Song of Aria #7 - Rain
“Kamu pikir bisa lari?”
Aira ternganga saat sore itu ia kembali mendapati pria yang
sama duduk di kap mobilnya dan menunggunya di samping TK yang sepi. Ia tidak
menyangka kalau pria itu di sana
dan kembali meminta pertanggung jawabannya.
“Begitu?” tanya pria
itu saat Aira masih diam.
Erland nyaris tertawa karena ia berhasil membuat gadis itu
kaget. Tapi ia takkan merusak perannya sendiri. Semalaman ia tidak sabar untuk
menunggu pagi agar bisa kembali ke sini. Ia menunggu gadis itu di sana sekitar dua jam
sambil bertanya-tanya apa gadis itu akan datang atau tidak. Tapi akhirnya
penantian panjangnya tidak sia-sia.
“Oke. Aku nggak punya uang untuk membayar kerugianmu,” Aira
berkata jujur sekarang. “Kalau kamu mau aku melakukan sesuatu, maka akan
kulakukan,” ia menawarkan itu lagi dan berharap kalau masalah ini cepat
selesai. “Cepat katakan maumu!”
“Kamu nggak punya uang? Kamu tahu kalau aku rugi secara
finansial?” tanyanya.
“Aku tahu,” Aira meyakinkannya. “Tapi aku nggak punya uang.”
“Jujur sekali,” ia tersenyum pada gadis itu. “Kalau begitu
aku akan membawamu ke polisi.”
Aira langsung merasa gugup dengan ancaman itu. Ia menggigit
bibirnya sambil berusaha memikirkan cara lain agar ia tidak diseret ke sana. Tapi pria itu
mendekatinya dan mengulurkan tangannya untuk meraihnya. Tapi gerak reflek Aira
langsung memerintah kakinya untuk mundur sehingga pria itu hanya dapat
menggapai angin.
Erland terdiam melihat raut wajah ngeri yang ada di wajah
gadis itu. Ia yakin kalau gadis itu panik karena ia akan membawanya ke polisi
dan mengajukan banyak tuntutan. Dalam hal apapun ia tahu kalau ia akan menang
karena gadis itu memang salah. Tapi di sisi lain, ia melihat gadis itu
memancarkan rasa takut yang tidak biasa padanya seolah-olah ia adalah pemangsa
kejam yang akan mengoyaknya sampai mati.
Erland menarik tangannya dan memasukkannya ke saku. Ia
berdiri santai sekarang dan tersenyum angkuh sambil berkata, “Kamu takut?”
Gadis itu berkedip dan mulai mendapatkan kesadarannya
kembali. “Nggak,” jawabnya dengan suara agak bergetar.
Aira sangat ingin membungkam mulut pria itu agar ia tidak
menatap senyum angkuh yang cocok untuknya itu. Ia berusaha tenang dan tidak
menghiraukannya.
“Kalau gitu, ikut aku sekarang!”
“Nggak!” Aira menolak keras.
“Atau aku harus telpon mereka agar mereka ke sini?”
“Nggak!” itu ide yang mengerikan dan ia tidak mau dibuat
jadi tontonan warga sini.
“Kalau gitu apa yang harus kulakukan?” tanya pria itu
meminta pendapatnya.
“Aku punya uang!” Aira menyerah sekarang.
“Kamu bilang kamu nggak punya uang,” Erland mengingatkan.
“Aku punya tapi mungkin nggak bisa menutup kerugianmu.”
“Aku nggak butuh uangmu.” Erland berkata tegas sekarang.
“Kamu rugi, kan?”
“Aku nggak butuh uangmu yang nggak seberapa itu!”
“Sialan!”
Erland tertawa sekarang. “Lucu sekali. Siapa namamu?”
“Siapa namamu?” ia balik bertanya.
Berani sekali dia. Tapi pria itu tahu kalau tidak sopan
menanyakan nama orang tanpa memperkenalkan diri dulu. “Erland Avendale. Salam
kenal.”
“Orang Inggris? Atau Amerika?” tanya gadis itu sambil
meneliti wajahnya.
“Blasteran Inggris-Indonesia,” katanya. “Lalu kau?”
“Aira.”
Erland menganggukkan kepalanya, “Baiklah, Aira. Kupikir kita
bisa sedikit bekerja sama agar hutangmu lunas.”
Aira diam menunggu.
“Bagaimana kalau kau kerja di tempatku?”
Gagasan yang salah. Aira yang menatapnya dengan pandangan
tidak suka. “Maaf. Aku menolak.”
“Kalau begitu terpaksa aku melakukannya.”
“Silahkan.” Aira menantangnya.
Erland tidak menyangka kalau gadis itu sekarang
menantangnya. Ia tahu kalau gagasan itu hanya untuk menggertaknya saja. Tapi
hebat sekali gadis itu bisa berubah pikiran secepat itu. Ia takjub. Memangnya
apa yang dipikirkannya?
Sambil mengabaikan serangan tatapan Erland, Aira melangkah
masuk ke dalam halaman TK itu dan duduk di ayunan. Ia berayun pelan dan menatap
lurus ke depan. Ini pemandangan yang membuat Erland heran. Ia berjalan
menghampirinya dan berdiri di depannya.
“Kita ke kantor polisi sekarang,” katanya dengan raut wajah
serius.
Aira menghentikan ayunannya dan tersenyum. “Kamu yakin mau
membawaku ke sana?”
“Tentu saja.”
“Duduklah,” ia menunjuk ayunan yang ada di sampingnya.
“Temani aku sebentar sebelum kita ke sana.”
“Aku ingin sekarang.” Erland menyambar tangan gadis itu dan
menariknya berdiri.
Aira menghentakkan tangannya, “Jangan sentuh aku!” teriaknya
marah.
Erland tidak peduli. Raut wajah keras terpampang di
wajahnya, dan dengan senyum angkuh ia berkata, “Jangan seenakmu, Nona. Kau
pikir kau ini siapa?”
“Dan jangan seenakmu, Tuan Erland Avendale!” ia menekan nama
pria itu dengan jijik, “Karena kau nggak tahu apa-apa tentangku.”
“Masa bodoh dengan itu!”
“Dan aku nggak peduli kamu mendapat malu karena menyeretku
ke sana,” Aira tersenyum merendahkannya sekarang. “Kamu hanya akan membuat
kesalahan saja.”
Mereka saling beradu pandang sekarang tanpa ada yang mau
mengalah. Erland menyambar tangan gadis itu dengan cepat dan menguatkan
pegangannya.
“Aku ingin tahu di
mana letak salahnya,” kata pria itu tenang. “Kita pergi.”
“Dasar brengsek! Lepaskan aku!”
Erland tertawa seperti seorang bajingan tanpa hati. Itu yang
biasa ia lakukan dulu saat di Inggris bersama teman-temannya di Rookery. “Kamu hanya akan menyakiti
dirimu saja.” Ia menarik Aira dengan kasar sekarang. Tapi gadis itu ternyata
lebih senang di seret.
“Lepaskan!”
“Bisa diam?” kesabaran Erland hampir habis sekarang.
“Lepaskan aku dan aku diam!”
“Lalu kamu akan kabur. Huh! Kamu pikir aku nggak bisa baca
rencanamu?”
Aira tidak membantah kalau memang itu yang dia pikirkan. Ia
menarik tangannya dan membuat Erland tersentak ke belakang. “Lihat aku!”
katanya marah.
Erland berbalik sepenuhnya dan menatapnya.
“Aku akan melakukannya. Aku akan bekerja untukmu dengan satu
syarat,” katanya.
Erland menatapnya dengan wajah aneh. “Kamu ini aneh. Tadi kamu
bilang nggak mau. Sekarang mau. Apa yang sih kau pikirkan?” tanyanya tidak
mengerti.
“Jangan tanya! Aku akan bekerja denganmu tapi dengan satu
syarat.” Ia menarik napasnya sekarang. “Aku ingin nggak terlihat.”
“Ha?” Erland tercengang lalu akhirnya tertawa. “Kamu pikir
aku pesulap? Mana bisa aku membuatmu hilang.”
“Kalau kamu menyuruhku bekerja di restoranmu, tempatkan aku
di dapur, seperti itu.”
Erland menatapnya sambil berpikir. Menarik juga jika ia
menempatkan gadis ini di tempat yang tak terlihat. Lagi pula ia memang tak
ingin orang
lain melihatnya secara terang-terangan karena dia begitu menarik.
“Baiklah. Ikut aku sekarang.”

0 comments: