She #4 - Rain

11:39 AM fe 0 Comments



“Tugas?” Ren sedang menatap komputernya, satu-satunya benda yang bisa memberikan hiburan yang layak di kamar kosannya. Sambil sesekali mengklik mousenya atau menekan tombol page up dan page down, ia membaca cepat tugas dadakan yang diumumkan disitus jejaring sosial pada page angkatan mereka. “Terlalu dadakan,” katanya muram.
Mr.Jason baru saja mem-posting sebuah tugas dadakan yang harus dikumpul dua hari lagi. Isi tugas itu berkaitan dengan materi yang akan mereka bahas minggu ini. Ren duduk bersandar ke kursinya dan segera menutup page itu. Ia sedang sensitive dengan segala hal berbau kewajiban dan tugas.

Sambil membuka website lainnya, ia medownload beberapa film dan lagu yang sudah ia buat daftarnya kemarin. Lalu selama menunggu, ia keluar membeli makan. Ia putuskan untuk beli bubur ayam favoritnya malam ini. Dengan kotak styrofoam dan bonus sendok makan plastik, ia bisa makan bubur ayam di mana saja dengan nyaman sekarang. Yang diperlukan hanya sebotol air mineral ukuran menengah agar tidak haus atau kepedasan.
Sambil berpikir begitu, ponselnya bergetar.
“Halo?” kata Ren dengan nada dingin karena ia tidak tahu siapa yang meneleponnya malam-malam begini. Dan ia tidak menerima penelepon iseng.
“Halo? Apa benar ini dengan Serena?” tanya seorang pria diseberang sana.
Ren tidak yakin dengan siapa ia bicara. Ia merasa kenal dengan suara ini… atau suaranya sama dengan dosennya itu? Mr.Jason?
“Ya. Ini dengan Serena,” jawab Ren.
“Saya Jason, dosen mata kuliah psikologi dan komunikasi.”
Nah! Benar ternyata! Ren sama sekali tidak menyangka kalau dosen itu akan meneleponya malam-malam begini.
“Ada apa, pak?” tanya Ren sopan setelah tahu siapa yang menelepon.
“Saya ingin besok kita ketemu di ruang dosen pukul delapan. Ada yang ingin saya bicarakan.”
Ren tersentak. Tentu saja. Apa yang diinginkan oleh si dosen muda ini? Apa pria itu tahu kalau tadi ia baru saja mengatakan bahwa Mr.Jason yang terhormat itu suka wanita ala ondel-ondel?
“Oh ya?” Ren gelisah sekarang. “Ada apa ya, Pak?” tanyanya.
“Ada hal penting yang mau saya bicarakan. Pastikan kamu datang besok,” jawabnya masih merahasiakan maksud pertemuan mereka. “Bisa?”
“Ya… Tapi jelasnya ini tentang masalah apa?” Ren masih berkeras ingin tahu maksud pertemuan itu.
“Saya tidak bisa menjelaskannya di sini. Besok kita bisa bicara panjang lebar.”
Ren menyerah, “Oke.”
“Baiklah, selamat malam.”
“Malam…” jawabnya malas lalu memelototi ponselnya.
Dasar tukang paksa!


Dan inilah yang terjadi dalam dunia pendidikan Indonesia… Bukan itu juga intinya. Inilah yang terjadi dalam masalah tepat dan menepati janji ala orang Indonesia. Ren termasuk orang yang sangat tepat waktu. Jika ia merasa terlambat dia akan sekuat tenaga memenuhi janjinya walau itu artinya ia harus ngebut dengan ojeg yang mengacak-acak penampilan sempurnanya menurut versinya.
Dan itulah yang terjadi pagi ini.
Ia telat bangun gara-gara begadang semalaman meng-update isi blognya, men-download film rekomendasi temannya, karaoke sendirian dengan playlist di iTunes nya dan pada akhirnya ketiduran gara-gara bahu kanannya pegal karena selalu menyentuh keyboard. Tapi setelat apapun dia dan sekencang apapun dia berlari, dia tetaplah orang nomor satu yang datang duluan sebelum si pembuat janji datang.
Pukul delapan lewat semenit. Sudah hampir satu menit penuh ia menunggu di sini. Harapannya ia bisa langsung masuk dan bertemu dengan si dosen, tapi kenyataannya ia duduk sendirian menunggu di koridor jurusannya. Belum ada yang datang.
Ini sistem yang dibenci Ren. Ia siap-siap berdiri sebelum akhirnya duduk lagi dan memberi tenggang waktu pada Mr.Jason itu. Ia sama sekali tidak mentolerir keterlambatan! Itu buang-buang waktu dan ia menyesal karena uangnya terbuang percuma demi menepati janji itu.
Sambil memperhatikan jam yang di layar ponselnya, ia menghentak-hentakkan kakinya tanda tak sabaran. Ya ampun! Dunia seharusnya meledak saja oleh orang-orang yang tidak tepat waktu.
Satu lagi pelajaran yang ia simpan dan praktikkan: bersabarlah selama lima menit sebelum kamu pergi meninggalkannya.
Dan tepat pada saat angka menit di ponselnya berganti menjadi enam, ia berdiri dan meninggalkan koridor itu begitu saja.
Masa bodoh dengan temu janji. Ia tidak menolerir keterlambatan tanpa pemberitahuan yang jelas!

You Might Also Like

0 comments: