Song of Aria #20 - Rain

7:43 PM fe 0 Comments



Tidaklah mudah untuk kembali begitu saja ke Indonesia saat ia di bawah kendali ayahnya. Ia tahu kalau ayahnya sangat mengkuatirkannya dan ia diberi waktu beberapa hari sebelum menghambur kembali ke Negara itu.
Erland menahan insting protektifnya itu dan melampiaskannya dengan minum di bar-bar atau mengunjungi rumah tempat ia dan kawanannya dulu tinggal. Erland memang melampiaskan rasa frustasinya dengan baik.

   “Bagaimana jika bersamaku?” rayu seorang wanita jalang dengan tatapan mengundang.
   Saat ini ia sedang menghabiskan waktunya di sebuah bar milik teman lamanya. Bisnisnya terbilang bagus dan sangat menjanjikan. Bukan hanya karena adanya minuman keras dan judi semata, tapi juga karena ada wanita-wanita penggoda yang diselipkan diantaranya. Maksud Erland ke sini awalnya hanya ingin bertemu dengan Jack Foster, teman akrabnya yang umurnya sebenarnya lima tahun lebih tua darinya. Namun ia memutuskan untuk menerima tawaran minum temannya itu karena rasanya tidak sopan untuk menolak.
   “Seleramu bagus, Jane,” goda Jack yang duduk di depannya.
   Jack tergolong orang yang berbadan besar dengan wajah yang sedikit bulat dan janggut yang tumbuh dari jambangnya. Dia adalah beruang yang menakutkan yang pernah menyelamatkan hidup Erland saat ia tinggal di jalanan.
   “Sayangnya kaulah yang harus mengajarkan semua pengalamanmu padanya lagi,” katanya tertawa. “Aku takut dia lupa.”
   “Benarkah?” wanita itu sangat terkejut mendengar fakta itu.
   Erland mendengus kesal sekarang karena Jack terlalu blak-blakan. Ia tidak perlu menegur pria itu. Bagaimanapun juga Erland adalah seorang lelaki. Ia tahu masalah kebutuhannya. Tapi ia tidak mau melakukannya selain menenggak minumannya.
   Erland memang pernah hampir melakukannya dua malam lalu. Hanya saja ia akhirnya meninggalkan wanita itu di tempat tidur dalam keadaan telanjang. Ia sama sekali tidak bergairah dengannya. Pusat perhatiannya hanya ada satu. Hanya gadis itu.
   Aira.
   “Tidak masalah. Aku akan mengajarkanmu dengan semua pengalamanku,” rayu gadis itu lagi.
   Dasar bajingan wanita.
   Erland mulai tertawa karena gadis itu masih merayunya, padahal bisa saja ia mengecewakannya. “Ya, baiklah kalau itu memang maumu. Tapi sayang sekali, kau sama sekali tidak membuatku tertarik. Jadi maaf, aku tidak bisa mengikuti kursusmu,” katanya dengan sedikit nada geli.
   “Kau akan menyesalinya jika menolak itu,” katanya pelan sambil duduk dipangkuan Erland dan megusap bibir Erland dengan jarinya. “Kau akan mendapatkan banyak, sangat banyak pengalaman berharga yang bisa kau pakai untuk memuaskan pasanganmu,” bisiknya sambil menggigit kecil telinga Erland.
   Erland hanya diam meskipun ia merasakan gejolak yang mulai timbul untuk memuaskan hasratnya. Hanya saja ia kemudian mendorong pelan wanita itu menjauh dari dirinya. Ia sama sekali tidak takut dengan hal itu, hanya saja ia tahu hatinya menolak untuk menerimanya di atas tempat tidurnya. Untunglah ia mengenal dunia gelap ini.
   “Aku bisa melakukannya tanpa bantuanmu, terimakasih.”
   Erland menolaknya dengan sopan dan wanita itu merasa serangannya tadi sangat tidak mempan. Kemudian ia pergi. Jack menatapnya dengan aneh bercampur kagum.
   “Wow! Anak kecil ini ternyata sopan sekali,” katanya kagum.
   “Terimakasih,” jawabnya sambil menenggak miumannya.
   “Aku tidak percaya seorang devil sepertimu bisa menolak tawaran menggiurkan itu. Dia adalah wanita tercantik yang punya banyak jam terbang di sini.”
   “Sungguh sebuah kehormatan dia merayuku,” katanya sambil tersenyum.
   “Dan kau menolaknya. Ironis sekali.”
   “Oh ya?”
   “Aku berniat memberikannya gratis padamu kalau kau mau…,”
   “Dan aku tidak bergairah padanya,” kata Erland. Mereka berdua bisa menjadi blak-blakan. Sekalipun Erland berasal dari seorang keluarga terhormat, tapi jiwa liarnya dan ciri-ciri bajingannya tetap saja ada.
   Jack mengerutkan dahinya. “Apa kau sekarang ikut perkumpulan homoseksual?”
   Dan Erland tertawa keras mendengar analisis itu. Butuh waktu agar ia kembali tenang dari tawanya.
   “Kau sangat lucu, Pak. Sayangnya aku bukan homo. Aku masih waras dan menyukai wanita.”
   “Lalu kenapa kau menolaknya?” tanya Jack ingin tahu. “Apa kau mencintai seseorang?”
   Seakan kepalanya baru dipukul dengan batu, Erland tidak jadi menenggak minumannya.
   Cinta? Erland jadi banyak bertanya pada dirinya sekarang. Ia tidak mengenal kata-kata itu lagi semenjak Ibunya meninggalkannya. Dan sekarang ia mendengar kata-kata itu lagi. Seharusnya ia mengerti masalahnya. Ia adalah pria normal. Ia punya insting. Erland terdiam dan berpikir sekarang.
   Ya, ia tahu sekarang. Ia hanya bisa memandang Aira. Insting protektifnya hanya menyala kuat  pada gadis itu. Ia gila karenanya. Ia seakan-akan jatuh ke dalam lubang yang sangat dalam dan gelap karenanya. Dan ia merasa merana karena ditinggalkannya. Itukah cinta saat ia tahu kalau ia hanya membutuhkan gadis itu di sisinya dan menghilangkan rasa penasarannya?
   Erland tersenyum sekarang. Hati dan pikirannya sudah dimanipulasi tanpa sepengatahuannya oleh gadis itu sehingga ia menjadi lemah tanpa kehadirannya.
   Kalah.
   Ia sudah kalah sekarang.
   Ia mencintainya.

You Might Also Like

0 comments: