Song of Aria #15 - Rain

7:32 PM fe 0 Comments


           Aira sudah memperingatkannya kalau dia hanyalah bayangan. Ia akan menghilang dan Erland takkan dapat menemukannya. Tapi saat itu ia yakin kalau Aira itu nyata dan benar-benar nyata dan ia juga yakin kalau ia dapat menemukannya di mana pun gadis itu berada. Tapi dia salah. Tidak ada yang mengenalnya. Nana juga seperti menghilang di telan dunia setelah telepon terakhir itu berakhir.       
Tiga hari setelah pencariannya ia akhiri, ia mendapati semua orang menatapnya dengan aneh sekarang. Erland awalnya tidak peduli hingga akhirnya Dian, temannya yang menurut Erland sangat manja dan menyebalkan, datang memberi komentar padanya.
   Dian sudah lama memperhatikan Erland. Dia juga tahu masa lalu Erland dari Andrew sendiri saat mereka masih tinggal di London. Mana mungkin orang yang lebih memilih jalanan ketimbang rumah sebagai tempat tinggalnya dan memilih pertarungan dari pada kompromi dalam hidupnya itu menulis tulisannya dalam buku?
 Ya. Erland menulis sekarang dimana saja dan kapan saja. Pemandangan aneh ini membuat Dian tergerak untuk mendekatinya dan bertanya. Ada apa dengan Erland? Apa ini sisi lembutnya yang selalu terpendam?
   “Aku nggak tahu  kalau kamu suka nulis,” katanya saat ia duduk di depan Erland.
   Erland tersentak karena tidak menyadari kehadiran Dian di sini. Ia sedang duduk disebuah cafe sekarang dan tadi sedang terhanyut dalam pikirannya. Ia sibuk menulis dan hampir-hampir tidak memperhatikan hal-hal disekitarnya. Ini buruk.
   “Apa aku kelihatan aneh?” tanyanya tenang.
   Dian mengangguk. “Aku sendiri saja nggak percaya kamu melakukannya mengingat siapa dirimu.”
   Erland mendesis kesal. Dia memang blak-blakan. “Aku nggak akan membunuh orang dengan tulisanku. Sekarang pergilah,” katanya.
   Dian mengerutkan keningnya. Ia tahu kalau Erland sedang tidak ingin diganggu. Tapi ia tidak mau pergi begitu saja, jadi ia tetap bicara. “Kamu tahu kalau ada yang lebih menarik dari sekedar menulis dibuku. Kamu bisa mengetik dengan komputer atau laptop. Oh. Jangan-jangan kau nggak punya ya? Hahaha…,”
   Erland tahu kalau Dian sedang memancing perhatiannya dengan lelucon sampahnya itu. “Aku bisa membeli itu sebanyak yang kumau hingga menjadi sampah,” jawabnya tenang dengan nada sinisnya yang dingin.
   Dian berhenti tertawa dan merasa malu dengan komentar itu. Ia mengubah sikapnya kembali.
   “Lalu apa yang bisa kau temukan dari hal seperti ini?” tanyanya.
   Erland berhenti menulis sejenak dan pikirannya melayang pada Aira. Erland tersenyum dan memberikan jawaban. “Jiwa,” jawabnya sambil memandang satu titik di belakang Dian. Ia tidak sadar kalau saat ini raut wajahnya melembut dan Dian sedang menahan napasnya.
   Erland terlihat sangat tampan dan dewasa. Ia yang mewarisi ketampanan Ayahnya dan sebagian darah Inggris yang juga dari Ayahnya itu bisa menaklukkan siapa saja yang ia inginkan dengan sekali tepuk. Erland dimata Dian adalah sosok yang sempurna. Ia tinggi dengan garis wajah yang tegas dan tubuh yang tegap. Matanya hitam dan gelap yang lebih sering menunjukkan kemarahan atau hasrat membunuh dan dinginnya hatinya dibalik topeng sopan santunnya dan senyumannya yang menggoda. Erland sangat menyukai tinju dan itu membuatnya sebagai salah satu calon pria terseksi saat memasuki umur duapuluhan.
 Namun sekarang Dian merasa tercekat melihat pemandangan yang tidak biasa itu. Mata hitamnya berkilauan saat memberikan jawaban itu. Si Berandalan itu benar-benar bisa menyihir wanita dengan mudahnya kapanpun ia mau… dan jika ia masih seperti yang dulu, maka ia akan menjadi bajingan paling tampan di dunia, pikir Dian liar.
   “Menarik,” komentarnya singkat. “Sejak kapan kamu suka menulis?” tanyanya.
   “Sejak tiga hari lalu.”
   “Oh ya? Kenapa? Ini seperti bukan kamu saja.”
   “Lalu seperti apa aku?” tanyanya dengan sikap tenangnya yang menghanyutkan.
   Dian mengubah posisi duduknya agar bisa merasa nyaman. “Kamu yang aku tahu lebih suka berlari dari pada berjalan, lebih suka bertarung dari pada kompromi… lebih menakutkan,” katanya. “Aku nggak nyangka kalau kau punya sisi manis seperti ini,” katanya dengan senyum menggoda.
   Sebuah keajaiban begitu Erland membalas senyumnya dengan menarik salah satu sudut bibirnya ke atas. “Aku yang seperti itu masih ada,” gumamnya.
   “Lalu kenapa kamu menulis?”
   “Hanya mencoba melakukan sesuatu untuknya.”
   “Apa?” tiba-tiba banyak pertanyaan berkecamuk di dalam benaknya.
   “Aku hanya ingin melakukan sesuatu untuknya,” ulang Erland.
   “Siapa?” tanyanya spontan dengan nada gemetar yang ia coba samarkan.
   “Dia.”
   “Dia yang mana?” Dian mendesaknya.
   “Orang yang membuatku gila.”


Topik pembicaraan dengan Erland tadi bukanlah hal yang ia harapkan. Dian tahu itu. Ia masih merasa risih dengan seseorang yang tidak ingin Erland sebutkan namanya. Orang yang bisa membuatnya gila? Siapa dia? Dan yang lebih membuatnya risih lagi adalah tulisan itu, dan tatapannya yang membuatnya terpesona itu. Sayangnya ia tahu kalau tatapan itu dan tulisan itu bukanlah untuknya. Itu untuk seseorang yang berhasil membuatnya ‘gila’ dan berubah secara drastis.
   Dian kecewa. Sangat kecewa karena Erland ternyata mempunyai sisi lembut yang nyatanya bukan untuknya. Ia bertanya-tanya siapa orang yang telah melakukan perubahan drastis itu padanya. Erland yang ia tahu sangat liar itu nyatanya bisa berubah dalam waktu singkat! Taktik Ayahnya ternyata berhasil dengan sempurna walau rasa marah dan hasrat emosi terbesar itu masih tersimpan di balik matanya.
   Dian cemburu sekarang. Ia tahu kalau Erland tidak begitu menggubrisnya sekalipun ia sudah berusaha mendekatinya dan menjadi temannya untuk melakukan pendekatan selanjutnya. Hanya saja si Berandal itu tetap saja menganggapnya angin lalu dan kadang ia diperlakukan seperti pengganggu.
   Namun hari ini ada yang berbeda. Ia bisa merasakan rasa senang, sedih, marah yang bisa dikontrol Erland secara sempurna. Ya. Erland sudah ‘gila’ sekarang.
Dan Erland menggelengkan kepalanya setelah ia mengakui satu kebenaran kepada Dian tadi. Ya. Ia merasa ‘gila’ sekarang. Ia merasa ‘gila’ dengan apa yang telah terjadi. Aira yang menghilang seolah ia adalah tokoh rekaan dalam pikiran Erland yang kesepian membuatnya ingin melakukan sesuatu yang berbeda. Ia sedang tidak ingin mencari mangsa meskipun ia punya banyak peluang yang bisa dijadikannya mangsa.
   Tapi ia tidak ingin.
   Aira akan kembali, kata hati kecilnya.
   Aneh. Padahal ia sudah menyerah tentang Aira. Tidak ada satupun yang tahu tentang keberadaannya selain Nana dan tidak ada yang tahu kalau dia itu sebenarnya ada selain mereka berdua.
   Tapi Nana terlalu keras kepala dan sekarang malah pergi ke Australia untuk menemui adiknya yang tinggal di sana. Sejak saat itu ia sama sekali tidak bisa dihubungi.
Lagi. Perasaannya tercabik-cabik lagi.

You Might Also Like

0 comments: