Song of Aria #Epilog -End- Rain
Ia tidak sepenuhnya iblis seperti dirinya dulu. Ia seperti
terlahir kembali, menjadi sesosok pria yang penuh rasa kasih dan banyak
mendapatkan cinta di mana-mana.
Cih! Terlalu melankolis, pikirnya kesal. Ia tahu kalau
pilihannya untuk datang ke Indonesia, menetap sementara di sana, dan menemukan
Aira adalah sebuah titik balik hidupnya yang sangat drastis. Pengalaman
hidupnya selama berada di sana sangat jauh berbeda dengan masa-masa ia di
Amerika dulu. Jack Foster mempengaruhi pikirannya saat di Inggris. Di Amerika
ia bisa mengendalikan dirinya lebih baik lagi dengan ketenangan dan sikap
hati-hatinya yang menjadi inti dirinya.
Di Indonesia, Aira membongkar itu semua dengan sadisnya dan
membuka satu topeng angkuhnya yang membuatnya merasa lemah tak berdaya.
Tapi ia tahu kalau selama ini ia tidak percaya dengan yang
namanya kesetiaan. Saat wanita mudah didapat, maka ia tak punya halangan apapun
untuk bisa memuaskan kebutuhan dasarnya. Lalu setelah itu ia bisa berpaling dan
pergi sambil tertawa hingga ia bosan melakukannya.
Hari ini ia kembali setelah menyiksa dirinya selama dua
bulan penuh di Inggris dengan segala kesibukannya. Setidaknya itu bisa membunuh
waktunya.
Aira tahu ada resiko yang harus dibayar karena mereka
tinggal di tempat yang berbeda dengan jarak waktu yang berbeda. Tapi Aira tidak
menuntut apapun dari Erland. Ia telah memberikan hatinya untuk diikat selamanya
meskipun Erland berkata kalau Aira bisa mengambilnya kembali kapan saja dan
disertai dengan permohonan agar Aira tidak berharap untuk mengambilnya kembali.
Hubungan mereka
sangat baik. Kasus itu juga berhasil dimenangkan Aira walau ia tahu kalau
keberadaannya masih belum bisa diterima. Ia masih dianggap sebagai orang gila
walau sebenarnya ia sudah sembuh.
Tapi Erland selalu kembali
untuknya.
Matahari sudah
hampir terbenam sekarang, dan ia hanya duduk menunggu Aira kembali padanya.
Kali ini ia akan menunggu, menunggu Aira menemukannya, menunggu Aira datang
padanya.
Warna keemasan itu
menyebar indah keseluruh penjuru dengan cantiknya, membuatnya merasa sangat
damai. Aira tahu kalau Erland ada di sana,
menunggunya di sana jika ia tidak bisa
menemukannya. Ia tidak takut lagi pada malam karena Erland akan selalu
bersamanya dan karena Erland berkata kalau saat ia memukul pamannya itu adalah
saat pertama kalinya ia tidak membebaskan jiwa iblisnya untuk membunuhnya.
Erland banyak
berkorban untuknya.
“Aku menyukai saat
ini,” kata Aira saat tiba di sampingnya.
Erland tersenyum
karena bisa merasakan Aira di sampingnya. Ia berdiri dan melemparkan
senyumannya pada Aira. “Seperti momen di film-film atau di komik-komik. Apa kau
mengharapkan ciuman seperti itu?” godanya senang.
Aira segera waspada.
“Tunggu! Apa yang kau pikirkan?” tanyanya.
Erland menyeriangai
sekarang. Sorot matanya menunjukkan kejahilannya. Kemudian ia melingkarkan
tangannya pada Aira.
“Aku pikir wanita
akan menyukainya jika itu terjadi.”
Oh ya. Erland adalah
orang yang blak-blakan. Aira harus ingat masa kelamnya dulu, tempat ia kabur
dari rumah. Rupanya kebiasaannya menggoda itu berasal dari Jack Foster. Aira
melepaskan dirinya dari lengan Erland.
“Aku pikir. Ini.
Bukan saatnya.” Lalu Aira berlari sambil tertawa dan tidak ingin tertangkap.

0 comments: