Song of Aria #7 - Rain

7:06 PM fe 0 Comments


         “Kamu pikir bisa lari?”
Aira ternganga saat sore itu ia kembali mendapati pria yang sama duduk di kap mobilnya dan menunggunya di samping TK yang sepi. Ia tidak menyangka kalau pria itu di sana dan kembali meminta pertanggung jawabannya.
“Begitu?”  tanya pria itu saat Aira masih diam.
Erland nyaris tertawa karena ia berhasil membuat gadis itu kaget. Tapi ia takkan merusak perannya sendiri. Semalaman ia tidak sabar untuk menunggu pagi agar bisa kembali ke sini. Ia menunggu gadis itu di sana sekitar dua jam sambil bertanya-tanya apa gadis itu akan datang atau tidak. Tapi akhirnya penantian panjangnya tidak sia-sia.

“Oke. Aku nggak punya uang untuk membayar kerugianmu,” Aira berkata jujur sekarang. “Kalau kamu mau aku melakukan sesuatu, maka akan kulakukan,” ia menawarkan itu lagi dan berharap kalau masalah ini cepat selesai. “Cepat katakan maumu!”
“Kamu nggak punya uang? Kamu tahu kalau aku rugi secara finansial?” tanyanya.
“Aku tahu,” Aira meyakinkannya. “Tapi aku nggak punya uang.”
“Jujur sekali,” ia tersenyum pada gadis itu. “Kalau begitu aku akan membawamu ke polisi.”
Aira langsung merasa gugup dengan ancaman itu. Ia menggigit bibirnya sambil berusaha memikirkan cara lain agar ia tidak diseret ke sana. Tapi pria itu mendekatinya dan mengulurkan tangannya untuk meraihnya. Tapi gerak reflek Aira langsung memerintah kakinya untuk mundur sehingga pria itu hanya dapat menggapai angin.
Erland terdiam melihat raut wajah ngeri yang ada di wajah gadis itu. Ia yakin kalau gadis itu panik karena ia akan membawanya ke polisi dan mengajukan banyak tuntutan. Dalam hal apapun ia tahu kalau ia akan menang karena gadis itu memang salah. Tapi di sisi lain, ia melihat gadis itu memancarkan rasa takut yang tidak biasa padanya seolah-olah ia adalah pemangsa kejam yang akan mengoyaknya sampai mati.
Erland menarik tangannya dan memasukkannya ke saku. Ia berdiri santai sekarang dan tersenyum angkuh sambil berkata, “Kamu takut?”
Gadis itu berkedip dan mulai mendapatkan kesadarannya kembali. “Nggak,” jawabnya dengan suara agak bergetar.
Aira sangat ingin membungkam mulut pria itu agar ia tidak menatap senyum angkuh yang cocok untuknya itu. Ia berusaha tenang dan tidak menghiraukannya.
“Kalau gitu, ikut aku sekarang!”
“Nggak!” Aira menolak keras.
“Atau aku harus telpon mereka agar mereka ke sini?”
“Nggak!” itu ide yang mengerikan dan ia tidak mau dibuat jadi tontonan warga sini.
“Kalau gitu apa yang harus kulakukan?” tanya pria itu meminta pendapatnya.
“Aku punya uang!” Aira menyerah sekarang.
“Kamu bilang kamu nggak punya uang,” Erland mengingatkan.
“Aku punya tapi mungkin nggak bisa menutup kerugianmu.”
“Aku nggak butuh uangmu.” Erland berkata tegas sekarang.
“Kamu rugi, kan?”
“Aku nggak butuh uangmu yang nggak seberapa itu!”
“Sialan!”
Erland tertawa sekarang. “Lucu sekali. Siapa namamu?”
“Siapa namamu?” ia balik bertanya.
Berani sekali dia. Tapi pria itu tahu kalau tidak sopan menanyakan nama orang tanpa memperkenalkan diri dulu. “Erland Avendale. Salam kenal.”
“Orang Inggris? Atau Amerika?” tanya gadis itu sambil meneliti wajahnya.
“Blasteran Inggris-Indonesia,” katanya. “Lalu kau?”
“Aira.”
Erland menganggukkan kepalanya, “Baiklah, Aira. Kupikir kita bisa sedikit bekerja sama agar hutangmu lunas.”
Aira diam menunggu.
“Bagaimana kalau kau kerja di tempatku?”
Gagasan yang salah. Aira yang menatapnya dengan pandangan tidak suka. “Maaf. Aku menolak.”
“Kalau begitu terpaksa aku melakukannya.”
“Silahkan.” Aira menantangnya.
Erland tidak menyangka kalau gadis itu sekarang menantangnya. Ia tahu kalau gagasan itu hanya untuk menggertaknya saja. Tapi hebat sekali gadis itu bisa berubah pikiran secepat itu. Ia takjub. Memangnya apa yang dipikirkannya?
Sambil mengabaikan serangan tatapan Erland, Aira melangkah masuk ke dalam halaman TK itu dan duduk di ayunan. Ia berayun pelan dan menatap lurus ke depan. Ini pemandangan yang membuat Erland heran. Ia berjalan menghampirinya dan berdiri di depannya.
“Kita ke kantor polisi sekarang,” katanya dengan raut wajah serius.
Aira menghentikan ayunannya dan tersenyum. “Kamu yakin mau membawaku ke sana?”
“Tentu saja.”
“Duduklah,” ia menunjuk ayunan yang ada di sampingnya. “Temani aku sebentar sebelum kita ke sana.”
“Aku ingin sekarang.” Erland menyambar tangan gadis itu dan menariknya berdiri.
Aira menghentakkan tangannya, “Jangan sentuh aku!” teriaknya marah.
Erland tidak peduli. Raut wajah keras terpampang di wajahnya, dan dengan senyum angkuh ia berkata, “Jangan seenakmu, Nona. Kau pikir kau ini siapa?”
“Dan jangan seenakmu, Tuan Erland Avendale!” ia menekan nama pria itu dengan jijik, “Karena kau nggak tahu apa-apa tentangku.”
“Masa bodoh dengan itu!”
“Dan aku nggak peduli kamu mendapat malu karena menyeretku ke sana,” Aira tersenyum merendahkannya sekarang. “Kamu hanya akan membuat kesalahan saja.”
Mereka saling beradu pandang sekarang tanpa ada yang mau mengalah. Erland menyambar tangan gadis itu dengan cepat dan menguatkan pegangannya.
 “Aku ingin tahu di mana letak salahnya,” kata pria itu tenang. “Kita pergi.”
“Dasar brengsek! Lepaskan aku!”
Erland tertawa seperti seorang bajingan tanpa hati. Itu yang biasa ia lakukan dulu saat di Inggris bersama teman-temannya di Rookery. “Kamu hanya akan menyakiti dirimu saja.” Ia menarik Aira dengan kasar sekarang. Tapi gadis itu ternyata lebih senang di seret.
“Lepaskan!”
“Bisa diam?” kesabaran Erland hampir habis sekarang.
“Lepaskan aku dan aku diam!”
“Lalu kamu akan kabur. Huh! Kamu pikir aku nggak bisa baca rencanamu?”
Aira tidak membantah kalau memang itu yang dia pikirkan. Ia menarik tangannya dan membuat Erland tersentak ke belakang. “Lihat aku!” katanya marah.
Erland berbalik sepenuhnya dan menatapnya.
“Aku akan melakukannya. Aku akan bekerja untukmu dengan satu syarat,” katanya.
Erland menatapnya dengan wajah aneh. “Kamu ini aneh. Tadi kamu bilang nggak mau. Sekarang mau. Apa yang sih kau pikirkan?” tanyanya tidak mengerti.
“Jangan tanya! Aku akan bekerja denganmu tapi dengan satu syarat.” Ia menarik napasnya sekarang. “Aku ingin nggak terlihat.”
“Ha?” Erland tercengang lalu akhirnya tertawa. “Kamu pikir aku pesulap? Mana bisa aku membuatmu hilang.”
“Kalau kamu menyuruhku bekerja di restoranmu, tempatkan aku di dapur, seperti itu.”
Erland menatapnya sambil berpikir. Menarik juga jika ia menempatkan gadis ini di tempat yang tak terlihat. Lagi pula ia memang tak ingin orang lain melihatnya secara terang-terangan karena dia begitu menarik.
“Baiklah. Ikut aku sekarang.”

You Might Also Like

0 comments: