Song of Aria #6 - Rain

7:04 PM fe 0 Comments



Erland berbaring di sofa ruang kerjanya yang terletak di lantai tiga restoran itu. Ruangan yang sangat luas itu dibuat menjadi beberapa ruangan yang sangat multi fungsi. Ia menyulap satu ruangan itu menjadi tempat tinggal pribadi. Ia tidak keberatan dianggap sebagai penjaga restorannya, atau sebagai orang kere karena memilih tinggal di restorannya sendiri.
Kenyataannya tidak. Setiap ada orang yang masuk ke sana akan lupa kalau flatnya itu adalah bagian dari restoran. Dengan desain studio yang dipilihnya semua orang akan berkata kalau ia punya apartemen mewah.
Ia tersenyum sendiri sekarang saat kejadian sore itu terlintas dibenaknya. Menarik. Gadis itu sangat menarik dan sangat aneh. Ia bisa menyamarkan rasa gelisahnya sendiri dan bersikap tenang dengan wajar. Erland tertawa. Rasa humornya bangkit begitu saja begitu tahu pikiran gadis itu.

Ia merasa kalah saat gadis itu menyentuh wajahnya. Seperti seorang bajingan wanita yang banyak dikenalnya, ia yakin kalau yang satu ini juga sama. Hanya saja ia terlalu tertarik dengannya. Biasanya ia akan melakukan hal yang sama dengan seorang pria yang tak punya hati, berbalik dan pergi sambil tertawa. Tapi sekarang itulah yang dilakukan gadis itu padanya. Terseyum, berbalik, dan pergi.
Merasa diremehkan, maka ia putuskan untuk kembali esoknya.


“Kamu memainkannya?” tanya suara seorang wanita yang ada diujung telepon sana.
Aira sedang berbaring di tempat tidur dengan ponsel menempel di telinganya. Ia menatap ke langit-langit kamarnya yang biru pudar. Lampu tidurnya menyala di samping tempat tidurnya agar ia merasa nyaman saat melakukan konsentrasi.
“Bukan aku! Tapi dia! Dia yang memainkannya. Aku nggak tahu kenapa dia datang. Aku sudah mati-matian menghalanginya agar nggak datang. Menurutmu bagaimana?”
“Kamu sudah berusaha dan itu bagus. Lalu apa lagi yang dia lakukan?” tanya suara wanita itu.
“Dia mengajakku pergi. Sebelum aku di restoran itu, ia mengajakku jalan-jalan ke sana. Kupikir dia hanya akan mengajakku main ayunan di TK. Tapi dia mengajakku kederetan pertokoan elit yang aku tidak tahu di mana itu...”
“Apa yang kau lakukan?”
“Aku masuk ke mini market dan membeli minuman karena udaranya sangat panas.”
Wanita itu diam sejenak sebelum berkata, “lalu kamu dipanggil temanmu dan masuk ke restoran itu dan… bermain di sana.”
“Aku sedang kesal!”
“Ya, ya… Kamu sedang kesal. Tapi Nana tahu kalau kamu sedang dalam masalah, kan? Nah, setelah itu dia datang lagi dan kamu pergi,” ia diam lagi. “ Kamu berada di TK itu untuk menenangkan pikiranmu?” tanyanya.
“Ya.”
“Sekarang dia semakin sering muncul. Kenapa kamu nggak ke sini saja?” tawarnya.
“Aku sedang memikirkannya.”
Wanita itu mendesah, “jangan keras kepala. Kamu akan lebih baik di sini dari pada dia membawamu kesuatu tempat asing bagimu.”
Aira berpikir. Saran itu memang sudah berkali-kali disampaikan wanita itu padanya. Tapi sampai sekarang ia belum bisa menerimanya. Ia masih nyaman di rumahnya dan pergi ke tempat asing lalu menetap dalam waktu yang lama itu sungguh tidak membuatnya nyaman.
“Aira?” wanita itu memanggil namanya.
“Akan kupikirkan lagi…,” ia tidak tahu kenapa jawaban yang sama keluar lagi dari mulutnya.
“Baiklah,” wanita itu menerima keputusan yang sama lagi dari gadis itu. “Berjanjilah untuk meneleponku jika dia datang.”
“Ya,” Aira berjanji lalu percakapan berakhir.
Ia meletakkan ponselnya di samping bantalnya dan menatap langit-langit kamarnya sambil berpikir. Tawaran wanita itu memang sangat bagus untuk kondisinya yang tak stabil. Hanya saja ia masih sayang dengan rumahnya ini. Ia masih suka melihat laut yang terhampar di depan jendela kamarnya. Ia masih suka melihat matahari terbenam di sana. Ia masih suka melakukan kebiasannya. Hanya saja jika ia pergi ke tempat wanita itu, maka ia akan mendapati tempat yang berbeda dari rumahnya.
Suasana pegunungan yang dingin akan menjadi pemandangannya sehari-hari. Ia akan melihat bukit dan lembah yang hijau, tanjakan dan turunan, bunga-bunga, sawah, dan segala yang ia anggap bisa ia lihat di sana. Selain itu ia akan tinggal di tempat yang sangat bagus. Ia diberi kebebasan untuk melakukan apapun yang ia suka dan ia takkan dihalang-halangi. Jika dia datang lagi dan mengambil kesadarannya, ia bisa mengandalkan wanita itu atau para pengawas yang akan memantaunya secara berkala untuk membujuk orang itu kembali ke sudut hatinya yang kelam dan tak keluar lag.
Tapi, dengan segala janji dan kebebasan itu, kenapa ia masih belum mau beranjak ke sana?

You Might Also Like

0 comments: