Song of Aria #21 - Rain
Kembali ke Indonesia serasa seperti pulang ke rumah. Ia
tidak membuang waktunya untuk istirahat. Ia justru memacu mobilnya dan
mengingat-ingat jalanan yang ia tempuh untuk bisa pergi ke rumah Nana. Ia
melewati TK itu lagi yang sekarang jadi makin suram karena tidak dibersihkan.
Ia melewati laut, menyusuri jalanan beraspal, berbelok, melaju lurus dan
akhirnya berhenti di sebuah rumah berhalaman luas.
Rumah Nana sangat dipenuhi oleh cahaya matahari dan hangat.
Bunga-bunganya sedang bermekaran sekarang, termasuk bunga matahari yang ditanam
di taman kecil itu. Bunga itu mendongak menatap matahari yang menyengat siang
ini.
Seorang wanita paruh
baya dengan badannya yang kurus dan wajah yang selalu tersenyum langsung
menyambutnya.
“Erland!” panggilnya
kaget.
Erland menyingkirkan
lamunannya dan segera menemui Ibu dari Nana itu.
“Sudah lama sekali!”
katanya takjub. “Dari mana kau tahu rumah kami di sini?” tanyanya pada Erland
yang juga mantan tetangganya saat di London dulu.
“Aku pernah
mengantar Nana ke sini.” Jawabnya.
“Apa? Kau pernah mengantarnya dan kau tidak masuk? Ya ampun!
Apa yang dipikirkannya?” tanyanya tidak percaya. “Aku akan memarahinya. Ayo
masuk.” Ajaknya.
Erland tersenyum dan
melangkah masuk saat dipersilahkan
“Kamu pasti lelah.
Tunggu sebentar, Ibu buatkan minum dulu.”
“Ya,” rasanya tidak
baik menolak kebaikan orang.
Sikapnya masih
hangat seperti biasa. Ia adalah wanita yang sangat menyenangkan dan Erland
tidak menyangkal kalau ia pernah menginginkan dia menjadi Ibunya. Hanya saja
itu adalah perasaan egoisnya saja. Erland mengelilingi ruang tamu itu dan
melihat beberapa foto baru.
Kemudian, Ibu itu
masuk sambil membawa minuman yang telah dibuatnya. “Masih ingat foto itu?”
tanyanya mendekati Erland yang masih terdiam memandanginya.
“Ya,” jawabnya
pelan.
Ia ingat kalau foto
itu diambil saat Nana berulang tahun di rumah sakit. Kemudian ia duduk. “Aku tidak tahu kalau ada foto yang itu,”
katanya.
“Foto itu diberikan
Dokter Harry. Ia yang memotret momen itu diam-diam. Tidak ada yang
menyadarinya,”
Benar juga. Semuanya
alami dan lengkap di sana.
Rasa kegembiraan itu mengalir hanya dengan melihat foto itu saja. Foto itu
memiliki jiwa.
“Apa Ibu mengenal
Aira?”
Dia segera terdiam
sejenak sebelum menjawab, “ya. Ibu mengenalnya. Dari mana kau tahu tentangnya?”
“Aku pernah bertemu dengannya dan
dia… Aku tidak tahu kenapa orang-orang menganggapnya tidak ada. Nana juga
menolak menceritakan siapa dia dan di mana dia sekarang.” Satu harapan mengalir
kepadanya. “Di mana dia?” tanya Erland penuh harap.
Seulas senyum muram
datang dibibirnya. “Kenapa kau mencarinya?”
“Karena memang
harus! Karena aku ingin menemukannya, membawanya kembali, melepaskan
belenggunya, dan menjadikannya milikku semata!” Tapi Erland tidak mengatakan
hal itu. Rasanya tidak bijak mengatakannya.
“Kenapa?” desak Ibu
itu.
“Karena Nana
mengkhawatirkannya. Ia memintaku untuk mengawasinya,” jawabnya akhirnya.
Baiklah, tapi ini tidak sepenuhnya bohong.
Erland bisa melihat
keterkejutan dimatanya. “Apa Nana memaksamu?”
Entah kenapa Erland dengan reflek menggeleng, “tidak. Dia
tidak pernah memaksaku.”
Kemudian ia menarik
napas lega dan tersenyum. “Anak itu terlalu mengkuatirkan Aira. Ia tahu kalau
Aira punya sisi yang berbahaya, tapi ia tetap memegang teguh pendiriannya untuk
tetap bisa menjadi temannya. Ia yakin kalau setiap orang tidak boleh
sendirian,”
Erland mengakui
keyakinan Nana yang seperti itu.
“Kau harus terima
kenyataan yang ada pada diri Aira, Erland. Dia berbeda dari kita semua. Dia
adalah orang yang berbeda.”
“Maksudnya?”
Sekali lagi ia
menerawangkan matanya ke depan sana.
“Sebenarnya… ada satu rahasia yang tidak boleh kau ketahui. Tapi karena Nana
yang memintamu untuk menjaganya, maka kau harus tahu rahasia ini.”
Erland menarik
napasnya dan bersiap untuk kemungkinan terburuknya.
“Aira… Dia bukanlah
orang yang diakui keberadaannya di sini.”
Erland tersentak
kaget mendengar hal itu. Napasnya tertahan dan seakan merasakan rasa sakit yang
amat sangat di dadanya. Lukanya seakan terkoyak kembali.
“Bagi semua orang,
gadis itu hanyalah bayangan. Gadis itu hanyalah seperti hantu yang berlalu
lalang dan kadang muncul saat dibutuhkan. Semua orang mengganggapnya orang
gila… pada kenyataannya ia memang menunjukkan gejala sakit jiwa itu. Ia aneh.
Ia bisa menangis, tertawa, dan marah kapan saja. Semua ini diawali dari enam tahun
lalu… Ia diisukan hampir membunuh tetangganya sendiri.”
“Tidak mungkin!”
seru Erland kaget.
“Tapi itulah yang
diyakini orang-orang di sini. Karena itu ia dianggap tidak ada. Kesalahannya
diampuni karena ia gila. Kegilaannya adalah warisan dari orang tuanya.”
Erland menegang,
sama sekali tidak tahu dengan kisah itu. Ia merasa sangat lemah sekarang.
Pikirannya menjadi kacau dan ia merasa bimbang untuk mencarinya kembali. Ia
tidak menyangka kalau kemisteriusannya dan sikapnya yang dingin dan tertutup itu
adalah karena kegilaannya. Ia berhasil menyembunyikan itu dari Erland sampai
tadi.
“Kapan ia hampir
melakukan itu?”
“Malam sebelum hari
kelulusannya…,”
Tiba-tiba ruangan
itu tersa sempit. Ia tidak bisa bernapas dengan bebas. Ia ingin mengingkarinya.
Erland berkali-kali berkata kalau itu tidak mungkin.
“Semua orang di sini
tahu itu…,”
“Kalau dia gila,
kenapa dia bisa sekolah? Bukankah itu resiko besar?”
“Ya. Itu karena Nana menginginkannya untuk sekolah”
“Tapi… Setidaknya mereka tahu siapa itu Aira.”
Ibu itu menggeleng. “Dia pernah hampir mencelakai orang
karena ada yang menyebut namanya. Sejak saat itu namanya pantang disebut-sebut
dan semua orang tidak mau membicarakannya. Nana selalu menjaga Aira dan
meredakan gejolak emosinya.”
“Dia… melakukannya?” tanya Erland tidak yakin.
“Aira sangat mempecayai Nana. Karena rasa percayanya yang
terlalu besar itulah Nana tahu bagaimana caranya meredam emosinya.”
Erland memalingkan mukanya dan mencoba menahan serangan air
matanya. Matanya panas sekarang. Tapi ia takkan menangis. Tidak akan.
Dengan menarik napas
panjang ia berusaha mengatur kembali ledakan emosinya dan mencoba mengembalikan
keteguhannya.
“Aku akan
mencarinya.” Tegasnya. Ia sudah memutuskan. Dan ia sudah di sini. ia tidak akan
mundur lagi karena ia yang memulai semuanya… dan ia harus menyelesaikannya.

0 comments: