Song of Aria #30 - Rain

8:19 PM fe 0 Comments



Kejahilan Aira dimalam saat orang tuanya dibunuh telah membawa sebuah perubahan drastis dalam hidupnya. Malam itu ia dengan isengnya memasang sebuah kamera pada malam hari dengan misi menangkap hantu. Ia sangat penasaran dengan suara ribut tengah malam dan memutuskan untuk mencari sosok sang hantu dengan kameranya sendiri.
   Akhirnya ia memasang kamera itu di sudut atas ruangan, di tempat yang tidak terlihat dan mengarahkan fokusnya pada ruang tamu. Kemudian malam itu ia pergi tidur sampai pada akhirnya dia terbangun saat mendengar teriakan ngeri dari luar kamarnya. Ia merasa takut namun saat ia membuka pintunya, di depan matanya sendiri, ia melihat pamannya membunuh kedua orang tuanya.
   Satu trauma lagi. Ini membuatnya merasa sangat takut dan juga akhirnya membuatnya hidup dalam ancaman dan bayang-bayang pamannya. Ia sangat membenci malam hari karena akan selalu teringat dengan kejadian itu. Tidak ada yang menolongnya dan itu membuatnya merasa bahwa dia sendirian di dunia ini. Ia hanya bisa hidup dengan bantuan yang ditawarkan oleh Dr.Anna karena dia adalah teman baik ibunya.

   Sikap pamannya yang suka datang pada malam hari hingga akhirnya memperkosanya adalah tambahan beban yang membuatnya hilang kendali atas dirinya.
Singkatnya, ia telah banyak mengalami perlakuan yang tidak adil itu selama bertahun-tahun. Rencana Erland sangat sukses. Ia sendiri tidak sanggup melihat isi video itu. Sungguh tragis. Aira menangis dalam diam dan merasa tidak percaya kalau kasus ini akan terbuka. Dan semua itu hanya karena keisengannya belaka.
Sekarang Erland duduk di sampingnya karena menunggu seorang pengacara yang telah disediakan oleh panti itu untuk Aira. Aira jelas terlihat gugup. Tidak ada alasan untuk ragu sekarang. Bukti yang terlupakan itu telah berhasil Erland temukan dan bawa kekantor polisi. Sekarang hanya tinggal hukum yang bicara.
   Pintu ruang tunggu itu terbuka dan masuklah seorang pengacara wanita yang dari tadi mereka tunggu. Mereka berdiri dari duduknya, tapi Erland tiba-tiba membeku melihat siapa yang masuk, begitu juga pengacara itu.
   Tidak mungkin ini terjadi. Bukan hanya itu, bisakah ini disebut keajaiban? Erland terlalu banyak mendapat kejutan dalam hidupnya sekarang. Di sana, orang yang mereka tunggu sekarang, berdirilah ibunya, orang yang selama ini berjanji untuk menjemputnya.
   Erland merasa senang sekaligus marah sekarang. Ia tidak tahu emosi mana yang lebih dominan. Seakan tidak ingin berada di sana lagi, ia melangkah keluar ruangan tanpa menghiraukan panggilan ibunya. Aira terdiam sejenak. Ia memperhatikan sosok wanita itu, ekspresinya dan aliran emosinya. Ia juga mengingat  masa lalu Erland dan menemukan satu kesimpulan.
   “Apakah anda… ibunya?” tanya Aira.


Erland duduk di bawah pohon yang ada di lapangan panti itu. Ia gemetaran sekarang dan merasa sangat tidak enak. Ia meninggalkan Aira sendirian tanpa pikir panjang dan sekarang malah berada di sini sendirian. Tapi ia butuh menenangkan pikirannya yang kacau. Sejak ia kembali ke sini, niatnya hanya satu yaitu mencari Aira, kemudian membantunya… dan sekarang Ibunya ada di sini menjadi pengacara Aira.
   Terlalu banyak kejutan. Saat satu urusan selsesai, urusan yang lainnya muncul lagi. Ini cukup menguras pikirannya dan emosinya. Terlalu banyak kejutan dalam hidupnya saat ini dan ia tidak tahu bagaimana hasil akhirnya. Ia merebahkan badannya dan mencoba menenangkan pikirannya.
   Ia membuat pilihan. Apa ia harus kembali ke sana atau tetap duduk di sini. Akhirnya setelah berpikir sejenak, ia memutuskan untuk kembali ke sana. Sekarang yang lebih penting adalah Aira. Hanya saja sebelum ia benar-benar duduk, Aira telah datang berlari padanya dan duduk di sampingnya.
   “Aira?”
   Sebelum Erland sempat mengajukan pertanyaan selanjutnya, Aira bergerak memeluknya. Erland merasa bingung. Kemudian ia menyandarkan dagunya kekepalanya.
   “Ada apa?” tanya Erland lembut.
   Kemudian ia melepaskan pelukannya dan menatap Erland dengan pandangan kuatir. Ia tidak bisa menyembunyikan kekuatirannya.
   “Kau marah?”
   Erland bingung dengan pertanyaan itu.
   “Kau marah karena ibumu ada di sini?” tanyanya lagi.
   Erland menatap matanya dan bertanya-tanya apa yang dilihat Aira dalam matanya sekarang. Aira tampak begitu cemas sekarang. Kemudian Erland tersenyum padanya. “Tidak. Aku yakin dia yang terbaik untuk mendampingimu dalam kasus ini,” jawab Erland sambil membelai rambutnya.
   Aira menundukkan kepalanya dan mencoba mengatakan sesuatu. “Temui dia.”
   Dan apa ini? Aira tahu kalau dia sudah menyerah dengan hal yang satu ini. Ia tahu itu. Diamnya Erland membuat Aira paham dengan jawabannya.
   “Aku tahu kau tidak mau menemuinya. Aku tahu kalau kau sudah menyerah dengan hal yang satu ini. tapi kali ini dialah yang datang padamu, bukan kau yang mencarinya.”
   Mendapati reaksi Erland yang tidak nyaman dengan pembicaraan itu, Aira memutuskan untuk diam sejenak dan mencari kata-kata lainnya.
   “Dia memintamu ke sini?” tanyanya.
   “Tidak. Aku yang ingin ke sini.” jawab Aira. “Aku kuatir padamu.”
   Jawaban yang jujur itu menghangatkan hati Erland. Ia merasa mendapat satu kekuatan baru yang membuatnya merasa lebih kuat lagi.
   Erland tersenyum dan menarik Aira dalam dekapannya, “Katakan apa yang harus kulakukan.”
   Aira tidak menyangka kalau Erland akan setenang ini. Ia tidak sekesal tadi dan sekarang malah meminta pendapatnya. “Temui dia dan bicaralah. Dia menunggumu kembali. Dia tidak akan pergi.” Aira meyakinkannya.
   Erland menariknya sedikit menjauh dan menciumnya lama. “Lalu apa keuntungannya?” bisiknya sambil menyandarkan dahinya pada Aira.
   Aira berusaha menjernihkan pikirannya sebelum menjawab. Sungguh sulit berpikir jika Erland berada didekatnya. “Kau tidak akan kehilangan apa-apa,” jawabnya pasti.
   “Senang mendengarnya,” katanya sambil tersenyum manis. Kemudian dia berdiri dan menarik Aira. “Kau ikut?”
   Aira menggeleng. “Aku akan menunggumu di kantin. Pergilah. Semuanya akan baik-baik saja.”
   “Sebelum itu, ceritakan padaku tentang itu.” pintanya.
   “Apa?”
   “Song of Aria.”

You Might Also Like

0 comments: