She #10 - Rain
Sepertinya Charlie punya insting tajam.
Sejam setelah sambungan telepon internet mereka terputus, ponsel Ren berbunyi
dan menampilkan nama dosen yang membuatnya kesal sepanjang hari itu.
Ia membiarkannya sejenak dan akhirnya
mengangkatnya karena si peneleponnya masih keras kepala menunggu.
“Hola?”
sapa Ren dengan logat Spanyol-nya.
“Halo? Dengan Serena?”
Tentu
saja, bodoh! Ini ponselku, bukan orang lain!
Rasanya ia sangat tergoda mengatakan itu padanya tapi ia tak tega juga.
Akhirnya Ren menjawab, “Si,” jawab
Ren lagi dengan bahasa yang sama.
“Ah, ya. Kamu masih marah?”
Ren diam.
“Oh. Maafkan saya. Saya tidak bermaksud
menyinggungmu. Saya tahu saya salah dan saya harap kamu bisa memaafkan saya.”
Ren diam lagi.
“Serena?”
Ia jengah karena tak biasa ada orang
yang memanggi namanya selengkap itu. “Ren,” akhirnya dia bicara. “Cukup Ren.”
“Oh, baiklah,” ia diam sebentar sebelum
nada ragu-ragu itu muncul saat ia memanggil namanya, “Ren.”
Bagus. Kenapa suasananya jadi canggung?
“Ya,” Ren menyahut dengan nada tidak
peduli.
“Ayolah… Jangan ngambek begitu.”
Ren mengerut heran, “Aku nggak ngambek.”
“Tapi nadamu begitu. Apa saya perlu
datang untuk minta maaf lagi?”
“Oh ya? Memangnya bisa?” tantang Ren.
“Mana alamat kosan mu?” pintanya.
Ren tertawa. Ini konyol dan dia harus
mengakhirinya sebelum telepon ini jadi sia-sia. “Oke, oke, Pak. Memangnya ada
perlu apa?” tanyanya sekarang, mencoba terdengar sedikit ceria.
“Nah, sekarang berubah lagi.”
Ren tidak habis pikir kalau orang ini
sangat menyebalkan. Ia sudah memberi jalan untuk mempermudah pembicaraan tapi
dia membelokkannya dengan sukses.
“Kalau nggak ada urusan, jangan
menelepon!” tegas Ren kesal.
“Oke, oke. Kita langsung saja ke
topiknya,” katanya buru-buru takut kalau Ren membanting ponselnya sendiri dan
setelah itu ia takkan punya kesempatan untuk menyampaikan maksudnya. “Jadi saya
punya proyek yang harus saya selesaikan selama tiga bulan ini. Saya mau kamu
ikut dalam proyek ini,” tawarnya.
Ren menegang. Ia sama sekali tidak
menyangka kalau ia akan ditawarkan ikut sebuah proyek. Ini seperti mimpi.
Bukankah yang namaya proyek itu hanya diberikan kepada orang-orang yang kemampuan
intelektualnya sudah terbukti mumpuni? Ipk tinggi? Dan aktif di organisasi?
Ketiga kriteria itu seperti mimpi di siang bolong bagi Ren. Dan ia tahu kalau ia
sebenarnya pesimis dengan lamarannya itu.
Ipk-nya termasuk biasa-biasa saja, tidak
jelek tapi di atas batas minimun penerimaan beasiswa jalur prestasi. Ia ragu
kalau dia seorang yang mumpuni dan ia sama sekali tidak aktif di organisasi. Jadi
kenapa kesempatan yang paling diimpikan semua umat mahasiswa di muka bumi itu
datang padanya?
“Tentu saja saya akan membantu dan tentu
saja ada jatah kompensasi jika kamu mau ikut,” ia masih membacakan penawaran
itu. “Bagaimana, Ren?” tanya pria itu
lagi.
“Kenapa saya?” tanya Ren ingin tahu
alasannya. Satu pertanyaan klasik itu pasti muncul dibenak siapa saja yang
masih tidak percaya kalau dirinya dianggap berkompeten memegang misi suci.
“Karena saya tahu kalau kamu berani,
logis, dan penuh perhitungan. Kamu juga pintar dan pandai mengambil alih
situasi dengan bagus. Satu lagi, kamu suka tantangan,” jawabnya lancar.
Apa dosen itu sudah mengobservasinya?
Secepat itu? Ren bahkan tidak terlalu yakin kalau ia punya sifat-sifat itu.
“Saya yakin kalau kamu mengikuti proyek
ini, maka proyek ini akan sukses besar.”
Ren mengerutkan dahinya, “Jadi kalau
saya tidak ikut berarti proyek ini akan gagal total? Begitu?”
Mr.Jason tertawa mendengarnya. “Bukan
begitu juga, Ren, tapi saya tahu kalau kamu cocok berada dalam proyek ini.
Bagaimana?”
“Saya nggak tahu inti proyeknya seperti
apa.”
“Bagaimana kalau kita bertemu dan
membicarakannya panjang lebar?” tawarnya.
Dan kali ini Ren tertawa sebelum berkata
serius, “Memangnya anda akan tepat waktu?”
Mr.Jason tidak tersinggung. Ia justru
menjawab, “Pasti. Aku pasti akan tepat waktu.”
“Bagaimana kalau tidak?”
“Kamu nggak usah mempertimbangkan
keikutsertaanmu lagi dalam proyek ini.”
Menggiurkan, pikir Ren. Ia tahu kalau
dia memang diharapkan dan itu terlihat dari kemauan si dosen – yang walau belum
teruji pasti – sudah menganjurkan saran yang bagus.
“Oke. Di mana, kapan, jam berapa?” tanya
Ren sambil menyambar satu agenda jadwal janjinya.
“Besok, jam delapan di jurusan.”
“Jam delapan, di jurusan?” ulang Ren.
“Ya,” jawabnya pasti.
“Oke, sampai jumpa besok.”

0 comments: