Song of Aria #11 - Rain
Erland bingung. Seharusnya ia tak di sini lagi dan seharusnya urusannya dengan gadis itu sudah cukup. Hanya saja ia masih penasaran padanya.
Sambil menatap gadis itu yang menjulurkan
kakinya di pantai, ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Ada yang salah, ia
yakin itu, tapi apa?
Ia menghampirinya diam-diam lalu duduk
di sebelahnya hingga gadis itu tersentak dan terkejut melihatnya.
“Hei…” sapa Erland.
Panik dengan kedatangan Erland, Aira
langsung mencoba berdiri tapi pria itu malah menarik tangannya dan membuatnya
duduk kembali.
“Mau apa –”
“Cuma mau duduk aja,” ia langsung
menjulurkan kakinya dan mencoba terlihat santai. “Kamu suka banget ke sini,
ya?” tanyanya.
Aira menghembuskan napas kesal, “Aku
udah ngasih apa yang kamu mau. Sekarang kamu datang lagi.”
“Pantai ini punyamu?” tanyanya.
Aira berkedip, “Nggak…” akunya. Tentu
saja, memangnya dia sanggup beli pantai?
“Kalau gitu aku boleh ada di sini, kan?”
tanyanya lagi.
Kesal dengan itu, ia langsung berdiri.
“Terserah.”
Tapi Erland menariknya turun lagi.
“Mau apa sih?” Aira protes.
“Temani aku sebentar. Aku nggak punya
kenalan lain selain kamu dan Nana.”
“Ya udah! Panggil aja Nana ke sini!”
“Tapi dia sibuk, kan?” Erland tersenyum,
“Lagi pula urusan kita memang sudah selesai, tapi bukan berarti kamu nggak
boleh pura-pura nggak kenal sama aku.”
Aira menatapnya tidak percaya. “Terus?”
“Begitu saja,” jawabnya cuek. “Aaah… Aku
bahkan nggak tahu kalau di sini sangat menyenangkan,” ia berbaring di pasir
sekarang. “Di sini juga sangat tenang,” ia memujinya sambil memejamkan matanya.
Aira memperhatikannya dan keheningan
merambat diantara mereka. Apa yang Erland dengar memang benar. Di sini
menyenangkan, tenang, dan semuanya hanya ada suara alam. Deburan ombak, gemuruh
angin, sentuhan lembut air, pemandangan luas di cakrawala, kaki langit…
Semuanya menjelma indah dan polos.
Ini adalah keindahan murni tanpa ada
sentuhan tangan-tangan manusia. Ini adalah tempatnya di mana ia bisa melihat
dan merasakan hitam putih kehidupan dan apa yang bumi berikan dari kehebatan
ciptaan Tuhan.
Pengendalian diri…
Dua kata itu melintas dalam pikirannya
dan ia tersentak karena tahu betapa tak normal dirinya. Ia mulai
membanding-bandingkan dirinya dengan orang yang jelas-jelas lebih baik darinya.
Padahal sampai detik tadi ia tak peduli.
Dan pria yang berbaring dengan mata
terpejam di sampingnya ini seperti tertidur pulas. Ia tak bergerak. Ia diam. Ia
damai.
Aira menggigit bibirnya merasakan
sensasi aneh yang merambati hatinya. Hatinya senang. Ia tak merasa sepi. Ia
merasa dekat dengan orang ini… dan ini aneh! Ia sama sekali tak pernah menaruh
perhatian pada apapun secara khusus. Dunianya hanya berputar membosankan
disekitarnya. Ia sendirian dan ketakutan. Ia sebenarnya ingin lari tapi pria
ini sama sekali tak mengancam.
Ia justru merasakan rasa aman.
“Love
at the first sign itu memang aneh,” ia teringat Nana mengatakan itu padanya
beberapa bulan lalu saat tergila-gila dengan novel romantis. “Bayangin aja,
gimana rasanya jatuh cinta hanya dengan satu tatapan mata? Wow! Aku aja nggak
pernah begitu. Tapi memang yang begitu itu ada,” ia menunjuk satu komik yang
ada di meja, “Memang seperti dongeng, tapi kenapa nggak? Siapa tahu jomblonya
kamu selama ini menandakan kamu akan jatuh cinta pada pandangan pertama dengan
seseorang.”
“Bohong!” seru Aira jengah dengan topik
ini tapi ia tahu Nana tidak semudah itu membiarkan semuanya mengambang dan
berganti ke topik lain. “Itu hanya romantisme berlebihan dari orang-orang yang
nggak pernah bisa merasakannya.”
“Well, aku punya teman yang juga nggak
percaya dengan itu. Tapi ternyata dia sendiri mengalaminya. Hati-hati dengan
yang namanya karma, Aira… Nanti kamu ngerasainnya juga.”
“Nggak…” jawab Aira pelan, senyumnya hambar.
Rasa getir merambat di dirinya. “Nggak akan ada untuk orang seperti aku.”
Nana tersentak karena lagi-lagi Aira
menarik diri. Ini sudah ribuan kali ia lakukan semenjak mereka bersama.
Semenjak semua orang tahu kalau gadis ini berbeda dari semua orang.
Aira memainkan pianonya. Pandangan
matanya tidak terarah pada tuts-tuts yang ia mainkan. Ia menatap satu titik di
depannya dan ia memainkan nadanya dengan lembut, pelan, memesona seperti biasa
sampai akhirnya ia kembali merusaknya seperti biasa. Ia menghempaskan jarinya
kemana-mana dan membuat melodi itu rusak sempurna.
“Aira!” Nana menegurnya dan menarik
tangannya. “Jangan!” serunya lagi.
Aira terisak dan menangis. Takkan ada
harapan untuk itu. Ia bahkan tak tahu kenapa ia harus hidup selama itu.
“Kumohon, jangan ceritakan hal ini lagi…
Aku sudah berhenti berharap dan aku sudah melakukannya!” pintanya.
Dan sekarang ia sadar kalau
kegelisahannya yang tak beralasan itu disebabkan oleh pria ini. Ia tak tahu
nasib membawanya ke mana dan ia tahun kalau ini adalah hal yang paling tidak ia
inginkan.
Ia ingin kabur saja sebelum semua
kebenaran terungkap.
Tuhan… Ia menyukainya dan bahkan ia tak
tahu alasannya. Perasaan ini timbul begitu saja dengan cara yang aneh yang
bahkan ia sama sekali merasa seperti orang bodoh. Sangat sentimentil.
Perasaannya tak terkendali dan ia mulai paham kalau degup jantungnya ini bukan
karena takut, tapi karena gugup dan senang.
Rasanya sangat menyenangkan.
Aira menatapnya lama, membiarkan dirinya
merasa nyaman dengan ketenangan yang tercipta selagi pria itu tak menatap
matanya dengan tatapan serba tahu.
“Kamu tahu?”
Aira tersentak karena Erland tiba-tiba
berbicara tapi ia tak membuka matanya. Aira bertahan, ia tak mau menjawab.
“Aku takkan kalah sekalipun kau bilang
aku akan kalah,” ia mengatakannya sekarang. Lalu ia membuka matanya dan duduk
sambil menatap tajam gadis itu, “Memangnya apa yang harus kamu kalahkan?”
Aira waspada saat ia ditatap dengan
tatapan serius seperti itu. Ia mencoba mengendalikan pikirannya yang kacau. Ia
berdoa semoga degup jantungnya tidak sekeras itu. Dan ia mencoba menjawab,
“Kamu percaya kalau aku nggak ada?” tanyanya serius.
Erland tak berkedip. Ia masih menatapnya
lama sebelum akhirnya menanggapinya. “Kamu ada.”
Aira mencoba tersenyum, tersenyum semampunya
walau matanya menyiratkan kesedihan, “Aku nggak ada, Erland. Aku hanya
bayangan. Dan bayangan akan selalu hilang,” ia berkata dengan hati-hati.
Erland masih menatapnya, sama sekali tak
terkejut atau bereaksi apapun. Lalu ia mengangkat tangannya, menangkup wajah
gadis itu dan berkata, “Kamu ada. Aku bisa merasakannya,” katanya. “Kalau ini
nggak nyata, buktikan.”
Aira menyelimuti tangan yang menangkup
wajahnya dan mulai merasakan aura gelap itu mempengaruhinya, hampir mengambil
separuh kesadarannya, mengaburkan realitanya dengan bayangan-bayangan yang
bermain di kepalanya dan membuatnya merasa sesak.
Ia harus bertahan, sedikit lagi.
“Sebentar lagi aku akan hilang dari
matamu. Percaya itu,” kemudian ia berdiri dan meninggalkan Erland di sana
sendirian.
Erland bertekad akan menemukan gadis itu
sekali lagi… seperti keberuntungannya selama ini.

0 comments: