She #3- Rain

11:37 AM fe 0 Comments



Dalam sejarah karirnya, ia baru kali ini mendapat sebuah contoh yang begitu berani dan mengagumkan dari mahasiswanya. Serena. Sebenarnya itu bukan nama yang asing baginya. Ia tahu nama itu karena semester lalu gadis itu mengikuti kuliahnya. Hanya saja ia tidak menonjol seperti teman-temannya. Ia lebih banyak diam dan memperhatikan.
Andrea Jason membongkar file-file lamanya dan mencari nama gadis itu dalam daftar nilainya. Setelah menemukannya ia tahu kalau gadis ini punya nilai yang sangat baik dalam mata kuliahnya. Nilainya A dan sangat memuaskan. Hanya saja baru kali ini ia mendengar suara gadis itu.

Ia tersenyum dan menutup lembar file digitalnya itu lalu mulai menjalankan tugasnya lagi, membuka satu-satunya surat lamaran yang masuk untuk mengikuti penelitian itu dan menemukan nama itu lagi di sana.


Ren kembali menatap teman-temannya yang sangat modis itu.
Sangat menyakitkan jika membandingkan kemodisan mereka dengan dirinya. Jadi ia menutup matanya dan menatap ke tempat lain. Banyak lelaki yang menatap mereka kecuali dirinya. Ia senang karena tidak merasa risih sekarang.
“Ren. Mau makan apa?” tanya Neno saat mereka memutuskan untuk ke food court.
“Steak. Harga paket,” jawab Ren singkat.
“Kalau gitu aku jaga meja dulu. Kalian pesan duluan saja,” katanya menawarkan diri.
“Oke!”
Lalu Ren dan Sherly pergi memesan steak.
“Hei! Ren! Lihat itu!” Sherly menyikut lengan Ren.
“Hm?” Ren melihat kearah yang ditunjuk Sherly. Di sana ada Mr.Jason berdua dengan seorang wanita cantik sedang makan dan tertawa bersama. “Kurasa rumor kalau dia sudah beristri itu benar.”
“Mm.” Jawab Ren sambil tetap menatap ke sana. “Mau paket apa?” tanya Ren tiba-tiba.
“Yang biasa saja,” Sherly menatapnya dan akhirnya tersenyum. “Cemburu ya?” godanya.
Ren memesan pesanan mereka. Sepertinya dia mengabaikan atau tidak mendengar godaaan temannya itu. Saat mereka kembali, barulah Neno pergi memesan makanannya. Ren masih mencuri pandang kearah meja pria itu.
“Istrinya cantik,” komentar Ren.
“Cemburu?” Sherly menggoda lagi.
“Cemburu?” ulangnya sambil tergelak. “Nggak. Gue cuma ingin lihat seperti apa wajah istrinya. Lihat. Dia cantik sekali!” Ren melihat seorang wanita langsing tinggi yang sangat modis dengan rambut hitam tergerai cantik, bulu mata lentik dan tebal, dan sawo matang. “Tapi gue nggak suka make up-nya. Lihat.”
Sherly yang duduk di sampingnya menatap wanita itu. “Terlalu tebal. Lipstiknya terlalu tebal… merah, bedaknya juga sama.”
“Tuh, kan! Gue heran kenapa orang-orang berwajah cantik alami lebih memilih berdandan tebal ala ondel-ondel dari pada memilih yang biasa. Seperti Taylor Swift yang sangat cantik dandan biasa dari pada tebal make up begitu,” Ren mulai berpikir seperti pria sekarang.
“Mereka merasa cantik dengan dandanan itu.”
“Tapi tidakkah mereka tahu kalau make up itu diciptakan untuk apa?”
Sherly tergelak, “Untuk apa?”
Ren berpikir sejenak. “Gue nggak tahu apa yang orang pikirkan tentang difinisi make up, ya. Tapi bagi gue sendiri, make up itu diciptakan untuk menutupi hal-hal yang membuat penampilan nggak menarik. Seharunya yang berdandan tebal seperti itu adalah orang yang nggak suka dengan wajahnya sendiri… maksud gue mereka tahu kalau di wajah mereka ada noda dan semacamnya,” Ren terdengar seperti seorang ahli kecantikan yang bisa mengomentari orang lain dengan baik tapi komentar itu tetap bukan untuknya.
Well, Ren. Make up itu penyelamat. Berdandan itu penyelamat. Sayangnya make up diciptakan untuk semua manusia agar mereka bisa merasa cantik dimanapun mereka berada. Semua orang berhak memakainya,” Sherly berargumen.
Ren diam lagi sejenak. “Benar. Hanya saja dia salah satu contoh orang yang nggak menghargai kecantikan alami wajahnya, itu maksudnya. Dia menebalkan semua bagian wajahnya dengan cara yang… oke, bagus. Tapi gue yakin kalau make up itu dihapus pasti dia jelek.”
Sherly menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. “Yah. Kalau gitu singkatnya bilang saja begini… wajahnya nggak cantik. Jadi dengan make up tebal ia akan berubah jadi sangat cantik.”
“Benar.”
“Dan… sepertinya dosen kita suka dengan wanita macam itu.”
Ren tertawa. “Gue ingin tahu gimana pendapatnya melihat wanita itu tanpa make up.”
“Nah, nah. Lu ini cemburu atau apa?” tanya Sherly curiga.
“Nggak.” Bantah Ren cepat. “Gue hanya mencoba mencari dimana letak menariknya.”
“Lalu membandingkannya denganmu? Lu kan nggak suka dandan. Yang bisa lu sentuh cuma bedak, lip gloss, dan lip ice,” Sherly mengungkapkan fakta.
“Gue hanya mencoba mencari apa yang disukai lelaki. Itu saja.”
“Buat apa? Apa sekarang Lu sedang menempatkan diri jadi seorang pria? Begitu?”
Ren tersenyum. “Kaum pria itu sangat sensitif dan selektif. Pikiran mereka bisa lebih nakal dari pada wanita. Lu tahu itu, kan?”
Sherly memutar matanya, “Memang. Kadang pikiran mereka tidak sopan dalam melihat bentuk tubuh wanita atau sebagainya dan mulai berkomentar.”
“Nah, sekarang gue tahu kesukaan pria itu,” Ren menatap dosennya itu lagi.
“Apa?”
“Dia suka ondel-ondel.”
Sherly tergelak. “Dan apa itu artinya lu nggak punya kesempatan untuk jadi istri kedua?”
Ren bersandar. “Dengan segala hormat, gue nggak suka dimadu. Dan gue nggak mau jadi istri kedua.”
Pada saat itulah Neno kembali ke meja mereka dan mengatakan fakta yang sudah mereka lihat dari tadi, tentang dosen itu dan wanita itu.
“Bagi penganut aliran kiri yang artinya dosen itu belum menikah, sekarang pasti sedang shock berat,” komentar Neno begitu saja.
“Nah, benarkan?” Ren takjub karena selama ini ia yakin kalau pria itu sudah menikah.
“Tapi bisa saja kalau dia belum menikah, kan?” Sherly mulai kritis sekarang. “Siapa tahu dia hanya teman atau rekan atau…,” suaranya terhenti saat ia melihat Mr.Jason meraih tangan wanita itu dan menggenggamnya. Neno dan Ren yang juga melihat pemandangan itu langsung saling tatap.
“Gimana?” tanya Neno.
“Oh, baiklah. Kalian benar,” Sherly menatap mereka. “Mungkin mereka pacaran.”

You Might Also Like

0 comments: