Song of Aria #34 - Rain
Malam harinya Nana menelepon Erland atas permintaan ibunya.
Tentu saja Erland langsung menyemburnya dan marah-marah padanya.
“Apa-apaan kau! Kau tahu kalau aku pusing mencarimu?” sembur
Erland kesal.
“Ya, ya. Sudah kuduga kau akan mencariku sampai ke ujung
dunia. Aku menyesal karena menyuruhmu mengantarku pulang saa itu. Sekarang
ibuku marah-marah dan bilang kalau aku tidak pandai menerima tamu.”
“Kau pantas mendapatkannya.” Terdengar nada puas di sana.
“Sial! Kau hanya membuatku kuatir saja. Kau pikir apa yang
kau lakukan, hah? Kau masih bernafsu mencarinya.” Sembur Nana tanpa basa-basi.
“Ckckck… bahasamu terdengar sedikit fulgar.”
“Atau lebih fulgar? Aku tak peduli!”
Erland tertawa. Nana memang suka berterus terang dan itu
lebih baik untuknya. “Lalu kau meneleponku hanya untuk memarahiku?”
“Oh ya! Itu hanya salah satu dari misiku. Sekarang katakan
apa yang kau lakukan padanya? Kau tahu kan kalau dia itu siapa?”
“Ya, aku tahu. Ada gangguan pada jiwanya.”
“Bagus! Dan kau menginginkannya!” Nana menyuarakan fakta
sekarang.
“Memang itu kenyataannya. Lagi pula ia akan sembuh. Kau yang
paling tahu tentangnya, kau seharusnya punya keyakinan untuk itu.”
“Aku tidak kuatir kau akan bersamanya,” kata Nana cepat.
“Yang aku kuatirkan itu keluargamu. Apa kau akan memperkenalkannya begitu
saja?”
Pikiran itu sempat menghantamnya beberapa jam lalu. “Memang.
Aku sudah memikirkannya.”
Nana mengehela napas sekarang. “Nah, kau paham sekarang.
Bagaimana cara kau mengatasinya?”
“Aku belum tahu. Tapi apapun yang terjadi, aku takkan
mempermasalahkan masa lalunya.”
“Kau takkan mempermasalahkannya. Tapi keluargamu? Bagaimana
dengan mereka?” sembur Nana.
“Aku bisa mengorek sedikit sejarah keluarga Avendale.”
“Apa?”
“Ayahku menikahi janda Sevenstone yang miskin dan kumuh.
Anaknya, Andrew sudah besar saat itu, tapi ia memilihnya.”
Nana tertawa, “lalu kau berharap dengan cerita itu kau bisa
mendapatkan reaksi yang sama? Penerimaan, begitu?”
“Aku tahu pasti akan ada tanggapan berbeda. Dia bukan lady day sembarangan, kan? Dia bisa
menjadi pianis kalau dia suka. Dan masa lalunya itu… aku rasa ayahku bisa
menerimanya.”
“Bagaimana kalau tidak?” tantang Nana yang masih cemas
dengan masa depan temannya di tangan pria bajingan itu.
“Aku ini pebisnis. Aku bermain untuk menang. Kalau dia tidak
menerimanya, aku tidak peduli. Masih ada satu orang lagi yang mendukungku.”
“Oh ya?” tanyanya tak percaya. “Siapa?”
“Ibuku?”
“Apa?” Nana berteriak di ujung telepon sana. Baginya sebuah
keajaiban Erland mengakui dan mengatakan kata itu. “Kau… Ah! Apa aku tidak
salah dengar?”
Erland tertawa. “Kau kaget? Yah, memang sudah sewajarnya.”
“Orang angkuh keras kepala ini mengakui kalau dia punya
ibu?” ia bertanya dengan nada tak percaya. “Astaga! Kukira kau mengakui Lucifer
sebagai panutanmu.”
“Apa aku terlihat sangat menakutkan?” tanyanya.
Nana tertawa. “Ya ampun, Erland. Kau membuat banyak kejutan!
Siapa yang membuatmu jadi begini?”
“Dia.”
“Sudah kuduga. Well, selamat
atas hubungan kalian.” Lalu dengan nada jahil ia berkata, “Aku ingin tahu
bagaimana kau menghabiskan waktumu saat menunggunya keluar dari sana.”

0 comments: