Song of Aria #20 - Rain
Tidaklah mudah untuk kembali begitu saja ke Indonesia
saat ia di bawah kendali ayahnya. Ia tahu kalau ayahnya sangat mengkuatirkannya
dan ia diberi waktu beberapa hari sebelum menghambur kembali ke Negara itu.
Erland menahan insting protektifnya itu dan melampiaskannya
dengan minum di bar-bar atau mengunjungi rumah tempat ia dan kawanannya dulu
tinggal. Erland memang melampiaskan rasa frustasinya dengan baik.
“Bagaimana jika
bersamaku?” rayu seorang wanita jalang dengan tatapan mengundang.
Saat ini ia sedang
menghabiskan waktunya di sebuah bar milik teman lamanya. Bisnisnya terbilang
bagus dan sangat menjanjikan. Bukan hanya karena adanya minuman keras dan judi
semata, tapi juga karena ada wanita-wanita penggoda yang diselipkan
diantaranya. Maksud Erland ke sini awalnya hanya ingin bertemu dengan Jack
Foster, teman akrabnya yang umurnya sebenarnya lima tahun lebih tua darinya. Namun ia
memutuskan untuk menerima tawaran minum temannya itu karena rasanya tidak sopan
untuk menolak.
“Seleramu bagus,
Jane,” goda Jack yang duduk di depannya.
Jack tergolong orang
yang berbadan besar dengan wajah yang sedikit bulat dan janggut yang tumbuh
dari jambangnya. Dia adalah beruang yang menakutkan yang pernah menyelamatkan
hidup Erland saat ia tinggal di jalanan.
“Sayangnya kaulah
yang harus mengajarkan semua pengalamanmu padanya lagi,” katanya tertawa. “Aku
takut dia lupa.”
“Benarkah?” wanita
itu sangat terkejut mendengar fakta itu.
Erland mendengus
kesal sekarang karena Jack terlalu blak-blakan. Ia tidak perlu menegur pria
itu. Bagaimanapun juga Erland adalah seorang lelaki. Ia tahu masalah
kebutuhannya. Tapi ia tidak mau melakukannya selain menenggak minumannya.
Erland memang pernah
hampir melakukannya dua malam lalu. Hanya saja ia akhirnya meninggalkan wanita
itu di tempat tidur dalam keadaan telanjang. Ia sama sekali tidak bergairah
dengannya. Pusat perhatiannya hanya ada satu. Hanya gadis itu.
Aira.
“Tidak masalah. Aku
akan mengajarkanmu dengan semua pengalamanku,” rayu gadis itu lagi.
Dasar bajingan
wanita.
Erland mulai tertawa
karena gadis itu masih merayunya, padahal bisa saja ia mengecewakannya. “Ya,
baiklah kalau itu memang maumu. Tapi sayang sekali, kau sama sekali tidak
membuatku tertarik. Jadi maaf, aku tidak bisa mengikuti kursusmu,” katanya
dengan sedikit nada geli.
“Kau akan
menyesalinya jika menolak itu,” katanya pelan sambil duduk dipangkuan Erland
dan megusap bibir Erland dengan jarinya. “Kau akan mendapatkan banyak, sangat
banyak pengalaman berharga yang bisa kau pakai untuk memuaskan pasanganmu,”
bisiknya sambil menggigit kecil telinga Erland.
Erland hanya diam
meskipun ia merasakan gejolak yang mulai timbul untuk memuaskan hasratnya.
Hanya saja ia kemudian mendorong pelan wanita itu menjauh dari dirinya. Ia sama
sekali tidak takut dengan hal itu, hanya saja ia tahu hatinya menolak untuk
menerimanya di atas tempat tidurnya. Untunglah ia mengenal dunia gelap ini.
“Aku bisa
melakukannya tanpa bantuanmu, terimakasih.”
Erland menolaknya
dengan sopan dan wanita itu merasa serangannya tadi sangat tidak mempan.
Kemudian ia pergi. Jack menatapnya dengan aneh bercampur kagum.
“Wow! Anak kecil ini
ternyata sopan sekali,” katanya kagum.
“Terimakasih,”
jawabnya sambil menenggak miumannya.
“Aku tidak percaya
seorang devil sepertimu bisa menolak
tawaran menggiurkan itu. Dia adalah wanita tercantik yang punya banyak jam
terbang di sini.”
“Sungguh sebuah
kehormatan dia merayuku,” katanya sambil tersenyum.
“Dan kau menolaknya.
Ironis sekali.”
“Oh ya?”
“Aku berniat
memberikannya gratis padamu kalau kau mau…,”
“Dan aku tidak bergairah
padanya,” kata Erland. Mereka berdua bisa menjadi blak-blakan. Sekalipun Erland
berasal dari seorang keluarga terhormat, tapi jiwa liarnya dan ciri-ciri
bajingannya tetap saja ada.
Jack mengerutkan
dahinya. “Apa kau sekarang ikut perkumpulan homoseksual?”
Dan Erland tertawa
keras mendengar analisis itu. Butuh waktu agar ia kembali tenang dari tawanya.
“Kau sangat lucu,
Pak. Sayangnya aku bukan homo. Aku masih waras dan menyukai wanita.”
“Lalu kenapa kau
menolaknya?” tanya Jack ingin tahu. “Apa kau mencintai seseorang?”
Seakan kepalanya
baru dipukul dengan batu, Erland tidak jadi menenggak minumannya.
Cinta? Erland jadi
banyak bertanya pada dirinya sekarang. Ia tidak mengenal kata-kata itu lagi
semenjak Ibunya meninggalkannya. Dan sekarang ia mendengar kata-kata itu lagi.
Seharusnya ia mengerti masalahnya. Ia adalah pria normal. Ia punya insting. Erland
terdiam dan berpikir sekarang.
Ya, ia tahu
sekarang. Ia hanya bisa memandang Aira. Insting protektifnya hanya menyala
kuat pada gadis itu. Ia gila karenanya.
Ia seakan-akan jatuh ke dalam lubang yang sangat dalam dan gelap karenanya. Dan
ia merasa merana karena ditinggalkannya. Itukah cinta saat ia tahu kalau ia
hanya membutuhkan gadis itu di sisinya dan menghilangkan rasa penasarannya?
Erland tersenyum
sekarang. Hati dan pikirannya sudah dimanipulasi tanpa sepengatahuannya oleh
gadis itu sehingga ia menjadi lemah tanpa kehadirannya.
Kalah.
Ia sudah kalah
sekarang.
Ia mencintainya.

0 comments: