Song of Aria #29 - Rain

8:16 PM fe 0 Comments



Pagi itu Aira terbangun di kamarnya. Dunia terasa berbeda sekarang. Tadi malam Erland memberikan sebuah pernyataan yang membuatnya merasa bahwa dia adalah orang yang sangat berbahaya. Jika semuanya sudah menyangkut hati, maka semuanya harus diwaspadai. Ia tidak menyangka bahwa pilihan-pilihannya selama ini akan memberikan efek yang sangat besar pada Erland.
   Ia sudah membaca catatan itu kemarin. Ia juga ingat kalau di sana Erland menulis tentang krisis kepercayaannya dan harus terapi demi meyakini bahwa dunia yang sedang dihadapinya ini adalah nyata. Aira membaca matanya dan memperingati dirinya sendiri agar tidak melakukan kebodohan itu lagi. Erland terlalu sulit untuk dibohongi.
   Dan ia tidak percaya kalau Erland bisa seperti itu.

   Ia takut menawan hatinya, karena itulah ia memilih menghindar. Hanya saja Erland telah memperingatinya bahawa tidak ada jalan kembali sekarang. Tidak ada jalan kembali jika kau telah bermain dengan hati sang iblis, dan mungkin seperti bisikan Erland sebelum ia kembali ke kamar malam itu – ataukah janji – ditelinganya bahwa … It’s more satisfied to play with devil than HIM!


Erland telah menelusuri semua sudut rumah Aira dari tengah malam tadi. Ia telah melakukan semuanya dan memikirkan rencana selanjutnya. Ia yakin jika ini berhasil, maka ia bisa memancing orang itu keluar dan melakukan pembalasan terhadapnya… atau kembali melumuri tangannya dengan darah. Hanya ada satu pilihan yang baik di sini. Semuanya sudah diatur, dan malam ini ia berdoa semoga semuanya berakhir.
   Semuanya harus segera berakhir.
   Dan malampun datang. Erland menghidupkan lampu rumah itu dan membiarkan dirinya diselimuti oleh bayang-bayang di sudut ruangan. Ia telah meninggalkan mobilnya di rumah Tita dan datang diam-diam ke rumah Aira hanya demi rencana ini pada sore harinya. Ia yakin kalau ia tidak terlihat, dan sangat yakin kalau pancingannya ini akan berhasil mendapat umpan.
   Umpan itu datang sekitar pukul sepuluh malam dan dengan garangnya membuka pintu yang memang tidak dikunci itu. Seorang pria berumur empatpuluhan masuk dan langsung rubuh disofa berdebu itu. Ia terlihat sedang mabuk. Ia hanya diam dan kemudian tertawa seolah merasa puas dengan dirinya. Namun disisi lain, Erland serasa tertembak mengetahui siapa yang baru masuk ke ruangan itu.
   Ia tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. Sungguh tidak percaya dengan kenyataan ini. Rasanya ia ingin keluar dan menanyakan apa yang orang itu tahu tentang Aira, kenapa dia ada di sini, dan sebagainya. Tapi tidak. Itu salah. Jika dia melakukannya, maka semuanya akan sia-sia saja.
   “Kau di sana, Aira?” teriaknya. “Kau sudah pulang, sayang?”
   Erland menegang di sudut sana. Sungguh panggilan yang tidak pantas! Ia tidak rela orang itu menyebut nama Aira. Sedikit lagi, dia harus bersabar sedikt lagi.
   “Akhirnya kau tahu kalau kau harus kembali padaku, cantik. Tidak bisa kah kau turun sekarang dan kita melakukannya lagi?” kemudian ia tertawa keras. “Apa yang kau tunggu lagi, kemarilah. Kau sudah menyerah bukan? Pada akhirnya kau harus mengikuti kata-kataku, manis.”
   “Pada akhirnya dia takkan mengikuti kata-katamu, Pak Tua.”
   Suara dingin itu berasal dari Erland yang akhirnya memutuskan untuk keluar dari bayang-bayang. Orang itu langusng menghadapnya dan tersentak kaget
   “Siapa kau?” tanyanya.
“Apa penting siapa aku?” Erland tertawa rendah sekarang. “Kau sendiri siapa?”
“Aku pemilik rumah ini! Keluar kau!” ia berkata sambil menunjuk pintu dan memasang tampang sangar.
“Aku tidak tahu kalau rumah ini milikmu. Yang kutahu aku sudah mendapatkan hak rumah ini.”
Pria itu tertawa keras. “Omong kosong! Dasar pembohong! Siapa bilang kau punya hak atas rumah ini?” lalu ia mendongakkan kepalanya. “Hei, Aira! Keluar kau! Suruh orang ini keluar! Aira!” teriaknya. “Di mana kau?”
Erland tertawa kecil. “Apa yang kau lakukan? Memanggil orang yang tak ada di sini?”
“Diam, nak! Kau tidak sopan!” lalu sekali lagi ia berteriak. Tapi gadis itu tidak muncul juga. “Brengsek! Keluar kau!” ia melayangkan pukulannya hanya saja Erland terlalu mudah membacanya dan ia menghindar.
“Apa yang kau lakukan?” tanya pria itu marah.
“Aku tak melakukan apapun.”
“Mana Aira?”
“Dia tidak di sini.”
Dengan cepat ia menarik kerah baju Erland. Bau alkohol langsung tercium di hidungnya. “Kau sembunyikan di mana dia? JAWAB!”
Erland menatapnya dingin. “Apa yang akan kau lakukan padanya.”
Satu pukulan menerjang wajah Erland dengan cepat dan tak terduga. Ia terhuyung ke belakang sejenak.
Kemudian Erland membalasnya, melayangkan satu pukulah ke wajahnya dan merasa puas melihat orang itu jatuh tersungkur di kakinya. Ia merasa senang karena bagian ini adalah bagian yang sangat dinantinya. Dengan satu tangan ia menarik kerah kemejanya dan memaksa orang itu berdiri.
   “Pukulan pertama untuk kebohonganmu padanya.”
   Orang itu berusaha untuk melakukan pukulan lagi pada Erland, hanya saja kali ini gerakannya dapat terbaca. Erland menangkis serangannya dengan satu tangannya yang bebas dan menyentaknya. Kemudian ia menendang bagian perutnya yang membuat orang itu jatuh ke belakang dan mendarat di sofa dan sekali lagi memaksanya berdiri.
   “Pukulan kedua untuk pengkhianatanmu padanya.”
   Erland sekali lagi menghantamkan tinjunya pada orang itu tepat diperutnya dan membuatnya terbatuk.
   “Pukulan ketiga untuk kematian orang tuanya karena kau telah membunuhnya.”
   Kemudian ia menyarangkan pukulannya diwajahnya dengan sangat kuat sehingga orang itu terkapar di kakinya sekarang.
   “Dan yang terakhir  untuk perbuatan kejimu padanya.”
   Erland bisa mendengar pria itu meringis kesakitan. Bibirnya robek, matanya biru lebam, dan darah. Erland tersenyum puas karena tujuannya telah tercapai. Ia telah melayangkan pukulan atas nama Aira dan dirinya sendiri dan orang tua Aira.
   Cukup darinya. Ia tahu kapan harus berhenti dan inilah saatnya.
   Suara sirine kepolisian mengaum dengan lantang dan mendekati rumah itu. beberapa anggota polisi keluar dari sana dan mengepung rumah.
   “Sial kau!” rutuknya sambil meringis menahan sakit.
   “Aku kenal dengan Inspektur Scotland Yard. Sayangnya kita tidak sedang di Inggris. Jadi untuk saat ini kau harus berparade ria dengan anggota kepolisian sampai ke kantor polisi. Ini tidak buruk, kan?” tantang Erland sambil beranjak kearah pintu.
   Dan semuanya mulai dibereskan.

You Might Also Like

0 comments: