aira menggigit bibirnya merasakan sensasi aneh yang merambati hatinya. Hatinya senang. Ia tak merasa sepi. Ia merasa dekat dengan orang ini… dan ini aneh! Ia sama sekali tak pernah menaruh perhatian pada apapun secara khusus. Dunianya hanya berputar membosankan disekitarnya. Ia sendirian dan ketakutan. Ia sebenarnya ingin lari tapi pria ini sama sekali tak mengancam.
Ia justru merasakan rasa aman.
Love at the first sign itu memang aneh,” ia teringat Nana mengatakan itu padanya beberapa bulan lalu saat tergila-gila dengan novel romantis. “Bayangin aja, gimana rasanya jatuh cinta hanya dengan satu tatapan mata? Wow! Aku aja nggak pernah begitu. Tapi memang yang begitu itu ada,” ia menunjuk satu komik yang ada di meja, “Memang seperti dongeng, tapi kenapa nggak? Siapa tahu jomblonya kamu selama ini menandakan kamu akan jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seseorang.”
“Bohong!” seru Aira jengah dengan topik ini tapi ia tahu Nana tidak semudah itu membiarkan semuanya mengambang dan berganti ke topik lain. “Itu hanya romantisme berlebihan dari orang-orang yang nggak pernah bisa merasakannya.”
“Well, aku punya teman yang juga nggak percaya dengan itu. Tapi ternyata dia sendiri mengalaminya. Hati-hati dengan yang namanya karma, Aira… Nanti kamu ngerasainnya juga.”
“Nggak…” jawab Aira pelan, senyumnya hambar. Rasa getir merambat di dirinya. “Nggak akan ada untuk orang seperti aku.”
Nana tersentak karena lagi-lagi Aira menarik diri. Ini sudah ribuan kali ia lakukan semenjak mereka bersama. Semenjak semua orang tahu kalau gadis ini berbeda dari semua orang.
Aira memainkan pianonya. Pandangan matanya tidak terarah pada tuts-tuts yang ia mainkan. Ia menatap satu titik di depannya dan ia memainkan nadanya dengan lembut, pelan, memesona seperti biasa sampai akhirnya ia kembali merusaknya seperti biasa. Ia menghempaskan jarinya kemana-mana dan membuat melodi itu rusak sempurna.
“Aira!” Nana menegurnya dan menarik tangannya. “Jangan!” serunya lagi.
Aira terisak dan menangis. Takkan ada harapan untuk itu. Ia bahkan tak tahu kenapa ia harus hidup selama itu.
“Kumohon, jangan ceritakan hal ini lagi… Aku sudah berhenti berharap dan aku sudah melakukannya!” pintanya.
Dan sekarang ia sadar kalau kegelisahannya yang tak beralasan itu disebabkan oleh pria ini. Ia tak tahu nasib membawanya ke mana dan ia tahun kalau ini adalah hal yang paling tidak ia inginkan.
Ia ingin kabur saja sebelum semua kebenaran terungkap.
Tuhan… Ia menyukainya dan bahkan ia tak tahu alasannya. Perasaan ini timbul begitu saja dengan cara yang aneh yang bahkan ia sama sekali merasa seperti orang bodoh. Sangat sentimentil. Perasaannya tak terkendali dan ia mulai paham kalau degup jantungnya ini bukan karena takut, tapi karena gugup dan senang.
Rasanya sangat menyenangkan.
Aira menatapnya lama, membiarkan dirinya merasa nyaman dengan ketenangan yang tercipta selagi pria itu tak menatap matanya dengan tatapan serba tahu.
“Kamu tahu?”
Aira tersentak karena Erland tiba-tiba berbicara tapi ia tak membuka matanya. Aira bertahan, ia tak mau menjawab.
“Aku takkan kalah sekalipun kau bilang aku akan kalah,” ia mengatakannya sekarang. Lalu ia membuka matanya dan duduk sambil menatap tajam gadis itu, “Memangnya apa yang harus kamu kalahkan?”
Aira waspada saat ia ditatap dengan tatapan serius seperti itu. Ia mencoba mengendalikan pikirannya yang kacau. Ia berdoa semoga degup jantungnya tidak sekeras itu. Dan ia mencoba menjawab, “Kamu percaya kalau aku nggak ada?” tanyanya serius.
Erland tak berkedip. Ia masih menatapnya lama sebelum akhirnya menanggapinya. “Kamu ada.”
Aira mencoba tersenyum, tersenyum semampunya walau matanya menyiratkan kesedihan, “Aku nggak ada, Erland. Aku hanya bayangan. Dan bayangan akan selalu hilang,” ia berkata dengan hati-hati.
Erland masih menatapnya, sama sekali tak terkejut atau bereaksi apapun. Lalu ia mengangkat tangannya, menangkup wajah gadis itu dan berkata, “Kamu ada. Aku bisa merasakannya,” katanya. “Kalau ini nggak nyata, buktikan.”
Aira menyelimuti tangan yang menangkup wajahnya dan mulai merasakan aura gelap itu mempengaruhinya, hampir mengambil separuh kesadarannya, mengaburkan realitanya dengan bayangan-bayangan yang bermain di kepalanya dan membuatnya merasa sesak.
Ia harus bertahan, sedikit lagi.
“Sebentar lagi aku akan hilang dari matamu. Percaya itu,” kemudian ia berdiri dan meninggalkan Erland di sana sendirian.
Erland bertekad akan menemukan gadis itu sekali lagi… seperti keberuntungannya selama ini.

You Might Also Like

0 comments: