Song of Aria #31 - Rain
Erland berjanji akan pergi ke sana jika Aira menceritakan
tentang musik itu padanya.
“Kau hanya akan membuatnya menunggu,” protesnya.
“Kau pikir aku menunggunya selama apa? Aku menunggunya
belasan tahun. Dan dia datang saat usiaku segini.” Ia terdengar kesal sekarang.
“Kalau dia bersedia menunggu sejam atau lebih, maka aku akan bicara dengannya.”
“Tapi –”
“Ssttt…Ceritakan itu padaku.” Pintanya.
Aira menyerah. Penantian Erland selama ini memang sangat
sulit dan lama. Ia memulai ceritanya agar tidak ada perdebatan lagi.
“Dia hanya tokoh rekaanku,” ia memulai. “Namanya Aria. Dia
lahir dan tumbuh di Dartmoor. Ia sangat menyukai alam dan kebebasan dan sangat
bahagia dengan hidupnya. Ia dikelilingi oleh orang-orang yang dicintainya, oleh
alamnya, oleh kudanya, dan oleh hidupnya yang penuh kesenangan. Suatu hari ia
melihat ibunya pergi dan ayahnya terbunuh karena perang. Inggris bergejolak
dalam perang dan ia mendaftar jadi seorang tentara. Ia berlatih dan kemudian
ikut perang. Hanya saja, ia tahu kalau hatinya tidak sanggup untuk menenteng
senjata dan menembak musuh. Baginya ia sama saja seperti pembunuh.
“Dalam pikirannya yang lemah dan berkecamuk, ia pergi
melarikan diri dan tak ingin kembali. Sampai disitu semua orang mencarinya yang
hilang dan tak pernah menemukannya. Hingga suatu hari ia muncul dan menjadi
orang yang sangat berbeda. Ia ketakutan. Ia banyak mencurigai orang. Ia dingin
dan getir. Ia bahkan lupa dengan dirinya dan sifat riangnya. Dan ia tidak bisa
melihat cinta yang diberikan orang lain padanya.” Ceritanya. “ Itulah Aria,
orang yang ada dipikiranku.”
“Tapi kau menganggapnya sebagai pahlawan.”
Aira mengangguk. “Dia pahlawan bagi keluarganya. Dia
menganggap dirinya tidak pantas membunuh orang. Kau tahu kalau politik itu
seperti apa. Dengan satu faham saja pikiran mereka bisa teracuni oleh hal-hal
baik atau buruk. Aria tahu kalau mereka semua bergerak karena penguasa.” Ia
menatap Erland. “Ia bergerak dengan hatinya. Ia bebas. Dari pada menyakiti
banyak orang, lebih baik ia diam dan bersembunyi. Hanya saja rasa tidak percaya
di hatinya menimbulkan banyak keraguan. Itu membuatnya sakit.”
“Karena itu musiknya mengambang.” Erland paham sekarang.
“Benar.”
Erland tertawa, “kau membuatku kaget saja. Kupikir lagu itu
untukku.”
Aira tidak ikut tertawa. Ia diam. “Sebenarnya aku berpikir
kalau lagu itu mirip denganmu.”
“Tapi aku tidak ikut perang.”
Aira tersenyum. “Kau berperang dengan hatimu. Kau ingin
membunuhnya, tapi tak bisa melakukannya. Kau kesal?”
Erland terdiam. Ia menatap Aira dalam-dalam dan tahu kalau
gadis itu paham dengan kekuatirannya sendiri.
“Pergilah. Dia menunggumu.” Kata gadis itu akhirnya.
Erland tersenyum
lalu pergi melintasi lapangan.

0 comments: