She #5 - Rain
Tidak perlu menceritakan semuanya pada Sherly tentang
masalah yang dialaminya pagi ini. Ia sudah menyimpan semua daftar bertema “hal
yang terbuang sia-sia” dalam hatinya. Tapi Sherly ahli dalam hal bujuk membujuk
sehingg bagi Ren yang sudah kehilangan topik bicara, akhirnya cerita itu
meluncur juga dari mulutnya dan temannya itu tertawa sekaligus terperangah
tidak menyangka.
“Bodoh! Jadi sekarang Lu di mana?” tanya Sherly di telepon.
“Di kantin, lah… Di mana lagi? Memangnya gue mau balik?
Rugi!” Ren sedang sarapan di kantin karena tidak sempat sarapan di kosannya.
“Bodoh! Balik sono! Lu nggak hormat banget sama dia!”
Dan Ren tertawa kurang ajar, “Memang dia siapa? Dewa?”
“Dia dosen, tahu! Dosen! Bukan teman lu, bukan saudara lu!
Lu mau nilai lu anjlok gara-gara dia?” Sherly meradang, Ren bertahan.
“Mari kita perjelas, sayang,” bahasa menyebalkan itu keluar
lagi dari Ren yang sedang merasa di atas angin, “Yang namanya pendidikan di
sini itu nggak lebih dari sekedar masalah jual beli. Ada uang, lu bisa masuk
sekolah. Ada uang, lu bisa beli kursi. Ada uang, lu bisa lulus. Ada uang, lu
bisa melakukan apapun! Jurusan ini, kampus ini, universitas ini… semuanya pakai
duit kita. Gue akan lebih hormat sama
orang yang menghargai kreativitas, waktu, dan dedikasinya tanpa berbuat
sewenang-wenang. Gue nggak peduli mau si Mr.Jason itu dosen kek, dekan, kek,
atau presiden… Gue nggak peduli! Yang jelas gue dah tepat waktu dan dia sama
sekali belum datang! Mana bisa gue hormat dan takut sama orang macam itu?”
“Tapi lu harus maklum, lah… Siapa tahu dia ada masalah di
jalan atau apa. Kita kan nggak tahu. Lu udah sms dia belum?” tanyanya masih
bertahan.
“Lah? Yang butuh siapa? Kenapa harus gue yang sms?”
“Ya ampuuun… Lu tu ya, mikir dikit kek siapa dia.”
“Kan udah gue bilang, dia barusan buat gue rugi! Gue nggak
takut sama dia dan memangnya dia itu siapa? Tuhan?”
“Ren!” tegur Sherly cepat.
“Oke, oke. Tenang, Sher… Gue nggak bermaksud nggak hormat.
Tapi sayangnya sampai sekarang gue belum dapat sms atau kabar apapun dari dia.
Nggak salah kan kalau gue pergi? Ngapain gue duduk di sana sedangkan gue butuh
makan. Gue lapar.”
Sepuluh menit setelah ia menghabiskan semua makanannya,
akhirnya ada satu pesan dari beliau masuk ke ponselnya.
Ren, kamu di mana?
Sekarang saya di kantor. Saya harap kamu bisa datang sekarang.
Ren meringis membaca pesan itu. Tidak ada kata maaf atau
apapun yang menyatakan kalau dia bersalah! Ren berpikir, mencoba mencari satu
jawaban yang bisa membuat orang itu malu pada dirinya sendiri dan juga malu
pada Ren.
“Cih! Jangan main-main denganku, Pak Tua. Lu pikir gue
siapa?” gumamnya jengkel sambil menatap sinis ponselnya. Ia segera mengetik:
Maaf, pak. Saya tadi sudah nunggu bapak tapi bapak
nggak datang-datang juga. Sekarang saya nggak di kampus. Saya ada urusan lain.
Send.
Ren menatap ponselnya. Ia masih tetap bertahan di kantin
agar tidak ketahuan kalau sebenarnya ia masih di kampus. Tak lama kemudian satu
pesan baru masuk.
Kalau gitu saya tunggu kamu di
sini. Kalau sudah selesai bisa langsung ke sini? Saya benar-benar butuh bantuan
kamu.
Ren terkejut mendapat balasan itu. Bapak itu benar-benar
nggak patah semangat juga rupanya. Tapi tetap saja Ren tidak suka. Bukannya
minta maaf tapi malah balik maksa.
Saya nggak janji bisa balik
cepat, pak. Lebih baik bapak nggak usah nunggu karena saya lagi di luar kampus.
Ren mengetiknya dengan penuh rasa jengkel. Ia menggertakkan
giginya, sama sekali tidak mau menambahkan kata “maaf” karena tidak bisa datang
secepat yang diinginkan orang itu. Dan ia sama sekali tidak peduli dengan
masalah itu karena pria itu juga keras kepala.
Oh! Pecinta wanita tipe ondel-ondel itu bisa keras kepala
juga rupanya. Yah, tentu saja mengingat seleranya yang aneh dan bertentangan
dengan akal sehat Ren sendiri maka Ren merasa tidak begitu heran kalau pria ini
memang akan mati-matian mempertahankan pendapatnya.
Ponselnya berdering lagi dan Ren tercengang membacanya.
Isinya:
Nggak apa.
Saya tunggu di sini.
Apa sih maunya?

0 comments: