She #5 - Rain

11:40 AM fe 0 Comments



Tidak perlu menceritakan semuanya pada Sherly tentang masalah yang dialaminya pagi ini. Ia sudah menyimpan semua daftar bertema “hal yang terbuang sia-sia” dalam hatinya. Tapi Sherly ahli dalam hal bujuk membujuk sehingg bagi Ren yang sudah kehilangan topik bicara, akhirnya cerita itu meluncur juga dari mulutnya dan temannya itu tertawa sekaligus terperangah tidak menyangka.
“Bodoh! Jadi sekarang Lu di mana?” tanya Sherly di telepon.
“Di kantin, lah… Di mana lagi? Memangnya gue mau balik? Rugi!” Ren sedang sarapan di kantin karena tidak sempat sarapan di kosannya.
“Bodoh! Balik sono! Lu nggak hormat banget sama dia!”
Dan Ren tertawa kurang ajar, “Memang dia siapa? Dewa?”

“Dia dosen, tahu! Dosen! Bukan teman lu, bukan saudara lu! Lu mau nilai lu anjlok gara-gara dia?” Sherly meradang, Ren bertahan.
“Mari kita perjelas, sayang,” bahasa menyebalkan itu keluar lagi dari Ren yang sedang merasa di atas angin, “Yang namanya pendidikan di sini itu nggak lebih dari sekedar masalah jual beli. Ada uang, lu bisa masuk sekolah. Ada uang, lu bisa beli kursi. Ada uang, lu bisa lulus. Ada uang, lu bisa melakukan apapun! Jurusan ini, kampus ini, universitas ini… semuanya pakai duit kita. Gue akan lebih hormat sama orang yang menghargai kreativitas, waktu, dan dedikasinya tanpa berbuat sewenang-wenang. Gue nggak peduli mau si Mr.Jason itu dosen kek, dekan, kek, atau presiden… Gue nggak peduli! Yang jelas gue dah tepat waktu dan dia sama sekali belum datang! Mana bisa gue hormat dan takut sama orang macam itu?”
“Tapi lu harus maklum, lah… Siapa tahu dia ada masalah di jalan atau apa. Kita kan nggak tahu. Lu udah sms dia belum?” tanyanya masih bertahan.
“Lah? Yang butuh siapa? Kenapa harus gue yang sms?”
“Ya ampuuun… Lu tu ya, mikir dikit kek siapa dia.”
“Kan udah gue bilang, dia barusan buat gue rugi! Gue nggak takut sama dia dan memangnya dia itu siapa? Tuhan?”
“Ren!” tegur Sherly cepat.
“Oke, oke. Tenang, Sher… Gue nggak bermaksud nggak hormat. Tapi sayangnya sampai sekarang gue belum dapat sms atau kabar apapun dari dia. Nggak salah kan kalau gue pergi? Ngapain gue duduk di sana sedangkan gue butuh makan. Gue lapar.”


Sepuluh menit setelah ia menghabiskan semua makanannya, akhirnya ada satu pesan dari beliau masuk ke ponselnya.

Ren, kamu di mana? Sekarang saya di kantor. Saya harap kamu bisa datang sekarang.

Ren meringis membaca pesan itu. Tidak ada kata maaf atau apapun yang menyatakan kalau dia bersalah! Ren berpikir, mencoba mencari satu jawaban yang bisa membuat orang itu malu pada dirinya sendiri dan juga malu pada Ren.
“Cih! Jangan main-main denganku, Pak Tua. Lu pikir gue siapa?” gumamnya jengkel sambil menatap sinis ponselnya. Ia segera mengetik:

Maaf, pak. Saya tadi sudah nunggu bapak tapi bapak nggak datang-datang juga. Sekarang saya nggak di kampus. Saya ada urusan lain.

Send.
Ren menatap ponselnya. Ia masih tetap bertahan di kantin agar tidak ketahuan kalau sebenarnya ia masih di kampus. Tak lama kemudian satu pesan baru masuk.

Kalau gitu saya tunggu kamu di sini. Kalau sudah selesai bisa langsung ke sini? Saya benar-benar butuh bantuan kamu.

Ren terkejut mendapat balasan itu. Bapak itu benar-benar nggak patah semangat juga rupanya. Tapi tetap saja Ren tidak suka. Bukannya minta maaf tapi malah balik maksa.

Saya nggak janji bisa balik cepat, pak. Lebih baik bapak nggak usah nunggu karena saya lagi di luar kampus.

Ren mengetiknya dengan penuh rasa jengkel. Ia menggertakkan giginya, sama sekali tidak mau menambahkan kata “maaf” karena tidak bisa datang secepat yang diinginkan orang itu. Dan ia sama sekali tidak peduli dengan masalah itu karena pria itu juga keras kepala.
Oh! Pecinta wanita tipe ondel-ondel itu bisa keras kepala juga rupanya. Yah, tentu saja mengingat seleranya yang aneh dan bertentangan dengan akal sehat Ren sendiri maka Ren merasa tidak begitu heran kalau pria ini memang akan mati-matian mempertahankan pendapatnya.
Ponselnya berdering lagi dan Ren tercengang membacanya. Isinya:

  Nggak apa. Saya tunggu di sini.

Apa sih maunya?

You Might Also Like

0 comments: