Song of Aria #2 - Rain
Aira baru saja keluar dari sebuah mini market yang ada di deretan pertokoan elit itu seorang diri. Ia membeli sebotol Sprite dingin dan meneguknya untuk mendinginkan tubuh. Siang berjalan pelan dan ia tidak sabar menanti mentari terbenam.
Ia mendorong sepedanya di trotoar dan melawan arus lalu
lalang orang dengan pakaian indah di depannya. Ia tidak peduli dengan
penampilan mereka. Ia sama sekali tidak iri. Ia juga tidak peduli dengan
tatapan orang-orang yang melewatinya. Ia tidak peduli dengan pakainnya.
Ia memakai celana pendek di atas lutut dan baju longgar
dengan bagian leher yang agak lebar. Ia mengikat longgar rambut ikal hitam
sebahunya dan membiarkan beberapa helainya jatuh dari ikatannya. Dan ia tidak
peduli dengan tampilan sederhananya itu.
“Aira! Hei, sini!” teriak seseorang yang berdiri di pintu
toko alat musik. “Hei!” teriak suara itu lagi.
Gadis itu berhenti saat namanya di panggil dan berbalik
untuk melihat si pemanggil. “Nana?”
Nana, gadis yang memanggilnya itu, melambai-lambaikan
tangannya sambil tersenyum lebar. Akhirnya Aira berjalan kearahnya sambil
menuntun sepedanya.
“Ya ampun! Kamu tahu kalau kamu ada di mana?” tanyanya saat
temannya itu mendekat.
Aira tersenyum. “Hai.”
“Bukan ‘hai’! Ayo masuk!” ajaknya.
Aira tahu apa masalahnya. Ia memarkir sepedanya dan masuk ke
dalam toko itu. Toko itu terkesan sangat terbuka. Dinding depannya adalah kaca
besar yang memperlihatkan isi dalam toko. Di sana semuanya serba ada dan dijual dengan
harga mahal. Grand piano, flute, biola, cello, gitar, drum, bass, dan alat-alat
musik lainnya berjejer rapi dengan wajah mengkilat.
“Duduk,” Nana menunjuk ke kursi yang ada di depan meja
kerjanya. “Katakan, kenapa kamu begini.” Perintahnya.
“Hm?”
Nana menghela napasnya. “Aira sayang… Kamu sadar kalau
sekarang ada di mana?” tanyanya. “Ini wilayah elit! Semuanya ada di sini, pusat
pertokoan, outlet, studio, apartemen…”
Aira tidak suka mendengarnya. “Kamu pemiliknya?”
“Tentu saja bukan! Kalau aku pemiliknya, aku sudah kaya
sekarang.”
“Lalu apa masalahnya dengan itu semua? Kamu pikir semua
benda akan hancur saat aku lewat?” tanya Aira tenang.
“Penampilanmu!” Nana menatap penampilan Aira dengan wajah
tidak suka. “Kamu tahu, itu sama sekali nggak cocok! Kamu nggak bisa masuk club atau diskotik dengan celana jeans
dan kaos biasa kan?
Pikirkan di mana kamu berada,” kata Nana seperti seorang model profesional.
“Lalu mereka bakal mati saat melihatku? Begitu?” Aira
berdebat.
“Mereka nggak bakal mati. Tapi kamu bakal jadi bahan ledekan!”
Aira tersenyum samar. “Selagi mereka nggak mati, aku akan aman,” ia berdiri. “Terima kasih
sarannya.” Lalu akhirnya beranjak pergi.
“Tunggu! Aira!” Nana berdiri dari kursinya dan mengejar
temannya itu. Ia memotong langkah Aira dengan berdiri di depan pintu. “Ganti
bajumu dengan bajuku.”
“Kurasa itu nggak perlu.”
“Ikuti saranku atau kamu bakal malu!”
Aira berpikir sejenak sebelum akhirnya bertanya, “kamu yang
bakal malu atau aku yang bakal malu?”
Pertanyaan itu menghentak Nana. Ia diam dan berpikir cepat.
“Aku… Aku hanya mau nyelamatin kamu dari pikiran bodoh orang-orang itu –“
Dengan tenang gadis itu menjawab. “Kamu sudah tahu kalau
mereka bodoh, jadi untuk apa berdebat?”

0 comments: