Song of Aria #17 - Rain

7:35 PM fe 0 Comments


           Kembali kemasa lalu saat ia memutuskan untuk menulis semua yang ada di pikirannya ke dalam bukunya. Ia tidak menyangka kalau itu adalah salah satu kegiatan yang bisa membuatnya lupa dengan semua yang ada disekitarnya. Erland begitu tenggelam dan nyaris melupakan ring tinjunya dan sepatu larinya. Tidak ada hal lain yang ia lakukan selain menulis tentang sesuatu itu. Ya, ia terlihat berbeda dan gila saat itu. Ia takut kalau semuanya ternyata palsu.
Seakan hilang dari dunianya sendiri, Erland mencoba meyakinkan dirinya kalau tempat yang dikunjunginya, orang yang ditemuinya, dan orang yang berbicara padanya adalah nyata. Sering pikiran Erland melayang dan merasa bahwa apa yang terjadi di depan matanya dan apa yang sedang ia lakukan adalah mimpi. Pandangan matanya seakan melihat pemandangan dalam mimpi dengan suara-suara yang lebih berupa dengungan dan terkadang samar dan tidak jelas.

   Erland takut dengan keberadaannya sendiri. Ia benar-benar takut saat itu dan berkata apakah mereka itu nyata atau justru dirinya yang tidak nyata? Apakah Aira adalah tokoh ciptaannya karena ia sangat kesepian dan mendambakan orang yang juga memiliki perasaan dan masalah yang sama sebagai temannya?
   Ketakutan Erland terlihat jelas sekarang. Ia tidak berani keluar rumah dan hanya mengurung diri di dalam kamarnya saja. Pola makannya tidak teratur dan kulitnya berubah pucat karena tidak terkena matahari. Kamarnya gelap dan Erland hanya duduk menulis hingga tangannya sakit dan sulit digerakkan.
Ini adalah masa-masa suram yang lain dalam hidupnya. Jika saat Ibunya meninggalkannya ia lebih memilih untuk melampiaskan keliarannya, maka saat ia tahu kalau Aira meninggalkannya ia lebih memilih diam dan menahan semua gejolak emosinya.
   Aira membuatnya menjadi sulit. Ia sudah bertekad melupakan gadis itu. Hanya saja ia terlalu nyata. Suaranya terlalu nyata. Semuanya terlalu nyata.
   Akhirnya Ayahnya kembali bertindak dengan membawanya kembali ke Inggris dan menemui Dr. Kir Patrick di sana. Erland awalnya tidak merasa nyaman dengan hal ini karena ia merasa seolah-olah dialihkan secara paksa dari dunianya. Dia sebenarnya bukan seorang dokter sesungguhnya tapi semua orang memanggilnya begitu. Dia seorang Pekerja Sosial Medis yang ada di rumah sakit. Ia seperti seorang Santa dengan wajah ramahnya dan janggutnya yang putih tebal. Ia memang berpengalaman dalam bidangnya. Erland tidak mengetahui hal itu.
   “Apa yang kau pikirkan, nak?” tanya Dokter itu ramah dengan nada kebapakannya pada Erland yang masih harus menyesuaikan diri dengan ruang praktiknya yang nyaman itu. Warna hijau mendominasi tempat ini dan membuatnya seakan-akan masuk ke dunia lain yang sangat menyenangkan dan menyegarkan. Ia akan merasa nyaman jika ia bisa menenangkan dirinya.
   Erland belum menjawab karena ia masih harus mencari posisi yang nyaman dalam duduknya dan masih harus menenangkan diri karena dibawa paksa dari dunianya yang didominasi warna-warna gelap tanpa sinar matahari.
“Apa kau menyukai ruangan ini?” tanyanya lagi.
   Saat itulah Erland mulai fokus dan mendapatkan suaranya kembali. “Ya,” jawabnya parau.
   Sebuah senyum tulus dan menenangkan tersungging diwajahnya. “Baguslah. Kukira kau tidak menyukainya. Kalau merasa tidak nyaman, katakan saja.”
   “Ruangan ini sangat bagus,” komentarnya sambil berusaha tersenyum sebisanya.
   “Hijau adalah warna terbaik yang bisa diterima mata dengan ramah. Kau akan senang jika berada di dalamnya lebih lama lagi. Bisa-bisa kau tidak mau beranjak, hahaha…,” katanya senang.
   Erland hanya tersenyum – setidaknya mencoba untuk itu – dan rasanya sangat sulit mengingat ia selalu murung dalam satu minggu terakhir.
   “Apa kau punya sesuatu yang ingin kau tunjukkan padaku?” tanya Dokter itu padanya.
   Erland langsung merasa bingung dengan pertanyaan itu. “Tidak,” jawabnya jujur.
   “Tidak ya? Hmmm… sayang sekali.”
   Sekarang siapa yang bermasalah? Dia atau orang itu? Erland tidak ragu-ragu menunjukkan wajah bingungnya sekarang. Kemudian Dokter itu berdiri dan menyibak sedikit kain jendela ruangan itu. Sinar matahari yang awalnya tidak seterang itu langsung mengenai matanya. Erland secara reflek menutup matanya dan menundukkan wajahnya. Cahayanya sangat menyilaukan.
   “Tidakkah kau merasa lebih pucat dari sebelumnya? Kau terlalu lama bersembunyi.”
   Erland menurunkan tangannya dan mulai berani bersuara lagi. “Apa sekarang aku benar-benar ada di sini? Atau sekarang aku sedang bermimpi?” ia memegang kepalanya seperti orang frustasi. “Jika iya, bangunkan aku! Ku mohon. Bangunkan aku sekarang!” pintanya dengan nada yang semakin lama semakin naik.
   “Apa yang kau inginkan? Mimpi atau kenyataan?”
   Pertanyaan itu berhasil mengusik Erland. “Aku ingin kenyataan. Tapi ini semua tidak nyata kan? Katakan di mana aku sekarang! Katakan apa yang sedang terjadi. Kenapa dimataku semua ini terlihat tidak nyata?”
   “Kau menganggapku mimpimu?”
   “Ya.” Jawabnya tanpa ragu.
   “Kalau begitu, anggap aku begitu.” Katanya. “Apa kau bisa mempercayaiku?”
    “Kenapa aku harus mempercayaimu?”
   “Demi menyembuhkan lukamu.”
   Erland diam sejenak. “Aku tidak terluka. Aku baik-baik saja.”
   “Tidakkah kau bisa melihat darahnya?”
   “Di mana?”
   “Kau tahu tempatnya.”
   Erland mengerutkan dahinya dan merasa bahwa ia baru saja dikirim ke orang gila. Ia tidak terluka. Tidak ada darah yang mengalir keluar dari tubuhnya. Tidak ada yang sakit selain hatinya. Hanya sakit. Tidak terluka. Erland sangat ingin keluar dari sini dan tidak ingin menemuinya lagi.
   “Aku punya cerita, Nak. Apa kau mau dengar?” tanya orang tua itu.
   Erland sempat berpikir untuk menolaknya. Hanya saja ia tahu kalau akan sangat salah mengabaikan orang gila di depannya ini. Bisa-bisa ia diterkam nanti karena menolaknya. Akhirnya Erland mengangguk setuju dan mencoba mengambil posisi duduk yang menyenangkan di atas kursinya. Ia terlalu tegang.
   “Ada seorang gadis yang sedang memulai pencarian jati dirinya,” cerita orang tua itu. “Ia adalah orang yang sangat disayangi oleh Ayah dan Ibunya. Hanya saja Kakak lelakinya sangat tidak menyukainya. Baginya Adiknya itu adalah masalah yang harus disingkirkan. Tapi Adiknya itu sangat menyayanginya selayaknya dia adalah orang yang paling penting di dunia. Namun suatu hari kebenaran itu terkuak. Dia bukanlah anak kandung Ayah dan Ibunya, yang berarti juga bukan Adik kandung Kakaknya. Ia akhirnya paham dengan sikap dingin Kakaknya itu dan sejak saat itu ia mulai menjauh demi memberikan kebebasan pada Kakaknya
   “Dia akhirnya pergi untuk mencari orang tuanya. Ia melakukan segalanya dan rela menguras tabungan rahasianya padahal ia baru berumur enam belas tahun. Ia yakin bisa menemukan Ibunya disuatu tempat. Tapi tanpa ia sadari, Kakak tirinya itu mencarinya dengan rasa panik yang memacu adrenalinnya. Sang Adik berpikir kalau perubahan drastis hidupnya ini sangat ironis. Ia sangat membutuhkan seseorang untuk bisa bersamanya. Ia selalu berusaha tegar dan tidak ingin bergantung pada Kakaknya. Namun dalam hatinya ia selalu memanggil nama Kakaknya itu dan mengharapkannya datang.
   “Ia berpikir kalau itu adalah hal yang tidak mungkin. Ia ingat kalau Kakaknya sangat membencinya dan dingin padanya. Ia tahu itu. Mana mungkin ia rela meluangkan waktunya hanya untuk mencarinya. Tapi hati dan pikiran rasionalnya sangat tidak selaras dengan keputusan itu. Ia tidak bisa berhenti berharap. Ia akan melakukan hal yang sama sekali lagi. Hingga suatu hari di saat ia sedang berada dalam bahaya, Kakaknya datang dan menyelamatkannya…,”
   “Tidak ada yang seperti itu,” potong Erland. “Tidak ada yang seperti itu.”
   “Kenapa? Bukankah ini adalah cerita yang sangat penuh keajaiban?”
   “Bagiku tidak. Ini hanya cerita yang penuh lelucon,” jawabnya dengan nada serius.
   Kali ini Dokter itu berhasil memancingnya. “Kenapa seyakin itu?”
   “Karena sang Kakak pasti merasa bersalah sehingga ia pergi mencari Adiknya. Itu hanyalah sebuah kebetulan semata.”
   “Hanya kebetulan?” ulang Dokter itu.
   “Hanya kebetulan.”

You Might Also Like

0 comments: