Song of Aria #15 - Rain
Aira sudah memperingatkannya kalau dia hanyalah bayangan. Ia akan menghilang dan Erland takkan dapat menemukannya. Tapi saat itu ia yakin kalau Aira itu nyata dan benar-benar nyata dan ia juga yakin kalau ia dapat menemukannya di mana pun gadis itu berada. Tapi dia salah. Tidak ada yang mengenalnya. Nana juga seperti menghilang di telan dunia setelah telepon terakhir itu berakhir.
Tiga hari setelah pencariannya ia akhiri, ia mendapati semua
orang menatapnya dengan aneh sekarang. Erland awalnya tidak peduli hingga
akhirnya Dian, temannya yang menurut Erland sangat manja dan menyebalkan,
datang memberi komentar padanya.
Dian sudah lama
memperhatikan Erland. Dia juga tahu masa lalu Erland dari Andrew sendiri saat
mereka masih tinggal di London.
Mana mungkin orang yang lebih memilih jalanan ketimbang rumah sebagai tempat
tinggalnya dan memilih pertarungan dari pada kompromi dalam hidupnya itu
menulis tulisannya dalam buku?
Ya. Erland menulis
sekarang dimana saja dan kapan saja. Pemandangan aneh ini membuat Dian tergerak
untuk mendekatinya dan bertanya. Ada
apa dengan Erland? Apa ini sisi lembutnya yang selalu terpendam?
“Aku nggak tahu kalau kamu suka nulis,” katanya saat ia duduk
di depan Erland.
Erland tersentak
karena tidak menyadari kehadiran Dian di sini. Ia sedang duduk disebuah cafe
sekarang dan tadi sedang terhanyut dalam pikirannya. Ia sibuk menulis dan
hampir-hampir tidak memperhatikan hal-hal disekitarnya. Ini buruk.
“Apa aku kelihatan
aneh?” tanyanya tenang.
Dian mengangguk.
“Aku sendiri saja nggak percaya kamu melakukannya mengingat siapa dirimu.”
Erland mendesis
kesal. Dia memang blak-blakan. “Aku nggak akan membunuh orang dengan tulisanku.
Sekarang pergilah,” katanya.
Dian mengerutkan
keningnya. Ia tahu kalau Erland sedang tidak ingin diganggu. Tapi ia tidak mau
pergi begitu saja, jadi ia tetap bicara. “Kamu tahu kalau ada yang lebih
menarik dari sekedar menulis dibuku. Kamu bisa mengetik dengan komputer atau
laptop. Oh. Jangan-jangan kau nggak punya ya? Hahaha…,”
Erland tahu kalau
Dian sedang memancing perhatiannya dengan lelucon sampahnya itu. “Aku bisa
membeli itu sebanyak yang kumau hingga menjadi sampah,” jawabnya tenang dengan
nada sinisnya yang dingin.
Dian berhenti
tertawa dan merasa malu dengan komentar itu. Ia mengubah sikapnya kembali.
“Lalu apa yang bisa
kau temukan dari hal seperti ini?” tanyanya.
Erland berhenti
menulis sejenak dan pikirannya melayang pada Aira. Erland tersenyum dan
memberikan jawaban. “Jiwa,” jawabnya sambil memandang satu titik di belakang
Dian. Ia tidak sadar kalau saat ini raut wajahnya melembut dan Dian sedang
menahan napasnya.
Erland terlihat
sangat tampan dan dewasa. Ia yang mewarisi ketampanan Ayahnya dan sebagian
darah Inggris yang juga dari Ayahnya itu bisa menaklukkan siapa saja yang ia
inginkan dengan sekali tepuk. Erland dimata Dian adalah sosok yang sempurna. Ia
tinggi dengan garis wajah yang tegas dan tubuh yang tegap. Matanya hitam dan
gelap yang lebih sering menunjukkan kemarahan atau hasrat membunuh dan
dinginnya hatinya dibalik topeng sopan santunnya dan senyumannya yang menggoda.
Erland sangat menyukai tinju dan itu membuatnya sebagai salah satu calon pria
terseksi saat memasuki umur duapuluhan.
Namun sekarang Dian
merasa tercekat melihat pemandangan yang tidak biasa itu. Mata hitamnya
berkilauan saat memberikan jawaban itu. Si Berandalan itu benar-benar bisa
menyihir wanita dengan mudahnya kapanpun ia mau… dan jika ia masih seperti yang
dulu, maka ia akan menjadi bajingan paling tampan di dunia, pikir Dian liar.
“Menarik,”
komentarnya singkat. “Sejak kapan kamu suka menulis?” tanyanya.
“Sejak tiga hari
lalu.”
“Oh ya? Kenapa? Ini
seperti bukan kamu saja.”
“Lalu seperti apa aku?”
tanyanya dengan sikap tenangnya yang menghanyutkan.
Dian mengubah posisi
duduknya agar bisa merasa nyaman. “Kamu yang aku tahu lebih suka berlari dari
pada berjalan, lebih suka bertarung dari pada kompromi… lebih menakutkan,”
katanya. “Aku nggak nyangka kalau kau punya sisi manis seperti ini,” katanya
dengan senyum menggoda.
Sebuah keajaiban
begitu Erland membalas senyumnya dengan menarik salah satu sudut bibirnya ke
atas. “Aku yang seperti itu masih ada,” gumamnya.
“Lalu kenapa kamu
menulis?”
“Hanya mencoba
melakukan sesuatu untuknya.”
“Apa?” tiba-tiba
banyak pertanyaan berkecamuk di dalam benaknya.
“Aku hanya ingin
melakukan sesuatu untuknya,” ulang Erland.
“Siapa?” tanyanya
spontan dengan nada gemetar yang ia coba samarkan.
“Dia.”
“Dia yang mana?”
Dian mendesaknya.
“Orang yang
membuatku gila.”
Topik pembicaraan dengan Erland tadi bukanlah hal yang ia
harapkan. Dian tahu itu. Ia masih merasa risih dengan seseorang yang tidak
ingin Erland sebutkan namanya. Orang yang bisa membuatnya gila? Siapa dia? Dan
yang lebih membuatnya risih lagi adalah tulisan itu, dan tatapannya yang
membuatnya terpesona itu. Sayangnya ia tahu kalau tatapan itu dan tulisan itu
bukanlah untuknya. Itu untuk
seseorang yang berhasil membuatnya ‘gila’ dan berubah secara drastis.
Dian kecewa. Sangat
kecewa karena Erland ternyata mempunyai sisi lembut yang nyatanya bukan
untuknya. Ia bertanya-tanya siapa orang yang telah melakukan perubahan drastis
itu padanya. Erland yang ia tahu sangat liar itu nyatanya bisa berubah dalam
waktu singkat! Taktik Ayahnya ternyata berhasil dengan sempurna walau rasa
marah dan hasrat emosi terbesar itu masih tersimpan di balik matanya.
Dian cemburu
sekarang. Ia tahu kalau Erland tidak begitu menggubrisnya sekalipun ia sudah
berusaha mendekatinya dan menjadi temannya untuk melakukan pendekatan
selanjutnya. Hanya saja si Berandal itu tetap saja menganggapnya angin lalu dan
kadang ia diperlakukan seperti pengganggu.
Namun hari ini ada
yang berbeda. Ia bisa merasakan rasa senang, sedih, marah yang bisa dikontrol Erland
secara sempurna. Ya. Erland sudah ‘gila’ sekarang.
Dan Erland menggelengkan kepalanya setelah ia mengakui satu
kebenaran kepada Dian tadi. Ya. Ia merasa ‘gila’ sekarang. Ia merasa ‘gila’
dengan apa yang telah terjadi. Aira yang menghilang seolah ia adalah tokoh
rekaan dalam pikiran Erland yang kesepian membuatnya ingin melakukan sesuatu
yang berbeda. Ia sedang tidak ingin mencari mangsa meskipun ia punya banyak
peluang yang bisa dijadikannya mangsa.
Tapi ia tidak ingin.
Aira akan kembali,
kata hati kecilnya.
Aneh. Padahal ia
sudah menyerah tentang Aira. Tidak ada satupun yang tahu tentang keberadaannya
selain Nana dan tidak ada yang tahu kalau dia itu sebenarnya ada selain mereka
berdua.
Tapi Nana terlalu
keras kepala dan sekarang malah pergi ke Australia
untuk menemui adiknya yang tinggal di sana.
Sejak saat itu ia sama sekali tidak bisa dihubungi.
Lagi. Perasaannya
tercabik-cabik lagi.

0 comments: