Song of Aria #31 - Rain

8:22 PM fe 0 Comments



Erland berjanji akan pergi ke sana jika Aira menceritakan tentang musik itu padanya.
“Kau hanya akan membuatnya menunggu,” protesnya.
“Kau pikir aku menunggunya selama apa? Aku menunggunya belasan tahun. Dan dia datang saat usiaku segini.” Ia terdengar kesal sekarang. “Kalau dia bersedia menunggu sejam atau lebih, maka aku akan bicara dengannya.”
“Tapi –”
“Ssttt…Ceritakan itu padaku.” Pintanya.

Aira menyerah. Penantian Erland selama ini memang sangat sulit dan lama. Ia memulai ceritanya agar tidak ada perdebatan lagi.
“Dia hanya tokoh rekaanku,” ia memulai. “Namanya Aria. Dia lahir dan tumbuh di Dartmoor. Ia sangat menyukai alam dan kebebasan dan sangat bahagia dengan hidupnya. Ia dikelilingi oleh orang-orang yang dicintainya, oleh alamnya, oleh kudanya, dan oleh hidupnya yang penuh kesenangan. Suatu hari ia melihat ibunya pergi dan ayahnya terbunuh karena perang. Inggris bergejolak dalam perang dan ia mendaftar jadi seorang tentara. Ia berlatih dan kemudian ikut perang. Hanya saja, ia tahu kalau hatinya tidak sanggup untuk menenteng senjata dan menembak musuh. Baginya ia sama saja seperti pembunuh.
“Dalam pikirannya yang lemah dan berkecamuk, ia pergi melarikan diri dan tak ingin kembali. Sampai disitu semua orang mencarinya yang hilang dan tak pernah menemukannya. Hingga suatu hari ia muncul dan menjadi orang yang sangat berbeda. Ia ketakutan. Ia banyak mencurigai orang. Ia dingin dan getir. Ia bahkan lupa dengan dirinya dan sifat riangnya. Dan ia tidak bisa melihat cinta yang diberikan orang lain padanya.” Ceritanya. “ Itulah Aria, orang yang ada dipikiranku.”
“Tapi kau menganggapnya sebagai pahlawan.”
Aira mengangguk. “Dia pahlawan bagi keluarganya. Dia menganggap dirinya tidak pantas membunuh orang. Kau tahu kalau politik itu seperti apa. Dengan satu faham saja pikiran mereka bisa teracuni oleh hal-hal baik atau buruk. Aria tahu kalau mereka semua bergerak karena penguasa.” Ia menatap Erland. “Ia bergerak dengan hatinya. Ia bebas. Dari pada menyakiti banyak orang, lebih baik ia diam dan bersembunyi. Hanya saja rasa tidak percaya di hatinya menimbulkan banyak keraguan. Itu membuatnya sakit.”
“Karena itu musiknya mengambang.” Erland paham sekarang.
“Benar.”
Erland tertawa, “kau membuatku kaget saja. Kupikir lagu itu untukku.”
Aira tidak ikut tertawa. Ia diam. “Sebenarnya aku berpikir kalau lagu itu mirip denganmu.”
“Tapi aku tidak ikut perang.”
Aira tersenyum. “Kau berperang dengan hatimu. Kau ingin membunuhnya, tapi tak bisa melakukannya. Kau kesal?”
Erland terdiam. Ia menatap Aira dalam-dalam dan tahu kalau gadis itu paham dengan kekuatirannya sendiri.
“Pergilah. Dia menunggumu.” Kata gadis itu akhirnya.
   Erland tersenyum lalu pergi melintasi lapangan.
  

You Might Also Like

0 comments: