Song of Aria #33 - Rain
Masalah demi masalah memang sudah selesai. Tapi tampaknya
sangat salah jika ia tidak menyelesaikan satu masalah ini, masalah yang sangat
ia takutkan. Ia takut Aira akan pergi darinya. Ia teringat dengan kata-katanya
malam itu “Tanpa sadar kau telah bermain
dengan hati seorang iblis, Aira. Kau tidak bisa lepas. Begitu aku telah
memutuskan sesuatu tentangmu, maka kau akan terikat selamanya.”
Gawat! Ia takut kalau Aira akan
pergi dari dirinya dan tidak menerima keputusannya sekarang. Tapi tidak ada
salahnya mencoba. Ia telah memutuskannya dan ini mutlak berlaku padanya. Sulit
untuk menguasai hati seseorang. Sangat sulit menguasai hati seseorang jika
orang itu menolak hatinya untuk diberikan atau menarik kembali hatinya yang
telah diberikan.
Erland berjalan
menuju kantin. Di sana
Aira telah menunggunya. Ia melangkah ke sana
dan berusaha menenangkan dirinya. Aira menatapnya sambil tersenyum. Ia bisa
melihat sorot kepuasan dimata Erland, namun… ada sorot ketakutan juga di sana.
“Ibuku akan menjadi
pengacaramu sampai kasusmu selesai.” Katanya pasti. “Apa kita bisa jalan-jalan
di luar sekarang?” tanyanya.
“Ya.”
Kemudian mereka
berjalan di bawah sinar matahari. Erland menceritakan apa yang terjadi antara
dirinya dan ibunya. Mereka melintasi lapangan dan berhenti di bawah pohon tadi
kemudian duduk di sana.
“Aku senang kau melakukannya.” Kata Aira.
Erland bersandar dan menatap langit biru di depan sana.
“Kupikir semuanya akan sama. Bagaimana denganmu?”
Aira menundukkan wajahnya sedikit dan memeluk lututnya. “Aku
juga begitu. Kupikir semuanya akan sama. Aku tidak bisa melakukannya sendiri.
Aku butuh pegangan untuk bisa mengendalikan diriku sendiri.”
Erland menatapnya dan menangkup wajahnya. “Kau akan sembuh.”
Aira diam menatapnya sejenak. “Aku gila, Erland. Kupikir aku
akan mati –”
“Aku sudah
memutuskannya,” potongnya cepat.
“Memutuskan?”
“Memutuskan tentang
apa yang harus kulakukan padamu, hukuman yang akan membuatmu jera karena
membuatku seperti ini.” Jawabnya serius saat duduk menghadap Aira.
Aira ingat
percakapan malam itu dan merasa siap mendapatkan keputusan apapun dari Erland.
Jadi apa permintaan Erland saat ini?
Erland Avendale
terlihat begitu yakin dengan permintaannya. Aira tidak bisa melepaskan diri
dari tatapannya. Ia akhirnya memberikan keputusannya.
“Aku meminta
hatimu.”
Aira seperti
dihantam gelombang kebahagiaan terbesar.
Tapi ia segera menggelengkan kepalanya. “Satu lagi, kita
baru saja saling mengenal. Itu terlalu singkat untuk –”
Erland menyentuh
bibirnya dengan jarinya untuk menghentikan kata-katanya. “Bukan itu yang ingin
kudengar. Kenapa kau ragu lagi?”
“Karena… Erland. Aku
belum sepenuhnya sehat. Aku ini sakit!”
“Lalu? Kau tidak
pantas untukku, begitu?” ia menggelengkan kepalanya. “Aku sudah memikirkannya.
Kau membuatku gila dan aku memang gila. Kenapa aku bisa tergila-gila dengan
seorang wanita yang baru saja kukenal? Aku pikir kau itu penyihir. “ Ia
menangkup wajah Aira dengan kedua tangannya dan dengan takjub berkata,
“kupikir, jatuh cinta pada pandangan pertama itu omong kosong. Itu hanya sampah
dan lelucon bagi orang yang mengagungkan romantisme belaka. Dan kupikir mereka
itu bodoh karena percaya itu. Tapi kau melakukannya padaku. Bagaimana bisa?”
“Karma?” tanya Aira
sambil tersenyum.
Erland menyandarkan
dahinya di dahi Aira, “oh, ya. Karma. Kau bisa bilang begitu. Tapi yang jelas
aku sedang jatuh cinta dan aku tak peduli apa kata orang yang melihatnya.” Lalu
dengan wajah serius ia berkata, “berikan hatimu.” Pintanya.
Ia merasa sangat
tersanjung dan sangat bahagia mendapatkan permintaan seperti itu. Memberikan
hatinya artinya adalah memberikan semua yang ada di dirinya, detak jantungnya,
dirinya, cintanya, komitmennya yang tak terbatas. Dan Aira tidak bisa untuk
membantahnya.
Ini adalah cara
seorang iblis untuk mendapatkan sesuatu yang ingin ia ikat selamanya.
Aira bisa merasakan
pegangan Erland yang kuat dijemari tangannya. Kemudian ia menautkan jemari
mereka. Aira merasa kuat sekarang dan bertanya, “lalu apa yang kudapatkan?”
Erland menatapnya
sambil tersenyum. Matanya sangat yakin dengan hal ini.
“Cintaku.” Bisiknya.
Dan kebahagiaan itu
meledak dalam diri Aira saat ia memeluk Erland. “Kau mendapatkannya… dan
mendapatkan cintaku juga.”

0 comments: