Song of Aria #32 - Rain
“Sudah selama ini ternyata.”
Erland sedang duduk
di ruang tunggu tempat ibunya menunggu tadi. Seperti ada dinding kaca di depan
mereka. Mereka kikuk dan merasa tidak bebas. Erland bisa melihat dibalik
penampilan rapi ibunya, ada rasa lelah dan rasa bersalah di matanya. Ia hanya
diam membiarkan ibunya bicara duluan.
“Kau marah, nak?”
kemudian, sebelum Erland menjawabnya, ia tertawa getir dan menjawab sendiri,
“apa yang bisa kau harapkan dari seorang ibu sepertiku? Aku tidak bisa
menemuimu dan menepati janjiku. Inggris terlalu jauh dari sini,” katanya dengan
nada itu… getir.
Erland bisa melihat
kesedihan dan penyesalan yang dalam dari balik mata ibunya yang berkabut. Sudah
lama rasanya tidak seperti ini. Inilah orang yang telah melahirkannya dan
mengajarinya aksen sempurna ini. Inilah orang yang selalu menyanyikannya lagu
tentang cinta dan cerita-cerita dongeng impian sewaktu dia kecil. Dan dialah
orang yang telah meninggalkannya dengan janji palsu. Dan sekarang dia ada di
sini, di depannya. Ia ada di sini saat ia menyerah untuk mengharapkan
kehadirannya.
“Ibu bisa menerima
hukumannmu, Aria. Ibu hanya ingin minta maaf atas semuanya. Ibu menyesal tidak
bisa mengajakmu ikut bersama Ibu...,” ia mulai sedikit terisak.
“Aku tahu.” Erland
mulai bersuara sekarang. Tidak ada alasan untuk membentak di sini. bagaimana
pun juga ia percaya kata-kata Aira. Ia tidak
akan kehilangan apa-apa… jika ia berhasil menyelesaikannya dengan baik.
“Aria…,”
Erland memotong
perkataannya. “Selama ini aku menunggumu. Aku berharap bisa melakukan sesuatu
yang baik untukmu. Aku mau hidup dengan cara apapun asalkan kita bisa seperti
dulu. Aku bisa bebas dari kekanganku… hanya saja jika aku memilih hal itu, jika
kenyataannya tidak seperti ini, apa hasilnya juga akan sama?” Erland tidak tahu
ia mendapatkan kata-kata itu dari mana. Hanya saja semua ini tiba-tiba merubah
sikapnya. “Jika aku pergi bersamamu… apa aku bisa bertemu dengan Aira? Jika aku
pergi bersamamu apa aku bisa bertemu Jack atau Nana? Jika aku ikut denganmu,
apa aku bisa semandiri ini?” kemudian Erland menggelengkan kepalanya. “Tidak
ada yang tahu tentang itu.” Jawabnya sendiri.
“Aria, kau…,”
Erland memotongnya
lagi, “jika aku berpikir lagi, mungkin aku tahu alasannya kenapa kau tidak bisa
kembali.”
“Kau tahu, nak? Dari
mana…,”
“Ayah.” Jawab Erland
pasti. Ia membuka pikiran rasionalnya sekarang. “Ayah membuatku selalu berada
di Inggris. Ia yakin kalau kau tidak akan pernah sampai ke sana.”
Ibunya tersenyum.
“Kau bisa membacanya dengan baik. Ibu tidak bisa ke tempatmu karena memang
tidak bisa kembali ke sana.
Semuanya karena sebuah perjanjian. Tapi di saat surat
untukmu itu datang, saat itu aku berada di sana. Hanya saja aku tertangkap dan akhirnya
di terbangkan lagi ke sini. Kau tahu dari mana kau mendapatkan buku itu?” tanya
ibunya.
“Buku? Buku apa?”
“ –L .” Jawab ibunya.
Erland langsung paham dengan
hal itu. Ia ingat dengan buku itu, buku yang mengisakan tentang Lauri yang
dibunuh oleh temannya dan akhirnya sekarat di ujung gang… buku yang membuatnya
terobsesi atas pelariannya saat itu. Buku yang dibacanya saat berumur Sembilan
tahun.
“Dari mana…?”
“Itu adalah sebuah
buku yang diberi seorang teman. Buku itu sepertinya jatuh di dalam mobil
sewaktu mereka mengantarku ke Bandara,” potongnya.
“Lalu dari mana…
dari mana…?” Erland seakan kehilangan kata-katanya.
“Ibu bertemu dengan
ayahmu saat kau pindah ke Amerika. Dia menceritakan semuanya pada ibu. Dia
mengembalikan buku itu,” kemudian ia mengeluarkan buku itu dari tasnya. “Kau
berubah menjadi pahlawan setelah mengalami kehancuran,” pujinya.
Erland terkejut
melihat buku yang sudah sering dibacanya itu. Ada
tulisan namanya di sana
yang ia buat saat menetapkan bahwa buku itu adalah buku favoritnya. Sekarang Erland
mengerti dan mengakui itu. Buku itu telah kembali kepada pemilik aslinya.
Ibunya tidak pernah melupakannya. Takkan pernah melupakannya… dari dulu.
Erland tersenyum sekarang dan merasa semuanya telah
berakhir.
Memang orang tuanya
takkan bersatu lagi. Tapi ia tidak kehilangan apa-apa seperti yang dikatakan
Aira. Ia takkan kehilangan keluarganya, ibunya dan juga kekasihnya… yang sedang
menunggunya di kantin.
Erland merasa lega
sekarang dan berdiri, mendekap ibunya dan menumpahkan semua rasa rindunya.
“Maaf…, maafkan aku, Ibu.”
Ibunya membelai
kepalanya. Kapan Erland terakhir kali melakukan hal ini? Sudah lama. Sangat
lama. Akhirnya ia bisa merasakan pelukan ibunya. Tidaklah buruk untuk menangis
seperti ini di depannya. Ia tidak sendirian sekarang. Semuanya sudah sempurna.
“Ibu juga minta
maaf…”

0 comments: