Song of Aria #32 - Rain

8:24 PM fe 0 Comments



“Sudah selama ini ternyata.”
   Erland sedang duduk di ruang tunggu tempat ibunya menunggu tadi. Seperti ada dinding kaca di depan mereka. Mereka kikuk dan merasa tidak bebas. Erland bisa melihat dibalik penampilan rapi ibunya, ada rasa lelah dan rasa bersalah di matanya. Ia hanya diam membiarkan ibunya bicara duluan.
   “Kau marah, nak?” kemudian, sebelum Erland menjawabnya, ia tertawa getir dan menjawab sendiri, “apa yang bisa kau harapkan dari seorang ibu sepertiku? Aku tidak bisa menemuimu dan menepati janjiku. Inggris terlalu jauh dari sini,” katanya dengan nada itu… getir.
   Erland bisa melihat kesedihan dan penyesalan yang dalam dari balik mata ibunya yang berkabut. Sudah lama rasanya tidak seperti ini. Inilah orang yang telah melahirkannya dan mengajarinya aksen sempurna ini. Inilah orang yang selalu menyanyikannya lagu tentang cinta dan cerita-cerita dongeng impian sewaktu dia kecil. Dan dialah orang yang telah meninggalkannya dengan janji palsu. Dan sekarang dia ada di sini, di depannya. Ia ada di sini saat ia menyerah untuk mengharapkan kehadirannya.

   “Ibu bisa menerima hukumannmu, Aria. Ibu hanya ingin minta maaf atas semuanya. Ibu menyesal tidak bisa mengajakmu ikut bersama Ibu...,” ia mulai sedikit terisak.
   “Aku tahu.” Erland mulai bersuara sekarang. Tidak ada alasan untuk membentak di sini. bagaimana pun juga ia percaya kata-kata Aira. Ia tidak akan kehilangan apa-apa… jika ia berhasil menyelesaikannya dengan baik.
   “Aria…,”
   Erland memotong perkataannya. “Selama ini aku menunggumu. Aku berharap bisa melakukan sesuatu yang baik untukmu. Aku mau hidup dengan cara apapun asalkan kita bisa seperti dulu. Aku bisa bebas dari kekanganku… hanya saja jika aku memilih hal itu, jika kenyataannya tidak seperti ini, apa hasilnya juga akan sama?” Erland tidak tahu ia mendapatkan kata-kata itu dari mana. Hanya saja semua ini tiba-tiba merubah sikapnya. “Jika aku pergi bersamamu… apa aku bisa bertemu dengan Aira? Jika aku pergi bersamamu apa aku bisa bertemu Jack atau Nana? Jika aku ikut denganmu, apa aku bisa semandiri ini?” kemudian Erland menggelengkan kepalanya. “Tidak ada yang tahu tentang itu.” Jawabnya sendiri.
   “Aria, kau…,”
   Erland memotongnya lagi, “jika aku berpikir lagi, mungkin aku tahu alasannya kenapa kau tidak bisa kembali.”
   “Kau tahu, nak? Dari mana…,”
   “Ayah.” Jawab Erland pasti. Ia membuka pikiran rasionalnya sekarang. “Ayah membuatku selalu berada di Inggris. Ia yakin kalau kau tidak akan pernah sampai ke sana.”
   Ibunya tersenyum. “Kau bisa membacanya dengan baik. Ibu tidak bisa ke tempatmu karena memang tidak bisa kembali ke sana. Semuanya karena sebuah perjanjian. Tapi di saat surat untukmu itu datang, saat itu aku berada di sana. Hanya saja aku tertangkap dan akhirnya di terbangkan lagi ke sini. Kau tahu dari mana kau mendapatkan buku itu?” tanya ibunya.
   “Buku? Buku apa?”
   –L .” Jawab ibunya.
    Erland langsung paham dengan hal itu. Ia ingat dengan buku itu, buku yang mengisakan tentang Lauri yang dibunuh oleh temannya dan akhirnya sekarat di ujung gang… buku yang membuatnya terobsesi atas pelariannya saat itu. Buku yang dibacanya saat berumur Sembilan tahun.
   “Dari mana…?”
   “Itu adalah sebuah buku yang diberi seorang teman. Buku itu sepertinya jatuh di dalam mobil sewaktu mereka mengantarku ke Bandara,” potongnya.
   “Lalu dari mana… dari mana…?” Erland seakan kehilangan kata-katanya.
   “Ibu bertemu dengan ayahmu saat kau pindah ke Amerika. Dia menceritakan semuanya pada ibu. Dia mengembalikan buku itu,” kemudian ia mengeluarkan buku itu dari tasnya. “Kau berubah menjadi pahlawan setelah mengalami kehancuran,” pujinya.
   Erland terkejut melihat buku yang sudah sering dibacanya itu. Ada tulisan namanya di sana yang ia buat saat menetapkan bahwa buku itu adalah buku favoritnya. Sekarang Erland mengerti dan mengakui itu. Buku itu telah kembali kepada pemilik aslinya. Ibunya tidak pernah melupakannya. Takkan pernah melupakannya… dari dulu.
Erland tersenyum sekarang dan merasa semuanya telah berakhir.
   Memang orang tuanya takkan bersatu lagi. Tapi ia tidak kehilangan apa-apa seperti yang dikatakan Aira. Ia takkan kehilangan keluarganya, ibunya dan juga kekasihnya… yang sedang menunggunya di kantin.
   Erland merasa lega sekarang dan berdiri, mendekap ibunya dan menumpahkan semua rasa rindunya. “Maaf…, maafkan aku, Ibu.”
   Ibunya membelai kepalanya. Kapan Erland terakhir kali melakukan hal ini? Sudah lama. Sangat lama. Akhirnya ia bisa merasakan pelukan ibunya. Tidaklah buruk untuk menangis seperti ini di depannya. Ia tidak sendirian sekarang. Semuanya sudah sempurna.
   “Ibu juga minta maaf…”

You Might Also Like

0 comments: