Song of Aria #34 - Rain

8:28 PM fe 0 Comments



Malam harinya Nana menelepon Erland atas permintaan ibunya. Tentu saja Erland langsung menyemburnya dan marah-marah padanya.
“Apa-apaan kau! Kau tahu kalau aku pusing mencarimu?” sembur Erland kesal.
“Ya, ya. Sudah kuduga kau akan mencariku sampai ke ujung dunia. Aku menyesal karena menyuruhmu mengantarku pulang saa itu. Sekarang ibuku marah-marah dan bilang kalau aku tidak pandai menerima tamu.”
“Kau pantas mendapatkannya.” Terdengar nada puas di sana.
“Sial! Kau hanya membuatku kuatir saja. Kau pikir apa yang kau lakukan, hah? Kau masih bernafsu mencarinya.” Sembur Nana tanpa basa-basi.

“Ckckck… bahasamu terdengar sedikit fulgar.”
“Atau lebih fulgar? Aku tak peduli!”
Erland tertawa. Nana memang suka berterus terang dan itu lebih baik untuknya. “Lalu kau meneleponku hanya untuk memarahiku?”
“Oh ya! Itu hanya salah satu dari misiku. Sekarang katakan apa yang kau lakukan padanya? Kau tahu kan kalau dia itu siapa?”
“Ya, aku tahu. Ada gangguan pada jiwanya.”
“Bagus! Dan kau menginginkannya!” Nana menyuarakan fakta sekarang.
“Memang itu kenyataannya. Lagi pula ia akan sembuh. Kau yang paling tahu tentangnya, kau seharusnya punya keyakinan untuk itu.”
“Aku tidak kuatir kau akan bersamanya,” kata Nana cepat. “Yang aku kuatirkan itu keluargamu. Apa kau akan memperkenalkannya begitu saja?”
Pikiran itu sempat menghantamnya beberapa jam lalu. “Memang. Aku sudah memikirkannya.”
Nana mengehela napas sekarang. “Nah, kau paham sekarang. Bagaimana cara kau mengatasinya?”
“Aku belum tahu. Tapi apapun yang terjadi, aku takkan mempermasalahkan masa lalunya.”
“Kau takkan mempermasalahkannya. Tapi keluargamu? Bagaimana dengan mereka?” sembur Nana.
“Aku bisa mengorek sedikit sejarah keluarga Avendale.”
“Apa?”
“Ayahku menikahi janda Sevenstone yang miskin dan kumuh. Anaknya, Andrew sudah besar saat itu, tapi ia memilihnya.”
Nana tertawa, “lalu kau berharap dengan cerita itu kau bisa mendapatkan reaksi yang sama? Penerimaan, begitu?”
“Aku tahu pasti akan ada tanggapan berbeda. Dia bukan lady day sembarangan, kan? Dia bisa menjadi pianis kalau dia suka. Dan masa lalunya itu… aku rasa ayahku bisa menerimanya.”
“Bagaimana kalau tidak?” tantang Nana yang masih cemas dengan masa depan temannya di tangan pria bajingan itu.
“Aku ini pebisnis. Aku bermain untuk menang. Kalau dia tidak menerimanya, aku tidak peduli. Masih ada satu orang lagi yang mendukungku.”
“Oh ya?” tanyanya tak percaya. “Siapa?”
“Ibuku?”
“Apa?” Nana berteriak di ujung telepon sana. Baginya sebuah keajaiban Erland mengakui dan mengatakan kata itu. “Kau… Ah! Apa aku tidak salah dengar?”
Erland tertawa. “Kau kaget? Yah, memang sudah sewajarnya.”
“Orang angkuh keras kepala ini mengakui kalau dia punya ibu?” ia bertanya dengan nada tak percaya. “Astaga! Kukira kau mengakui Lucifer sebagai panutanmu.”
“Apa aku terlihat sangat menakutkan?” tanyanya.
Nana tertawa. “Ya ampun, Erland. Kau membuat banyak kejutan! Siapa yang membuatmu jadi begini?”
“Dia.”
“Sudah kuduga. Well, selamat atas hubungan kalian.” Lalu dengan nada jahil ia berkata, “Aku ingin tahu bagaimana kau menghabiskan waktumu saat menunggunya keluar dari sana.”

You Might Also Like

0 comments: