Song of Aria #2 - Rain

6:47 PM fe 0 Comments


        Aira baru saja keluar dari sebuah mini market yang ada di deretan pertokoan elit itu seorang diri. Ia membeli sebotol Sprite dingin dan meneguknya untuk mendinginkan tubuh. Siang berjalan pelan dan ia tidak sabar menanti mentari terbenam.
Ia mendorong sepedanya di trotoar dan melawan arus lalu lalang orang dengan pakaian indah di depannya. Ia tidak peduli dengan penampilan mereka. Ia sama sekali tidak iri. Ia juga tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang melewatinya. Ia tidak peduli dengan pakainnya.
Ia memakai celana pendek di atas lutut dan baju longgar dengan bagian leher yang agak lebar. Ia mengikat longgar rambut ikal hitam sebahunya dan membiarkan beberapa helainya jatuh dari ikatannya. Dan ia tidak peduli dengan tampilan sederhananya itu.
“Aira! Hei, sini!” teriak seseorang yang berdiri di pintu toko alat musik. “Hei!” teriak suara itu lagi.

Gadis itu berhenti saat namanya di panggil dan berbalik untuk melihat si pemanggil. “Nana?”
Nana, gadis yang memanggilnya itu, melambai-lambaikan tangannya sambil tersenyum lebar. Akhirnya Aira berjalan kearahnya sambil menuntun sepedanya.
“Ya ampun! Kamu tahu kalau kamu ada di mana?” tanyanya saat temannya itu mendekat.
Aira tersenyum. “Hai.”
“Bukan ‘hai’! Ayo masuk!” ajaknya.
Aira tahu apa masalahnya. Ia memarkir sepedanya dan masuk ke dalam toko itu. Toko itu terkesan sangat terbuka. Dinding depannya adalah kaca besar yang memperlihatkan isi dalam toko. Di sana semuanya serba ada dan dijual dengan harga mahal. Grand piano, flute, biola, cello, gitar, drum, bass, dan alat-alat musik lainnya berjejer rapi dengan wajah mengkilat.
“Duduk,” Nana menunjuk ke kursi yang ada di depan meja kerjanya. “Katakan, kenapa kamu begini.” Perintahnya.
“Hm?”
Nana menghela napasnya. “Aira sayang… Kamu sadar kalau sekarang ada di mana?” tanyanya. “Ini wilayah elit! Semuanya ada di sini, pusat pertokoan, outlet, studio, apartemen…”
Aira tidak suka mendengarnya. “Kamu pemiliknya?”
“Tentu saja bukan! Kalau aku pemiliknya, aku sudah kaya sekarang.”
“Lalu apa masalahnya dengan itu semua? Kamu pikir semua benda akan hancur saat aku lewat?” tanya Aira tenang.
“Penampilanmu!” Nana menatap penampilan Aira dengan wajah tidak suka. “Kamu tahu, itu sama sekali nggak cocok! Kamu nggak bisa masuk club atau diskotik dengan celana jeans dan kaos biasa kan? Pikirkan di mana kamu berada,” kata Nana seperti seorang model profesional.
“Lalu mereka bakal mati saat melihatku? Begitu?” Aira berdebat.
“Mereka nggak bakal mati. Tapi kamu bakal jadi bahan ledekan!”
Aira tersenyum samar. “Selagi mereka nggak mati,  aku akan aman,” ia berdiri. “Terima kasih sarannya.” Lalu akhirnya beranjak pergi.
“Tunggu! Aira!” Nana berdiri dari kursinya dan mengejar temannya itu. Ia memotong langkah Aira dengan berdiri di depan pintu. “Ganti bajumu dengan bajuku.”
“Kurasa itu nggak perlu.”
“Ikuti saranku atau kamu bakal malu!”
Aira berpikir sejenak sebelum akhirnya bertanya, “kamu yang bakal malu atau aku yang bakal malu?”
Pertanyaan itu menghentak Nana. Ia diam dan berpikir cepat. “Aku… Aku hanya mau nyelamatin kamu dari pikiran bodoh orang-orang itu –“
Dengan tenang gadis itu menjawab. “Kamu sudah tahu kalau mereka bodoh, jadi untuk apa berdebat?”

You Might Also Like

0 comments: