She #7 - Rain

11:43 AM fe 0 Comments



Ren menguap saat melihat jam tangannya.
Pukul setengah empat sore dan ia sudah memutuskan untuk kembali ke kampus menjumpai sang dosen. Ia masih belum puas marah-marah. Lagi pula akan sangat memuaskan jika ia langsung mengucapkan semua kekesalannya itu langsung di depan wajah si dosen.
Sepertinya rasa marahnya menutup rasa gamangnya sendiri. Namun pada saat ia siap melakukan aksi dingin elegannya itu ponselnya justru berdering. Nama Charlie tertera di display ponselnya dan ia terpaksa mengangkatnya.

“Yosh!” sapa Ren saat menyapa temannya itu.
“Peace, Ren. I don’t mind if  you angry now but don’t talk to me if you’re not ready to calm down, ok?” suara Charlie langsung terdengar pasrah di ujung telepon sana.
 Dengan logat Amerika-nya yang sempurna saja sudah membuat Ren merasa harus segera menenangkan tangannya yang gatal ingin melabrak sang dosen. Tapi ia tahu kalau Charlie sudah terlalu mengenal dirinya dan hanya dengan ucapan “Yosh!” itu saja artinya dia sedang dalam keadaan marah dan tak ingin diganggu.
“What do you want?” tanya Ren sambil bersandar di dinding yang dingin. Ia harus berkalimat bahasa asing agar temannya ini puas sekarang.
“Aku meneleponmu jauh-jauh dari Amerika bukan untuk membuatmu jengkel, teman,” kata Charlie senang. “Kau tahu? Aku mendapatkannya! Aku mendapatkannya!” teriaknya senang.
Ren merasa kesal sekarang karena ia tahu kalau Charlie bisa saja bicara banyak hal sekarang dengan sambungan internasional yang makan banyak biaya.
“Oke. Apa yang kau dapatkan?” tanyanya.
“Kunci! Aku mendapatkan kunci perpustakaan dari Mr.Otis yang temperamen itu!” teriaknya senang lagi.
“Selamat,” ucap Ren dingin.
“Bukan hanya aku, Feria juga dapat,” umumnya.
Feria adalah teman Charlie saat ia tinggal dulu di sana sebelum menetap di Indonesia, seorang anak Amerika yang juga sempurna bahasa Indonesia-nya seperti Charlie. Tapi Ren sedang tidak bisa merasakan euforia itu sekarang. Ia membuat telepon temannya itu menjadi sia-sia.
“Oke,” Charlie seolah paham dengan apa yang terjadi pada diri Ren, “Akan kutelepon lagi nanti kalau kau sudah selesai dengan masalah mu. Bye,” dan sambungan itu terputus begitu saja sebelum Ren sempat menjawabnya.
Ren tidak ambil pusing soal itu. Ia tidak perlu minta maaf karena Charlie meneleponnya disaat yang salah. Paling ia akan menerima teleponnya nanti saat ia memastikan kalau akun skype nya menyala jika dirinya sudah tenang. Dan hanya itu yang perlu Charlie lakukan, mengecek siapa saja yang online dan menghubunginya.
Charlie sudah hafal betul wataknya.
Dan kali ini dengan merdeka ia kembali berjalan ke ruang dosen untuk menunjukkan rasa kesalnya secara terang-terangan.

You Might Also Like

0 comments: