Song of Aria #35 - Rain
Jack Foster sedang menuangkan minuman kesukaan Erland di
gelasnya, Wine. Beberapa hari lalu ia memutuskan untuk kembali ke Inggris dan
ikut melaporkan hasil dari penelitiannya yang terhenti bersama timnya yang
diketuai Mark Anderson. Setelah menghabiskan masa dua bulan untuk menyibukkan
diri dengan pekerjaannya, Aira berkata kalau ia harusnya kembali ke Inggris,
bukannya berkeras tinggal di Indonesia.
“Kadang aku tidak mengerti apa yang dipikirkan wanita,”
omelnya pada Jack.
“Kau pikir mereka mudah dimengerti?” Jack tertawa. “Mereka
tak semudah itu dimengerti.”
Erland menyesap Winenya. Mereka sekarang sedang duduk di
dalam bar yang kosong siang itu. Jack terpaksa bangun untuk menyambut temannya.
“Nah, kapan kau akan membawanya ke sini?”
Erland menaikkan satu alis matanya dengan angkuh, “jangan
harap aku akan membawanya ke sini.”
“Kalau tidak di sini juga tak apa. Kau bisa membawanya ke
panti.” Usulnya. “Aku ingin tahu apa yang dilakukannya pada si iblis kecil ini.
Apa yang dia lakukan? Apa dia menyiksamu dan mengambil kebebasanmu?”
Erland terkekeh. “Aku merasa bebas sekarang.”
“Oh ya? Kuharap kau tak cepat bosan dengannya.”
“Takkan.”
“Jangan semudah itu berjanji, bung. Kau paling tahu apa yang
dilakukan para wanita yang suka menyelingkuhi suami mereka.”
“Aku tahu. Tapi kaum pria juga kerap melakukannya.” Ia minum
lagi. “Apa yang membuatnya begitu?” gumamnya tidak mengerti tentang pikiran
Aira.
Jack merasa kasihan sekaligus geli dengan posisi temannya
ini. Ia tidak tahu perasaan mana yang lebih dominan untuknya. “Tenanglah. Kau
hanya gelisah karena berbulan-bulan tak bertemu dengannya.”
Malamnya ia menelepon ke rumah sakit itu.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Aira.
“Yah… Seperti biasa.” Jawabnya senang saat bisa mendengar
suara gadis itu lagi. “Apa yang kau lakukan seharian ini?”
“Nana datang dan mengajakku jalan-jalan.”
“Kemana?”
“Aku pulang ke rumah. Kami membersihkan rumah. Kau tahu?
Banyak sekali debu di sana. Butuh waktu seharian untuk membersihkannya.”
“Aku sudah ke sana,” kata Erland, “dan terlalu banyak debu,
sarang laba-laba, dan sangat kotor. Hanya kamarmu saja yang terlihat rapi.”
Aira tertawa kecil, “aku tidak menggunakan ruangan apapun
selain kamar dan kamar mandi. Aku tidak pernah membersihkannya sejak kejadian
itu.”
“Ya ampun!” serunya tidak percaya.
“Terlalu banyak kenangan di sana dan aku tak ingin
merusaknya.” Jawabnya. “Lalu, apa yang kau lakukan?”
“Aku ke bar milik Jack dan mabuk di sana.”
Aira mendecakkan lidahnya. “Aku tidak suka pemabuk.” Katanya
pelan.
Erland tahu itu dan ia memakluminya. Gadis itu hanya akan
teringat pada pamannya yang suka mabuk-mabukan dan menyiksanya. “Aku tahu.
Karena itu aku tidak bisa minum di depanmu.”
“Lalu?”
Ia mendengar nada jengah sekarang. “Aku merindukanmu.”
Katanya tulus yang membuat Aira tercekat. “Dan aku hampir gila karena itu.
Kenapa kau tidak ingin menemuiku? Berapa bulan lagi aku harus menunggu?”
Erland bukan satu-satunya pihak yang tersiksa karena
permintaan Aira. Ia juga tersiksa karenanya. Hanya saja rasanya tidak adil
membiarkan pria itu di sini menemaninya sedangkan ia punya pekerjaan di belahan
dunia sana. Jadi ia tersenyum, “aku tahu kalau kau selama ini terlalu banyak
bersabar. Tapi… ada banyak hal yang harus kau lakukan di sana. Kalau kau tahu,
sebenarnya aku menangis semalaman karena kau pulang ke Inggris. Tapi kau yang memulai
pekerjaanmu dan kau harus mengakhirinya.”
Pria itu tertawa membenarkan perkataan itu. “Aku bisa saja
tidak ikut kembali ke sini.”
“Tidak. Aku tak ingin kau tidak profesional dengan
pekerjaanmu. Lagi pula kau bisa kembali ke sini karena bisnismu juga ada di
sini.”
“Benar.” Pria itu mengiyakannya.
“Aku merindukanmu.” Bisiknya.

0 comments: