She #8 - Rain

11:44 AM fe 0 Comments



Mr.Jason sebenarnya hanya nama akhir dari Andrea Jason. Dia adalah seorang pria yang memiliki darah keturunan Indonesia – Inggris. Namun darah Indonesia-nya lebih mendominasi dari apapun. Ia lahir dan besar di negara ini dan sekarang sukses sebagai seorang dosen muda berprestasi. Dia seorang pekerja keras yang membuat mahasiswi di sini tergila-gila. Bukan hanya baik, tapi juga sangat sabar dan intelektual.
Tapi bagi Ren ia tetap saja orang menyebalkan yang seharusnya tidak memiliki secuil darah keturunan Inggris karena orang Inggris pasti tidak begini. Serena memang sangat dendam dengan orang yang tidak tepat waktu. Sifatnya itu muncul sejak ia mengabaikan peringatan dari Selene, seorang temannya yang lain yang dianugerahi bakat berupa ketajaman insting. Sejak saat itu ia selalu melakukan yang terbaik dalam hal ketepatan waktu.

Ia masuk ke dalam ruang dosen itu dan mendapati Mr.Jason sedang menguatak-atik laptopnya dengan tatapan serius. Ren langsung menghampirinya dan menyadari kalau mereka hanya berdua saja di sini. Semua dosen sudah pulang dan meja mereka sudah rapi.
“Ada apa, Pak?” tanya Ren begitu saja dengan wajah datar saat berdiri di depannya.
Jason mengangkat wajahnya dan tersenyum menyambutnya. Senyuman manis itu sempat membuat jantung Ren berhenti berdetak sesaat sebelum pikiran rasionalnya mengambil alih dirinya dan dia merasa muak!
Luar biasa muak!
“Hei, ayo duduk,” ajaknya sambil menunjuk ke kursi di depannya. “Sebentar ya.”
Ren diam menunggu dan membiarkan pria itu kembali menekuni pekerjaannya. Ia belum memprotes dan ia takkan bicara duluan sebelum orang itu bicara. Tapi lima menit penuh ia menunggu, mereka belum juga bicara. Ren tidak sabar. Ia menarik napas dalam-dalam sambil menenangkan diri. Ia tak perlu histeris dan ia tak harus histeris. Ia memang sangat ingin berteriak tapi sekarang ia memilih untuk tetap rasional seperti biasa. Ia hanya butuh rasa percaya diri dan ketenangan jika adu argumen terjadi.
Ren menghitung saat dosen sialan itu masih diam dan menguji kesabarannya. Ia menghitung dari satu sampai enampuluh. Dan pada saat hitungan berakhir ia berkata dingin, “Kalau tidak ada yang dibicarakan, sebaiknya saya pulang.” Ren berdiri dan saat itulah Jason bereaksi.
“Maaf!” serunya buru-buru. “Maaf, Serena, duduk dulu,” ia menahan Ren.
Ren tidak mau duduk di kursinya. Ia malah menatap dosennya itu sejenak sebelum berkata, “Saya sudah datang di sini dan anda bukannya langsung bicara tapi malah diam. Kalau anda tahu, bukan hanya anda saja yang sibuk, tapi saya juga sibuk. Dan anda sudah membuang waktu saya dan saya tidak terima itu.”
Pria itu terkejut dengan semburan kejujuran Serena yang tidak terduga. Seharusnya dia sudah tahu kalau cara pikir Serena itu sangat logis. Dari matanya saja ada semburat pemberontakan dan kemarahan yang dingin. Serena mudah diprediksi. Karena itu Jason tersenyum dan kembali menyuruhnya duduk.
“Duduklah, kita akan bicara,” ia hanya perlu meyakinkan gadis itu dengan perbuatan, bukan kata-kata. Jadi ia menatapnya sungguh-sungguh dan menunggu.
Ren diam dan menatapan kesungguhan dibalik ucapannya itu. Akhirnya dia memutuskan untuk duduk dan membuat dirinya santai tapi ia tidak mengajukan pertanyaan apapun. Ia hanya diam.
Jason paham. Gadis itu sedang marah dan ia tahu kalau itu gara-gara dia. Memang benar apa yang dikatakan Ren dan ia sudah memaksa Ren untuk datang hari ini.
“Aku menunggumu dari pagi. Apa kamu lupa janji hari ini?” tanyanya pada Ren dan ia langsung mendapati tatapan tidak suka dan wajah tak percaya dari Ren.
“Saya justru ingin mengajukan pertanyaan yang sama dengan anda,” balas Ren dengan nada yang dibuat setenang mungkin.
Jernih tapi menakutkan.
“Kenapa?”
“Saya justru bertanya-tanya kenapa anda seperti menuduh saya yang lupa janji?”
Jason tidak menyangka kalau gadis ini mencoba membuatnya kesal. Tapi ia tidak termakan. Ia masih bisa tenang dan ketenangan adalah inti dari dirinya. Jadi ia mencoba meluruskan masalah ini selayaknya meluruskan salah paham yang terjadi antara orang tua yang bijak dengan anak yang bisa meledak semaunya.
“Saya kira kamu lupa kalau hari ini ada janji. Jadi saya menunggu di sini dari pagi,” Jason mencoba menjelaskannya dengan pelan dan baik.
Tapi Ren justru tertawa dengan nada mencemooh, “Seingat saya kita harus bertemu pukul delapan.”
“Ya.”
“Dan saya ada di sini jam segitu.”
“Oh ya?”
“Dan anda tidak ada.”
“Maaf, saya terjebak macet dan –”
“Anda tidak memberi kabar.”
Dan Jason terdiam. Serangan yang tepat. Ia sama sekali tidak percaya kalau Ren akan datang tepat pada jam yang ia tentukan.
“Buat apa saya menunggu anda? Saya sudah menoleransi selama lima menit tapi anda belum datang juga,” Ren berkata dingin. “Saya juga tahu kalau saya hampir terlambat tapi saya akhirnya datang tepat  waktu. Jam delapan, tidak kurang, tidak lebih.”
Jason salah. Ren tidak histeris tapi tidak histeris justru lebih menakutkan dari apapun juga. Gadis ini logis. Ia keras kepala dan sangat disiplin waktu. Tapi dibalik itu semua ia menarik dan berbeda. Mata gadis itu menatapnya tajam, gelap, dan siap mencabik-cabiknya jika ia salah bicara.
“Maaf…” Jason minta maaf, berpikir kalau itu memang salahnya dan salah satu cara yang aman demi mencapai tujuannya, “Saya pikir kamu juga akan telat jadi –”
“Menyamakanku dengan orang lain, ya?” tanya Ren tidak percaya. Ia mengangguk paham tanda cukup tahu dengan tingkah dosennya ini. “Harusnya anda tahu watak murid anda sendiri. Jangan cari alasan kalau mahasiswa anda itu banyak, saya tidak terima itu. Dan satu lagi, jika ingin berurusan dengan saya, anda juga harus memakai aturan saya karena anda yang membutuhkan saya, bukan sebaliknya,” tegasnya sambil berdiri pergi.
Ia sama sekali tidak berminat dengan pertemuan ini.

You Might Also Like

0 comments: