Song of Aria #6 - Rain
Erland berbaring di sofa ruang kerjanya yang terletak di
lantai tiga restoran itu. Ruangan yang sangat luas itu dibuat menjadi beberapa
ruangan yang sangat multi fungsi. Ia menyulap satu ruangan itu menjadi tempat
tinggal pribadi. Ia tidak keberatan dianggap sebagai penjaga restorannya, atau
sebagai orang kere karena memilih tinggal di restorannya sendiri.
Kenyataannya tidak. Setiap ada orang yang masuk ke sana akan lupa kalau
flatnya itu adalah bagian dari restoran. Dengan desain studio yang dipilihnya
semua orang akan berkata kalau ia punya apartemen mewah.
Ia tersenyum sendiri sekarang saat kejadian sore itu
terlintas dibenaknya. Menarik. Gadis itu sangat menarik dan sangat aneh. Ia
bisa menyamarkan rasa gelisahnya sendiri dan bersikap tenang dengan wajar. Erland
tertawa. Rasa humornya bangkit begitu saja begitu tahu pikiran gadis itu.
Ia merasa kalah saat gadis itu menyentuh wajahnya. Seperti
seorang bajingan wanita yang banyak dikenalnya, ia yakin kalau yang satu ini
juga sama. Hanya saja ia terlalu tertarik dengannya. Biasanya ia akan melakukan
hal yang sama dengan seorang pria yang tak punya hati, berbalik dan pergi
sambil tertawa. Tapi sekarang itulah yang dilakukan gadis itu padanya.
Terseyum, berbalik, dan pergi.
Merasa diremehkan, maka ia putuskan untuk kembali esoknya.
“Kamu memainkannya?” tanya suara seorang wanita yang ada
diujung telepon sana.
Aira sedang berbaring di tempat tidur dengan ponsel menempel
di telinganya. Ia menatap ke langit-langit kamarnya yang biru pudar. Lampu
tidurnya menyala di samping tempat tidurnya agar ia merasa nyaman saat
melakukan konsentrasi.
“Bukan aku! Tapi dia!
Dia yang memainkannya. Aku nggak tahu kenapa dia datang. Aku sudah mati-matian
menghalanginya agar nggak datang. Menurutmu bagaimana?”
“Kamu sudah berusaha dan itu bagus. Lalu apa lagi yang dia lakukan?” tanya suara wanita itu.
“Dia mengajakku pergi. Sebelum aku di restoran itu, ia
mengajakku jalan-jalan ke sana.
Kupikir dia hanya akan mengajakku main ayunan di TK. Tapi dia mengajakku
kederetan pertokoan elit yang aku tidak tahu di mana itu...”
“Apa yang kau lakukan?”
“Aku masuk ke mini market dan membeli minuman karena
udaranya sangat panas.”
Wanita itu diam sejenak sebelum berkata, “lalu kamu
dipanggil temanmu dan masuk ke restoran itu dan… bermain di sana.”
“Aku sedang kesal!”
“Ya, ya… Kamu sedang kesal. Tapi Nana tahu kalau kamu sedang
dalam masalah, kan?
Nah, setelah itu dia datang lagi dan kamu pergi,” ia diam lagi. “ Kamu berada
di TK itu untuk menenangkan pikiranmu?” tanyanya.
“Ya.”
“Sekarang dia semakin sering muncul. Kenapa kamu nggak ke
sini saja?” tawarnya.
“Aku sedang memikirkannya.”
Wanita itu mendesah, “jangan keras kepala. Kamu akan lebih
baik di sini dari pada dia membawamu kesuatu tempat asing bagimu.”
Aira berpikir. Saran itu memang sudah berkali-kali
disampaikan wanita itu padanya. Tapi sampai sekarang ia belum bisa menerimanya.
Ia masih nyaman di rumahnya dan pergi ke tempat asing lalu menetap dalam waktu
yang lama itu sungguh tidak membuatnya nyaman.
“Aira?” wanita itu memanggil namanya.
“Akan kupikirkan lagi…,” ia tidak tahu kenapa jawaban yang
sama keluar lagi dari mulutnya.
“Baiklah,” wanita itu menerima keputusan yang sama lagi dari
gadis itu. “Berjanjilah untuk meneleponku jika dia datang.”
“Ya,” Aira berjanji lalu percakapan berakhir.
Ia meletakkan ponselnya di samping bantalnya dan menatap
langit-langit kamarnya sambil berpikir. Tawaran wanita itu memang sangat bagus
untuk kondisinya yang tak stabil. Hanya saja ia masih sayang dengan rumahnya
ini. Ia masih suka melihat laut yang terhampar di depan jendela kamarnya. Ia
masih suka melihat matahari terbenam di sana.
Ia masih suka melakukan kebiasannya. Hanya saja jika ia pergi ke tempat wanita
itu, maka ia akan mendapati tempat yang berbeda dari rumahnya.
Suasana pegunungan yang dingin akan menjadi pemandangannya
sehari-hari. Ia akan melihat bukit dan lembah yang hijau, tanjakan dan turunan,
bunga-bunga, sawah, dan segala yang ia anggap bisa ia lihat di sana. Selain itu ia akan
tinggal di tempat yang sangat bagus. Ia diberi kebebasan untuk melakukan apapun
yang ia suka dan ia takkan dihalang-halangi. Jika dia datang lagi dan mengambil kesadarannya, ia bisa mengandalkan
wanita itu atau para pengawas yang akan memantaunya secara berkala untuk
membujuk orang itu kembali ke sudut hatinya yang kelam dan tak keluar lag.
Tapi, dengan segala janji dan kebebasan itu, kenapa ia masih
belum mau beranjak ke sana?

0 comments: