She #8 - Rain
Mr.Jason sebenarnya hanya nama akhir
dari Andrea Jason. Dia adalah seorang pria yang memiliki darah keturunan
Indonesia – Inggris. Namun darah Indonesia-nya lebih mendominasi dari apapun.
Ia lahir dan besar di negara ini dan sekarang sukses sebagai seorang dosen muda
berprestasi. Dia seorang pekerja keras yang membuat mahasiswi di sini
tergila-gila. Bukan hanya baik, tapi juga sangat sabar dan intelektual.
Tapi bagi Ren ia tetap saja orang
menyebalkan yang seharusnya tidak memiliki secuil darah keturunan Inggris
karena orang Inggris pasti tidak begini. Serena memang sangat dendam dengan
orang yang tidak tepat waktu. Sifatnya itu muncul sejak ia mengabaikan peringatan
dari Selene, seorang temannya yang lain yang dianugerahi bakat berupa ketajaman
insting. Sejak saat itu ia selalu melakukan yang terbaik dalam hal ketepatan
waktu.
Ia masuk ke dalam ruang dosen itu dan
mendapati Mr.Jason sedang menguatak-atik laptopnya dengan tatapan serius. Ren
langsung menghampirinya dan menyadari kalau mereka hanya berdua saja di sini.
Semua dosen sudah pulang dan meja mereka sudah rapi.
“Ada apa, Pak?” tanya Ren begitu saja
dengan wajah datar saat berdiri di depannya.
Jason mengangkat wajahnya dan tersenyum
menyambutnya. Senyuman manis itu sempat membuat jantung Ren berhenti berdetak
sesaat sebelum pikiran rasionalnya mengambil alih dirinya dan dia merasa muak!
Luar biasa muak!
“Hei, ayo duduk,” ajaknya sambil
menunjuk ke kursi di depannya. “Sebentar ya.”
Ren diam menunggu dan membiarkan pria
itu kembali menekuni pekerjaannya. Ia belum memprotes dan ia takkan bicara
duluan sebelum orang itu bicara. Tapi lima menit penuh ia menunggu, mereka belum
juga bicara. Ren tidak sabar. Ia menarik napas dalam-dalam sambil menenangkan
diri. Ia tak perlu histeris dan ia tak harus histeris. Ia memang sangat ingin
berteriak tapi sekarang ia memilih untuk tetap rasional seperti biasa. Ia hanya
butuh rasa percaya diri dan ketenangan jika adu argumen terjadi.
Ren menghitung saat dosen sialan itu
masih diam dan menguji kesabarannya. Ia menghitung dari satu sampai enampuluh.
Dan pada saat hitungan berakhir ia berkata dingin, “Kalau tidak ada yang
dibicarakan, sebaiknya saya pulang.” Ren berdiri dan saat itulah Jason
bereaksi.
“Maaf!” serunya buru-buru. “Maaf,
Serena, duduk dulu,” ia menahan Ren.
Ren tidak mau duduk di kursinya. Ia
malah menatap dosennya itu sejenak sebelum berkata, “Saya sudah datang di sini
dan anda bukannya langsung bicara tapi malah diam. Kalau anda tahu, bukan hanya
anda saja yang sibuk, tapi saya juga
sibuk. Dan anda sudah membuang waktu saya dan saya tidak terima itu.”
Pria itu terkejut dengan semburan
kejujuran Serena yang tidak terduga. Seharusnya dia sudah tahu kalau cara pikir
Serena itu sangat logis. Dari matanya saja ada semburat pemberontakan dan
kemarahan yang dingin. Serena mudah diprediksi. Karena itu Jason tersenyum dan
kembali menyuruhnya duduk.
“Duduklah, kita akan bicara,” ia hanya
perlu meyakinkan gadis itu dengan perbuatan, bukan kata-kata. Jadi ia
menatapnya sungguh-sungguh dan menunggu.
Ren diam dan menatapan kesungguhan
dibalik ucapannya itu. Akhirnya dia memutuskan untuk duduk dan membuat dirinya
santai tapi ia tidak mengajukan pertanyaan apapun. Ia hanya diam.
Jason paham. Gadis itu sedang marah dan ia
tahu kalau itu gara-gara dia. Memang benar apa yang dikatakan Ren dan ia sudah
memaksa Ren untuk datang hari ini.
“Aku menunggumu dari pagi. Apa kamu lupa
janji hari ini?” tanyanya pada Ren dan ia langsung mendapati tatapan tidak suka
dan wajah tak percaya dari Ren.
“Saya justru ingin mengajukan pertanyaan
yang sama dengan anda,” balas Ren dengan nada yang dibuat setenang mungkin.
Jernih tapi menakutkan.
“Kenapa?”
“Saya justru bertanya-tanya kenapa anda
seperti menuduh saya yang lupa janji?”
Jason tidak menyangka kalau gadis ini
mencoba membuatnya kesal. Tapi ia tidak termakan. Ia masih bisa tenang dan
ketenangan adalah inti dari dirinya. Jadi ia mencoba meluruskan masalah ini
selayaknya meluruskan salah paham yang terjadi antara orang tua yang bijak
dengan anak yang bisa meledak semaunya.
“Saya kira kamu lupa kalau hari ini ada janji.
Jadi saya menunggu di sini dari pagi,” Jason mencoba menjelaskannya dengan
pelan dan baik.
Tapi Ren justru tertawa dengan nada
mencemooh, “Seingat saya kita harus bertemu pukul delapan.”
“Ya.”
“Dan saya ada di sini jam segitu.”
“Oh ya?”
“Dan anda tidak ada.”
“Maaf, saya terjebak macet dan –”
“Anda tidak memberi kabar.”
Dan Jason terdiam. Serangan yang tepat.
Ia sama sekali tidak percaya kalau Ren akan datang tepat pada jam yang ia
tentukan.
“Buat apa saya menunggu anda? Saya sudah
menoleransi selama lima menit tapi anda belum datang juga,” Ren berkata dingin.
“Saya juga tahu kalau saya hampir terlambat tapi saya akhirnya datang
tepat waktu. Jam delapan, tidak kurang,
tidak lebih.”
Jason salah. Ren tidak histeris tapi
tidak histeris justru lebih menakutkan dari apapun juga. Gadis ini logis. Ia
keras kepala dan sangat disiplin waktu. Tapi dibalik itu semua ia menarik dan
berbeda. Mata gadis itu menatapnya tajam, gelap, dan siap mencabik-cabiknya
jika ia salah bicara.
“Maaf…” Jason minta maaf, berpikir kalau
itu memang salahnya dan salah satu cara yang aman demi mencapai tujuannya,
“Saya pikir kamu juga akan telat jadi –”
“Menyamakanku dengan orang lain, ya?” tanya
Ren tidak percaya. Ia mengangguk paham tanda cukup tahu dengan tingkah dosennya
ini. “Harusnya anda tahu watak murid anda sendiri. Jangan cari alasan kalau
mahasiswa anda itu banyak, saya tidak terima itu. Dan satu lagi, jika ingin
berurusan dengan saya, anda juga harus memakai aturan saya karena anda yang membutuhkan
saya, bukan sebaliknya,” tegasnya sambil berdiri pergi.
Ia sama sekali tidak berminat dengan
pertemuan ini.

0 comments: