Song of Aria #17 - Rain
Kembali kemasa lalu saat ia memutuskan untuk menulis semua yang ada di pikirannya ke dalam bukunya. Ia tidak menyangka kalau itu adalah salah satu kegiatan yang bisa membuatnya lupa dengan semua yang ada disekitarnya. Erland begitu tenggelam dan nyaris melupakan ring tinjunya dan sepatu larinya. Tidak ada hal lain yang ia lakukan selain menulis tentang sesuatu itu. Ya, ia terlihat berbeda dan gila saat itu. Ia takut kalau semuanya ternyata palsu.
Seakan hilang dari dunianya sendiri, Erland mencoba meyakinkan
dirinya kalau tempat yang dikunjunginya, orang yang ditemuinya, dan orang yang
berbicara padanya adalah nyata. Sering pikiran Erland melayang dan merasa bahwa
apa yang terjadi di depan matanya dan apa yang sedang ia lakukan adalah mimpi.
Pandangan matanya seakan melihat pemandangan dalam mimpi dengan suara-suara
yang lebih berupa dengungan dan terkadang samar dan tidak jelas.
Erland takut dengan
keberadaannya sendiri. Ia benar-benar takut saat itu dan berkata apakah mereka
itu nyata atau justru dirinya yang tidak nyata? Apakah Aira adalah tokoh
ciptaannya karena ia sangat kesepian dan mendambakan orang yang juga memiliki
perasaan dan masalah yang sama sebagai temannya?
Ketakutan Erland
terlihat jelas sekarang. Ia tidak berani keluar rumah dan hanya mengurung diri
di dalam kamarnya saja. Pola makannya tidak teratur dan kulitnya berubah pucat
karena tidak terkena matahari. Kamarnya gelap dan Erland hanya duduk menulis
hingga tangannya sakit dan sulit digerakkan.
Ini adalah masa-masa suram yang lain dalam hidupnya. Jika
saat Ibunya meninggalkannya ia lebih memilih untuk melampiaskan keliarannya,
maka saat ia tahu kalau Aira meninggalkannya ia lebih memilih diam dan menahan
semua gejolak emosinya.
Aira membuatnya
menjadi sulit. Ia sudah bertekad melupakan gadis itu. Hanya saja ia terlalu
nyata. Suaranya terlalu nyata. Semuanya terlalu nyata.
Akhirnya Ayahnya
kembali bertindak dengan membawanya kembali ke Inggris dan menemui Dr. Kir
Patrick di sana.
Erland awalnya tidak merasa nyaman dengan hal ini karena ia merasa seolah-olah
dialihkan secara paksa dari dunianya. Dia sebenarnya bukan seorang dokter
sesungguhnya tapi semua orang memanggilnya begitu. Dia seorang Pekerja Sosial
Medis yang ada di rumah sakit. Ia seperti seorang Santa dengan wajah ramahnya
dan janggutnya yang putih tebal. Ia memang berpengalaman dalam bidangnya. Erland
tidak mengetahui hal itu.
“Apa yang kau
pikirkan, nak?” tanya Dokter itu ramah dengan nada kebapakannya pada Erland
yang masih harus menyesuaikan diri dengan ruang praktiknya yang nyaman itu.
Warna hijau mendominasi tempat ini dan membuatnya seakan-akan masuk ke dunia
lain yang sangat menyenangkan dan menyegarkan. Ia akan merasa nyaman jika ia
bisa menenangkan dirinya.
Erland belum
menjawab karena ia masih harus mencari posisi yang nyaman dalam duduknya dan
masih harus menenangkan diri karena dibawa paksa dari dunianya yang didominasi
warna-warna gelap tanpa sinar matahari.
“Apa kau menyukai ruangan ini?” tanyanya lagi.
Saat itulah Erland
mulai fokus dan mendapatkan suaranya kembali. “Ya,” jawabnya parau.
Sebuah senyum tulus
dan menenangkan tersungging diwajahnya. “Baguslah. Kukira kau tidak
menyukainya. Kalau merasa tidak nyaman, katakan saja.”
“Ruangan ini sangat
bagus,” komentarnya sambil berusaha tersenyum sebisanya.
“Hijau adalah warna
terbaik yang bisa diterima mata dengan ramah. Kau akan senang jika berada di
dalamnya lebih lama lagi. Bisa-bisa kau tidak mau beranjak, hahaha…,” katanya
senang.
Erland hanya
tersenyum – setidaknya mencoba untuk itu – dan rasanya sangat sulit mengingat
ia selalu murung dalam satu minggu terakhir.
“Apa kau punya
sesuatu yang ingin kau tunjukkan padaku?” tanya Dokter itu padanya.
Erland langsung
merasa bingung dengan pertanyaan itu. “Tidak,” jawabnya jujur.
“Tidak ya? Hmmm…
sayang sekali.”
Sekarang siapa yang
bermasalah? Dia atau orang itu? Erland tidak ragu-ragu menunjukkan wajah
bingungnya sekarang. Kemudian Dokter itu berdiri dan menyibak sedikit kain
jendela ruangan itu. Sinar matahari yang awalnya tidak seterang itu langsung
mengenai matanya. Erland secara reflek menutup matanya dan menundukkan
wajahnya. Cahayanya sangat menyilaukan.
“Tidakkah kau merasa
lebih pucat dari sebelumnya? Kau terlalu lama bersembunyi.”
Erland menurunkan
tangannya dan mulai berani bersuara lagi. “Apa sekarang aku benar-benar ada di
sini? Atau sekarang aku sedang bermimpi?” ia memegang kepalanya seperti orang
frustasi. “Jika iya, bangunkan aku! Ku mohon. Bangunkan aku sekarang!” pintanya
dengan nada yang semakin lama semakin naik.
“Apa yang kau
inginkan? Mimpi atau kenyataan?”
Pertanyaan itu
berhasil mengusik Erland. “Aku ingin kenyataan. Tapi ini semua tidak nyata kan? Katakan di mana aku
sekarang! Katakan apa yang sedang terjadi. Kenapa dimataku semua ini terlihat
tidak nyata?”
“Kau menganggapku
mimpimu?”
“Ya.” Jawabnya tanpa
ragu.
“Kalau begitu,
anggap aku begitu.” Katanya. “Apa kau bisa mempercayaiku?”
“Kenapa aku harus mempercayaimu?”
“Demi menyembuhkan
lukamu.”
Erland diam sejenak.
“Aku tidak terluka. Aku baik-baik saja.”
“Tidakkah kau bisa
melihat darahnya?”
“Di mana?”
“Kau tahu
tempatnya.”
Erland mengerutkan
dahinya dan merasa bahwa ia baru saja dikirim ke orang gila. Ia tidak terluka.
Tidak ada darah yang mengalir keluar dari tubuhnya. Tidak ada yang sakit selain
hatinya. Hanya sakit. Tidak terluka. Erland sangat ingin keluar dari sini dan
tidak ingin menemuinya lagi.
“Aku punya cerita,
Nak. Apa kau mau dengar?” tanya orang tua itu.
Erland sempat
berpikir untuk menolaknya. Hanya saja ia tahu kalau akan sangat salah
mengabaikan orang gila di depannya ini. Bisa-bisa ia diterkam nanti karena
menolaknya. Akhirnya Erland mengangguk setuju dan mencoba mengambil posisi
duduk yang menyenangkan di atas kursinya. Ia terlalu tegang.
“Ada seorang gadis yang sedang memulai
pencarian jati dirinya,” cerita orang tua itu. “Ia adalah orang yang sangat
disayangi oleh Ayah dan Ibunya. Hanya saja Kakak lelakinya sangat tidak
menyukainya. Baginya Adiknya itu adalah masalah yang harus disingkirkan. Tapi
Adiknya itu sangat menyayanginya selayaknya dia adalah orang yang paling
penting di dunia. Namun suatu hari kebenaran itu terkuak. Dia bukanlah anak
kandung Ayah dan Ibunya, yang berarti juga bukan Adik kandung Kakaknya. Ia
akhirnya paham dengan sikap dingin Kakaknya itu dan sejak saat itu ia mulai
menjauh demi memberikan kebebasan pada Kakaknya
“Dia akhirnya pergi
untuk mencari orang tuanya. Ia melakukan segalanya dan rela menguras tabungan
rahasianya padahal ia baru berumur enam belas tahun. Ia yakin bisa menemukan
Ibunya disuatu tempat. Tapi tanpa ia sadari, Kakak tirinya itu mencarinya
dengan rasa panik yang memacu adrenalinnya. Sang Adik berpikir kalau perubahan
drastis hidupnya ini sangat ironis. Ia sangat membutuhkan seseorang untuk bisa
bersamanya. Ia selalu berusaha tegar dan tidak ingin bergantung pada Kakaknya.
Namun dalam hatinya ia selalu memanggil nama Kakaknya itu dan mengharapkannya
datang.
“Ia berpikir kalau
itu adalah hal yang tidak mungkin. Ia ingat kalau Kakaknya sangat membencinya
dan dingin padanya. Ia tahu itu. Mana mungkin ia rela meluangkan waktunya hanya
untuk mencarinya. Tapi hati dan pikiran rasionalnya sangat tidak selaras dengan
keputusan itu. Ia tidak bisa berhenti berharap. Ia akan melakukan hal yang sama
sekali lagi. Hingga suatu hari di saat ia sedang berada dalam bahaya, Kakaknya datang
dan menyelamatkannya…,”
“Tidak ada yang
seperti itu,” potong Erland. “Tidak ada yang seperti itu.”
“Kenapa? Bukankah
ini adalah cerita yang sangat penuh keajaiban?”
“Bagiku tidak. Ini
hanya cerita yang penuh lelucon,” jawabnya dengan nada serius.
Kali ini Dokter itu
berhasil memancingnya. “Kenapa seyakin itu?”
“Karena sang Kakak
pasti merasa bersalah sehingga ia pergi mencari Adiknya. Itu hanyalah sebuah
kebetulan semata.”
“Hanya kebetulan?”
ulang Dokter itu.
“Hanya kebetulan.”

0 comments: