She #7 - Rain
Ren menguap saat melihat jam tangannya.
Pukul setengah empat sore dan ia sudah
memutuskan untuk kembali ke kampus menjumpai sang dosen. Ia masih belum puas
marah-marah. Lagi pula akan sangat memuaskan jika ia langsung mengucapkan semua
kekesalannya itu langsung di depan wajah si dosen.
Sepertinya rasa marahnya menutup rasa
gamangnya sendiri. Namun pada saat ia siap melakukan aksi dingin elegannya itu
ponselnya justru berdering. Nama Charlie tertera di display ponselnya dan ia terpaksa mengangkatnya.
“Yosh!” sapa Ren saat menyapa temannya
itu.
“Peace,
Ren. I don’t mind if you angry now but
don’t talk to me if you’re not ready to calm down, ok?”
suara Charlie langsung terdengar pasrah di ujung telepon sana.
Dengan logat Amerika-nya yang sempurna saja
sudah membuat Ren merasa harus segera menenangkan tangannya yang gatal ingin
melabrak sang dosen. Tapi ia tahu kalau Charlie sudah terlalu mengenal dirinya
dan hanya dengan ucapan “Yosh!” itu saja artinya dia sedang dalam keadaan marah
dan tak ingin diganggu.
“What
do you want?” tanya Ren sambil bersandar di
dinding yang dingin. Ia harus berkalimat bahasa asing agar temannya ini puas
sekarang.
“Aku meneleponmu jauh-jauh dari Amerika
bukan untuk membuatmu jengkel, teman,” kata Charlie senang. “Kau tahu? Aku
mendapatkannya! Aku mendapatkannya!” teriaknya senang.
Ren merasa kesal sekarang karena ia tahu
kalau Charlie bisa saja bicara banyak hal sekarang dengan sambungan
internasional yang makan banyak biaya.
“Oke. Apa yang kau dapatkan?” tanyanya.
“Kunci! Aku mendapatkan kunci
perpustakaan dari Mr.Otis yang temperamen itu!” teriaknya senang lagi.
“Selamat,” ucap Ren dingin.
“Bukan hanya aku, Feria juga dapat,”
umumnya.
Feria adalah teman Charlie saat ia
tinggal dulu di sana sebelum menetap di Indonesia, seorang anak Amerika yang
juga sempurna bahasa Indonesia-nya seperti Charlie. Tapi Ren sedang tidak bisa
merasakan euforia itu sekarang. Ia membuat telepon temannya itu menjadi
sia-sia.
“Oke,” Charlie seolah paham dengan apa
yang terjadi pada diri Ren, “Akan kutelepon lagi nanti kalau kau sudah selesai
dengan masalah mu. Bye,” dan
sambungan itu terputus begitu saja sebelum Ren sempat menjawabnya.
Ren tidak ambil pusing soal itu. Ia
tidak perlu minta maaf karena Charlie meneleponnya disaat yang salah. Paling ia
akan menerima teleponnya nanti saat ia memastikan kalau akun skype nya menyala jika dirinya sudah
tenang. Dan hanya itu yang perlu Charlie lakukan, mengecek siapa saja yang
online dan menghubunginya.
Charlie sudah hafal betul wataknya.
Dan kali ini dengan merdeka ia kembali
berjalan ke ruang dosen untuk menunjukkan rasa kesalnya secara terang-terangan.

0 comments: