She #9 - Rain

11:46 AM fe 0 Comments



Persembahkan mahkota untuk kategori mahasiswa paling kurang ajar kepada Serena. Dia ini perempuan tapi wataknya seperti preman. Dia ini wanita tapi pikirannya seperti pria. Dia itu logis, sangat amat logis.
Charlie tidak perlu berteriak histeris saat ia mendengar keluhan Ren dari balik headphone nya saat akhirnya akun Skype-nya menyala.
“As… taga…” itu ucapan Charlie yang terpana karena kekurang ajaran Ren pada dosennya. “Kau benar-benar terkutuk!” kali ini Charlie menghardiknya. “Apa yang kau pikirkan, bodoh?”
“Aku hanya berpikir kalau dia menganggap dirinya selalu benar,” kata Ren.

“Tapi kau juga begitu. Kau juga menganggap dirimu selalu benar! Kau lupa siapa dia?”
“Aku ingat,” jawabnya cuek.
“Tuhan… Lindungi aku dari pikiran orang-orang aneh! Kau ini sama dengan dia, tahu!”
“Siapa?” tanya Ren.
“Feria. Kupikir kalian bisa bertemu dan menikah.”
“Hentikan pikiran bodoh itu! Aku tak suka!”
Charlie menghela napasnya. “Cukup untuk pikiran logismu itu, Ren. Kau bisa melebihi kodratmu nanti.”
“Maksudnya?” tanya Ren tidak mengerti.
“Kau itu wanita! Bukan pria! Kau tidak perlu menggunakan kekerasan atau kata-kata dingin untuk menyelesaikan masalahmu. Gunakan perasaanmu, paham?”
“Apa maksudmu?” Ren bertanya tidak suka.
“Apa yang kau lakukan itu buruk! Kau tidak harus pergi seperti itu. Tidakkah kalian bisa berdamai? Dia sudah minta maaf, kan?”
“Itu tidak merubah apapun.”
“Akan merubah apapun kalau kau tidak keras kepala!” tegasnya. “Aku tahu kau kesal tapi –”
“Aku tidak minta maaf kalau aku tidak salah.”
“Aku tahu. Aku tahu,” Charlie menenangkan dirinya. Ia sudah biasa di sekitar orang-orang keras kepala dan aneh. “Tapi jangan begitu juga sikapmu. Kalian tinggal berdamai dan semua beres.”
“Kalau dia membutuhkanku, dia akan mencariku.”
“Ya ampun! Kau ini bukan anak kecil!”
“Aku memang bukan anak kecil,” kata Ren setuju, “Dan aku tahu kalau dia menginginkanku, maka dia harus ikut aturanku.”
“Tidak semua orang bisa begitu, Ren. Kau tahu kalau kau tinggal di mana. Itu Indonesia, bukan Amerika.”
“Dan dia akademisi, bukan anak TK.”
“Dia itu sibuk –”
“Aku juga sibuk,” potong Ren dengan nada tidak peduli.
“Dia itu…” Charlie menghela napas menyerah, “Oke, terserahmu saja.”
“Ya. Memang terserahku.”
Rasanya Charlie ingin berlari naik pesawat untuk datang ke Indonesia demi mencekik gadis ini. Ren memang sangat menyebalkan. Dia terlalu keras kepala dan sangat tidak berperasaan.
“Oke, kalau dia buat janji lagi denganmu, bagaimana?” tanya Charlie.
“Aku akan membuat perjanjian dengannya. Mudah, kan?”
“Ya. Oke… Lakukan sesukamu.”

You Might Also Like

0 comments: