She #10 - Rain

11:49 AM fe 0 Comments



Sepertinya Charlie punya insting tajam. Sejam setelah sambungan telepon internet mereka terputus, ponsel Ren berbunyi dan menampilkan nama dosen yang membuatnya kesal sepanjang hari itu.
Ia membiarkannya sejenak dan akhirnya mengangkatnya karena si peneleponnya masih keras kepala menunggu.
“Hola?” sapa Ren dengan logat Spanyol-nya.
“Halo? Dengan Serena?”
Tentu saja, bodoh! Ini ponselku, bukan orang lain! Rasanya ia sangat tergoda mengatakan itu padanya tapi ia tak tega juga. Akhirnya Ren menjawab, “Si,” jawab Ren lagi dengan bahasa yang sama.

“Ah, ya. Kamu masih marah?”
Ren diam.
“Oh. Maafkan saya. Saya tidak bermaksud menyinggungmu. Saya tahu saya salah dan saya harap kamu bisa memaafkan saya.”
Ren diam lagi.
“Serena?”
Ia jengah karena tak biasa ada orang yang memanggi namanya selengkap itu. “Ren,” akhirnya dia bicara. “Cukup Ren.”
“Oh, baiklah,” ia diam sebentar sebelum nada ragu-ragu itu muncul saat ia memanggil namanya, “Ren.”
Bagus. Kenapa suasananya jadi canggung?
“Ya,” Ren menyahut dengan nada tidak peduli.
“Ayolah… Jangan ngambek begitu.”
Ren mengerut heran, “Aku nggak ngambek.”
“Tapi nadamu begitu. Apa saya perlu datang untuk minta maaf lagi?”
“Oh ya? Memangnya bisa?” tantang Ren.
“Mana alamat kosan mu?” pintanya.
Ren tertawa. Ini konyol dan dia harus mengakhirinya sebelum telepon ini jadi sia-sia. “Oke, oke, Pak. Memangnya ada perlu apa?” tanyanya sekarang, mencoba terdengar sedikit ceria.
“Nah, sekarang berubah lagi.”
Ren tidak habis pikir kalau orang ini sangat menyebalkan. Ia sudah memberi jalan untuk mempermudah pembicaraan tapi dia membelokkannya dengan sukses.
“Kalau nggak ada urusan, jangan menelepon!” tegas Ren kesal.
“Oke, oke. Kita langsung saja ke topiknya,” katanya buru-buru takut kalau Ren membanting ponselnya sendiri dan setelah itu ia takkan punya kesempatan untuk menyampaikan maksudnya. “Jadi saya punya proyek yang harus saya selesaikan selama tiga bulan ini. Saya mau kamu ikut dalam proyek ini,” tawarnya.
Ren menegang. Ia sama sekali tidak menyangka kalau ia akan ditawarkan ikut sebuah proyek. Ini seperti mimpi. Bukankah yang namaya proyek itu hanya diberikan kepada orang-orang yang kemampuan intelektualnya sudah terbukti mumpuni? Ipk tinggi? Dan aktif di organisasi? Ketiga kriteria itu seperti mimpi di siang bolong bagi Ren. Dan ia tahu kalau ia sebenarnya pesimis dengan lamarannya itu.
Ipk-nya termasuk biasa-biasa saja, tidak jelek tapi di atas batas minimun penerimaan beasiswa jalur prestasi. Ia ragu kalau dia seorang yang mumpuni dan ia sama sekali tidak aktif di organisasi. Jadi kenapa kesempatan yang paling diimpikan semua umat mahasiswa di muka bumi itu datang padanya?
“Tentu saja saya akan membantu dan tentu saja ada jatah kompensasi jika kamu mau ikut,” ia masih membacakan penawaran itu.  “Bagaimana, Ren?” tanya pria itu lagi.
“Kenapa saya?” tanya Ren ingin tahu alasannya. Satu pertanyaan klasik itu pasti muncul dibenak siapa saja yang masih tidak percaya kalau dirinya dianggap berkompeten memegang misi suci.
“Karena saya tahu kalau kamu berani, logis, dan penuh perhitungan. Kamu juga pintar dan pandai mengambil alih situasi dengan bagus. Satu lagi, kamu suka tantangan,” jawabnya lancar.
Apa dosen itu sudah mengobservasinya? Secepat itu? Ren bahkan tidak terlalu yakin kalau ia punya sifat-sifat itu.
“Saya yakin kalau kamu mengikuti proyek ini, maka proyek ini akan sukses besar.”
Ren mengerutkan dahinya, “Jadi kalau saya tidak ikut berarti proyek ini akan gagal total? Begitu?”
Mr.Jason tertawa mendengarnya. “Bukan begitu juga, Ren, tapi saya tahu kalau kamu cocok berada dalam proyek ini. Bagaimana?”
“Saya nggak tahu inti proyeknya seperti apa.”
“Bagaimana kalau kita bertemu dan membicarakannya panjang lebar?” tawarnya.
Dan kali ini Ren tertawa sebelum berkata serius, “Memangnya anda akan tepat waktu?”
Mr.Jason tidak tersinggung. Ia justru menjawab, “Pasti. Aku pasti akan tepat waktu.”
“Bagaimana kalau tidak?”
“Kamu nggak usah mempertimbangkan keikutsertaanmu lagi dalam proyek ini.”
Menggiurkan, pikir Ren. Ia tahu kalau dia memang diharapkan dan itu terlihat dari kemauan si dosen – yang walau belum teruji pasti – sudah menganjurkan saran yang bagus.
“Oke. Di mana, kapan, jam berapa?” tanya Ren sambil menyambar satu agenda jadwal janjinya.
“Besok, jam delapan di jurusan.”
“Jam delapan, di jurusan?” ulang Ren.
“Ya,” jawabnya pasti.
“Oke, sampai jumpa besok.”

You Might Also Like

0 comments: