Song of Aria #33 - Rain

8:26 PM fe 0 Comments



Masalah demi masalah memang sudah selesai. Tapi tampaknya sangat salah jika ia tidak menyelesaikan satu masalah ini, masalah yang sangat ia takutkan. Ia takut Aira akan pergi darinya. Ia teringat dengan kata-katanya malam itu “Tanpa sadar kau telah bermain dengan hati seorang iblis, Aira. Kau tidak bisa lepas. Begitu aku telah memutuskan sesuatu tentangmu, maka kau akan terikat selamanya.”
   Gawat! Ia takut kalau Aira akan pergi dari dirinya dan tidak menerima keputusannya sekarang. Tapi tidak ada salahnya mencoba. Ia telah memutuskannya dan ini mutlak berlaku padanya. Sulit untuk menguasai hati seseorang. Sangat sulit menguasai hati seseorang jika orang itu menolak hatinya untuk diberikan atau menarik kembali hatinya yang telah diberikan.

   Erland berjalan menuju kantin. Di sana Aira telah menunggunya. Ia melangkah ke sana dan berusaha menenangkan dirinya. Aira menatapnya sambil tersenyum. Ia bisa melihat sorot kepuasan dimata Erland, namun… ada sorot ketakutan juga di sana.
   “Ibuku akan menjadi pengacaramu sampai kasusmu selesai.” Katanya pasti. “Apa kita bisa jalan-jalan di luar sekarang?” tanyanya.
   “Ya.”
   Kemudian mereka berjalan di bawah sinar matahari. Erland menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dan ibunya. Mereka melintasi lapangan dan berhenti di bawah pohon tadi kemudian duduk di sana.
“Aku senang kau melakukannya.” Kata Aira.
Erland bersandar dan menatap langit biru di depan sana. “Kupikir semuanya akan sama. Bagaimana denganmu?”
Aira menundukkan wajahnya sedikit dan memeluk lututnya. “Aku juga begitu. Kupikir semuanya akan sama. Aku tidak bisa melakukannya sendiri. Aku butuh pegangan untuk bisa mengendalikan diriku sendiri.”
Erland menatapnya dan menangkup wajahnya. “Kau akan sembuh.”
Aira diam menatapnya sejenak. “Aku gila, Erland. Kupikir aku akan mati –”
   “Aku sudah memutuskannya,” potongnya cepat.
   “Memutuskan?”  
   “Memutuskan tentang apa yang harus kulakukan padamu, hukuman yang akan membuatmu jera karena membuatku seperti ini.” Jawabnya serius saat duduk menghadap Aira.
   Aira ingat percakapan malam itu dan merasa siap mendapatkan keputusan apapun dari Erland. Jadi apa permintaan Erland saat ini?
   Erland Avendale terlihat begitu yakin dengan permintaannya. Aira tidak bisa melepaskan diri dari tatapannya. Ia akhirnya memberikan keputusannya.
   “Aku meminta hatimu.”
   Aira seperti dihantam gelombang kebahagiaan terbesar.
Tapi ia segera menggelengkan kepalanya. “Satu lagi, kita baru saja saling mengenal. Itu terlalu singkat untuk –”
   Erland menyentuh bibirnya dengan jarinya untuk menghentikan kata-katanya. “Bukan itu yang ingin kudengar. Kenapa kau ragu lagi?”
   “Karena… Erland. Aku belum sepenuhnya sehat. Aku ini sakit!”
   “Lalu? Kau tidak pantas untukku, begitu?” ia menggelengkan kepalanya. “Aku sudah memikirkannya. Kau membuatku gila dan aku memang gila. Kenapa aku bisa tergila-gila dengan seorang wanita yang baru saja kukenal? Aku pikir kau itu penyihir. “ Ia menangkup wajah Aira dengan kedua tangannya dan dengan takjub berkata, “kupikir, jatuh cinta pada pandangan pertama itu omong kosong. Itu hanya sampah dan lelucon bagi orang yang mengagungkan romantisme belaka. Dan kupikir mereka itu bodoh karena percaya itu. Tapi kau melakukannya padaku. Bagaimana bisa?”
   “Karma?” tanya Aira sambil tersenyum.
   Erland menyandarkan dahinya di dahi Aira, “oh, ya. Karma. Kau bisa bilang begitu. Tapi yang jelas aku sedang jatuh cinta dan aku tak peduli apa kata orang yang melihatnya.” Lalu dengan wajah serius ia berkata, “berikan hatimu.” Pintanya.
 Ia merasa sangat tersanjung dan sangat bahagia mendapatkan permintaan seperti itu. Memberikan hatinya artinya adalah memberikan semua yang ada di dirinya, detak jantungnya, dirinya, cintanya, komitmennya yang tak terbatas. Dan Aira tidak bisa untuk membantahnya.
   Ini adalah cara seorang iblis untuk mendapatkan sesuatu yang ingin ia ikat selamanya.
   Aira bisa merasakan pegangan Erland yang kuat dijemari tangannya. Kemudian ia menautkan jemari mereka. Aira merasa kuat sekarang dan bertanya, “lalu apa yang kudapatkan?”
   Erland menatapnya sambil tersenyum. Matanya sangat yakin dengan hal ini.
   “Cintaku.” Bisiknya.
   Dan kebahagiaan itu meledak dalam diri Aira saat ia memeluk Erland. “Kau mendapatkannya… dan mendapatkan cintaku juga.”

You Might Also Like

0 comments: