Song of Aria #29 - Rain
Pagi itu Aira terbangun di kamarnya. Dunia terasa berbeda
sekarang. Tadi malam Erland memberikan sebuah pernyataan yang membuatnya merasa
bahwa dia adalah orang yang sangat berbahaya. Jika semuanya sudah menyangkut
hati, maka semuanya harus diwaspadai. Ia tidak menyangka bahwa
pilihan-pilihannya selama ini akan memberikan efek yang sangat besar pada Erland.
Ia sudah membaca
catatan itu kemarin. Ia juga ingat kalau di sana Erland menulis tentang krisis
kepercayaannya dan harus terapi demi meyakini bahwa dunia yang sedang
dihadapinya ini adalah nyata. Aira membaca matanya dan memperingati dirinya
sendiri agar tidak melakukan kebodohan itu lagi. Erland terlalu sulit untuk
dibohongi.
Dan ia tidak percaya
kalau Erland bisa seperti itu.
Ia takut menawan
hatinya, karena itulah ia memilih menghindar. Hanya saja Erland telah
memperingatinya bahawa tidak ada jalan kembali sekarang. Tidak ada jalan
kembali jika kau telah bermain dengan hati sang iblis, dan mungkin seperti
bisikan Erland sebelum ia kembali ke kamar malam itu – ataukah janji –
ditelinganya bahwa … It’s more satisfied
to play with devil than HIM!
Erland telah menelusuri semua sudut rumah Aira dari tengah
malam tadi. Ia telah melakukan semuanya dan memikirkan rencana selanjutnya. Ia
yakin jika ini berhasil, maka ia bisa memancing orang itu keluar dan melakukan
pembalasan terhadapnya… atau kembali melumuri tangannya dengan darah. Hanya ada
satu pilihan yang baik di sini. Semuanya sudah diatur, dan malam ini ia berdoa
semoga semuanya berakhir.
Semuanya harus
segera berakhir.
Dan malampun datang.
Erland menghidupkan lampu rumah itu dan membiarkan dirinya diselimuti oleh
bayang-bayang di sudut ruangan. Ia telah meninggalkan mobilnya di rumah Tita
dan datang diam-diam ke rumah Aira hanya demi rencana ini pada sore harinya. Ia
yakin kalau ia tidak terlihat, dan sangat yakin kalau pancingannya ini akan
berhasil mendapat umpan.
Umpan itu datang
sekitar pukul sepuluh malam dan dengan garangnya membuka pintu yang memang
tidak dikunci itu. Seorang pria berumur empatpuluhan masuk dan langsung rubuh
disofa berdebu itu. Ia terlihat sedang mabuk. Ia hanya diam dan kemudian
tertawa seolah merasa puas dengan dirinya. Namun disisi lain, Erland serasa
tertembak mengetahui siapa yang baru masuk ke ruangan itu.
Ia tidak percaya
dengan penglihatannya sendiri. Sungguh tidak percaya dengan kenyataan ini.
Rasanya ia ingin keluar dan menanyakan apa yang orang itu tahu tentang Aira,
kenapa dia ada di sini, dan sebagainya. Tapi tidak. Itu salah. Jika dia
melakukannya, maka semuanya akan sia-sia saja.
“Kau di sana, Aira?”
teriaknya. “Kau sudah pulang, sayang?”
Erland menegang di
sudut sana. Sungguh panggilan yang tidak pantas! Ia tidak rela orang itu
menyebut nama Aira. Sedikit lagi, dia harus bersabar sedikt lagi.
“Akhirnya kau tahu
kalau kau harus kembali padaku, cantik. Tidak bisa kah kau turun sekarang dan
kita melakukannya lagi?” kemudian ia tertawa keras. “Apa yang kau tunggu lagi,
kemarilah. Kau sudah menyerah bukan? Pada akhirnya kau harus mengikuti kata-kataku,
manis.”
“Pada akhirnya dia
takkan mengikuti kata-katamu, Pak Tua.”
Suara dingin itu
berasal dari Erland yang akhirnya memutuskan untuk keluar dari bayang-bayang.
Orang itu langusng menghadapnya dan tersentak kaget
“Siapa kau?”
tanyanya.
“Apa penting siapa aku?” Erland tertawa rendah sekarang.
“Kau sendiri siapa?”
“Aku pemilik rumah ini! Keluar kau!” ia berkata sambil
menunjuk pintu dan memasang tampang sangar.
“Aku tidak tahu kalau rumah ini milikmu. Yang kutahu aku
sudah mendapatkan hak rumah ini.”
Pria itu tertawa keras. “Omong kosong! Dasar pembohong!
Siapa bilang kau punya hak atas rumah ini?” lalu ia mendongakkan kepalanya.
“Hei, Aira! Keluar kau! Suruh orang ini keluar! Aira!” teriaknya. “Di mana
kau?”
Erland tertawa kecil. “Apa yang kau lakukan? Memanggil orang
yang tak ada di sini?”
“Diam, nak! Kau tidak sopan!” lalu sekali lagi ia berteriak.
Tapi gadis itu tidak muncul juga. “Brengsek! Keluar kau!” ia melayangkan
pukulannya hanya saja Erland terlalu mudah membacanya dan ia menghindar.
“Apa yang kau lakukan?” tanya pria itu marah.
“Aku tak melakukan apapun.”
“Mana Aira?”
“Dia tidak di sini.”
Dengan cepat ia menarik kerah baju Erland. Bau alkohol
langsung tercium di hidungnya. “Kau sembunyikan di mana dia? JAWAB!”
Erland menatapnya dingin. “Apa yang akan kau lakukan
padanya.”
Satu pukulan menerjang wajah Erland dengan cepat dan tak
terduga. Ia terhuyung ke belakang sejenak.
Kemudian Erland membalasnya, melayangkan satu pukulah ke
wajahnya dan merasa puas melihat orang itu jatuh tersungkur di kakinya. Ia
merasa senang karena bagian ini adalah bagian yang sangat dinantinya. Dengan
satu tangan ia menarik kerah kemejanya dan memaksa orang itu berdiri.
“Pukulan pertama
untuk kebohonganmu padanya.”
Orang itu berusaha
untuk melakukan pukulan lagi pada Erland, hanya saja kali ini gerakannya dapat
terbaca. Erland menangkis serangannya dengan satu tangannya yang bebas dan
menyentaknya. Kemudian ia menendang bagian perutnya yang membuat orang itu
jatuh ke belakang dan mendarat di sofa dan sekali lagi memaksanya berdiri.
“Pukulan kedua untuk
pengkhianatanmu padanya.”
Erland sekali lagi
menghantamkan tinjunya pada orang itu tepat diperutnya dan membuatnya terbatuk.
“Pukulan ketiga
untuk kematian orang tuanya karena kau telah membunuhnya.”
Kemudian ia
menyarangkan pukulannya diwajahnya dengan sangat kuat sehingga orang itu
terkapar di kakinya sekarang.
“Dan yang
terakhir untuk perbuatan kejimu padanya.”
Erland bisa
mendengar pria itu meringis kesakitan. Bibirnya robek, matanya biru lebam, dan darah.
Erland tersenyum puas karena tujuannya telah tercapai. Ia telah melayangkan
pukulan atas nama Aira dan dirinya sendiri dan orang tua Aira.
Cukup darinya. Ia
tahu kapan harus berhenti dan inilah saatnya.
Suara sirine
kepolisian mengaum dengan lantang dan mendekati rumah itu. beberapa anggota
polisi keluar dari sana
dan mengepung rumah.
“Sial kau!” rutuknya
sambil meringis menahan sakit.
“Aku kenal dengan
Inspektur Scotland Yard. Sayangnya kita tidak sedang di Inggris. Jadi untuk
saat ini kau harus berparade ria dengan anggota kepolisian sampai ke kantor
polisi. Ini tidak buruk, kan?”
tantang Erland sambil beranjak kearah pintu.
Dan semuanya mulai
dibereskan.

0 comments: