Song of Aria #1 - Rain
1
Satu Jam sebelumnya.
“Aku setuju kalau ada yang bilang kau gila,” Andrew tertawa
saat mengatakan candaan itu pada adiknya, Erland, dalam bahasa Inggris.
Erland tidak peduli dengan perkataan itu. Ia tetap duduk
tenang seperti biasa, menunjukkan wajah bosan, dan kadang tersenyum tipis. Ia tidak
punya peran banyak jika Andrew semeja dengan mereka sekarang.
Andrew Avendale baru saja menyelesaikan pendidikan S2 nya di
Oxford dan
resmi menjadi kriptografer handal dengan gaji tinggi di Scotland Yard. Ia bukan
hanya bercita-cita sebagai kriptografer. Obsesi sebenarnya adalah menjadi
detektif. Untuk masalah satu ini ia banyak mencari novel-novel dan komik-komik
yang berbau misteri.
“Kau tahu?” Andrew masih belum selesai menggoda adiknya itu,
“Mana ada seorang keluarga Avendale memilih jadi arkeolog? Ckckck… Kau
mendobrak semua tradisi keluarga kita dengan dingin. Kau jadi arkeolog pertama
di sini dan tidak memilih menjadi dokter atau pilot atau… apa itu namanya?” ia
berpikir sejenak kemudian berseru, “Ah! Aktor! Kau bahkan pernah bilang kalau
ingin jadi masinis. Sekarang kau memutus segitiga pekerjaan sakral milik
keluarga Avendale. Apa yang kau pikirkan?”
“Apa yang kau pikirkan saat mengambil bidang sains itu?
Matematika? Jadi kriptografer? Kau bahkan tidak meneruskan segita bodoh itu,” Erland
menyerang kakak lelakinya itu dengan ketenangan yang tak bercela. Bibirnya
tersenyum saat mengatakannya dan itu membuat Andrew panas karena ia salah
mengangkat topik itu kepermukaan.
“Yah… Kau tahu kan
kalau aku ingin beda sendiri…,” kali ini jawabannya terdengar lemah dan malah
sama dengan perkiraannya akan jawaban adiknya.
Mana mau adiknya melakukan hal yang sama dengan keluarga
lainnya?
“Nah, kau sudah tahu juga jawabanku,” Erland merasa menang.
Andrew boleh menjadi ahli matematika dan sandi. Tapi ia
terlalu mudah untuk dibodohi saat dirinya sudah berada di atas angin seperti
sekarang. Terlalu sombong, pikir Erland saat mencicipi wine digelasnya.
Dan seperti yang sudah-sudah, ayah dan ibunya akan melakukan
pembelaan terhadap anak tertua mereka itu. Itu yang membuatnya bosan di sini.
“Jadi, apa yang akan kau lakukan setelah ini?” tanya ibunya
pada Erland. “Kau tidak mungkin terus-terusan tinggal di Indonesia.”
“Aku sedang mengkaji banyak hal di sini. Lagi pula ini tanah
kelahiranku.”
Ayahnya mendengus kesal. Pria jakung dengan wajah keras dan
rambut cokelat tebal itu jelas-jelas tidak suka mendengarnya. Atau lebih
tepatnya kalimat terakhirnya.
“Kau harus segera pulang. Aku tak mau kau lama-lama di sini.
Memangnya apa yang kau cari? Masih banyak tempat yang bisa kau teliti selain
Negara ini. Dan bisnismu masih bisa berkembang di luar Negara ini,” Potong
ayahnya yang sangat menentang semua pemikiran anaknya itu.
Erland bosan. Bisakah mereka tidak mengungkap semua topik
yang menyebalkan ini di meja makan?
“Ayah. Sudahlah. Biarkan saja dia melakukannya. Sejauh ini
bisnis dan pendidikannya kan
berjalan baik,” Andrew membela adiknya.
“Aku hanya heran kenapa dia memilih Negara ini,” Ayahnya
menggelengkan kepalanya tanda tak mengerti. Lalu tatapannya berubah jadi curiga
saat berkata, “Jangan bilang kau ingin mencarinya,” katanya curiga dengan nada
rendah.
Erland melawan rasa tidak nyamannya dengan mati-matian
bersikap tenang di bawah tatapan ayahnya. “Kau pikir aku akan mencarinya?”
tanyanya dengan wajah tidak tertarik.
“Ah! Aku punya tiket bioskop. Sudah lama aku tidak nonton.
Apa kau mau pergi bersamaku?” tanya istrinya untuk mengalihkan perhatian
suaminya.
“Jangan lakukan hal bodoh itu! Paham?” tapi ia tidak
termakan bujukan istrinya dan langsung memperingati Erland.
Erland dengan angkuhnya dan sikap tidak peduli menaikkan
satu sudut bibirnya lalu tertawa miris melihat kecemasan ayahnya itu. “Kau
jangan buang waktu untuk mengkuatirkan itu.”
“Elrland!”
“Sudahlah,” kali ini Andrew menengahi mereka berdua. “Dia
takkan melakukan hal bodoh, ayah. Dia sudah dewasa.”
Erland muak mendengarnya. Ia rasanya ingin pergi dari tempat
ini. Kalau tidak bisa pergi, ia ingin ada gempa besar, atau gedung ini runtuh,
atau ada kebakaran di dapur, atau ada orang gila yang masuk.
Dan setelah banyak berharap seperti itu, ia tidak menyangka kalau
harapan terakhirnya akan terkabul secepat itu!

0 comments: