Song of Aria #Epilog -End- Rain

8:33 PM fe 0 Comments



Ia tidak sepenuhnya iblis seperti dirinya dulu. Ia seperti terlahir kembali, menjadi sesosok pria yang penuh rasa kasih dan banyak mendapatkan cinta di mana-mana.
Cih! Terlalu melankolis, pikirnya kesal. Ia tahu kalau pilihannya untuk datang ke Indonesia, menetap sementara di sana, dan menemukan Aira adalah sebuah titik balik hidupnya yang sangat drastis. Pengalaman hidupnya selama berada di sana sangat jauh berbeda dengan masa-masa ia di Amerika dulu. Jack Foster mempengaruhi pikirannya saat di Inggris. Di Amerika ia bisa mengendalikan dirinya lebih baik lagi dengan ketenangan dan sikap hati-hatinya yang menjadi inti dirinya.
Di Indonesia, Aira membongkar itu semua dengan sadisnya dan membuka satu topeng angkuhnya yang membuatnya merasa lemah tak berdaya.

Tapi ia tahu kalau selama ini ia tidak percaya dengan yang namanya kesetiaan. Saat wanita mudah didapat, maka ia tak punya halangan apapun untuk bisa memuaskan kebutuhan dasarnya. Lalu setelah itu ia bisa berpaling dan pergi sambil tertawa hingga ia bosan melakukannya.
Hari ini ia kembali setelah menyiksa dirinya selama dua bulan penuh di Inggris dengan segala kesibukannya. Setidaknya itu bisa membunuh waktunya.
Aira tahu ada resiko yang harus dibayar karena mereka tinggal di tempat yang berbeda dengan jarak waktu yang berbeda. Tapi Aira tidak menuntut apapun dari Erland. Ia telah memberikan hatinya untuk diikat selamanya meskipun Erland berkata kalau Aira bisa mengambilnya kembali kapan saja dan disertai dengan permohonan agar Aira tidak berharap untuk mengambilnya kembali.
   Hubungan mereka sangat baik. Kasus itu juga berhasil dimenangkan Aira walau ia tahu kalau keberadaannya masih belum bisa diterima. Ia masih dianggap sebagai orang gila walau sebenarnya ia sudah sembuh.
   Tapi Erland selalu kembali untuknya.
   Matahari sudah hampir terbenam sekarang, dan ia hanya duduk menunggu Aira kembali padanya. Kali ini ia akan menunggu, menunggu Aira menemukannya, menunggu Aira datang padanya.
   Warna keemasan itu menyebar indah keseluruh penjuru dengan cantiknya, membuatnya merasa sangat damai. Aira tahu kalau Erland ada di sana, menunggunya di sana jika ia tidak bisa menemukannya. Ia tidak takut lagi pada malam karena Erland akan selalu bersamanya dan karena Erland berkata kalau saat ia memukul pamannya itu adalah saat pertama kalinya ia tidak membebaskan jiwa iblisnya untuk membunuhnya.
   Erland banyak berkorban untuknya.  
   “Aku menyukai saat ini,” kata Aira saat tiba di sampingnya.
   Erland tersenyum karena bisa merasakan Aira di sampingnya. Ia berdiri dan melemparkan senyumannya pada Aira. “Seperti momen di film-film atau di komik-komik. Apa kau mengharapkan ciuman seperti itu?” godanya senang.
   Aira segera waspada. “Tunggu! Apa yang kau pikirkan?” tanyanya.
   Erland menyeriangai sekarang. Sorot matanya menunjukkan kejahilannya. Kemudian ia melingkarkan tangannya pada Aira.
   “Aku pikir wanita akan menyukainya jika itu terjadi.”
   Oh ya. Erland adalah orang yang blak-blakan. Aira harus ingat masa kelamnya dulu, tempat ia kabur dari rumah. Rupanya kebiasaannya menggoda itu berasal dari Jack Foster. Aira melepaskan dirinya dari lengan Erland.
   “Aku pikir. Ini. Bukan saatnya.” Lalu Aira berlari sambil tertawa dan tidak ingin tertangkap.
           

You Might Also Like

0 comments: