She #4 - Rain
“Tugas?” Ren sedang menatap komputernya, satu-satunya benda
yang bisa memberikan hiburan yang layak di kamar kosannya. Sambil sesekali
mengklik mousenya atau menekan tombol page up dan page down, ia membaca cepat
tugas dadakan yang diumumkan disitus jejaring sosial pada page angkatan mereka.
“Terlalu dadakan,” katanya muram.
Mr.Jason baru saja mem-posting sebuah tugas dadakan yang
harus dikumpul dua hari lagi. Isi tugas itu berkaitan dengan materi yang akan
mereka bahas minggu ini. Ren duduk bersandar ke kursinya dan segera menutup
page itu. Ia sedang sensitive dengan segala hal berbau kewajiban dan tugas.
Sambil membuka website lainnya, ia medownload beberapa film
dan lagu yang sudah ia buat daftarnya kemarin. Lalu selama menunggu, ia keluar
membeli makan. Ia putuskan untuk beli bubur ayam favoritnya malam ini. Dengan
kotak styrofoam dan bonus sendok makan plastik, ia bisa makan bubur ayam di
mana saja dengan nyaman sekarang. Yang diperlukan hanya sebotol air mineral
ukuran menengah agar tidak haus atau kepedasan.
Sambil berpikir begitu, ponselnya bergetar.
“Halo?” kata Ren dengan nada dingin karena ia tidak tahu
siapa yang meneleponnya malam-malam begini. Dan ia tidak menerima penelepon
iseng.
“Halo? Apa benar ini dengan Serena?” tanya seorang pria
diseberang sana.
Ren tidak yakin dengan siapa ia bicara. Ia merasa kenal
dengan suara ini… atau suaranya sama dengan dosennya itu? Mr.Jason?
“Ya. Ini dengan Serena,” jawab Ren.
“Saya Jason, dosen mata kuliah psikologi dan komunikasi.”
Nah! Benar ternyata! Ren sama sekali tidak menyangka kalau
dosen itu akan meneleponya malam-malam begini.
“Ada
apa, pak?” tanya Ren sopan setelah tahu siapa yang menelepon.
“Saya ingin besok kita ketemu di ruang dosen pukul delapan.
Ada yang ingin saya bicarakan.”
Ren tersentak. Tentu saja. Apa yang diinginkan oleh si dosen
muda ini? Apa pria itu tahu kalau tadi ia baru saja mengatakan bahwa Mr.Jason
yang terhormat itu suka wanita ala ondel-ondel?
“Oh ya?” Ren gelisah sekarang. “Ada apa ya, Pak?” tanyanya.
“Ada hal penting yang mau saya bicarakan. Pastikan kamu
datang besok,” jawabnya masih merahasiakan maksud pertemuan mereka. “Bisa?”
“Ya… Tapi jelasnya ini tentang masalah apa?” Ren masih
berkeras ingin tahu maksud pertemuan itu.
“Saya tidak bisa menjelaskannya di sini. Besok kita bisa
bicara panjang lebar.”
Ren menyerah, “Oke.”
“Baiklah, selamat malam.”
“Malam…” jawabnya malas lalu memelototi ponselnya.
Dasar tukang paksa!
Dan inilah yang terjadi dalam dunia pendidikan Indonesia…
Bukan itu juga intinya. Inilah yang terjadi dalam masalah tepat dan menepati
janji ala orang Indonesia. Ren termasuk orang yang sangat tepat waktu. Jika ia
merasa terlambat dia akan sekuat tenaga memenuhi janjinya walau itu artinya ia
harus ngebut dengan ojeg yang mengacak-acak penampilan sempurnanya menurut
versinya.
Dan itulah yang terjadi pagi ini.
Ia telat bangun gara-gara begadang semalaman meng-update isi blognya, men-download film rekomendasi temannya, karaoke
sendirian dengan playlist di iTunes
nya dan pada akhirnya ketiduran gara-gara bahu kanannya pegal karena selalu
menyentuh keyboard. Tapi setelat
apapun dia dan sekencang apapun dia berlari, dia tetaplah orang nomor satu yang
datang duluan sebelum si pembuat janji datang.
Pukul delapan lewat semenit. Sudah hampir satu menit penuh
ia menunggu di sini. Harapannya ia bisa langsung masuk dan bertemu dengan si
dosen, tapi kenyataannya ia duduk sendirian menunggu di koridor jurusannya.
Belum ada yang datang.
Ini sistem yang dibenci Ren. Ia siap-siap berdiri sebelum
akhirnya duduk lagi dan memberi tenggang waktu pada Mr.Jason itu. Ia sama
sekali tidak mentolerir keterlambatan! Itu buang-buang waktu dan ia menyesal
karena uangnya terbuang percuma demi menepati janji itu.
Sambil memperhatikan jam yang di layar ponselnya, ia menghentak-hentakkan
kakinya tanda tak sabaran. Ya ampun! Dunia seharusnya meledak saja oleh
orang-orang yang tidak tepat waktu.
Satu lagi pelajaran yang ia simpan dan praktikkan:
bersabarlah selama lima menit sebelum kamu pergi meninggalkannya.
Dan tepat pada saat angka menit di ponselnya berganti
menjadi enam, ia berdiri dan meninggalkan koridor itu begitu saja.
Masa bodoh dengan temu janji. Ia tidak menolerir
keterlambatan tanpa pemberitahuan yang jelas!

0 comments: