Song of Aria #30 - Rain
Kejahilan Aira dimalam saat orang tuanya dibunuh telah
membawa sebuah perubahan drastis dalam hidupnya. Malam itu ia dengan isengnya
memasang sebuah kamera pada malam hari dengan misi menangkap hantu. Ia sangat
penasaran dengan suara ribut tengah malam dan memutuskan untuk mencari sosok
sang hantu dengan kameranya sendiri.
Akhirnya ia memasang
kamera itu di sudut atas ruangan, di tempat yang tidak terlihat dan mengarahkan
fokusnya pada ruang tamu. Kemudian malam itu ia pergi tidur sampai pada
akhirnya dia terbangun saat mendengar teriakan ngeri dari luar kamarnya. Ia
merasa takut namun saat ia membuka pintunya, di depan matanya sendiri, ia
melihat pamannya membunuh kedua orang tuanya.
Satu trauma lagi.
Ini membuatnya merasa sangat takut dan juga akhirnya membuatnya hidup dalam
ancaman dan bayang-bayang pamannya. Ia sangat membenci malam hari karena akan
selalu teringat dengan kejadian itu. Tidak ada yang menolongnya dan itu
membuatnya merasa bahwa dia sendirian di dunia ini. Ia hanya bisa hidup dengan
bantuan yang ditawarkan oleh Dr.Anna karena dia adalah teman baik ibunya.
Sikap pamannya yang
suka datang pada malam hari hingga akhirnya memperkosanya adalah tambahan beban
yang membuatnya hilang kendali atas dirinya.
Singkatnya, ia telah banyak mengalami perlakuan yang tidak
adil itu selama bertahun-tahun. Rencana Erland sangat sukses. Ia sendiri tidak
sanggup melihat isi video itu. Sungguh tragis. Aira menangis dalam diam dan
merasa tidak percaya kalau kasus ini akan terbuka. Dan semua itu hanya karena
keisengannya belaka.
Sekarang Erland duduk di sampingnya karena menunggu seorang
pengacara yang telah disediakan oleh panti itu untuk Aira. Aira jelas terlihat
gugup. Tidak ada alasan untuk ragu sekarang. Bukti yang terlupakan itu telah
berhasil Erland temukan dan bawa kekantor polisi. Sekarang hanya tinggal hukum
yang bicara.
Pintu ruang tunggu
itu terbuka dan masuklah seorang pengacara wanita yang dari tadi mereka tunggu.
Mereka berdiri dari duduknya, tapi Erland tiba-tiba membeku melihat siapa yang
masuk, begitu juga pengacara itu.
Tidak mungkin ini
terjadi. Bukan hanya itu, bisakah ini disebut keajaiban? Erland terlalu banyak
mendapat kejutan dalam hidupnya sekarang. Di sana, orang yang mereka tunggu sekarang,
berdirilah ibunya, orang yang selama ini berjanji untuk menjemputnya.
Erland merasa senang
sekaligus marah sekarang. Ia tidak tahu emosi mana yang lebih dominan. Seakan
tidak ingin berada di sana
lagi, ia melangkah keluar ruangan tanpa menghiraukan panggilan ibunya. Aira
terdiam sejenak. Ia memperhatikan sosok wanita itu, ekspresinya dan aliran
emosinya. Ia juga mengingat masa lalu Erland
dan menemukan satu kesimpulan.
“Apakah anda…
ibunya?” tanya Aira.
Erland duduk di bawah pohon yang ada di lapangan panti itu.
Ia gemetaran sekarang dan merasa sangat tidak enak. Ia meninggalkan Aira
sendirian tanpa pikir panjang dan sekarang malah berada di sini sendirian. Tapi
ia butuh menenangkan pikirannya yang kacau. Sejak ia kembali ke sini, niatnya
hanya satu yaitu mencari Aira, kemudian membantunya… dan sekarang Ibunya ada di
sini menjadi pengacara Aira.
Terlalu banyak kejutan.
Saat satu urusan selsesai, urusan yang lainnya muncul lagi. Ini cukup menguras
pikirannya dan emosinya. Terlalu banyak kejutan dalam hidupnya saat ini dan ia
tidak tahu bagaimana hasil akhirnya. Ia merebahkan badannya dan mencoba
menenangkan pikirannya.
Ia membuat pilihan.
Apa ia harus kembali ke sana
atau tetap duduk di sini. Akhirnya setelah berpikir sejenak, ia memutuskan
untuk kembali ke sana.
Sekarang yang lebih penting adalah Aira. Hanya saja sebelum ia benar-benar
duduk, Aira telah datang berlari padanya dan duduk di sampingnya.
“Aira?”
Sebelum Erland
sempat mengajukan pertanyaan selanjutnya, Aira bergerak memeluknya. Erland
merasa bingung. Kemudian ia menyandarkan dagunya kekepalanya.
“Ada apa?” tanya Erland lembut.
Kemudian ia
melepaskan pelukannya dan menatap Erland dengan pandangan kuatir. Ia tidak bisa
menyembunyikan kekuatirannya.
“Kau marah?”
Erland bingung
dengan pertanyaan itu.
“Kau marah karena
ibumu ada di sini?” tanyanya lagi.
Erland menatap
matanya dan bertanya-tanya apa yang dilihat Aira dalam matanya sekarang. Aira
tampak begitu cemas sekarang. Kemudian Erland tersenyum padanya. “Tidak. Aku
yakin dia yang terbaik untuk mendampingimu dalam kasus ini,” jawab Erland
sambil membelai rambutnya.
Aira menundukkan
kepalanya dan mencoba mengatakan sesuatu. “Temui dia.”
Dan apa ini? Aira
tahu kalau dia sudah menyerah dengan hal yang satu ini. Ia tahu itu. Diamnya Erland
membuat Aira paham dengan jawabannya.
“Aku tahu kau tidak
mau menemuinya. Aku tahu kalau kau sudah menyerah dengan hal yang satu ini.
tapi kali ini dialah yang datang padamu, bukan kau yang mencarinya.”
Mendapati reaksi Erland
yang tidak nyaman dengan pembicaraan itu, Aira memutuskan untuk diam sejenak
dan mencari kata-kata lainnya.
“Dia memintamu ke
sini?” tanyanya.
“Tidak. Aku yang
ingin ke sini.” jawab Aira. “Aku kuatir padamu.”
Jawaban yang jujur
itu menghangatkan hati Erland. Ia merasa mendapat satu kekuatan baru yang
membuatnya merasa lebih kuat lagi.
Erland tersenyum dan
menarik Aira dalam dekapannya, “Katakan apa yang harus kulakukan.”
Aira tidak menyangka
kalau Erland akan setenang ini. Ia tidak sekesal tadi dan sekarang malah
meminta pendapatnya. “Temui dia dan bicaralah. Dia menunggumu kembali. Dia
tidak akan pergi.” Aira meyakinkannya.
Erland menariknya
sedikit menjauh dan menciumnya lama. “Lalu apa keuntungannya?” bisiknya sambil
menyandarkan dahinya pada Aira.
Aira berusaha
menjernihkan pikirannya sebelum menjawab. Sungguh sulit berpikir jika Erland
berada didekatnya. “Kau tidak akan kehilangan apa-apa,” jawabnya pasti.
“Senang
mendengarnya,” katanya sambil tersenyum manis. Kemudian dia berdiri dan menarik
Aira. “Kau ikut?”
Aira menggeleng.
“Aku akan menunggumu di kantin. Pergilah. Semuanya akan baik-baik saja.”
“Sebelum itu,
ceritakan padaku tentang itu.” pintanya.
“Apa?”
“Song of Aria.”

0 comments: