She #6 - Rain
Ren, seperti yang diterka Sherly, punya
pikirannya sendiri. Dia sama sekali tidak mau kalah dengan pendapat yang dia
anggap benar. Dia tidak seperti cewek kebanyakan. Penampilannya tomboy,
berantakan, cenderung cuek, seenaknya, dan tidak peduli apa kata orang. Dia
orang yang menantang dunia dengan meninggalkan bedak, lip ice, dan lip gloss di
dalam kamar, lalu keluar sambil memakai jaket, jeans, sepatu, dan tas sandang
samping.
Sherly bertanya-tanya, sudah berapa lama
dia seperti itu?
Semua orang menganggap Serena
menyeramkan, termasuk dirinya. Jika diam dia seperti orang yang mengambil
ancang-ancang untuk mengamuk. Jika beragumen, dia paling keras kepala. Jika
tertawa, dia baru terlihat berbeda. Tak jarang wajahnya kumal hanya gara-gara
memilih jalan kaki dari satu kampus ke kampus lainnya.
Tapi Ren tetap manusia biasa yang bisa
mengeluh! Hebat! Dia mengeluh saat jiwa kewanitaannya terusik. Bukannya apa-apa
hanya saja ia kadang merasa risih juga karena belum ada orang yang secara
khusus mendekatinya. Ren juga bukan orang yang kuat menahan rasa sakit di perut
dan kakinya. Ia juga lebih gampang cedera dibandingkan siapapun juga. Parahnya
dia juga sangat suka tidur dan itu merupakan kegiatan bernilai mistis tinggi di
hidupnya.
Ren memang tukang tidur sekalipun dia
sama sekali tidak bisa tidur di kelas walau sangat ingin melakukannya.
“Pertama kali gue tidur di ruang publik
itu waktu ngantarin ibu kosan gue ke rumah sakit. Kami nunggu berjam-jam!
Heran! Dokternya ngapain pasien sih di dalam?” cerita Ren kesal saat mereka
makan siang di food court sambil memainkan pulpennya di tangannya. “Tahu nggak?
Gue dan ibu kosan gue udah ngantri dari pagi buta! Kami pergi dari pagi buta,
ngantri, dan dipanggil jam sebelasan. Heran. Ternyata di Indonesia yang sakit
jantung banyak juga,” ia menggeleng-gelengkan kepalanya sekarang.
“Oh ya? Terus gimana?” tanya Sherly
memancing cerita itu untuk tetap berlanjut.
“Seharusnya sih gue nggak usah tidur,
toh ada TV di sana. Tapi dasar ya, orang kita itu memang suka buat berita yang
diulang-ulang selama setengah hari,” Ren takkan puas membuka tabiat orang
Indonesia yang aneh tapi nyata yang juga artinya dia protes keras dengan
kehidupan bangsa yang tidak maju-maju sementara kita harus maju.
“Maksudnya?”
“Masa cerita tentang bebasnya Ariel
diputar selama setengah hari di TV?” kali ini dia meledak. “Nggak ada berita
lain apa? Gue tahu kalau orang itu memang punya banyak penggemar tapi ngapain mutar
berita yang sama berkali-kali. Jujur! Gue pingin muntah! Orang kita itu nggak
efisien, tahu! Kalau dia mau keluar penjara, ya udah kenapa nggak pas mau
keluar penjara aja acaranya di putar. Daaannn… sekalipun gue pindah ke poli
anak, berita yang sama di putar juga di sana. Nggak ada TV yang mutar channel
lain. Kalau pun ada isinya sama!”
Sherly menghela napas, “Kan mereka semua
nunggu-nunggu hal itu, Ren. Kalau nggak, beritanya pasti nggak akan masuk headline news kan?” Sherly berpikir
rasional sekarang. Seharusnya Ren tidak tinggal di Indonesia, tapi di Eropa
saja. Segala jenis keteraturan yang lebih teratur ada di sana. Tapi kenapa
orang aneh ini nyasar lahir dan besar di sini?
Tuhan memang bertindak aneh.
“Kita ini kurang konsumsi berita yang
berbobot,” Ren masih berkicau, “Dan kita ini dikelilingi oleh berita-berita
nggak penting yang bertebaran di sana sini,” lalu matanya tiba-tiba terarah ke
arah layar televisi yang sedang menayangkan berita infotaiment selebriti tanah
air.
Sherly mengikuti arah tatapan matanya.
Di sana sedang ada tayangan seorang artis yang sedang membongkar isi kopernya
dan memperlihatkan barang-barang yang akan dia bawa keluar negeri.
“Dan,” Ren masih belum selesai,
“pelajaran moral apa yang didapat masyarakat saat si artis pamer isi koper?
Berita nggak penting!”
Sherly menghela napasnya tanda sudah
biasa.
Sebenarnya hari ini Ren sedang kesal
karena itu mulutnya tidak bisa ditahan barang sejenak. Jika ia kesal maka
segala hal tampak salah dimatanya dan Sherly ada di sini tidak lain dan tidak
bukan hanya sebagai pendengarnya. Tidak usah berdebat karena jika berdebat maka
semuanya akan menjadi panjang dan lama.
Mungkin sebaiknya dia tidak mengajak Ren
makan siang di sini. Hanya karena Neno tidak bisa datang makanya ia tak punya
pilihan lain. Ia juga tahu kalau sekarang Ren bingung apa akan kembali ke
kampus atau tidak. Yang jelas ia tahu kalau dosen mereka itu akan menunggunya.
“Jadi coba katakan apa yang membuat lu
rugi pagi ini,” Sherly memutuskan untuk mengubah topik pembicaraan dari pada ia
harus mendengar banyaknya kesalahan orang pribumi di matanya.
“Tidur!” ia mengangkat tangannya. “Gue
sedang tidur nyenyak saat akhirnya gue sadar kalau gue telat. Lu tahu kan kalau
sekarang akhir bulan dan dompet gue menipis? Gue nggak bisa makan macam-macam
karena gue tahu yang paling aman cuma beli steak harga paket dan selalu begitu.
Pagi ini gue udah bela-belain buat ngejar waktu janji jam delapan. Gue pakai
ojeg. Bayangkan, gue pakai ojeg!”
Sherly manggut-manggut.
“Dan gue datang tepat jam delapan di
jurusan dan nggak ada siapa-siapa di sana. Pintu jurusan masih dikunci dan gue
nunggu lima menit penuh sendirian. Gue lapar. Gue belum makan. Gue haus. Setelah
itu gue pergi makan di kantin. Oh, kalau tahu gini mending gue tidur!”
“Lu kebanyakan tidur. Kurangi itu!” kata
Sherly.
“Gue sedang berusaha sekuat tenaga tapi
lu tahu kan kalau gue nggak bisa tidur malam secepat itu.”
“Rubah itu.”
“Oke, nanti.”
Sherly memutar matanya tanda ia jengkel
kalau Ren terlalu cepat menjawab. Dengan kesal ia berkata, “Lu bisa kan
toleransi sedikit sama dia?”
“Toleransi gue cuma lima menit.”
Sherly tahu kalau ia masih membahas
antara hak, kewajiban, dan rasa kasihan pada Ren maka ia akan kalah telak. Ren
terlalu keras kepala dan pikirannya berputar cepat untuk mencari alasan-alasan
pembenaran tindakannya dengan masuk akal.
Apa lagi yang bisa dilakukannya selain
mengajukan pertanyaan yang bisa membuat Ren berpikir sejenak? Akhirnya Sherly
bertanya, “Nah, lu tetap datang ke sana? Dia nunggu lho.”
Sesuai dengan perkiraan Sherly, Ren
tidak langsung menjawab. Ia berpikir dan mempertimbangkan banyak hal yang
mengganggunya.
“Nggak tahu,” jawab Ren pelan.
“Pikirkan itu dulu.”
Akhirnya kedamaian itu tiba juga pada
Sherly. Ia tak perlu mendengar ocehan Ren lagi dan mulai menikmati makanannya. Ren
diam sambil menikmati makanannya juga. Namun jawaban yang Sherly tunggu-tunggu
tidak muncul juga sampai-sampai mereka keluar dan berjalan keluar gedung Town Square yang denahnya mirip kapal itu.
Tapi saat mereka melintasi pangkalan
ojeg dan seorang tukang ojeg mengkode mereka untuk naik ojegnya, Ren menghela
napasnya dan berhenti.
“Jason sialan!”
Sherly tersenyum.

0 comments: