She #3- Rain
Dalam sejarah karirnya, ia baru kali ini mendapat sebuah
contoh yang begitu berani dan mengagumkan dari mahasiswanya. Serena. Sebenarnya
itu bukan nama yang asing baginya. Ia tahu nama itu karena semester lalu gadis
itu mengikuti kuliahnya. Hanya saja ia tidak menonjol seperti teman-temannya.
Ia lebih banyak diam dan memperhatikan.
Andrea Jason membongkar file-file lamanya dan mencari nama
gadis itu dalam daftar nilainya. Setelah menemukannya ia tahu kalau gadis ini
punya nilai yang sangat baik dalam mata kuliahnya. Nilainya A dan sangat
memuaskan. Hanya saja baru kali ini ia mendengar suara gadis itu.
Ia tersenyum dan menutup lembar file digitalnya itu lalu mulai
menjalankan tugasnya lagi, membuka satu-satunya surat lamaran yang masuk untuk
mengikuti penelitian itu dan menemukan nama itu lagi di sana.
Ren kembali menatap teman-temannya yang sangat modis itu.
Sangat menyakitkan jika membandingkan kemodisan mereka
dengan dirinya. Jadi ia menutup matanya dan menatap ke tempat lain. Banyak
lelaki yang menatap mereka kecuali dirinya. Ia senang karena tidak merasa risih
sekarang.
“Ren. Mau makan apa?” tanya Neno saat mereka memutuskan
untuk ke food court.
“Steak. Harga paket,” jawab Ren singkat.
“Kalau gitu aku jaga meja dulu. Kalian pesan duluan saja,” katanya
menawarkan diri.
“Oke!”
Lalu Ren dan Sherly pergi memesan steak.
“Hei! Ren! Lihat itu!” Sherly menyikut lengan Ren.
“Hm?” Ren melihat kearah yang ditunjuk Sherly. Di sana ada Mr.Jason berdua
dengan seorang wanita cantik sedang makan dan tertawa bersama. “Kurasa rumor
kalau dia sudah beristri itu benar.”
“Mm.” Jawab Ren sambil tetap menatap ke sana. “Mau paket apa?” tanya Ren tiba-tiba.
“Yang biasa saja,” Sherly menatapnya dan akhirnya tersenyum.
“Cemburu ya?” godanya.
Ren memesan pesanan mereka. Sepertinya dia mengabaikan atau
tidak mendengar godaaan temannya itu. Saat mereka kembali, barulah Neno pergi
memesan makanannya. Ren masih mencuri pandang kearah meja pria itu.
“Istrinya cantik,” komentar Ren.
“Cemburu?” Sherly menggoda lagi.
“Cemburu?” ulangnya sambil tergelak. “Nggak. Gue cuma ingin
lihat seperti apa wajah istrinya. Lihat. Dia cantik sekali!” Ren melihat
seorang wanita langsing tinggi yang sangat modis dengan rambut hitam tergerai
cantik, bulu mata lentik dan tebal, dan sawo matang. “Tapi gue nggak suka make
up-nya. Lihat.”
Sherly yang duduk di sampingnya menatap wanita itu. “Terlalu
tebal. Lipstiknya terlalu tebal… merah, bedaknya juga sama.”
“Tuh, kan!
Gue heran kenapa orang-orang berwajah cantik alami lebih memilih berdandan
tebal ala ondel-ondel dari pada memilih yang biasa. Seperti Taylor Swift yang
sangat cantik dandan biasa dari pada tebal make up begitu,” Ren mulai berpikir
seperti pria sekarang.
“Mereka merasa cantik dengan dandanan itu.”
“Tapi tidakkah mereka tahu kalau make up itu diciptakan
untuk apa?”
Sherly tergelak, “Untuk apa?”
Ren berpikir sejenak. “Gue nggak tahu apa yang orang
pikirkan tentang difinisi make up, ya. Tapi bagi gue sendiri, make up itu
diciptakan untuk menutupi hal-hal yang membuat penampilan nggak menarik.
Seharunya yang berdandan tebal seperti itu adalah orang yang nggak suka dengan
wajahnya sendiri… maksud gue mereka tahu kalau di wajah mereka ada noda dan
semacamnya,” Ren terdengar seperti seorang ahli kecantikan yang bisa mengomentari
orang lain dengan baik tapi komentar itu tetap bukan untuknya.
“Well, Ren. Make
up itu penyelamat. Berdandan itu penyelamat. Sayangnya make up diciptakan untuk
semua manusia agar mereka bisa merasa cantik dimanapun mereka berada. Semua
orang berhak memakainya,” Sherly berargumen.
Ren diam lagi sejenak. “Benar. Hanya saja dia salah satu
contoh orang yang nggak menghargai kecantikan alami wajahnya, itu maksudnya.
Dia menebalkan semua bagian wajahnya dengan cara yang… oke, bagus. Tapi gue yakin
kalau make up itu dihapus pasti dia jelek.”
Sherly menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. “Yah. Kalau
gitu singkatnya bilang saja begini… wajahnya nggak cantik. Jadi dengan make up
tebal ia akan berubah jadi sangat cantik.”
“Benar.”
“Dan… sepertinya dosen kita suka dengan wanita macam itu.”
Ren tertawa. “Gue ingin tahu gimana pendapatnya melihat
wanita itu tanpa make up.”
“Nah, nah. Lu ini cemburu atau apa?” tanya Sherly curiga.
“Nggak.” Bantah Ren cepat. “Gue hanya mencoba mencari dimana
letak menariknya.”
“Lalu membandingkannya denganmu? Lu kan nggak suka dandan. Yang bisa lu sentuh
cuma bedak, lip gloss, dan lip ice,” Sherly mengungkapkan fakta.
“Gue hanya mencoba mencari apa yang disukai lelaki. Itu
saja.”
“Buat apa? Apa sekarang Lu sedang menempatkan diri jadi
seorang pria? Begitu?”
Ren tersenyum. “Kaum pria itu sangat sensitif dan selektif.
Pikiran mereka bisa lebih nakal dari pada wanita. Lu tahu itu, kan?”
Sherly memutar matanya, “Memang. Kadang pikiran mereka tidak
sopan dalam melihat bentuk tubuh wanita atau sebagainya dan mulai berkomentar.”
“Nah, sekarang gue tahu kesukaan pria itu,” Ren menatap
dosennya itu lagi.
“Apa?”
“Dia suka ondel-ondel.”
Sherly tergelak. “Dan apa itu artinya lu nggak punya
kesempatan untuk jadi istri kedua?”
Ren bersandar. “Dengan segala hormat, gue nggak suka dimadu.
Dan gue nggak mau jadi istri kedua.”
Pada saat itulah Neno kembali ke meja mereka dan mengatakan
fakta yang sudah mereka lihat dari tadi, tentang dosen itu dan wanita itu.
“Bagi penganut aliran kiri yang artinya dosen itu belum
menikah, sekarang pasti sedang shock berat,” komentar Neno begitu saja.
“Nah, benarkan?” Ren takjub karena selama ini ia yakin kalau
pria itu sudah menikah.
“Tapi bisa saja kalau dia belum menikah, kan?” Sherly mulai kritis sekarang. “Siapa
tahu dia hanya teman atau rekan atau…,” suaranya terhenti saat ia melihat
Mr.Jason meraih tangan wanita itu dan menggenggamnya. Neno dan Ren yang juga
melihat pemandangan itu langsung saling tatap.
“Gimana?” tanya Neno.
“Oh, baiklah. Kalian benar,” Sherly menatap mereka. “Mungkin
mereka pacaran.”

0 comments: