She #9 - Rain
Persembahkan mahkota untuk kategori mahasiswa paling kurang ajar kepada
Serena. Dia ini perempuan tapi wataknya seperti preman. Dia ini wanita tapi
pikirannya seperti pria. Dia itu logis, sangat amat logis.
Charlie tidak perlu berteriak histeris
saat ia mendengar keluhan Ren dari balik headphone
nya saat akhirnya akun Skype-nya
menyala.
“As… taga…” itu ucapan Charlie yang
terpana karena kekurang ajaran Ren pada dosennya. “Kau benar-benar terkutuk!” kali
ini Charlie menghardiknya. “Apa yang kau pikirkan, bodoh?”
“Aku hanya berpikir kalau dia menganggap
dirinya selalu benar,” kata Ren.
“Tapi kau juga begitu. Kau juga
menganggap dirimu selalu benar! Kau lupa siapa dia?”
“Aku ingat,” jawabnya cuek.
“Tuhan… Lindungi aku dari pikiran
orang-orang aneh! Kau ini sama dengan dia, tahu!”
“Siapa?” tanya Ren.
“Feria. Kupikir kalian bisa bertemu dan
menikah.”
“Hentikan pikiran bodoh itu! Aku tak
suka!”
Charlie menghela napasnya. “Cukup untuk
pikiran logismu itu, Ren. Kau bisa melebihi kodratmu nanti.”
“Maksudnya?” tanya Ren tidak mengerti.
“Kau itu wanita! Bukan pria! Kau tidak
perlu menggunakan kekerasan atau kata-kata dingin untuk menyelesaikan
masalahmu. Gunakan perasaanmu, paham?”
“Apa maksudmu?” Ren bertanya tidak suka.
“Apa yang kau lakukan itu buruk! Kau
tidak harus pergi seperti itu. Tidakkah kalian bisa berdamai? Dia sudah minta
maaf, kan?”
“Itu tidak merubah apapun.”
“Akan merubah apapun kalau kau tidak
keras kepala!” tegasnya. “Aku tahu kau kesal tapi –”
“Aku tidak minta maaf kalau aku tidak
salah.”
“Aku tahu. Aku tahu,” Charlie
menenangkan dirinya. Ia sudah biasa di sekitar orang-orang keras kepala dan
aneh. “Tapi jangan begitu juga sikapmu. Kalian tinggal berdamai dan semua
beres.”
“Kalau dia membutuhkanku, dia akan
mencariku.”
“Ya ampun! Kau ini bukan anak kecil!”
“Aku memang bukan anak kecil,” kata Ren
setuju, “Dan aku tahu kalau dia menginginkanku, maka dia harus ikut aturanku.”
“Tidak semua orang bisa begitu, Ren. Kau
tahu kalau kau tinggal di mana. Itu Indonesia, bukan Amerika.”
“Dan dia akademisi, bukan anak TK.”
“Dia itu sibuk –”
“Aku juga sibuk,” potong Ren dengan nada
tidak peduli.
“Dia itu…” Charlie menghela napas
menyerah, “Oke, terserahmu saja.”
“Ya. Memang terserahku.”
Rasanya Charlie ingin berlari naik
pesawat untuk datang ke Indonesia demi mencekik gadis ini. Ren memang sangat menyebalkan.
Dia terlalu keras kepala dan sangat tidak berperasaan.
“Oke, kalau dia buat janji lagi
denganmu, bagaimana?” tanya Charlie.
“Aku akan membuat perjanjian dengannya.
Mudah, kan?”
“Ya. Oke… Lakukan sesukamu.”

0 comments: