Song of Aria #21 - Rain

7:47 PM fe 0 Comments



Kembali ke Indonesia serasa seperti pulang ke rumah. Ia tidak membuang waktunya untuk istirahat. Ia justru memacu mobilnya dan mengingat-ingat jalanan yang ia tempuh untuk bisa pergi ke rumah Nana. Ia melewati TK itu lagi yang sekarang jadi makin suram karena tidak dibersihkan. Ia melewati laut, menyusuri jalanan beraspal, berbelok, melaju lurus dan akhirnya berhenti di sebuah rumah berhalaman luas.
Rumah Nana sangat dipenuhi oleh cahaya matahari dan hangat. Bunga-bunganya sedang bermekaran sekarang, termasuk bunga matahari yang ditanam di taman kecil itu. Bunga itu mendongak menatap matahari yang menyengat siang ini.

   Seorang wanita paruh baya dengan badannya yang kurus dan wajah yang selalu tersenyum langsung menyambutnya.
   “Erland!” panggilnya kaget.
   Erland menyingkirkan lamunannya dan segera menemui Ibu dari Nana itu.
   “Sudah lama sekali!” katanya takjub. “Dari mana kau tahu rumah kami di sini?” tanyanya pada Erland yang juga mantan tetangganya saat di London dulu.
   “Aku pernah mengantar Nana ke sini.” Jawabnya.
“Apa? Kau pernah mengantarnya dan kau tidak masuk? Ya ampun! Apa yang dipikirkannya?” tanyanya tidak percaya. “Aku akan memarahinya. Ayo masuk.” Ajaknya.
   Erland tersenyum dan melangkah masuk saat dipersilahkan
   “Kamu pasti lelah. Tunggu sebentar, Ibu buatkan minum dulu.”
   “Ya,” rasanya tidak baik menolak kebaikan orang.
   Sikapnya masih hangat seperti biasa. Ia adalah wanita yang sangat menyenangkan dan Erland tidak menyangkal kalau ia pernah menginginkan dia menjadi Ibunya. Hanya saja itu adalah perasaan egoisnya saja. Erland mengelilingi ruang tamu itu dan melihat beberapa foto baru.
   Kemudian, Ibu itu masuk sambil membawa minuman yang telah dibuatnya. “Masih ingat foto itu?” tanyanya mendekati Erland yang masih terdiam memandanginya.
   “Ya,” jawabnya pelan.
   Ia ingat kalau foto itu diambil saat Nana berulang tahun di rumah sakit.      Kemudian ia duduk. “Aku tidak tahu kalau ada foto yang itu,” katanya.
   “Foto itu diberikan Dokter Harry. Ia yang memotret momen itu diam-diam. Tidak ada yang menyadarinya,”
   Benar juga. Semuanya alami dan lengkap di sana. Rasa kegembiraan itu mengalir hanya dengan melihat foto itu saja. Foto itu memiliki jiwa.
   “Apa Ibu mengenal Aira?”
   Dia segera terdiam sejenak sebelum menjawab, “ya. Ibu mengenalnya. Dari mana kau tahu tentangnya?”
“Aku pernah bertemu dengannya dan dia… Aku tidak tahu kenapa orang-orang menganggapnya tidak ada. Nana juga menolak menceritakan siapa dia dan di mana dia sekarang.” Satu harapan mengalir kepadanya. “Di mana dia?” tanya Erland penuh harap.
   Seulas senyum muram datang dibibirnya. “Kenapa kau mencarinya?”
   “Karena memang harus! Karena aku ingin menemukannya, membawanya kembali, melepaskan belenggunya, dan menjadikannya milikku semata!” Tapi Erland tidak mengatakan hal itu. Rasanya tidak bijak mengatakannya.
   “Kenapa?” desak Ibu itu.
   “Karena Nana mengkhawatirkannya. Ia memintaku untuk mengawasinya,” jawabnya akhirnya. Baiklah, tapi ini tidak sepenuhnya bohong.
   Erland bisa melihat keterkejutan dimatanya. “Apa Nana memaksamu?”
Entah kenapa Erland dengan reflek menggeleng, “tidak. Dia tidak pernah memaksaku.”
 Kemudian ia menarik napas lega dan tersenyum. “Anak itu terlalu mengkuatirkan Aira. Ia tahu kalau Aira punya sisi yang berbahaya, tapi ia tetap memegang teguh pendiriannya untuk tetap bisa menjadi temannya. Ia yakin kalau setiap orang tidak boleh sendirian,”
   Erland mengakui keyakinan Nana yang seperti itu.
   “Kau harus terima kenyataan yang ada pada diri Aira, Erland. Dia berbeda dari kita semua. Dia adalah orang yang berbeda.”
   “Maksudnya?”
   Sekali lagi ia menerawangkan matanya ke depan sana. “Sebenarnya… ada satu rahasia yang tidak boleh kau ketahui. Tapi karena Nana yang memintamu untuk menjaganya, maka kau harus tahu rahasia ini.”
   Erland menarik napasnya dan bersiap untuk kemungkinan terburuknya.
   “Aira… Dia bukanlah orang yang diakui keberadaannya di sini.”
   Erland tersentak kaget mendengar hal itu. Napasnya tertahan dan seakan merasakan rasa sakit yang amat sangat di dadanya. Lukanya seakan terkoyak kembali.
   “Bagi semua orang, gadis itu hanyalah bayangan. Gadis itu hanyalah seperti hantu yang berlalu lalang dan kadang muncul saat dibutuhkan. Semua orang mengganggapnya orang gila… pada kenyataannya ia memang menunjukkan gejala sakit jiwa itu. Ia aneh. Ia bisa menangis, tertawa, dan marah kapan saja. Semua ini diawali dari enam tahun lalu… Ia diisukan hampir membunuh tetangganya sendiri.”
   “Tidak mungkin!” seru Erland kaget.
   “Tapi itulah yang diyakini orang-orang di sini. Karena itu ia dianggap tidak ada. Kesalahannya diampuni karena ia gila. Kegilaannya adalah warisan dari orang tuanya.”
   Erland menegang, sama sekali tidak tahu dengan kisah itu. Ia merasa sangat lemah sekarang. Pikirannya menjadi kacau dan ia merasa bimbang untuk mencarinya kembali. Ia tidak menyangka kalau kemisteriusannya dan sikapnya yang dingin dan tertutup itu adalah karena kegilaannya. Ia berhasil menyembunyikan itu dari Erland sampai tadi.
   “Kapan ia hampir melakukan itu?”
   “Malam sebelum hari kelulusannya…,”
   Tiba-tiba ruangan itu tersa sempit. Ia tidak bisa bernapas dengan bebas. Ia ingin mengingkarinya. Erland berkali-kali berkata kalau itu tidak mungkin.
   “Semua orang di sini tahu itu…,”
   “Kalau dia gila, kenapa dia bisa sekolah? Bukankah itu resiko besar?”
“Ya. Itu karena Nana menginginkannya untuk sekolah”
“Tapi… Setidaknya mereka tahu siapa itu Aira.”
Ibu itu menggeleng. “Dia pernah hampir mencelakai orang karena ada yang menyebut namanya. Sejak saat itu namanya pantang disebut-sebut dan semua orang tidak mau membicarakannya. Nana selalu menjaga Aira dan meredakan gejolak emosinya.”
“Dia… melakukannya?” tanya Erland tidak yakin.
“Aira sangat mempecayai Nana. Karena rasa percayanya yang terlalu besar itulah Nana tahu bagaimana caranya meredam emosinya.”
Erland memalingkan mukanya dan mencoba menahan serangan air matanya. Matanya panas sekarang. Tapi ia takkan menangis. Tidak akan.
   Dengan menarik napas panjang ia berusaha mengatur kembali ledakan emosinya dan mencoba mengembalikan keteguhannya.
   “Aku akan mencarinya.” Tegasnya. Ia sudah memutuskan. Dan ia sudah di sini. ia tidak akan mundur lagi karena ia yang memulai semuanya… dan ia harus menyelesaikannya.

You Might Also Like

0 comments: